Bab 16 · Ekstensi

Operator Normal secara Esensial

Definisi 16.1.1.

Misalkan TT suatu operator pada ruang Hilbert HH. spektrum esensial dari TT, yang dinotasikan dengan σe(T)\sigma_e(T), adalah spektrum citra TT dalam aljabar Calkin 𝔔(H)\mathfrak{Q}(H); yaitu, σe(T)=σ𝔔(H)(π(T)).\sigma_e(T) = \sigma_{\mathfrak{Q}(H)}(\pi(T))\,.

Proposisi 16.1.2.

Jika TT suatu operator pada ruang Hilbert HH, maka σe(T)={λ:TλI𝔉(H)}.\sigma_e(T) = \{\lambda \in \mathbb{C}\colon T - \lambda I \notin \mathfrak{F}(H)\}\,.

Proposisi 16.1.3.

Spektrum esensial dari operator swaadjoin TT pada ruang Hilbert adalah gabungan titik-titik akumulasi spektrum TT dengan nilai-nilai eigen TT yang memiliki multiplisitas tak hingga. Anggota-anggota σ(T)\σe(T)\sigma(T) \setminus \sigma_e(T) adalah nilai-nilai eigen terisolasi dengan multiplisitas hingga.

Bukti.

Proof. Lihat [27], proposisi 2.2.2. ◻

Berikut dua teorema dari analisis fungsional klasik.

Teorema 16.1.4.

Jika SS dan TT merupakan operator pada suatu ruang Hilbert yang selisihnya kompak, maka spektrum keduanya sama, kecuali mungkin pada nilai-nilai eigen.

Teorema 16.1.5.

Misalkan TT suatu operator swaadjoin pada ruang Hilbert terpisahkan HH. Untuk setiap ϵ>0\epsilon > 0 terdapat operator DD yang dapat didiagonalkan sedemikian sehingga TDT - D kompak dan TD<ϵ\lVert T - D\rVert < \epsilon.

Bukti.

Proof. Lihat [9], 38.1; [10], akibat II.4.2; atau [27], 2.2.5. ◻

Definisi 16.1.6.

Misalkan HH dan KK ruang-ruang Hilbert. Operator S𝔅(H)S \in \mathfrak{B}(H) dan T𝔅(K)T \in \mathfrak{B}(K) disebut ekuivalen uniter secara esensial (atau kompalen) jika terdapat pemetaan uniter U:HKU\colon H \rightarrow K sedemikian sehingga SU*TUS - U^*TU merupakan operator kompak pada HH. (Kita memperluas definisi 1.2.43 dan 1.2.44 dengan cara yang jelas: U𝔅(H,K)U \in \mathfrak{B}(H,K) disebut uniter jika U*U=IHU^*U = I_H dan UU*=IKUU^* = I_K; dan SS serta TT disebut ekuivalen secara uniter jika terdapat pemetaan uniter U:HKU\colon H \rightarrow K sedemikian sehingga S=U*TUS = U^*TU.)

Proposisi 16.1.7.

Operator-operator swaadjoin SS dan TT pada ruang-ruang Hilbert terpisahkan berdimensi tak hingga ekuivalen uniter secara esensial jika dan hanya jika keduanya memiliki spektrum esensial yang sama.

Bukti.

Proof. Lihat [27], proposisi 2.2.4. ◻

Definisi 16.1.8.

Suatu operator ruang Hilbert TT disebut normal secara esensial jika komutator-nya [T,T*]:=TT*T*T[T,T^*] := TT^* - T^*T kompak. Dengan kata lain: TT normal secara esensial jika citranya π(T)\pi(T) merupakan elemen normal dari aljabar Calkin. Operator TT disebut swaadjoin secara esensial jika TT*T - T^* kompak; yakni, jika π(T)\pi(T) swaadjoin dalam aljabar Calkin.

Contoh 16.1.9.

Operator geser unilateral SS (lihat contoh 5.2.11) normal secara esensial (tetapi tidak normal).

Operator Toeplitz

Definisi 16.2.1.

Misalkan ζ:𝕋𝕋:zz\zeta\colon \mathbb{T}\rightarrow\mathbb{T}\colon z \mapsto z merupakan fungsi identitas pada lingkaran satuan. Maka {ζn:n}\{\zeta^n\colon n \in \mathbb{Z}\} merupakan basis ortonormal bagi ruang Hilbert L2(𝕋)L_2(\mathbb{T}) yang terdiri atas (kelas-kelas ekuivalensi dari) fungsi-fungsi yang terintegralkan kuadrat pada 𝕋\mathbb{T} terhadap ukuran panjang busur (yang dinormalisasi secara sesuai). Kita menyatakan dengan H2H^2 subruang dari L2(𝕋)L_2(\mathbb{T}) yang merupakan rentang linear tertutup dari {ζn:n0}\{\zeta^n\colon n \ge 0\} dan dengan P+P_+ proyeksi (ortogonal) pada L2(𝕋)L_2(\mathbb{T}) yang jangkauan (sekaligus kodomain)-nya adalah H2H^2. Ruang H2H^2 merupakan contoh suatu ruang Hardy. Untuk setiap ϕL(𝕋)\phi \in L_\infty(\mathbb{T}) kita mendefinisikan pemetaan TϕT_\phi dari ruang Hilbert H2H^2 ke dirinya sendiri dengan Tϕ=P+MϕT_\phi = P_+M_\phi (dengan MϕM_\phi operator perkalian yang didefinisikan dalam contoh 5.2.15). Operator demikian disebut operator Toeplitz dan ϕ\phi disebut simbol-nya. Jelas bahwa TϕT_\phi merupakan operator pada H2H^2 dan Tϕϕ\lVert T_\phi\rVert \le \lVert\phi\rVert_\infty.

Contoh 16.2.2.

Operator Toeplitz TζT_\zeta bertindak pada vektor-vektor basis ζn\zeta^n dari H2H^2 menurut Tζ(ζn)=ζn+1T_\zeta(\zeta^n) = \zeta^{n+1}, sehingga operator ini ekuivalen secara uniter dengan geser unilateral SS.

Proposisi 16.2.3.

Pemetaan T:L(𝕋)𝔅(H2):ϕTϕT\colon L_\infty(\mathbb{T}) \rightarrow\mathfrak{B}(H^2)\colon \phi \mapsto T_\phi bersifat positif, linear, dan melestarikan involusi.

Contoh 16.2.4.

Operator Toeplitz TζT_\zeta dan Tζ¯T_{\overline{\zeta}} menunjukkan bahwa pemetaan TT dalam proposisi sebelumnya bukan representasi dari L(𝕋)L_\infty(\mathbb{T}) pada 𝔅(H2)\mathfrak{B}(H^2). (Bandingkan dengan contoh 13.2.4.)

Notasi 16.2.5.

Misalkan H:=H2L(𝕋)H^\infty := H^2 \cap L_\infty(\mathbb{T}). Ini merupakan contoh lain dari suatu ruang Hardy.

Proposisi 16.2.6.

Suatu fungsi terbatas secara esensial ϕ\phi pada lingkaran satuan termasuk dalam HH^\infty jika dan hanya jika operator perkalian MϕM_\phi memetakan H2H^2 ke dalam H2H^2.

Meskipun (seperti telah kita lihat dalam contoh 16.2.4) pemetaan TT yang didefinisikan dalam proposisi 16.2.3 pada umumnya tidak multiplikatif, pemetaan ini multiplikatif untuk suatu kelas fungsi yang luas.

Proposisi 16.2.7.

Jika ϕL(𝕋)\phi \in L_\infty(\mathbb{T}) dan ψH\psi \in H^\infty, maka Tϕψ=TϕTψT_{\phi\psi} = T_\phi T_\psi dan Tψ¯ϕ=Tψ¯TϕT_{\overline{\psi }\phi} = T_{\overline{\psi}} T_\phi.

Proposisi 16.2.8.

Jika operator Toeplitz TϕT_\phi dengan simbol ϕL(𝕋)\phi \in L_\infty(\mathbb{T}) invertibel, maka fungsi ϕ\phi invertibel.

Bukti.

Proof. Lihat [12], proposisi 7.6. ◻

Teorema 16.2.9.

Jika ϕL(𝕋)\phi \in L_\infty(\mathbb{T}), maka σ(ϕ)σ(Tϕ)\sigma(\phi) \subseteq \sigma(T_\phi) dan ρ(Tϕ)=Tϕ=ϕ\rho(T_\phi) = \lVert T_\phi\rVert = \lVert\phi\rVert_\infty.

Bukti.

Proof. Lihat [12], akibat 7.7 atau [39], teorema 3.5.7. ◻

Akibat 16.2.10.

Pemetaan T:L(𝕋)𝔅(H2)T\colon L_\infty(\mathbb{T}) \rightarrow\mathfrak{B}(H^2) yang didefinisikan dalam proposisi 16.2.3 merupakan suatu isometri.

Proposisi 16.2.11.

Suatu operator Toeplitz TϕT_\phi dengan simbol ϕL(𝕋)\phi \in L_\infty(\mathbb{T}) kompak jika dan hanya jika ϕ=𝟎\phi = \mathbf{0}.

Bukti.

Proof. Lihat [39], teorema 3.5.8. ◻

Proposisi 16.2.12.

Jika ϕ𝒞(𝕋)\phi \in \mathcal{C}(\mathbb{T}) dan ψL(𝕋)\psi \in L_\infty(\mathbb{T}), maka semikomutator TϕTψTϕψT_\phi T_\psi - T_{\phi\psi} dan TψTϕTψϕT_\psi T_\phi - T_{\psi\phi} bersifat kompak.

Bukti.

Proof. Lihat [1], proposisi 4.3.1; [10], akibat V.1.4; atau [39], lema 3.5.9. ◻

Akibat 16.2.13.

Setiap operator Toeplitz dengan simbol kontinu bersifat normal secara esensial.

Definisi 16.2.14.

Andaikan HH ruang Hilbert terpisahkan dengan basis {e0,e1,e2,}\{e_0, e_1, e_2, \dots\} dan TT suatu operator pada HH yang representasi matriks (tak hingga)-nya adalah [tij][t_{ij}]. Jika entri-entri dalam matriks ini hanya bergantung pada selisih indeks iji - j (yakni, jika setiap diagonal yang sejajar dengan diagonal utama merupakan barisan konstan), maka matriks tersebut disebut matriks Toeplitz.

Proposisi 16.2.15.

Misalkan TT suatu operator pada ruang Hilbert H2H^2. Representasi matriks TT terhadap basis biasa {ζn:n0}\{\zeta^n\colon n \ge 0\} merupakan matriks Toeplitz jika dan hanya jika S*TS=TS^*TS = T (dengan SS geser unilateral).

Bukti.

Proof. Lihat [1], proposisi 4.2.3. ◻

Proposisi 16.2.16.

Jika TϕT_\phi suatu operator Toeplitz dengan simbol ϕL(𝕋)\phi \in L_\infty(\mathbb{T}), maka S*TϕS=TϕS^*T_\phi S = T_\phi. Sebaliknya, jika RR suatu operator pada ruang Hilbert H2H^2 sedemikian sehingga S*RS=RS^*RS = R, maka terdapat ϕL(𝕋)\phi \in L_\infty(\mathbb{T}) tunggal sedemikian sehingga R=TϕR = T_\phi.

Bukti.

Proof. Lihat [1], teorema 4.2.4. ◻

Definisi 16.2.17.

aljabar Toeplitz 𝔗\mathfrak{T} adalah subaljabar-C*C^* dari 𝔅(H2)\mathfrak{B}(H^2) yang dibangkitkan oleh operator geser unilateral; yaitu, 𝔗=C*(S)\mathfrak{T} = C^*(S).

Proposisi 16.2.18.

Himpunan 𝔎(H2)\mathfrak{K}(H^2) dari operator-operator kompak pada H2H^2 merupakan ideal dalam aljabar Toeplitz 𝔗\mathfrak{T}.

Proposisi 16.2.19.

Aljabar Toeplitz terdiri atas semua perturbasi kompak dari operator Toeplitz dengan simbol kontinu. Yaitu, 𝔗={Tϕ+K:ϕ𝒞(𝕋) dan K𝔎(H2)}.\mathfrak{T} = \{ T_\phi + K\colon \phi \in \mathcal{C}(\mathbb{T}) \text{ dan } K \in \mathfrak{K}(H^2)\} \,. Lebih lanjut, jika Tϕ+K=Tψ+LT_\phi + K = T_\psi + L dengan ϕ\phi, ψ𝒞(𝕋)\psi \in \mathcal{C}(\mathbb{T}) dan KK, L𝔎(H2)L \in \mathfrak{K}(H^2), maka ϕ=ψ\phi = \psi dan K=LK = L.

Bukti.

Proof. Lihat [1], teorema 4.3.2 atau [10], teorema V.1.5. ◻

Proposisi 16.2.20.

Pemetaan πT:𝒞(𝕋)𝔔(H2):ϕπ(Tϕ)\pi \circ T\colon \mathcal{C}(\mathbb{T}) \rightarrow\mathfrak{Q}(H^2)\colon \phi \mapsto \pi(T_\phi) merupakan monomorfisme-**\, beridentitas. Jadi pemetaan α:𝒞(𝕋)𝔗/𝔎(H2):ϕπ(Tϕ)\alpha\colon \mathcal{C}(\mathbb{T}) \rightarrow\mathfrak{T}/\mathfrak{K}(H^2)\colon \phi \mapsto \pi(T_\phi) menghasilkan isomorfisme antara aljabar-C*C^* 𝒞(𝕋)\mathcal{C}(\mathbb{T}) dan 𝔗/𝔎(H2)\mathfrak{T}/\mathfrak{K}(H^2).

Bukti.

Proof. Lihat [27], proposisi 2.3.3 atau [39], teorema 3.5.11. ◻

Akibat 16.2.21.

Jika ϕ𝒞(𝕋)\phi \in \mathcal{C}(\mathbb{T}), maka σe(Tϕ)=ranϕ\sigma_e(T_\phi) = \mathop{\mathrm{ran}}\phi.

Proposisi 16.2.22.

Barisan 𝟎𝔎(H2)𝔗β𝒞(𝕋)𝟎\mathbf{0} \to \mathfrak{K}(H^2) \to \mathfrak{T} \to^\beta \mathcal{C}(\mathbb{T}) \to \mathbf{0} bersifat eksak. Barisan ini tidak terbelah.

Bukti.

Proof. Pemetaan β\beta didefinisikan oleh β(R):=α1(π(R))\beta(R) := \alpha^{-1}\bigl(\pi(R)\bigr) untuk setiap R𝔗R \in \mathfrak{T} (dengan α\alpha isomorfisme yang didefinisikan dalam proposisi sebelumnya 16.2.20). Lihat [1], catatan 4.3.3; [10], teorema V.1.5; atau [27], halaman 35. ◻

Definisi 16.2.23.

Barisan eksak pendek dalam proposisi sebelumnya 16.2.22 adalah ekstensi Toeplitz dari 𝒞(𝕋)\mathcal{C}(\mathbb{T}) oleh 𝔎(H2)\mathfrak{K}(H^2).

Catatan 16.2.24.

Suatu versi diagram ekstensi Toeplitz yang sering muncul kira-kira berbentuk seperti

Diagram ekstensi Toeplitz yang sering dipakai: ruang nol menuju aljabar operator kompak K(H pangkat dua), lalu menuju aljabar Toeplitz, lalu epimorfisme beta ke aljabar fungsi kontinu pada lingkaran satuan, lalu menuju ruang nol. Ada panah balik T dari aljabar fungsi itu ke aljabar Toeplitz, dengan beta setelah T sama dengan identitas. Namun T bukan homomorfisme bintang, sehingga diagram bukan ekstensi terbelah dalam kategori aljabar C-bintang.

Diagram ekstensi Toeplitz yang sering dipakai: ruang nol menuju aljabar operator kompak K(H pangkat dua), lalu menuju aljabar Toeplitz, lalu epimorfisme beta ke aljabar fungsi kontinu pada lingkaran satuan, lalu menuju ruang nol. Ada panah balik T dari aljabar fungsi itu ke aljabar Toeplitz, dengan beta setelah T sama dengan identitas. Namun T bukan homomorfisme bintang, sehingga diagram bukan ekstensi terbelah dalam kategori aljabar C-bintang.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

dengan β\beta seperti dalam 16.2.22 dan TT adalah pemetaan ϕTϕ\phi \mapsto T_\phi. Diagram ini dapat disalahtafsirkan. Diagram tersebut mungkin memberi kesan kepada pembaca yang kurang waspada bahwa ini adalah ekstensi terbelah, terutama karena memang benar bahwa βT=I𝒞(𝕋)\beta \circ T = I_{\mathcal{C}(\mathbb{T})}. Masalahnya, tentu saja, bahwa diagram ini bukan diagram dalam kategori 𝑪𝑺𝑨\mathbf{CSA} dari aljabar-C*C^* dan homomorfisme-**\,. Kita telah melihat dalam contoh 16.2.4 bahwa pemetaan TT bukan homomorfisme-**\, karena tidak selalu melestarikan perkalian. Elemen-elemen invertibel dalam 𝒞(𝕋)\mathcal{C}(\mathbb{T}) belum tentu terangkat menjadi elemen-elemen invertibel dalam aljabar Toeplitz 𝔗\mathfrak{T}; jadi epimorfisme-**\, β\beta tidak memiliki invers kanan dalam kategori 𝑪𝑺𝑨\mathbf{CSA}.

Sebagian penulis menangani masalah ini dengan mengatakan bahwa barisan (1) bersifat semiterbelah (lihat, misalnya, Arveson [1], halaman 112). Penulis lain meminjam istilah dari teori kategori, yang menggunakan kata “penampang” untuk berarti “memiliki invers kanan”. Davidson [10], misalnya, pada halaman 134 menyebut pemetaan TT sebagai “penampang kontinu”, sedangkan Douglas [12], pada halaman 179 menyebutnya “penampang silang isometrik”. Meskipun memang benar bahwa β\beta memiliki TT sebagai invers kanan dalam kategori 𝑺𝑬𝑻\mathbf{SET} dari himpunan dan pemetaan, bahkan juga dalam kategori ruang Banach dan pemetaan linear terbatas, pemetaan tersebut tidak memiliki invers kanan dalam 𝑪𝑺𝑨\mathbf{CSA}.

Proposisi 16.2.25.

Jika ϕ\phi suatu fungsi dalam 𝒞(𝕋)\mathcal{C}(\mathbb{T}), maka TϕT_\phi Fredholm jika dan hanya jika fungsi itu tidak pernah bernilai nol.

Bukti.

Proof. Lihat [1], halaman 112, akibat 1; [10], teorema V.1.6; [12], teorema 7.26; atau [39], akibat 3.5.12. ◻

Proposisi 16.2.26.

Jika ϕ\phi elemen invertibel dari 𝒞(𝕋)\mathcal{C}(\mathbb{T}), maka terdapat bilangan bulat nn tunggal sedemikian sehingga ϕ=ζnexpψ\phi = \zeta^n \exp \psi untuk suatu ψ𝒞(𝕋)\psi \in \mathcal{C}(\mathbb{T}).

Bukti.

Proof. Lihat [1], proposisi 4.4.1 dan 4.4.2 atau [39], lema 3.5.14. ◻

Definisi 16.2.27.

Bilangan bulat yang keberadaannya dinyatakan dalam proposisi sebelumnya 16.2.26 adalah bilangan lilit dari fungsi invertibel ϕ𝒞(𝕋)\phi \in \mathcal{C}(\mathbb{T}). Bilangan ini dinotasikan dengan w(ϕ)w(\phi).

Teorema 16.2.28.

Jika TϕT_\phi suatu operator Toeplitz dengan simbol kontinu yang tidak pernah bernilai nol, maka operator ini merupakan operator Fredholm dan ind(Tϕ)=w(ϕ).\mathop{\mathrm{ind}}(T_\phi) = -w(\phi)\,.

Bukti.

Proof. Bukti elementer dapat ditemukan dalam [1], teorema 4.4.3, dan [39]. Bagi pembaca yang memiliki sedikit latar belakang tentang homotopi kurva, proposisi 16.2.26, yang mengantar ke definisi bilangan lilit di atas, dapat dilewati. Merupakan fakta elementer dalam teori homotopi bahwa grup fundamental π1(\{0})\pi_1(\mathbb{C}\setminus \{0\}) dari bidang kompleks berlubang bersifat siklik tak hingga. Terdapat isomorfisme τ\tau dari π1(\{0})\pi_1(\mathbb{C}\setminus \{0\}) ke \mathbb{Z} yang mengaitkan bilangan bulat +1+1 dengan (kelas ekuivalensi yang memuat) fungsi ζ\zeta. Hal ini memungkinkan kita untuk mengaitkan setiap anggota invertibel ϕ\phi dari 𝒞(𝕋)\mathcal{C}(\mathbb{T}) dengan bilangan bulat yang bersesuaian di bawah τ\tau dengan kelas ekuivalensinya. Bilangan bulat ini kita sebut bilangan lilit dari ϕ\phi. Definisi demikian memungkinkan pemberian bukti yang lebih singkat dan lebih anggun bagi teorema indeks Toeplitz. Untuk pembahasan dengan pendekatan ini, lihat [12], teorema 7.26, atau [27], teorema 2.3.2. Untuk latar belakang mengenai grup fundamental, lihat [36], bab dua; [50], lampiran A; atau [53], bagian 32 dan 33. ◻

Teorema 16.2.29.

Setiap isometri sejati (yakni, nonuniter) pada suatu ruang Hilbert merupakan jumlah langsung salinan-salinan geser unilateral, atau merupakan jumlah langsung suatu operator uniter bersama salinan-salinan geser tersebut.

Bukti.

Proof. Lihat [10], teorema V.2.1; [24], soal (dan solusi) 149; atau [39], teorema 3.5.17. ◻

Teorema 16.2.30.

Misalkan vv suatu isometri dalam aljabar-C*C^* beridentitas AA. Maka terdapat homomorfisme-**\, beridentitas τ\tau tunggal dari aljabar Toeplitz 𝔗\mathfrak{T} ke AA sedemikian sehingga τ(Tζ)=v\tau(T_\zeta) = v. Lebih lanjut, jika vv*𝟏vv^* \ne \mathbf{1}, maka τ\tau merupakan suatu isometri.

Bukti.

Proof. Lihat [39], teorema 3.5.18, atau [10], teorema V.2.2. ◻

Penjumlahan Ekstensi

Proposisi 16.3.1.

Suatu operator ruang Hilbert TT bersifat swaadjoin secara esensial jika dan hanya jika operator itu merupakan perturbasi kompak dari suatu operator swaadjoin.

Proposisi 16.3.2.

Dua operator ruang Hilbert T1T_1 dan T2T_2 yang swaadjoin secara esensial ekuivalen uniter secara esensial jika dan hanya jika keduanya memiliki spektrum esensial yang sama.

Hasil yang analog tidak berlaku bagi operator normal secara esensial.

Contoh 16.3.3.

Operator Toeplitz TζT_\zeta dan Tζ2T_{\zeta^2} bersifat normal secara esensial dengan spektrum esensial yang sama, tetapi keduanya tidak ekuivalen uniter secara esensial.

Definisi 16.3.4.

Sekarang kita membatasi perhatian pada suatu kelas khusus ekstensi. Jika HH merupakan ruang Hilbert dan AA merupakan aljabar-C*C^*, kita mengatakan bahwa (𝔈,ϕ)(\mathfrak{E},\phi) adalah suatu ekstensi 𝔎=𝔎(H)\mathfrak{K} = \mathfrak{K}(H) oleh AA jika 𝔈\mathfrak{E} merupakan subaljabar-C*C^* beridentitas dari 𝔅(H)\mathfrak{B}(H) yang memuat 𝔎\mathfrak{K} dan ϕ\phi merupakan homomorfisme-**\, beridentitas sedemikian sehingga barisan 𝟎𝔎ι𝔈ϕA𝟎\begin{equation} \label{005431i} \mathbf{0} \to \mathfrak{K} \to^\iota \mathfrak{E} \to^\phi A \to \mathbf{0} \end{equation} (dengan ι\iota pemetaan inklusi) eksak. Bahkan, kita hampir secara eksklusif akan memperhatikan kasus A=𝒞(X)A = \mathcal{C}(X) untuk suatu ruang metrik kompak XX. Kita mengatakan bahwa dua ekstensi (𝔈,ϕ)(\mathfrak{E},\phi) dan (𝔈,ϕ)(\mathfrak{E}\,',\phi\,') ekuivalen jika terdapat suatu isomorfisme ψ:𝔈𝔈\psi\colon \mathfrak{E} \rightarrow\mathfrak{E}\,' yang membuat diagram berikut komutatif.

Diagram ekuivalensi dua ekstensi K oleh A. Kedua baris eksak adalah nol menuju K melalui iota ke E atau E prima, lalu melalui phi atau phi prima ke A, lalu nol. Panah vertikal adalah pembatasan psi pada K, isomorfisme psi dari E ke E prima, dan identitas pada A. Kedua persegi komutatif, sehingga psi menyelaraskan penyertaan ideal K dan pemetaan hasil bagi ke A.

Diagram ekuivalensi dua ekstensi K oleh A. Kedua baris eksak adalah nol menuju K melalui iota ke E atau E prima, lalu melalui phi atau phi prima ke A, lalu nol. Panah vertikal adalah pembatasan psi pada K, isomorfisme psi dari E ke E prima, dan identitas pada A. Kedua persegi komutatif, sehingga psi menyelaraskan penyertaan ideal K dan pemetaan hasil bagi ke A.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

Perhatikan bahwa definisi ini sedikit berbeda dari ekuivalensi kuat pada 12.2.8. Keluarga semua kelas ekuivalensi ekstensi semacam ini kita lambangkan dengan ExtA\mathop{\mathrm{Ext}}A. Jika A=𝒞(X)A = \mathcal{C}(X), kita menulis ExtX\mathop{\mathrm{Ext}}X, bukan Ext𝒞(X)\mathop{\mathrm{Ext}}\mathcal{C}(X).

Definisi 16.3.5.

Jika U:H1H2U\colon H_1 \rightarrow H_2 merupakan pemetaan uniter di antara ruang-ruang Hilbert, maka pemetaan AdU:𝔅(H1)𝔅(H2):TUTU*\mathop{\mathrm{Ad}}_U\colon \mathfrak{B}(H_1) \rightarrow\mathfrak{B}(H_2)\colon T \mapsto UTU^* disebut konjugasi oleh UU.

Jelas bahwa AdU\mathop{\mathrm{Ad}}_U merupakan isomorfisme di antara aljabar-C*C^* 𝔅(H1)\mathfrak{B}(H_1) dan 𝔅(H2)\mathfrak{B}(H_2). Khususnya, jika UU merupakan operator uniter pada H1H_1, maka AdU\mathop{\mathrm{Ad}}_U merupakan automorfisme dari 𝔎(H1)\mathfrak{K}(H_1) maupun 𝔅(H1)\mathfrak{B}(H_1). Lebih lanjut, konjugasi merupakan satu-satunya automorfisme aljabar-C*C^* 𝔎(H)\mathfrak{K}(H).

Proposisi 16.3.6.

Jika HH merupakan ruang Hilbert dan ϕ:𝔎(H)𝔎(H)\phi\colon \mathfrak{K}(H) \rightarrow\mathfrak{K}(H) merupakan suatu automorfisme, maka ϕ=AdU\phi = \mathop{\mathrm{Ad}}_U untuk suatu operator uniter UU pada HH.

Bukti.

Proof. Lihat [10], lema V.6.1. ◻

Proposisi 16.3.7.

Jika HH merupakan ruang Hilbert dan AA merupakan aljabar-C*C^*, maka ekstensi (𝔈,ϕ)(\mathfrak{E},\phi) dan (𝔈,ϕ)(\mathfrak{E}\,',\phi\,') dalam ExtA\mathop{\mathrm{Ext}}A ekuivalen jika dan hanya jika terdapat suatu operator uniter UU dalam 𝔅(H)\mathfrak{B}(H) sedemikian sehingga 𝔈=U𝔈U*\mathfrak{E}\,' = U \mathfrak{E} U^* dan ϕ=ϕAdU\phi = \phi\,' \mathop{\mathrm{Ad}}_U.

Contoh 16.3.8.

Andaikan TT merupakan operator normal secara esensial pada suatu ruang Hilbert HH. Misalkan 𝔈T\mathfrak{E}_T merupakan aljabar-C*C^* beridentitas yang dibangkitkan oleh TT dan 𝔎(H)\mathfrak{K}(H). Karena π(T)\pi(T) merupakan elemen normal aljabar Calkin, aljabar-C*C^* beridentitas 𝔈T/𝔎(H)\mathfrak{E}_T/\mathfrak{K}(H) yang dibangkitkannya bersifat komutatif. Jadi teorema spektral abstrak 11.5.5 memberi kita suatu isomorfisme aljabar-C*C^* Ψ:𝒞(σe(T))𝔈T/𝔎(H)\Psi\colon \mathcal{C}(\sigma_e(T)) \rightarrow\mathfrak{E}_T/\mathfrak{K}(H). Misalkan ϕT=Ψ1π|𝔈T\phi_{{}_{\scriptstyle{T}}} = \Psi^{-1} \circ\pi\bigr|_{\mathfrak{E}_T}. Maka barisan 𝟎𝔎(H)ι𝔈TϕT𝒞(σe(T))𝟎\mathbf{0} \to \mathfrak{K}(H) \to^\iota \mathfrak{E}_T \to^{\phi_{{}_{\scriptstyle{T}}}} \mathcal{C}(\sigma_e(T)) \to \mathbf{0} eksak. Ini adalah ekstensi 𝔎(H)\mathfrak{K}(H) yang ditentukan oleh TT.

Proposisi 16.3.9.

Misalkan TT dan TT\,' operator normal secara esensial pada suatu ruang Hilbert HH. Kedua operator itu ekuivalen uniter secara esensial jika dan hanya jika ekstensi yang ditentukannya ekuivalen.

Proposisi 16.3.10.

Jika 𝔈\mathfrak{E} merupakan aljabar-C*C^* sedemikian sehingga 𝔎(H)𝔈𝔅(H)\mathfrak{K}(H) \subseteq \mathfrak{E} \subseteq \mathfrak{B}(H) untuk suatu ruang Hilbert HH, XX merupakan subhimpunan kompak tak kosong dari \mathbb{C}, dan (𝔈,ϕ)(\mathfrak{E},\phi) merupakan ekstensi 𝔎(H)\mathfrak{K}(H) oleh 𝒞(X)\mathcal{C}(X), maka setiap elemen dari 𝔈\mathfrak{E} bersifat normal secara esensial.

Definisi 16.3.11.

Jika ϕ1:A1B\phi_1\colon A_1 \rightarrow B dan ϕ2:A2B\phi_2\colon A_2 \rightarrow B merupakan homomorfisme-**\, beridentitas di antara aljabar-C*C^*, maka suatu tarik balik A1A_1 dan A2A_2 sepanjang ϕ1\phi_1 dan ϕ2\phi_2, yang dilambangkan dengan (P,π1,π2)(P,\pi_1,\pi_2), adalah aljabar-C*C^* PP beserta sepasang homomorfisme-**\, beridentitas π1:PA1\pi_1\colon P \rightarrow A_1 dan π2:PA2\pi_2\colon P \rightarrow A_2 yang memenuhi dua syarat berikut:

  1. diagram

    Persegi tarik balik. P berada di kiri atas, A dua di kanan atas, A satu di kiri bawah, dan B di kanan bawah. Panahnya pi dua dari P ke A dua, pi satu dari P ke A satu, phi dua dari A dua ke B, dan phi satu dari A satu ke B. Persegi komutatif: phi dua setelah pi dua sama dengan phi satu setelah pi satu.

    Persegi tarik balik. P berada di kiri atas, A dua di kanan atas, A satu di kiri bawah, dan B di kanan bawah. Panahnya pi dua dari P ke A dua, pi satu dari P ke A satu, phi dua dari A dua ke B, dan phi satu dari A satu ke B. Persegi komutatif: phi dua setelah pi dua sama dengan phi satu setelah pi satu.

    Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

    bersifat komutatif; dan

  2. jika ρ1:QA1\rho_1\colon Q \rightarrow A_1 dan ρ2:QA2\rho_2\colon Q \rightarrow A_2 merupakan homomorfisme-**\, beridentitas dari aljabar-C*C^* sedemikian sehingga diagram

    Persegi kerucut calon bagi tarik balik. Q berada di kiri atas, A dua di kanan atas, A satu di kiri bawah, dan B di kanan bawah. Panah rho dua dari Q ke A dua dan rho satu dari Q ke A satu memenuhi phi dua setelah rho dua sama dengan phi satu setelah rho satu, sehingga persegi komutatif.

    Persegi kerucut calon bagi tarik balik. Q berada di kiri atas, A dua di kanan atas, A satu di kiri bawah, dan B di kanan bawah. Panah rho dua dari Q ke A dua dan rho satu dari Q ke A satu memenuhi phi dua setelah rho dua sama dengan phi satu setelah rho satu, sehingga persegi komutatif.

    Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

    bersifat komutatif, maka terdapat suatu homomorfisme-**\, beridentitas tunggal Ψ:QP\Psi\colon Q \rightarrow P yang membuat diagram

    Diagram sifat universal tarik balik. Persegi dasar terdiri atas P ke A dua melalui pi dua, P ke A satu melalui pi satu, lalu phi dua dan phi satu menuju B. Dari Q tersedia rho dua ke A dua dan rho satu ke A satu; ada satu-satunya panah putus-putus Psi dari Q ke P. Seluruh diagram komutatif: pi dua setelah Psi sama dengan rho dua, pi satu setelah Psi sama dengan rho satu, dan kedua rute menuju B sama.

    Diagram sifat universal tarik balik. Persegi dasar terdiri atas P ke A dua melalui pi dua, P ke A satu melalui pi satu, lalu phi dua dan phi satu menuju B. Dari Q tersedia rho dua ke A dua dan rho satu ke A satu; ada satu-satunya panah putus-putus Psi dari Q ke P. Seluruh diagram komutatif: pi dua setelah Psi sama dengan rho dua, pi satu setelah Psi sama dengan rho satu, dan kedua rute menuju B sama.

    Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

    komutatif.

Proposisi 16.3.12.

Misalkan HH ruang Hilbert, AA aljabar-C*C^* beridentitas, dan τ:A𝔔(H)\tau\colon A \rightarrow\mathfrak{Q}(H) monomorfisme-**\, beridentitas. Maka, hingga isomorfisme, terdapat tarik balik tunggal (𝔈,π1,π2)(\mathfrak{E},\pi_1,\pi_2) dari AA dan 𝔅(H)\mathfrak{B}(H) sepanjang τ\tau dan π\pi sedemikian sehingga (𝔈,π2)(\mathfrak{E},\pi_2) merupakan ekstensi 𝔎(H)\mathfrak{K}(H) oleh AA yang membuat diagram berikut komutatif.

Dua baris eksak pendek yang merealisasikan ekstensi sebagai tarik balik. Baris atas: nol ke K(H) melalui iota ke E, lalu pi dua ke A, lalu nol. Baris bawah: nol ke K(H), lalu ke B(H), lalu pi ke aljabar Calkin Q(H), lalu nol. Panah vertikal adalah identitas pada K(H), pi satu dari E ke B(H), dan tau dari A ke Q(H). Kedua persegi komutatif; khususnya pi setelah pi satu sama dengan tau setelah pi dua.

Dua baris eksak pendek yang merealisasikan ekstensi sebagai tarik balik. Baris atas: nol ke K(H) melalui iota ke E, lalu pi dua ke A, lalu nol. Baris bawah: nol ke K(H), lalu ke B(H), lalu pi ke aljabar Calkin Q(H), lalu nol. Panah vertikal adalah identitas pada K(H), pi satu dari E ke B(H), dan tau dari A ke Q(H). Kedua persegi komutatif; khususnya pi setelah pi satu sama dengan tau setelah pi dua.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

Bukti.

Proof. (Sketsa.) Misalkan 𝔈={Ta𝔅(H)A:τ(a)=π(T)}\mathfrak{E} = \{T \oplus a \in \mathfrak{B}(H) \oplus A\colon \tau(a) = \pi(T)\}, π1:𝔈𝔅(H):TaT\pi_1\colon \mathfrak{E} \rightarrow\mathfrak{B}(H)\colon T \oplus a \mapsto T, dan π2:𝔈A:Taa\pi_2\colon \mathfrak{E} \rightarrow A\colon T \oplus a \mapsto a. Ketunggalan (setiap tarik balik) dibuktikan memakai “omong kosong abstrak” yang biasa. ◻

Proposisi 16.3.13.

Misalkan HH ruang Hilbert, AA aljabar-C*C^* beridentitas, dan (𝔈,ϕ)(\mathfrak{E},\phi) suatu ekstensi 𝔎(H)\mathfrak{K}(H) oleh AA. Maka terdapat suatu monomorfisme-**\, tunggal τ:A𝔔(H)\tau \colon A \rightarrow\mathfrak{Q}(H) yang membuat diagram 16.3.3 komutatif.

Definisi 16.3.14.

Misalkan HH ruang Hilbert dan AA aljabar-C*C^* beridentitas. Untuk j=1,2j=1,2, misalkan τj:A𝔔(H)\tau_j\colon A \rightarrow\mathfrak{Q}(H) suatu monomorfisme-**\, beridentitas. Kedua pemetaan ini ekuivalen secara uniter jika terdapat suatu operator uniter UU pada HH sedemikian sehingga τ2=AdUτ1\tau_2 = \mathop{\mathrm{Ad}}_U \tau_1. Ekuivalensi uniter monomorfisme-**\, beridentitas tentu merupakan suatu relasi ekuivalensi. Kelas ekuivalensi yang memuat τ1\tau_1 dilambangkan dengan [τ1][\tau_1].

Proposisi 16.3.15.

Misalkan HH ruang Hilbert dan AA aljabar-C*C^* beridentitas. Dua ekstensi 𝔎(H)\mathfrak{K}(H) oleh AA ekuivalen jika dan hanya jika monomorfisme-**\, beridentitas yang bersesuaian dengannya (lihat 16.3.13) ekuivalen secara uniter.

Akibat 16.3.16.

Jika HH ruang Hilbert dan AA aljabar-C*C^* beridentitas, terdapat suatu korespondensi satu-satu di antara kelas-kelas ekuivalensi ekstensi 𝔎(H)\mathfrak{K}(H) oleh AA dan kelas-kelas ekuivalensi uniter monomorfisme-**\, beridentitas dari AA ke aljabar Calkin 𝔔(H)\mathfrak{Q}(H).

Konvensi 16.3.17.

Berdasarkan akibat sebelumnya, kita akan memandang anggota ExtA\mathop{\mathrm{Ext}}A (atau ExtX\mathop{\mathrm{Ext}}X) sebagai kelas ekuivalensi ekstensi atau kelas ekuivalensi uniter monomorfisme-**\,, mana pun yang paling sesuai pada saat itu.

Proposisi 16.3.18.

Setiap ruang Hilbert HH (yang separabel dan berdimensi tak hingga) isomorfik secara isometrik dengan HHH \oplus H. Jadi aljabar-C*C^* 𝔅(H)\mathfrak{B}(H) dan 𝔅(HH)\mathfrak{B}(H \oplus H) isomorfik.

Definisi 16.3.19.

Misalkan τ1\tau_1, τ2:A𝔔(H)\tau_2 \colon A \rightarrow\mathfrak{Q}(H) merupakan monomorfisme-**\, beridentitas (dengan AA aljabar-C*C^* dan HH ruang Hilbert). Kita mendefinisikan suatu monomorfisme-**\, beridentitas τ1τ2:A𝔔(H)\tau_1 \oplus \tau_2 \colon A \rightarrow\mathfrak{Q}(H) melalui (τ1τ2)(a):=ρ(τ1(a)τ2(a))(\tau_1 \oplus \tau_2)(a) := \rho\bigl(\tau_1(a) \oplus \tau_2(a)\bigr) untuk setiap aAa \in A, dengan (seperti dalam Douglas[13]) ν\nu isomorfisme yang ditetapkan dalam 16.3.18 dan ρ\rho pemetaan yang membuat diagram berikut komutatif.

Persegi panjang komutatif yang mendefinisikan rho. Baris atas membawa B(H) tambah langsung B(H) secara kanonik ke B(H tambah langsung H), lalu melalui isomorfisme nu ke B(H). Panah vertikal kiri adalah pi tambah langsung pi menuju Q(H) tambah langsung Q(H), dan panah vertikal kanan adalah pi menuju Q(H). Panah bawah rho menuju Q(H) dipilih agar komposit bawah sama dengan komposit atas lalu pi.

Persegi panjang komutatif yang mendefinisikan rho. Baris atas membawa B(H) tambah langsung B(H) secara kanonik ke B(H tambah langsung H), lalu melalui isomorfisme nu ke B(H). Panah vertikal kiri adalah pi tambah langsung pi menuju Q(H) tambah langsung Q(H), dan panah vertikal kanan adalah pi menuju Q(H). Panah bawah rho menuju Q(H) dipilih agar komposit bawah sama dengan komposit atas lalu pi.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

Kemudian kita mendefinisikan operasi penjumlahan yang jelas pada ExtA\mathop{\mathrm{Ext}}A: [τ1]+[τ2]:=[τ1τ2][\tau_1] + [\tau_2] := [\tau_1 \oplus \tau_2] untuk [τ1][\tau_1], [τ2]ExtA[\tau_2] \in \mathop{\mathrm{Ext}}A.

Proposisi 16.3.20.

Operasi penjumlahan (yang diberikan dalam 16.3.19) pada ExtA\mathop{\mathrm{Ext}}A terdefinisi dengan baik dan di bawah operasi ini ExtA\mathop{\mathrm{Ext}}A menjadi semigrup komutatif.

Definisi 16.3.21.

Misalkan AA aljabar-C*C^* beridentitas dan 𝒓:A𝔅(H)\mathbf r\colon A \rightarrow \mathfrak{B}(H) representasi tak terdegenerasi dari AA pada suatu ruang Hilbert HH. Misalkan PP proyeksi ruang Hilbert dan MM jangkauan PP. Andaikan P𝒓(a)𝒓(a)P𝔎(H)P\mathbf r(a) - \mathbf r(a)P \in \mathfrak{K}(H) untuk setiap aAa~\in~A. Lambangkan dengan PMP_M proyeksi PP yang himpunan kodomainnya sama dengan jangkauannya; yaitu, PM:HM:xPxP_M\colon H \rightarrow M \colon x \mapsto Px. Maka untuk setiap aAa \in A kita mendefinisikan operator Toeplitz abstrak Ta𝔅(M)T_a \in \mathfrak{B}(M) bersimbol aa yang dikaitkan dengan pasangan (𝒓,P)(\mathbf r,P) melalui Ta=PM𝒓(a)|MT_a = P_M\mathbf r(a)\bigr|_M.

Definisi 16.3.22.

Gunakan notasi seperti dalam definisi sebelumnya 16.3.21. Kemudian kita mendefinisikan ekstensi Toeplitz abstrak τP\tau_P yang dikaitkan dengan pasangan (𝒓,P)(\mathbf r,P) melalui τP:A𝔔(M):aπ(Ta).\tau_P\colon A \rightarrow\mathfrak{Q}(M)\colon a \mapsto \pi(T_a)\,.

Perhatikan bahwa (monomorfisme-**\, beridentitas yang dikaitkan dengan) ekstensi Toeplitz konkret yang didefinisikan dalam 16.2.23 merupakan contoh ekstensi Toeplitz abstrak, dan juga bahwa secara umum ekstensi Toeplitz abstrak tidak harus injektif.

Definisi 16.3.23.

Misalkan AA aljabar-C*C^* beridentitas dan HH ruang Hilbert. Dalam semangat [27], definisi 2.7.6, kita mengatakan bahwa suatu monomorfisme-**\, beridentitas τ:A𝔔(H)\tau\colon A \rightarrow\mathfrak{Q}(H) bersifat semiterbelah jika terdapat suatu monomorfisme-**\, beridentitas τ:A𝔔(H)\tau\,'\colon A \rightarrow\mathfrak{Q}(H) sedemikian sehingga ττ\tau \oplus \tau' terbelah.

Proposisi 16.3.24.

Andaikan AA aljabar-C*C^* beridentitas dan HH ruang Hilbert. Maka suatu monomorfisme-**\, beridentitas τ:A𝔔(H)\tau\colon A \rightarrow\mathfrak{Q}(H) semiterbelah jika dan hanya jika ekuivalen secara uniter dengan suatu ekstensi Toeplitz abstrak.

Bukti.

Proof. Lihat [27], proposisi 2.7.10. ◻

in

in

Pemetaan Positif Lengkap

Dalam contoh 7.1.29 ditunjukkan bagaimana himpunan 𝑴n\mathbf M_n semua matriks n×nn \times n atas bilangan kompleks dapat dijadikan aljabar-C*C^*. Sekarang kita memperumum contoh itu ke aljabar 𝑴n(A)\mathbf{M}_{n}({A}) semua matriks n×nn \times n yang unsur-unsurnya berasal dari aljabar-C*C^* AA.

Contoh 16.4.1.

Dalam contoh 8.1.13 dinyatakan bahwa jika AA merupakan aljabar-C*C^*, maka di bawah operasi aljabar biasa, himpunan 𝑴n(A)\mathbf{M}_{n}({A}) semua matriks n×nn \times n yang unsur-unsurnya berasal dari AA merupakan suatu aljabar. Aljabar ini dapat dijadikan aljabar-**\, dengan mengambil transposisi konjugat sebagai involusi. Artinya, definisikan [aij]*:=[aji*][ a_{ij}]^* := \bigl[ {a_{j\,i}}^*\bigr] dengan aijAa_{ij} \in A untuk 1i,jn1 \le i,j \le n.

Misalkan HH ruang Hilbert. Untuk sementara, ruang itu tidak harus berdimensi tak hingga atau separabel. Lambangkan dengan HnH^n jumlah langsung rangkap-nn-nya. Artinya, Hn:=k=1nHkH^n := \bigoplus_{k=1}^n H_k dengan Hk=HH_k = H untuk k=1,,nk = 1, \dots, n. Misalkan [Tjk]𝑴n(𝔅(H))[T_{jk}] \in \mathbf M_n(\mathfrak{B}(H)). Untuk 𝒙=x1xnHn\mathbf{x} = x_1 \oplus \dots \oplus x_n \in H^n, definisikan 𝑻:HnHn:𝒙[Tjk]𝒙=k=1nT1kxkk=1nTnkxk.\mathbf{T} \colon H^n \rightarrow H^n \colon \mathbf{x} \mapsto [T_{jk}] \mathbf{x} = \sum_{k=1}^n T_{1k}x_k \oplus \dots \oplus \sum_{k=1}^n T_{nk}x_k \,. Maka 𝑻𝔅(Hn)\mathbf{T} \in \mathfrak{B}(H^n). Lebih lanjut, pemetaan Ψ:𝑴n(𝔅(H))𝔅(Hn):[Tjk]𝑻\Psi \colon \mathbf M_n\bigl(\mathfrak{B}(H)\bigr) \rightarrow\mathfrak{B}(H^n) \colon [T_{jk}] \mapsto \mathbf{T} merupakan isomorfisme aljabar-**\,. Gunakan Ψ\Psi untuk memindahkan norma operator pada 𝔅(Hn)\mathfrak{B}(H^n) ke 𝑴n(𝔅(H))\mathbf M_n\bigl(\mathfrak{B}(H)\bigr). Artinya, definisikan [Tjk]:=𝑻.\bigl\lVert\,[T_{jk}]\,\bigr\rVert := \lVert\mathbf{T}\rVert\,. Ini menjadikan 𝑴n(𝔅(H))\mathbf M_n\bigl(\mathfrak{B}(H)\bigr) aljabar-C*C^* yang isomorfik dengan 𝔅(Hn)\mathfrak{B}(H^n).

Sekarang andaikan AA aljabar-C*C^* sebarang. Gunakan versi III Teorema Gelfand–Naimark pada 13.3.8. Dengan teorema ini, kita dapat mengidentifikasi AA dengan subaljabar-C*C^* dari 𝔅(H)\mathfrak{B}(H) untuk suatu ruang Hilbert HH dan, akibatnya, 𝑴n(A)\mathbf{M}_{n}({A}) dengan suatu subaljabar-C*C^* dari 𝑴n(𝔅(H))\mathbf M_n\bigl(\mathfrak{B}(H)\bigr). Dengan identifikasi ini, 𝑴n(A)\mathbf{M}_{n}({A}) menjadi aljabar-C*C^*. (Perhatikan bahwa menurut akibat 11.4.10, norma pada aljabar-C*C^* bersifat tunggal; jadi jelas bahwa norma pada 𝑴n(A)\mathbf M_n(A) tidak bergantung pada cara khusus AA direpresentasikan sebagai subaljabar-C*C^* dari operator pada suatu ruang Hilbert.)

Contoh 16.4.2.

Misalkan kk \in \mathbb{N} dan A=𝑴kA = \mathbf M_k. Maka untuk setiap nn \in \mathbb{N}, 𝑴n(A)=𝑴n(𝑴k)𝑴nk.\mathbf M_n(A) = \mathbf M_n(\mathbf M_k) \cong \mathbf M_{nk}\,. Isomorfismenya jelas: cukup hapus kurung siku bagian dalam. Sebagai contoh, isomorfisme dari 𝑴2(𝑴2)\mathbf M_2(\mathbf M_2) ke 𝑴4\mathbf M_4 diberikan oleh [[a11a12a21a22][b11b12b21b22]*[25pt][c11c12c21c22][d11d12d21d22]][a11a12b11b12a21a22b21b22c11c12d11d12c21c22d21d22]\begin{bmatrix} {} & {} \\ \begin{bmatrix} a_{11} & a_{12} \\ a_{21} & a_{22} \end{bmatrix} & \begin{bmatrix} b_{11} & b_{12} \\ b_{21} & b_{22} \end{bmatrix} \\*[25pt] \begin{bmatrix} c_{11} & c_{12} \\ c_{21} & c_{22} \end{bmatrix} & \begin{bmatrix} d_{11} & d_{12} \\ d_{21} & d_{22} \end{bmatrix} \\ {} & {} \end{bmatrix} \quad \mapsto \quad \begin{bmatrix} a_{11} & a_{12} & b_{11} & b_{12} \\ a_{21} & a_{22} & b_{21} & b_{22} \\ c_{11} & c_{12} & d_{11} & d_{12} \\ c_{21} & c_{22} & d_{21} & d_{22} \end{bmatrix}

Definisi 16.4.3.

Suatu pemetaan ϕ:AB\phi\colon A \rightarrow B di antara aljabar-C*C^* disebut positif jika pemetaan itu membawa elemen positif ke elemen positif; yakni, jika ϕ(a)B+\phi(a) \in B^+ setiap kali aA+a \in A^+.

Contoh 16.4.4.

Setiap homomorfisme-**\, di antara aljabar-C*C^* bersifat positif. (Lihat proposisi 12.5.19.)

Proposisi 16.4.5.

Setiap pemetaan linear positif di antara aljabar-C*C^* bersifat terbatas.

Notasi 16.4.6.

Misalkan AA dan BB aljabar-C*C^* serta nn \in \mathbb{N}. Suatu pemetaan linear ϕ:AB\phi\colon A \rightarrow B menginduksi pemetaan linear ϕ(n):=ϕid𝑴n:A𝑴nB𝑴n\phi^{(\,n)} := \phi \otimes \operatorname{id}_{\mathbf M_n}\colon A \otimes \mathbf M_n \rightarrow B \otimes \mathbf M_n. Seperti telah kita lihat, A𝑴nA \otimes \mathbf M_n dapat diidentifikasi dengan 𝑴n(A)\mathbf M_n(A). Jadi kita dapat memandang ϕ(n)\phi^{(\,n)} sebagai pemetaan dari 𝑴n(A)\mathbf M_n(A) ke 𝑴n(B)\mathbf M_n(B) yang didefinisikan oleh ϕ(n)([ajk])=[ϕ(ajk)]\phi^{(\,n)}\big(\,[a_{jk}]\,\bigr) = \bigl[ \phi(a_{jk})\bigr].

Mudah dilihat bahwa jika ϕ\phi mempertahankan perkalian, maka setiap ϕ(n)\phi^{(\,n)} juga demikian, dan jika ϕ\phi mempertahankan involusi, maka setiap ϕ(n)\phi^{(\,n)} juga demikian. Akan tetapi, kepositifan tidak selalu dipertahankan, sebagaimana ditunjukkan contoh 16.4.8 berikut.

Definisi 16.4.7.

Dalam 𝑴n\mathbf M_n, unit matriks standar adalah matriks-matriks ejke^{jk} (1j,kn1 \le j,k \le n) yang entri pada baris ke-jj dan kolom ke-kk bernilai 11, sedangkan semua entri lainnya bernilai 00.

Contoh 16.4.8.

Misalkan A=𝑴2A = \mathbf M_2. Maka ϕ:AA:aat\phi\colon A \rightarrow A\colon a \mapsto a^t (dengan ata^t transposisi aa) merupakan pemetaan positif. Pemetaan ϕ(2):𝑴2(A)𝑴2(A)\phi^{(2)}\colon \mathbf M_2(A) \rightarrow\mathbf M_2(A) tidak positif. Untuk melihatnya, misalkan e11e^{11}, e12e^{12}, e21e^{21}, dan e22e^{22} unit matriks standar untuk AA. Maka ϕ(2)([e11e12e21e22])=[ϕ(e11)ϕ(e12)ϕ(e21)ϕ(e22)]=[e11e21e12e22]=[1000001001000001]\phi^{(2)}\left(\begin{bmatrix} e^{11} & e^{12} \\ e^{21} & e^{22} \end{bmatrix}\right) = \begin{bmatrix} \phi(e^{11}) & \phi(e^{12}) \\ \phi(e^{21}) & \phi(e^{22}) \end{bmatrix} = \begin{bmatrix} e^{11} & e^{21} \\ e^{12} & e^{22} \end{bmatrix} = \begin{bmatrix} 1 & 0 & 0 & 0 \\ 0 & 0 & 1 & 0 \\ 0 & 1 & 0 & 0 \\ 0 & 0 & 0 & 1 \end{bmatrix} yang tidak positif.

Definisi 16.4.9.

Suatu pemetaan linear ϕ:AB\phi\colon A \rightarrow B di antara aljabar-C*C^* beridentitas disebut nn-positif (untuk nn \in \mathbb{N}) jika ϕ(n)\phi^{(\,n)} positif. Pemetaan itu disebut positif lengkap jika bersifat nn-positif untuk setiap nn \in \mathbb{N}.

Contoh 16.4.10.

Setiap homomorfisme-**\, di antara aljabar-C*C^* bersifat positif lengkap.

Proposisi 16.4.11.

Misalkan AA aljabar-C*C^* beridentitas dan aAa \in A. Maka a1\lVert a\rVert \le 1 jika dan hanya jika [𝟏aa*𝟏]\begin{bmatrix} \mathbf{1} & a \\ a^* & \mathbf{1} \end{bmatrix} positif dalam 𝑴2(A)\mathbf M_2(A).

Proposisi 16.4.12.

Misalkan AA aljabar-C*C^* beridentitas dan aa, bAb \in A. Maka a*aba^*a \le b jika dan hanya jika [𝟏aa*b]\begin{bmatrix} \mathbf{1} & a \\ a^* & b \end{bmatrix} positif dalam 𝑴2(A)\mathbf M_2(A).

Proposisi 16.4.13.

Setiap pemetaan 22-positif beridentitas di antara aljabar-C*C^* beridentitas bersifat kontraktif.

Proposisi 16.4.14.

Jika ϕ:AB\phi\colon A \rightarrow B merupakan pemetaan 22-positif beridentitas di antara aljabar-C*C^* beridentitas, maka (ϕ(a))*ϕ(a)ϕ(a*a)\bigl(\phi(a)\bigr)^*\phi(a) \le \phi(a^*a) untuk setiap aAa \in A.

Definisi 16.4.15.

Mudah dilihat bahwa jika ϕ:AB\phi\colon A \rightarrow B merupakan pemetaan linear terbatas di antara aljabar-C*C^*, maka ϕ(n)\phi^{(\,n)} terbatas untuk setiap nn \in \mathbb{N}. Jika ϕcb:=sup{ϕ(n):n}<\lVert\phi\rVert_{\mathrm{cb}} := \sup\{\lVert\phi^{(\,n)}\rVert \colon n \in \mathbb{N}\} < \infty, maka ϕ\phi disebut terbatas lengkap.

Proposisi 16.4.16.

Jika ϕ:AB\phi\colon A \rightarrow B merupakan pemetaan linear beridentitas dan positif lengkap di antara aljabar-C*C^* beridentitas, maka ϕ\phi terbatas lengkap dan ϕ(𝟏)=ϕ=ϕcb.\lVert\phi(\mathbf{1})\rVert = \lVert\phi \rVert= \lVert\phi\rVert_{\mathrm{cb}}\,.

Bukti.

Proof. Lihat [40]. ◻

Teorema 16.4.17.

Misalkan AA aljabar-C*C^* beridentitas, HH ruang Hilbert, dan ϕ:A𝔅(H)\phi\colon A \rightarrow\mathfrak{B}(H) pemetaan linear beridentitas. Maka ϕ\phi positif lengkap jika dan hanya jika terdapat suatu ruang Hilbert H0H_0, suatu isometri V:HH0V\colon H \rightarrow H_0, dan suatu representasi tak terdegenerasi 𝒓:A𝔅(H0)\mathbf{r}\colon A \rightarrow\mathfrak{B}(H_0) sedemikian sehingga ϕ(a)=V*𝒓(a)V\phi(a) = V^*\mathbf{r}(a)V untuk setiap aAa \in A.

Bukti.

Proof. Lihat [27], teorema 3.1.3, atau [40], teorema 4.1. ◻

Notasi 16.4.18.

Misalkan AA aljabar-C*C^*, f:A𝔅(H0)f\colon A \rightarrow\mathfrak{B}(H_0), dan g:A𝔅(H)g\colon A \rightarrow\mathfrak{B}(H), dengan H0H_0 dan HH ruang Hilbert. Kita menulis gfg \lesssim f jika terdapat suatu isometri V:HH0V\colon H \rightarrow H_0 sedemikian sehingga g(a)V*f(a)V𝔎(H)g(a) - V^*f(a)V \in \mathfrak{K}(H) untuk setiap aAa \in A. Relasi \lesssim merupakan praurutan, tetapi bukan urutan parsial; yakni, relasi itu refleksif dan transitif, tetapi tidak antisimetris.

Teorema 16.4.19.

Misalkan AA aljabar-C*C^* beridentitas yang separabel, 𝒓:A𝔅(H0)\mathbf{r}\colon A \rightarrow\mathfrak{B}(H_0) representasi tak terdegenerasi, dan ϕ:A𝔅(H)\phi\colon A \rightarrow\mathfrak{B}(H) pemetaan linear beridentitas dan positif lengkap (dengan HH dan H0H_0 ruang Hilbert). Jika ϕ(a)=𝟎\phi(a) = \mathbf{0} setiap kali 𝒓(a)𝔎(H0)\mathbf{r}(a) \in \mathfrak{K}(H_0), maka ϕ𝒓\phi \lesssim \mathbf{r}.

Bukti.

Proof. Buktinya panjang dan rumit, tetapi “elementer”. Lihat [27], bagian 3.5–3.6. ◻

Proposisi 16.4.20.

Misalkan AA aljabar-C*C^* beridentitas yang separabel, HH ruang Hilbert, dan τ1\tau_1, τ2:A𝔔(H)\tau_2 \colon A \rightarrow\mathfrak{Q}(H) monomorfisme-**\, beridentitas. Jika τ2\tau_2 terbelah, maka τ1+τ2\tau_1 + \tau_2 ekuivalen secara uniter dengan τ1\tau_1.

Bukti.

Proof. Lihat [27], teorema 3.4.7. ◻

Akibat 16.4.21.

Andaikan AA aljabar-C*C^* beridentitas yang separabel, HH ruang Hilbert, dan τ:A𝔔(H)\tau \colon A \rightarrow\mathfrak{Q}(H) monomorfisme-**\, beridentitas yang terbelah. Maka [τ][\tau] merupakan identitas aditif dalam ExtA\mathop{\mathrm{Ext}}A.

Perhatikan bahwa suatu monomorfisme-**\, beridentitas τ:A𝔔(H)\tau\colon A \rightarrow\mathfrak{Q}(H) dari aljabar-C*C^* beridentitas yang separabel ke aljabar Calkin dari suatu ruang Hilbert HH bersifat semiterbelah jika dan hanya jika [τ][\tau] mempunyai invers aditif dalam ExtA\mathop{\mathrm{Ext}}A. Proposisi berikut mengatakan bahwa hal ini terjadi jika dan hanya jika τ\tau mempunyai suatu pengangkatan positif lengkap ke 𝔅(H)\mathfrak{B}(H).

Proposisi 16.4.22.

Misalkan AA aljabar-C*C^* beridentitas yang separabel dan HH ruang Hilbert. Suatu monomorfisme-**\, beridentitas τ:A𝔔(H)\tau\colon A \rightarrow\mathfrak{Q}(H) semiterbelah jika dan hanya jika terdapat suatu pemetaan linear beridentitas dan positif lengkap τ̃:A𝔅(H)\widetilde{\tau}\colon A \rightarrow\mathfrak{B}(H) sedemikian sehingga diagram

Segitiga pengangkatan monomorfisme tau. Pemetaan tau tilde membawa A ke B(H), pemetaan hasil bagi pi membawa B(H) ke aljabar Calkin Q(H), dan tau membawa A langsung ke Q(H). Segitiga komutatif: pi setelah tau tilde sama dengan tau. Dalam proposisi ini tau tilde harus linear, beridentitas, dan positif lengkap.

Segitiga pengangkatan monomorfisme tau. Pemetaan tau tilde membawa A ke B(H), pemetaan hasil bagi pi membawa B(H) ke aljabar Calkin Q(H), dan tau membawa A langsung ke Q(H). Segitiga komutatif: pi setelah tau tilde sama dengan tau. Dalam proposisi ini tau tilde harus linear, beridentitas, dan positif lengkap.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

komutatif.

Bukti.

Proof. Lihat [27], teorema 3.1.5. ◻

Definisi 16.4.23.

Suatu aljabar-C*C^* AA disebut nuklir jika untuk setiap aljabar-C*C^* BB terdapat suatu norma-C*C^* tunggal pada hasil kali tensor aljabaris ABA \odot B.

Contoh 16.4.24.

Setiap aljabar-C*C^* berdimensi hingga bersifat nuklir.

Bukti.

Proof. Lihat [39], teorema 6.3.9. ◻

Contoh 16.4.25.

Aljabar-C*C^* 𝑴n\mathbf M_n bersifat nuklir.

Bukti.

Proof. Lihat [3], II.9.4.2. ◻

Contoh 16.4.26.

Jika HH ruang Hilbert, maka aljabar-C*C^* 𝔎(H)\mathfrak{K}(H) dari operator kompak bersifat nuklir.

Bukti.

Proof. Lihat [39], contoh 6.3.2. ◻

Contoh 16.4.27.

Jika XX ruang Hausdorff kompak, maka aljabar-C*C^* 𝒞(X)\mathcal{C}(X) bersifat nuklir.

Bukti.

Proof. Lihat [40], proposisi 12.9. ◻

Contoh 16.4.28.

Setiap aljabar-C*C^* komutatif bersifat nuklir.

Bukti.

Proof. Lihat [18], teorema 7.4.1, atau [51], teorema T.6.20.  ◻

Kesimpulan hasil berikut dikenal sebagai sifat pengangkatan positif lengkap.

Proposisi 16.4.29.

Misalkan AA aljabar-C*C^* beridentitas, separabel, dan nuklir, serta JJ suatu ideal separabel dalam aljabar-C*C^* beridentitas BB. Maka untuk setiap pemetaan positif lengkap ϕ:AB/J\phi\colon A \rightarrow B/J, terdapat suatu pemetaan positif lengkap ϕ̃:AB\widetilde{\phi}\colon A \rightarrow B yang membuat diagram

Segitiga sifat pengangkatan positif lengkap. Pemetaan phi tilde membawa A ke B, pemetaan hasil bagi kanonik membawa B ke B per J, dan phi membawa A langsung ke B per J. Segitiga komutatif: pemetaan hasil bagi setelah phi tilde sama dengan phi. Pemetaan phi dan pengangkatannya phi tilde positif lengkap.

Segitiga sifat pengangkatan positif lengkap. Pemetaan phi tilde membawa A ke B, pemetaan hasil bagi kanonik membawa B ke B per J, dan phi membawa A langsung ke B per J. Segitiga komutatif: pemetaan hasil bagi setelah phi tilde sama dengan phi. Pemetaan phi dan pengangkatannya phi tilde positif lengkap.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

komutatif.

Bukti.

Proof. Lihat [27], teorema 3.3.6. ◻

Akibat 16.4.30.

Jika AA merupakan aljabar-C*C^* beridentitas, separabel, dan nuklir, maka ExtA\mathop{\mathrm{Ext}}A merupakan grup Abelian.