Bab 1 · Aljabar Linear dan Teorema Spektral

Dalam mata kuliah analisis tingkat awal, penekanan diberikan pada perilaku fungsi-fungsi individual (bernilai real atau kompleks). Dalam mata kuliah analisis fungsional, fokus beralih ke ruang-ruang fungsi tersebut dan kelas-kelas pemetaan tertentu di antara ruang-ruang itu. Ternyata uraian yang ringkas, mungkin terlampau menyederhanakan, tetapi jelas tidak menyesatkan, tentang materi tersebut ialah aljabar linear berdimensi tak hingga. Dari sudut pandang seorang analis, pencapaian terbesar aljabar linear sebagian besar berupa teorema-teorema tentang operator pada ruang vektor berdimensi hingga (terutama n\mathbb{R}^n dan n\mathbb{C}^n). Akan tetapi, ruang vektor pemetaan bernilai skalar yang didefinisikan pada berbagai domain biasanya berdimensi tak hingga. Apakah proses memperumum hasil-hasil mengagumkan dari aljabar linear berdimensi hingga ke ranah berdimensi tak hingga dipandang sebagai rangkaian komplikasi abstrak yang sangat tidak menyenangkan atau sebagai sumber kaya wawasan menakjubkan, pertanyaan baru yang menarik, dan petunjuk yang menggugah menuju penerapan di bidang lain sepenuhnya bergantung pada orientasi seseorang terhadap matematika secara umum.

Berdasarkan uraian di atas, akan bermanfaat untuk memulai perjalanan kita ke wilayah baru ini dengan tinjauan singkat atas beberapa keberhasilan klasik aljabar linear. Tidak jarang mahasiswa yang berhasil menyelesaikan mata kuliah pengantar aljabar linear pada akhirnya hanya memiliki gagasan yang paling samar tentang pokok bahasan mata kuliah itu. Sebagian kesalahan mungkin terletak pada banyak buku dasar yang mencampuradukkan secara tidak semestinya dua pokok bahasan yang sangat berbeda, meskipun berkaitan erat: di satu pihak, kajian ruang vektor dan pemetaan linear di antaranya, dan di pihak lain, ruang hasil kali dalam beserta pemetaan linearnya. Ruang vektor tidak memiliki gagasan geometri/topologi tentang jarak, panjang, ketegaklurusan, himpunan terbuka, atau sudut antara vektor; yang ada hanyalah penjumlahan dan perkalian skalar. Ruang hasil kali dalam adalah ruang vektor yang dilengkapi struktur-struktur tambahan tersebut. Mari kita tinjau keduanya secara terpisah.

Ruang Vektor dan Dekomposisi Operator yang Dapat Didiagonalkan

Konvensi 1.1.1.

Dalam catatan ini semua ruang vektor akan diasumsikan sebagai ruang vektor atas medan \mathbb{C} bilangan kompleks (dalam hal ini disebut ruang vektor kompleks) atau atas medan \mathbb{R} bilangan real (dalam hal ini disebut ruang vektor real). Tidak ada medan lain yang akan muncul. Ketika 𝕂\mathbb{K} muncul, medan itu dapat dipandang sebagai \mathbb{C} ataupun \mathbb{R}. Suatu skalar adalah anggota 𝕂\mathbb{K}; yaitu, suatu bilangan kompleks atau suatu bilangan real.

Definisi 1.1.2.

Tripel (V,+,M)(V,+,M) adalah ruang vektor atas 𝕂\mathbb{K} jika (V,+)(V,+) adalah grup Abelian dan M:𝕂Hom(V)M\colon \mathbb{K}\rightarrow\mathop{\mathrm{Hom}}(V) adalah homomorfisme gelanggang beridentitas (dengan Hom(V)\mathop{\mathrm{Hom}}(V) gelanggang homomorfisme grup pada VV).

Untuk memeriksa arti istilah-istilah dalam definisi sebelumnya, lihat tiga bagian pertama dari bab pertama catatan aljabar linear saya [17].

Latihan 1.1.3.

Definisi ruang vektor yang ditemukan dalam banyak buku dasar kurang lebih sebagai berikut: suatu ruang vektor atas 𝕂\mathbb{K} adalah himpunan VV beserta operasi penjumlahan dan perkalian skalar yang memenuhi aksioma-aksioma berikut:

  1. jika xx, yVy \in V, maka x+yVx + y \in V;

  2. (x+y)+z=x+(y+z)(x + y) + z = x + (y + z) untuk setiap xx, yy, zVz \in V (asosiativitas);

  3. terdapat 𝟎V\mathbf{0} \in V sehingga x+𝟎=xx + \mathbf{0} = x untuk setiap xVx \in V (keberadaan identitas aditif);

  4. untuk setiap xVx\in V terdapat xV-x \in V sehingga x+(x)=𝟎x + (-x) = \mathbf{0} (keberadaan invers aditif);

  5. x+y=y+xx + y = y + x untuk setiap xx, yVy \in V (komutativitas);

  6. jika α𝕂\alpha \in \mathbb{K} dan xVx \in V, maka αxV\alpha x \in V;

  7. α(x+y)=αx+αy\alpha (x + y) = \alpha x + \alpha y untuk setiap α𝕂\alpha \in \mathbb{K} dan setiap xx, yVy \in V;

  8. (α+β)x=αx+βx(\alpha + \beta)x = \alpha x + \beta x untuk setiap α\alpha, β𝕂\beta \in \mathbb{K} dan setiap xVx \in V;

  9. (αβ)x=α(βx)(\alpha\beta)x = \alpha(\beta x) untuk setiap α\alpha, β𝕂\beta \in \mathbb{K} dan setiap xVx \in V; dan

  10. 1x=x1\,x = x untuk setiap xVx \in V.

Buktikan bahwa definisi ini ekuivalen dengan definisi yang diberikan di atas dalam 1.1.2.

Definisi 1.1.4.

Subhimpunan MM dari ruang vektor VV adalah subruang vektor dari VV jika merupakan ruang vektor terhadap operasi yang diwarisinya dari VV.

Proposisi 1.1.5.

Subhimpunan tak kosong MM dari ruang vektor VV adalah subruang vektor dari VV jika dan hanya jika tertutup terhadap penjumlahan dan perkalian skalar. (Artinya: jika 𝒙\mathbf{x} dan 𝒚\mathbf{y} termasuk dalam MM, maka 𝒙+𝒚\mathbf{x} + \mathbf{y} juga demikian; dan jika 𝒙\mathbf{x} termasuk dalam MM dan α𝕂\alpha \in \mathbb{K}, maka α𝒙\alpha \mathbf{x} termasuk dalam MM.)

Definisi 1.1.6.

Vektor yy adalah kombinasi linear dari vektor-vektor x1x_1, …, xnx_n jika terdapat skalar α1\alpha_1, …, αn\alpha_n sehingga y=k=1nαkxky = \sum_{k=1}^n \alpha_k x_k. Kombinasi linear k=1nαkxk\sum_{k=1}^n \alpha_k x_k disebut trivial jika semua koefisien α1\alpha_1, …, αn\alpha_n bernilai nol. Jika sekurang-kurangnya satu αk\alpha_k tidak sama dengan nol, kombinasi linear itu disebut nontrivial.

Definisi 1.1.7.

Jika AA adalah subhimpunan tak kosong dari ruang vektor VV, maka spanA\mathop{\mathrm{span}}A, yaitu rentang dari AA, adalah himpunan semua kombinasi linear unsur-unsur AA. Himpunan ini juga sering disebut rentang linear dari AA.

Notasi 1.1.8.

Misalkan AA adalah himpunan yang merentang ruang vektor VV. Untuk setiap xVx \in V terdapat himpunan hingga SS yang terdiri atas vektor-vektor dalam AA, dan untuk setiap unsur ee dalam AA terdapat skalar xex_e sehingga x=eSxeex = \sum_{e \in S} x_e e. Jika kita sepakat menetapkan xe=0x_e = 0 apabila eA\Se \in A \setminus S, kita dapat pula menulis x=eAxeex = \sum_{e \in A} x_e e. Walaupun notasi ini mungkin memberi kesan bahwa kita menjumlahkan atas himpunan sembarang yang mungkin tak terhitung, kenyataannya semua kecuali sejumlah hingga suku bernilai nol, sehingga tidak timbul masalah “kekonvergenan”. Perlakukan eAxee\sum_{e \in A} x_e e sebagai jumlah hingga. Asosiativitas dan komutativitas penjumlahan dalam VV membuat ekspresi tersebut tidak ambigu.

Definisi 1.1.9.

Subhimpunan AA dari suatu ruang vektor disebut bergantung linear jika vektor nol 𝟎\mathbf{0} dapat ditulis sebagai kombinasi linear nontrivial dari unsur-unsur AA; yaitu, jika terdapat vektor x1,,xnAx_1, \dots, x_n \in A dan skalar α1,,αn\alpha_1, \dots, \alpha_n, yang tidak semuanya nol, sehingga k=1nαkxk=𝟎\sum_{k=1}^n \alpha_kx_k = \mathbf{0}. Subhimpunan suatu ruang vektor disebut bebas linear jika tidak bergantung linear.

Secara teknis, suatu himpunan vektorlah yang bergantung atau bebas linear. Meskipun demikian, istilah-istilah ini sering digunakan seolah-olah merupakan sifat vektornya sendiri. Sebagai contoh, jika S={x1,,xn}S = \{x_1, \dots, x_n\} adalah himpunan hingga vektor dalam suatu ruang vektor, pernyataan “himpunan SS bebas linear” dan “vektor-vektor x1x_1, …, xnx_n bebas linear” dapat digunakan secara bergantian.

Definisi 1.1.10.

Himpunan BB yang terdiri atas vektor-vektor dalam ruang vektor VV adalah basis Hamel untuk VV jika bebas linear dan merentang VV.

Konvensi 1.1.11.

Ruang vektor yang hanya memuat satu vektor, yaitu vektor nol, adalah ruang vektor trivial (atau nol). Terkait ruang ini terdapat sebuah pertanyaan teknis, meskipun tidak terlalu menarik. Apakah ruang ini memiliki basis Hamel? Dari definisi kebergantungan linear 1.1.9, jelas bahwa himpunan kosong \emptyset bebas linear. Himpunan kosong tentu merupakan subhimpunan bebas linear maksimal dari ruang nol (suatu kondisi yang, untuk ruang nontrivial, ekuivalen dengan menjadi himpunan perentang yang bebas linear). Akan tetapi, sulit untuk berpendapat bahwa himpunan kosong merentang sesuatu. Jadi, semata-mata sebagai konvensi, kita akan mengatakan bahwa jawaban atas pertanyaan itu adalah ya. Ruang vektor nol memiliki basis Hamel, dan basis itu adalah himpunan kosong!

Dalam buku pengantar aljabar linear, himpunan perentang yang bebas linear hanya disebut basis. Di sini digunakan istilah basis Hamel untuk membedakannya dari basis ortonormal dan basis Schauder, istilah-istilah yang mengacu pada konsep yang lebih penting dalam analisis fungsional.

Proposisi 1.1.12.

Misalkan BB adalah basis Hamel untuk ruang vektor nontrivial VV. Maka setiap unsur dalam VV dapat ditulis secara tunggal sebagai kombinasi linear anggota-anggota BB.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Eksistensinya jelas. Sederhanakan pembuktian ketunggalan dengan menggunakan konvensi notasi yang disarankan dalam 1.1.8. ◻

Proposisi 1.1.13.

Misalkan AA adalah subhimpunan bebas linear dari ruang vektor VV. Maka terdapat basis Hamel untuk VV yang memuat AA.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Tunjukkan terlebih dahulu bahwa, untuk ruang nontrivial, subhimpunan bebas linear dari VV adalah basis untuk VV jika dan hanya jika merupakan subhimpunan bebas linear maksimal. Kemudian urutkan keluarga subhimpunan bebas linear dari VV yang memuat AA berdasarkan inklusi dan terapkan lema Zorn. (Jika Anda belum mengenal lema Zorn, lihat Bagian 1.7 dalam catatan aljabar linear saya [17].) ◻

Akibat 1.1.14.

Setiap ruang vektor memiliki basis Hamel.

Definisi 1.1.15.

Misalkan MM dan NN adalah subruang dari ruang vektor VV. Jika MN={𝟎}M \cap N = \{\mathbf{0}\} dan M+N=VM + N = V, maka VV adalah jumlah langsung (internal) dari MM dan NN. Dalam hal ini kita menulis V=MN.V = M \oplus N\,. Kita mengatakan bahwa MM dan NN adalah subruang vektor komplementer dan masing-masing merupakan komplemen (ruang vektor) dari yang lain. Kodimensi subruang MM adalah dimensi komplemennya NN.

Proposisi 1.1.16.

Misalkan VV adalah ruang vektor dan andaikan V=MNV = M \oplus N. Maka untuk setiap vVv \in V terdapat vektor-vektor tunggal mMm \in M dan nNn \in N sehingga v=m+nv = m + n.

Contoh 1.1.17.

Misalkan 𝒞=𝒞[1,1]\mathcal{C} = \mathcal{C}[-1,1] adalah ruang vektor semua fungsi kontinu bernilai real pada interval [1,1][-1,1]. Fungsi ff dalam 𝒞\mathcal{C} disebut genap jika f(x)=f(x)f(-x) = f(x) untuk semua x[1,1]x \in [-1,1]; fungsi itu disebut ganjil jika f(x)=f(x)f(-x) = -f(x) untuk semua x[1,1]x \in [-1,1]. Misalkan 𝒞o={f𝒞:f ganjil }\mathcal{C}_o = \{f \in \mathcal{C}\colon f \text{ ganjil }\} dan 𝒞e={f𝒞:f genap }\mathcal{C}_e = \{f \in \mathcal{C}\colon f \text{ genap }\}. Maka 𝒞=𝒞o𝒞e\mathcal{C} = \mathcal{C}_o \oplus \mathcal{C}_e.

Proposisi 1.1.18.

Jika MM adalah subruang dari ruang vektor VV, maka terdapat subruang NN dari VV sehingga V=MNV = M \oplus N.

Lema 1.1.19.

Misalkan VV adalah ruang vektor dengan basis hingga tak kosong {e1,,en}\{e^1, \dots,e^n\} dan misalkan v=k=1nαkekv = \sum_{k=1}^n \alpha_k e^k adalah vektor dalam VV. Jika pnp \in \mathbb{N}_n dan αp0\alpha_p \ne 0, maka {e1,,ep1,v,ep+1,,en}\{e^1, \dots,e^{p-1},v,e^{p+1}, \dots, e^n\} adalah basis untuk VV.

Proposisi 1.1.20.

Jika suatu basis untuk ruang vektor VV memuat nn unsur, maka setiap subhimpunan bebas linear dari VV yang memiliki nn unsur juga merupakan basis.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Andaikan {e1,,en}\{e^1,\dots,e^n\} adalah basis untuk VV dan {v1,,vn}\{v^1, \dots,v^n\} bebas linear dalam VV. Mulailah dengan menggunakan lema 1.1.19 untuk menunjukkan bahwa (setelah mungkin menomori ulang eke^k) himpunan {v1,e2,,en}\{v^1, e^2, \dots, e^n\} adalah basis untuk VV. ◻

Akibat 1.1.21.

Jika ruang vektor VV memiliki basis hingga BB, maka setiap basis untuk VV berhingga dan memuat jumlah unsur yang sama dengan BB.

Definisi 1.1.22.

Suatu ruang vektor disebut berdimensi hingga jika memiliki basis hingga, dan dimensi ruang tersebut adalah banyaknya unsur dalam basis ini (dan dengan demikian dalam basis mana pun) untuk ruang itu. Dimensi ruang vektor berdimensi hingga VV dinotasikan dengan dimV\dim V. Berdasarkan konvensi yang dibuat di atas 1.1.11, ruang vektor nol berdimensi nol. Jika ruang tersebut tidak memiliki basis hingga, ruang itu disebut berdimensi tak hingga.

Definisi 1.1.23.

Fungsi T:VWT\colon V \rightarrow W antara ruang-ruang vektor (atas medan yang sama) disebut linear jika T(u+v)=Tu+TvT(u + v) = Tu + Tv untuk semua uu, vVv \in V dan T(αv)=αTvT(\alpha v) = \alpha Tv untuk semua α𝕂\alpha \in \mathbb{K} dan vVv \in V. Fungsi linear sering disebut transformasi linear atau pemetaan linear. Jika V=WV = W, kita mengatakan bahwa pemetaan linear TT adalah operator pada VV. Bergantung pada konteks, operator identitas xxx \mapsto x pada VV dinotasikan dengan idV\operatorname{id}_{V} atau IVI_V atau cukup II. Ingat bahwa jika T:VWT\colon V \rightarrow W adalah pemetaan linear, maka kernel dari TT, yang dinotasikan dengan kerT\ker T, adalah T({0}):={xV:Tx=𝟎}T^{\gets}(\{0\}) := \{x \in V\colon Tx = \mathbf{0}\}. Selain itu, jangkauan dari TT, yang dinotasikan dengan ranT\mathop{\mathrm{ran}}T, adalah T(V):={Tx:xV}T^{\rightarrow}(V) := \{Tx\colon x \in V\}.

Proposisi 1.1.24.

Pemetaan linear T:VWT\colon V \rightarrow W bersifat injektif jika dan hanya jika kernelnya nol.

Proposisi 1.1.25.

Misalkan T:VWT\colon V \rightarrow W adalah pemetaan linear injektif antara ruang-ruang vektor. Jika AA adalah subhimpunan bebas linear dari VV, maka T(A)T^\rightarrow(A) adalah subhimpunan bebas linear dari WW.

Proposisi 1.1.26.

Misalkan T:VWT\colon V \rightarrow W adalah pemetaan linear antara ruang-ruang vektor dan AVA \subseteq V. Maka T(spanA)=spanT(A)T^\rightarrow(\mathop{\mathrm{span}}A) = \mathop{\mathrm{span}}T^\rightarrow(A).

Proposisi 1.1.27.

Misalkan T:VWT\colon V \rightarrow W adalah pemetaan linear injektif antara ruang-ruang vektor. Jika BB adalah basis untuk subruang UU dari VV, maka T(B)T^\rightarrow(B) adalah basis untuk T(U)T^\rightarrow(U).

Proposisi 1.1.28.

Dua ruang vektor berdimensi hingga isomorfik jika dan hanya jika keduanya memiliki dimensi yang sama.

Definisi 1.1.29.

Misalkan TT suatu pemetaan linear antara ruang-ruang vektor. Peringkat TT adalah dimensi jangkauan TT, sedangkan nulitas TT adalah dimensi kernel TT.

Proposisi 1.1.30.

Misalkan T:VWT\colon V \rightarrow W adalah pemetaan linear antara ruang-ruang vektor. Jika VV berdimensi hingga, maka peringkatT+nulitasT=dimV.\operatorname{peringkat} T + \operatorname{nulitas} T = \dim V.

Definisi 1.1.31.

Pemetaan linear T:VWT\colon V \rightarrow W antara ruang-ruang vektor disebut invertibel (atau suatu isomorfisme) jika terdapat pemetaan linear T1:WVT^{-1}\colon W \rightarrow V sehingga T1T=idVT^{-1}T = \operatorname{id}_{V} dan TT1=idWTT^{-1} = \operatorname{id}_{W}. Dua ruang vektor VV dan WW disebut isomorfik jika terdapat isomorfisme dari VV ke WW.

Proposisi 1.1.32.

Pemetaan linear T:VWT\colon V \rightarrow W antara ruang-ruang vektor invertibel jika dan hanya jika memiliki invers kiri sekaligus invers kanan.

Proposisi 1.1.33.

Pemetaan linear antara ruang-ruang vektor invertibel jika dan hanya jika bijektif.

Proposisi 1.1.34.

Misalkan TT operator pada ruang vektor berdimensi hingga. Ketiga pernyataan berikut ekuivalen:

  1. TT adalah isomorfisme;

  2. TT injektif; dan

  3. TT surjektif.

Definisi 1.1.35.

Dua operator RR dan TT pada ruang vektor VV disebut serupa jika terdapat operator invertibel SS pada VV sehingga R=STS1R = STS^{-1}.

Proposisi 1.1.36.

Jika VV adalah ruang vektor, maka keserupaan merupakan relasi ekuivalensi pada 𝔏(V)\mathfrak{L}(V).

Misalkan VV dan WW adalah ruang vektor berdimensi hingga dengan basis terurut. Andaikan VV berdimensi nn dengan basis terurut {e1,e2,,en}\{e^1,e^2, \dots,e^n\} dan WW berdimensi mm. Ingat dari pengantar aljabar linear bahwa jika T:VWT\colon V \rightarrow W linear, maka representasi matriks [T][T] (diambil terhadap basis terurut dalam VV dan WW) adalah matriks m×nm \times n [T][T] yang kolom ke-kk (1kn1 \le k \le n) adalah vektor kolom TekTe^k dalam WW. Pokoknya ialah bahwa tindakan TT pada vektor xx dapat direpresentasikan sebagai perkalian xx oleh matriks [T][T]; yaitu, Tx=[T]x.Tx = [T]x. Persamaan ini mungkin memerlukan sedikit penafsiran. Ruas kiri adalah fungsi TT yang dievaluasi di xx, dengan hasil evaluasi dipandang sebagai vektor kolom dalam WW; ruas kanan adalah matriks m×nm \times n yang dikalikan dengan matriks n×1n \times 1 (yaitu vektor kolom). Jadi, kesamaan yang dinyatakan adalah kesamaan dua matriks m×1m \times 1 (vektor kolom).

Definisi 1.1.37.

Misalkan VV adalah ruang vektor berdimensi hingga dan B={e1,,en}B = \{e^1, \dots, e^n\} adalah basis untuk VV. Operator TT pada VV disebut diagonal jika terdapat skalar α1,,αn\alpha_1, \dots, \alpha_n sehingga Tek=αkekTe^k = \alpha_ke^k untuk setiap knk \in \mathbb{N}_n. Secara ekuivalen, TT diagonal jika representasi matriksnya [T]=[Tij][T] = [T_{ij}] memiliki sifat bahwa Tij=0T_{ij} = 0 apabila iji \ne j.

Menanyakan apakah operator tertentu pada suatu ruang vektor berdimensi hingga bersifat diagonal, secara tegas, tidak bermakna. Sebagaimana didefinisikan, sifat operator berupa kediagonalan jelas bukan konsep ruang vektor. Sifat ini hanya bermakna bagi ruang vektor yang basisnya telah ditentukan. Fakta penting ini, meskipun jelas, tampaknya luput dari perhatian dalam banyak mata kuliah pengantar aljabar linear, mungkin karena fiksasi yang agak berlebihan pada n\mathbb{R}^n dalam mata kuliah tersebut. Berikut sifat ruang vektor yang relevan.

Definisi 1.1.38.

Operator TT pada ruang vektor berdimensi hingga VV disebut dapat didiagonalkan jika terdapat basis untuk VV yang terhadapnya TT bersifat diagonal. Secara ekuivalen, operator pada ruang vektor berdimensi hingga dengan basis dapat didiagonalkan jika serupa dengan operator diagonal.

Definisi 1.1.39.

Misalkan VV adalah ruang vektor dan andaikan V=MNV = M \oplus N. Kita mengetahui dari 1.1.16 bahwa untuk setiap 𝒗V\mathbf{v} \in V terdapat vektor-vektor tunggal 𝒎M\mathbf{m} \in M dan 𝒏N\mathbf{n} \in N sehingga 𝒗=𝒎+𝒏\mathbf{v} = \mathbf{m} + \mathbf{n}. Definisikan fungsi EMN:VVE_{{}_{\scriptstyle{MN}}}\colon V \rightarrow V dengan EMNv=nE_{{}_{\scriptstyle{MN}}}v = n. Fungsi EMNE_{{}_{\scriptstyle{MN}}} adalah proyeksi VV sepanjang MM ke NN. (Kita sering menulis EE untuk EMNE_{{}_{\scriptstyle{MN}}}. Namun ingat bahwa EE bergantung pada MM dan NN.)

Proposisi 1.1.40.

Misalkan VV adalah ruang vektor dan andaikan V=MNV = M \oplus N. Jika EE adalah proyeksi VV sepanjang MM ke NN, maka

  1. EE linear;

  2. E2=EE^2 = E (yaitu, EE idempoten);

  3. ranE=N\mathop{\mathrm{ran}}E = N; dan

  4. kerE=M\ker E = M.

Proposisi 1.1.41.

Misalkan VV adalah ruang vektor dan andaikan E:VVE\colon V \rightarrow V adalah fungsi yang memenuhi

  1. EE linear, dan

  2. E2=EE^2 = E.

Maka V=kerEranEV = \ker E \oplus \mathop{\mathrm{ran}}E dan EE adalah proyeksi VV sepanjang kerE\ker E ke ranE\mathop{\mathrm{ran}}E.

Penting untuk dicatat bahwa konsekuensi langsung dari dua proposisi terakhir adalah bahwa fungsi T:VVT\colon V \rightarrow V dari ruang vektor berdimensi hingga ke dirinya sendiri merupakan proyeksi jika dan hanya jika linear dan idempoten.

Proposisi 1.1.42.

Misalkan T:VWT\colon V \rightarrow W adalah transformasi linear antara ruang-ruang vektor. Maka

  1. TT memiliki invers kiri jika dan hanya jika injektif; dan

  2. TT memiliki invers kanan jika dan hanya jika surjektif.

Proposisi 1.1.43.

Misalkan VV adalah ruang vektor dan andaikan V=MNV = M \oplus N. Jika EE adalah proyeksi VV sepanjang MM ke NN, maka IEI - E adalah proyeksi VV sepanjang NN ke MM.

Seperti baru saja kita lihat, jika EE adalah proyeksi pada ruang vektor VV, maka operator identitas pada VV dapat ditulis sebagai jumlah dua proyeksi EE dan IEI - E yang jangkauannya membentuk dekomposisi jumlah langsung ruang tersebut, V=ranEran(IE)V = \mathop{\mathrm{ran}}E \oplus \mathop{\mathrm{ran}} (I - E). Kita dapat memperumum hal ini ke lebih dari dua proyeksi.

Definisi 1.1.44.

Andaikan pada ruang vektor VV terdapat operator-operator proyeksi E1E_1, …, EnE_n sehingga

  1. IV=E1+E2++EnI_V = E_1 + E_2 + \dots + E_n dan

  2. EiEj=0E_iE_j = 0 apabila iji \ne j.

Kita mengatakan bahwa IV=E1+E2++EnI_V = E_1 + E_2 + \dots + E_n adalah resolusi identitas.

Proposisi 1.1.45.

Jika IV=E1+E2++EnI_V = E_1 + E_2 + \dots + E_n adalah resolusi identitas pada ruang vektor VV, maka V=k=1nranEkV = \bigoplus_{k=1}^n \mathop{\mathrm{ran}}E_k.

Contoh 1.1.46.

Misalkan PP adalah bidang dalam 3\mathbb{R}^3 yang persamaannya xz=0x - z = 0 dan LL adalah garis yang persamaannya y=0y = 0 dan x=zx = -z. Misalkan EE adalah proyeksi 3\mathbb{R}^3 sepanjang LL ke PP dan FF adalah proyeksi 3\mathbb{R}^3 sepanjang PP ke LL. Maka [E]=[1201201012012] dan [F]=[1201200012012].[E] = \begin{bmatrix} \frac12 & 0 & \frac12 \\ 0 & 1 & 0 \\ \frac12 & 0 & \frac12 \end{bmatrix} \qquad \text{ dan } \qquad [F] = \begin{bmatrix} \frac12 & 0 & -\frac12 \\ 0 & 0 & 0 \\ -\frac12 & 0 & \frac12 \end{bmatrix}\,.

Definisi 1.1.47.

Skalar λ𝕂\lambda \in \mathbb{K} adalah nilai eigen dari operator TT pada ruang vektor VV jika ker(TλIV)\ker(T - \lambda I_V) memuat vektor tak nol. Setiap vektor tersebut adalah vektor eigen dari TT yang berkaitan dengan λ\lambda, dan ker(TλIV)\ker(T - \lambda I_V) adalah ruang eigen dari TT yang berkaitan dengan λ\lambda. Himpunan semua nilai eigen operator TT disebut spektrum titik dan dinotasikan dengan σp(T)\sigma_p(T).

Jika MM adalah matriks n×nn \times n, maka det(MλIn)\det(M - \lambda I_n) (dengan InI_n matriks identitas n×nn \times n) adalah polinomial dalam λ\lambda berderajat nn. Inilah polinomial karakteristik dari MM. Cara baku untuk menghitung nilai-nilai eigen suatu operator TT pada ruang vektor berdimensi hingga adalah mencari akar-akar polinomial karakteristik dari representasi matriksnya. Sifat multiplikatif fungsi determinan dengan mudah mengakibatkan bahwa polinomial karakteristik operator TT pada ruang vektor VV tidak bergantung pada basis yang dipilih untuk VV dan, karena itu, tidak bergantung pada representasi matriks tertentu dari TT yang digunakan.

pt

Contoh 1.1.48.

Nilai-nilai eigen operator pada (ruang vektor real) 3\mathbb{R}^3 yang representasi matriksnya adalah [002020200]\begin{bmatrix} 0 & 0 & 2 \\ 0 & 2 & 0 \\ 2 & 0 & 0 \end{bmatrix} ialah 2-2 dan +2+2, dengan nilai yang terakhir memiliki multiplisitas (aljabar maupun geometris) 22. Ruang eigen yang berkaitan dengan nilai eigen negatif dan positif, berturut-turut, adalah span{(1,0,1)}danspan{(1,0,1),(0,1,0)}.\mathop{\mathrm{span}}\{(1,0,-1)\} \quad\text{dan}\quad \mathop{\mathrm{span}}\{(1,0,1), (0,1,0)\}.

pt

Proposisi 1.1.49.

Setiap operator pada ruang vektor kompleks berdimensi hingga memiliki nilai eigen.

Contoh 1.1.50.

Proposisi sebelumnya tidak berlaku untuk ruang real berdimensi hingga.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Pertimbangkan rotasi bidang.  ◻

Fakta utama yang dinyatakan oleh versi ruang vektor berdimensi hingga dari teorema spektral ialah bahwa setiap operator yang dapat didiagonalkan pada ruang demikian dapat ditulis sebagai kombinasi linear operator-operator proyeksi, dengan koefisien kombinasi linear tersebut berupa nilai-nilai eigen operator dan jangkauan proyeksinya berupa ruang eigen yang bersesuaian. Jadi, jika TT adalah operator yang dapat didiagonalkan pada ruang vektor berdimensi hingga VV, maka VV memiliki basis yang terdiri atas vektor-vektor eigen dari TT.

Berikut pernyataan formal teorema tersebut.

Teorema 1.1.51.

Andaikan TT adalah operator yang dapat didiagonalkan pada ruang vektor berdimensi hingga VV. Misalkan λ1,,λn\lambda_1, \dots, \lambda_n adalah nilai-nilai eigen (berbeda) dari TT. Maka terdapat resolusi identitas IV=E1++EnI_V = E_1 + \dots + E_n, dengan untuk setiap kk jangkauan proyeksi EkE_k merupakan ruang eigen yang berkaitan dengan λk\lambda_k, dan selanjutnya T=λ1E1++λnEn.T = \lambda_1E_1 +\dots + \lambda_nE_n\,.

Bukti.

Proof. Pembuktian teorema ini dapat ditemukan dalam [30] pada halaman 212. ◻

Contoh 1.1.52.

Misalkan TT adalah operator pada (ruang vektor real) 2\mathbb{R}^2 yang representasi matriksnya adalah [781617]\begin{bmatrix} -7 & 8 \\ -16 & 17 \end{bmatrix}.

pt

  1. Polinomial karakteristik untuk TT adalah cT(λ)=λ210λ+9c_{{}_{\scriptstyle{T}}}(\lambda) = \lambda^2 - 10\lambda + 9.

    pt

  2. Ruang eigen M1M_1 yang berkaitan dengan nilai eigen 11 adalah span{(1,1)}\mathop{\mathrm{span}}\{(1,1)\}.

    pt

  3. Ruang eigen M2M_2 yang berkaitan dengan nilai eigen 99 adalah span{(1,2)}\mathop{\mathrm{span}}\{(1,2)\}.

    pt

  4. Kita dapat menulis TT sebagai kombinasi linear operator-operator proyeksi. Secara khusus, T=1E1+9E2 dengan [E1]=[2121] dan [E2]=[1122].T = 1\cdot E_1 + 9\cdot E_2 \text{ dengan } [E_1] = \begin{bmatrix} 2 & -1 \\ 2 & -1 \end{bmatrix} \text{ dan } [E_2] = \begin{bmatrix} -1 & 1 \\ -2 & 2 \end{bmatrix}\,.

    pt

  5. Perhatikan bahwa jumlah [E1][E_1] dan [E2][E_2] adalah matriks identitas dan hasil kali keduanya adalah matriks nol.

    pt

  6. Matriks S=[1112]S = \begin{bmatrix} 1 & 1 \\ 1 & 2 \end{bmatrix} mendiagonalkan [T][T]. Artinya, S1[T]S=[1009]S^{-1}\,[T]\,S = \begin{bmatrix} 1 & 0 \\ 0 & 9 \end{bmatrix}.

    pt

  7. Matriks yang merepresentasikan T\sqrt T adalah [1245]\begin{bmatrix} -1 & 2 \\ -4 & 5 \end{bmatrix}.

Latihan 1.1.53.

Misalkan TT adalah operator pada 3\mathbb{R}^3 yang representasi matriksnya [200132110].\begin{bmatrix} 2 & 0 & 0 \\ -1 & 3 & 2 \\ 1 & -1 & 0 \end{bmatrix}.

  1. Tentukan polinomial karakteristik dan polinomial minimal dari TT.

  2. Apa yang dapat disimpulkan dari bentuk polinomial minimal tersebut?

  3. Tentukan matriks yang mendiagonalkan TT. Apa bentuk diagonal TT yang dihasilkan oleh matriks ini?

  4. Tentukan (representasi matriks dari) T\sqrt T.

Definisi 1.1.54.

Operator ruang vektor TT disebut nilpoten jika Tn=𝟎T^n = \mathbf{0} untuk suatu nn \in \mathbb{N}.

Operator pada ruang vektor berdimensi hingga tidak harus dapat didiagonalkan. Jika tidak, seberapa dekat operator itu dengan operator yang dapat didiagonalkan? Berikut salah satu jawabannya.

Teorema 1.1.55.

Misalkan TT adalah operator pada ruang vektor berdimensi hingga VV. Andaikan polinomial minimal untuk TT terfaktor sepenuhnya menjadi faktor-faktor linear mT(x)=(xλ1)r1(xλk)rkm_T(x) = (x - \lambda_1)^{r_1} \dots (x - \lambda_k)^{r_k} dengan λ1,λk\lambda_1, \dots \lambda_k merupakan nilai-nilai eigen (berbeda) dari TT. Untuk setiap jj, misalkan Wj=ker(TλjI)rjW_j = \ker(T - \lambda_jI)^{r_j} dan EjE_j adalah proyeksi VV ke WjW_j sepanjang W1++Wj1+Wj+1++WkW_1 + \dots + W_{j-1} + W_{j+1} + \dots + W_k. Maka V=W1W2Wk,V = W_1 \oplus W_2 \oplus \dots \oplus W_k, setiap WjW_j invarian terhadap TT, dan IV=E1++EkI_V = E_1 + \dots + E_k. Selanjutnya, operator D=λ1E1++λkEkD = \lambda_1E_1 + \dots + \lambda_kE_k dapat didiagonalkan, operator N=TDN = T - D nilpoten, dan NN berkomutasi dengan DD.

Bukti.

Proof. Lihat [30], halaman 222–223. ◻

Definisi 1.1.56.

Karena dalam teorema sebelumnya T=D+NT = D + N, dengan DD dapat didiagonalkan dan NN nilpoten, kita menyebut DD sebagai bagian yang dapat didiagonalkan dari TT, dan NN sebagai bagian nilpoten dari TT.

Latihan 1.1.57.

Misalkan TT adalah operator pada 3\mathbb{R}^3 yang representasi matriksnya [311221220].\begin{bmatrix} 3 & 1 & -1 \\ 2 & 2 & -1 \\ 2 & 2 & 0 \end{bmatrix}.

  1. Tentukan polinomial karakteristik dan polinomial minimal dari TT.

  2. Tentukan ruang-ruang eigen dari TT.

  3. Tentukan bagian yang dapat didiagonalkan DD dan bagian nilpoten NN dari TT.

  4. Tentukan matriks yang mendiagonalkan DD. Apa bentuk diagonal dari DD yang dihasilkan oleh matriks ini?

  5. Tunjukkan bahwa DD berkomutasi dengan NN.

Operator Normal pada Ruang Hasil Kali Dalam

Definisi 1.2.1.

Misalkan VV suatu ruang vektor. Sebuah fungsi ss yang mengaitkan setiap pasangan vektor xx dan yy dalam VV dengan suatu skalar s(x,y)s(x,y) adalah hasil kali dalam semu pada VV apabila untuk setiap xx, yy, zVz \in V dan α𝕂\alpha \in \mathbb{K} keempat syarat berikut dipenuhi:

  1. s(x+y,z)=s(x,z)+s(y,z)s(x + y , z) = s(x,z) + s(y,z);

  2. s(αx,y)=αs(x,y)s(\alpha x,y) = \alpha s(x,y);

  3. s(x,y)=s(y,x)¯s(x,y) = \overline{s(y,x)}; dan

  4. s(x,x)0s(x,x) \ge 0.

Jika, selain itu, fungsi ss memenuhi

  1. Untuk setiap xx tak nol dalam VV, berlaku s(x,x)>0s(x,x) > 0.

maka ss adalah hasil kali dalam pada VV. Hasil kali dalam dua vektor xx dan yy biasanya akan kita tuliskan sebagai x,y\langle x,y \rangle, bukan s(x,y)s(x,y).

Garis atas pada (c) menyatakan konjugasi kompleks (sehingga berlebihan dalam kasus ruang vektor real). Syarat (a) dan (b) memperlihatkan bahwa hasil kali dalam semu bersifat linear dalam variabel pertamanya. Syarat (a) dan (b) dalam proposisi 1.2.3 menyatakan bahwa hasil kali dalam kompleks bersifat linear konjugat dalam variabel keduanya. Jika suatu fungsi bernilai skalar dengan dua variabel pada ruang hasil kali dalam semu kompleks bersifat linear dalam satu variabel dan linear konjugat dalam variabel lainnya, fungsi itu sering disebut seskuilinear. (Awalan “sesqui-” berarti “satu setengah”.) Istilah seskuilinear juga akan kita gunakan untuk fungsi bilinear pada ruang hasil kali dalam semu real. Secara bersama-sama, syarat (a)–(d) menyatakan bahwa hasil kali dalam semu itu merupakan bentuk seskuilinear semidefinit positif dan simetris konjugat; bersama dengan syarat ketat tambahan di atas, bentuk itu definit positif.

Notasi 1.2.2.

Jika VV adalah ruang vektor yang telah dilengkapi dengan hasil kali dalam semu dan xVx \in V, kita memperkenalkan singkatan x:=s(x,x)\lVert x\rVert := \sqrt{s(x,x)} yang dibaca norma xx atau panjang xx. (Istilah yang agak optimistis ini dibenarkan, setidaknya ketika ss merupakan hasil kali dalam, oleh proposisi 1.2.15 di bawah.)

Proposisi 1.2.3.

Jika xx, yy, dan zz merupakan vektor dalam suatu ruang dengan hasil kali dalam semu ss dan α𝕂\alpha \in \mathbb{K}, maka

  1. s(x,y+z)=s(x,y)+s(x,z)s(x,y + z) = s(x,y) + s(x,z),

  2. s(x,αy)=α¯s(x,y)s(x,\alpha y) = \overline{\alpha }s(x,y), dan

  3. jika ss merupakan hasil kali dalam, maka s(x,x)=0s(x,x) = 0 jika dan hanya jika x=𝟎x = \mathbf{0}.

Contoh 1.2.4.

Untuk vektor x=(x1,x2,,xn)x = (x_1,x_2,\dots,x_n) dan y=(y1,y2,,yn)y = (y_1,y_2,\dots,y_n) yang termasuk dalam 𝕂n\mathbb{K}^n, definisikan x,y=k=1nxkyk¯.\langle x,y \rangle = \sum_{k=1}^n x_k \overline{y_k}\,. Maka 𝕂n\mathbb{K}^n merupakan ruang hasil kali dalam.

Contoh 1.2.5.

Misalkan l2=l2()l_2 = l_2(\mathbb{N}) adalah himpunan semua barisan bilangan kompleks yang terjumlah secara kuadrat. (Suatu barisan x=(xk)k=1x = (x_k)_{k=1}^\infty disebut terjumlah secara kuadrat jika k=1|xk|2<\sum_{k=1}^\infty \lvert x_k\rvert^2 < \infty.) (Operasi ruang vektornya didefinisikan titik demi titik.) Untuk vektor x=(x1,x2,)x = (x_1,x_2,\dots) dan y=(y1,y2,)y = (y_1,y_2,\dots) dalam l2l_2, definisikan x,y=k=1xkyk¯.\langle x,y \rangle = \sum_{k=1}^\infty x_k \overline{y_k}\,. Maka l2l_2 merupakan ruang hasil kali dalam. (Antara lain, harus ditunjukkan bahwa deret dalam definisi di atas benar-benar konvergen.) Ruang serupa adalah l2()l_2(\mathbb{Z}), yakni himpunan semua barisan dua sisi yang terjumlah secara kuadrat x=(,x2,x1,x0,x1,x2,)x = (\dots,x_{-2},x_{-1},x_0,x_1,x_2,\dots) dengan hasil kali dalam yang sudah jelas.

Contoh 1.2.6.

Untuk a<ba < b, misalkan 𝒞([a,b])\mathcal{C}([a,b]) adalah keluarga semua fungsi kontinu bernilai kompleks pada interval [a,b][a,b]. Untuk setiap ff, g𝒞([a,b])g \in \mathcal{C}([a,b]), definisikan f,g=abf(x)g(x)¯dx.\langle f,g \rangle = \int_a^b f(x) \overline{g(x)}\,dx. Maka 𝒞([a,b])\mathcal{C}([a,b]) merupakan ruang hasil kali dalam.

Berikut adalah fakta tunggal yang paling berguna mengenai hasil kali dalam semu. Fakta ini merupakan suatu ketaksamaan yang secara beragam dinisbatkan kepada Cauchy, Schwarz, Bunyakowsky, atau gabungan nama ketiganya.

Teorema 1.2.7.

Misalkan ss suatu hasil kali dalam semu yang didefinisikan pada ruang vektor VV. Maka ketaksamaan |s(x,y)|xy.\lvert s(x,y)\rvert \le \lVert x\rVert \,\lVert y\rVert. berlaku untuk semua vektor xx dan yy dalam VV.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Tetapkan xx, yVy \in V. Untuk setiap α𝕂\alpha \in \mathbb{K}, kita mengetahui bahwa 0s(xαy,xαy).\begin{equation} \label{Schwarz_ineq} 0 \le s(x - \alpha y, x - \alpha y) . \end{equation} Uraikan ruas kanan 1.2.1 menjadi empat suku. Jika s(y,x)=0s(y,x)=0, kesimpulannya langsung. Jika tidak, tuliskan s(y,x)s(y,x) dalam bentuk polar: s(y,x)=reiθs(y,x) = r e^{i\theta}, dengan r>0r > 0 dan θ\theta \in \mathbb{R}. Kemudian, dalam ketaksamaan yang diperoleh, tinjau α\alpha yang berbentuk eiθte^{-i\theta}t dengan tt \in \mathbb{R}. Perhatikan bahwa kini ruas kanan 1.2.1 merupakan polinom kuadrat dalam tt. Apa yang dapat Anda katakan tentang diskriminannya? ◻

Proposisi 1.2.8.

Misalkan VV suatu ruang vektor dengan hasil kali dalam semu ss dan zVz \in V. Maka s(z,z)=0s(z,z) = 0 jika dan hanya jika s(z,y)=0s(z,y) = 0 untuk semua yVy \in V.

Proposisi 1.2.9.

Misalkan VV suatu ruang vektor yang telah dilengkapi dengan hasil kali dalam semu ss. Maka himpunan L:={zV:s(z,z)=0}L := \{z \in V\colon s(z,z) = 0\} merupakan subruang vektor dari VV, dan ruang vektor hasil bagi V/LV/L dapat dijadikan ruang hasil kali dalam dengan mendefinisikan [x],[y]:=s(x,y)\langle\, [x],[y]\, \rangle := s(x,y) untuk semua [x][x], [y]V/L[y] \in V/L.

Proposisi berikut menunjukkan bahwa hasil kali dalam bersifat kontinu dalam variabel pertamanya. Simetri konjugat kemudian menjamin kekontinuan dalam variabel keduanya.

Proposisi 1.2.10.

Jika (xn)(x_n) merupakan barisan dalam ruang hasil kali dalam VV yang konvergen ke suatu vektor aVa \in V, maka xn,ya,y\langle x_n,y \rangle \rightarrow\langle a,y \rangle untuk setiap yVy \in V.

Contoh 1.2.11.

Jika (ak)(a_k) merupakan barisan bilangan real yang terjumlah secara kuadrat, maka deret k=1k1ak\sum_{k=1}^\infty k^{-1}a_k konvergen mutlak.

Latihan 1.2.12.

Misalkan 0<a<b0 < a < b.

  1. Jika ff dan gg merupakan fungsi kontinu bernilai real pada interval [a,b][a,b], maka (abf(x)g(x)dx)2ab(f(x))2dxab(g(x))2dx.\left(\int_a^b f(x)g(x)\,dx\right)^2 \le \int_a^b\bigl(f(x)\bigr)^2\,dx \cdot \int_a^b\bigl(g(x)\bigr)^2\,dx.

    pt

  2. Gunakan bagian (a) untuk mencari bilangan MM dan NN (yang bergantung pada aa dan bb) sedemikian sehingga M(ba)ln(ba)N(ba).M(b-a) \le \ln\left(\frac ba\right) \le N(b-a).

    pt

  3. Gunakan bagian (b) untuk menunjukkan bahwa 2.5e32.5 \le e \le 3.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Untuk (b), cobalah f(x)=xf(x) = \sqrt x dan g(x)=1xg(x) = \dfrac1{\sqrt x}. Kemudian cobalah f(x)=1xf(x) = \dfrac1x dan g(x)=1g(x) = 1. Untuk (c), cobalah a=1a = 1 dan b=3b = 3. Kemudian cobalah a=2a = 2 dan b=5b = 5. ◻

Definisi 1.2.13.

Misalkan VV suatu ruang vektor. Sebuah fungsi :V:xx\lVert\mathord{\cdot}\rVert \colon V \rightarrow\mathbb{R}\colon x \mapsto \lVert x\rVert adalah norma pada VV jika

  1. x+yx+y\lVert x + y\rVert \le \lVert x\rVert + \lVert y\rVert untuk semua xx, yVy \in V;

  2. αx=|α|x\lVert\alpha x\rVert = \lvert\alpha\rvert\,\lVert x\rVertuntuk semua xVx \in V dan α𝕂\alpha \in \mathbb{K}; dan

  3. jika x=0\lVert x\rVert = 0, maka x=𝟎x = \mathbf{0}.

Ungkapan x\lVert x\rVert dapat dibaca sebagai “norma xx” atau “panjang xx”. Jika fungsi \lVert\mathord{\cdot}\rVert memenuhi (a) dan (b) di atas (tetapi mungkin tidak memenuhi (c)), fungsi itu merupakan seminorma pada VV.

Ruang vektor yang telah dilengkapi dengan suatu norma disebut ruang linear bernorma (atau ruang vektor bernorma). Vektor dalam ruang linear bernorma yang normanya 11 disebut vektor satuan.

Latihan 1.2.14.

Tunjukkan mengapa langsung jelas dari definisi bahwa 𝟎=0\lVert\mathbf{0}\rVert = 0 dan bahwa norma (dan seminorma) hanya dapat mengambil nilai nonnegatif.

Setiap ruang hasil kali dalam merupakan ruang linear bernorma. Dalam bahasa yang lebih tepat, hasil kali dalam pada suatu ruang vektor menginduksi suatu norma pada ruang tersebut.

Proposisi 1.2.15.

Misalkan VV suatu ruang hasil kali dalam. Pemetaan xxx \mapsto \lVert x\rVert pada VV yang didefinisikan dalam 1.2.2 merupakan norma pada VV.

Dan setiap ruang linear bernorma merupakan ruang metrik. Ingat kembali definisi berikut.

Definisi 1.2.16.

Misalkan MM suatu himpunan tak kosong. Sebuah fungsi d:M×Md \colon M \times M \rightarrow\mathbb{R} adalah metrik (atau fungsi jarak) pada MM jika untuk semua xx, yy, zMz \in M

  1. d(x,y)=d(y,x)d(x,y) = d(y,x),

  2. d(x,y)d(x,z)+d(z,y)d(x,y) \le d(x,z) + d(z,y), ( ketaksamaan segitiga)

  3. d(x,x)=0d(x,x) = 0, dan

  4. d(x,y)=0d(x,y) = 0 hanya jika x=yx = y.

Jika dd merupakan metrik pada himpunan MM, kita mengatakan bahwa pasangan (M,d)(M,d) merupakan ruang metrik. Notasi “d(x,y)d(x,y)” dibaca “jarak antara xx dan yy”. (Seperti biasa, kita mengganti perumusan yang benar “Misalkan (M,d)(M,d) suatu ruang metrik …” dengan ungkapan “Misalkan MM suatu ruang metrik …”.)

Jika d:M×Md \colon M \times M \rightarrow\mathbb{R} memenuhi syarat (1)–(3), tetapi tidak memenuhi (4), maka dd merupakan pseudometrik pada MM.

Seperti disebutkan di atas, setiap ruang linear bernorma merupakan ruang metrik. Secara lebih tepat, norma pada suatu ruang vektor menginduksi suatu metrik dd, yang didefinisikan oleh d(x,y)=xyd(x,y) = \lVert x - y\rVert. Dengan kata lain, jarak antara dua vektor adalah panjang selisih keduanya.

Segitiga vektor yang menggambarkan metrik terinduksi norma. Vektor x dan y berawal pada titik asal yang sama, sedangkan sisi berarah dari ujung y ke ujung x berlabel x dikurangi y. Panjang sisi penghubung itu adalah norma x dikurangi y, yaitu jarak antara x dan y. Ini ilustrasi geometris, bukan diagram komutatif.

Segitiga vektor yang menggambarkan metrik terinduksi norma. Vektor x dan y berawal pada titik asal yang sama, sedangkan sisi berarah dari ujung y ke ujung x berlabel x dikurangi y. Panjang sisi penghubung itu adalah norma x dikurangi y, yaitu jarak antara x dan y. Ini ilustrasi geometris, bukan diagram komutatif.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

Jika tidak ada metrik lain yang ditentukan, kita selalu memandang ruang linear bernorma sebagai ruang metrik di bawah metrik terinduksi ini. Metrik tersebut disebut metrik yang diinduksi oleh norma.

Contoh 1.2.17.

Misalkan VV suatu ruang linear bernorma. Definisikan d:V×Vd\colon V \times V \rightarrow\mathbb{R} dengan d(x,y)=xyd(x,y) = \lVert x - y\rVert. Maka dd merupakan metrik pada VV. Jika VV hanya merupakan ruang berseminorma, maka dd merupakan pseudometrik.

Definisi 1.2.18.

Vektor xx dan yy dalam ruang hasil kali dalam VV disebut ortogonal (atau tegak lurus) jika x,y=0\langle x,y \rangle = 0. Dalam hal ini kita menulis xyx \perp y. Subhimpunan AA dan BB dari VV disebut ortogonal jika aba \perp b untuk setiap aAa \in A dan bBb \in B. Dalam hal ini kita menulis ABA \perp B.

Definisi 1.2.19.

Jika MM dan NN merupakan subruang dari ruang hasil kali dalam VV, kita menggunakan notasi V=MNV = M \oplus N untuk menyatakan bukan hanya bahwa VV merupakan jumlah langsung (ruang vektor) dari MM dan NN, melainkan juga bahwa MM dan NN ortogonal. Dengan demikian, kita mengatakan bahwa VV merupakan jumlah langsung ortogonal (internal) dari MM dan NN.

Proposisi 1.2.20.

Misalkan aa suatu vektor dalam ruang hasil kali dalam VV. Maka axa \perp x untuk setiap xVx \in V jika dan hanya jika a=0a = 0.

Proposisi 1.2.21.

Dalam ruang hasil kali dalam, xyx \perp y jika dan hanya jika x+αy=xαy\lVert x + \alpha y\rVert = \lVert x - \alpha y\rVert untuk semua skalar α\alpha.

Proposisi 1.2.22.

Jika xyx \perp y dalam suatu ruang hasil kali dalam, maka x+y2=x2+y2.\lVert x + y\rVert^2 = \lVert x\rVert^2 + \lVert y\rVert^2\,.

Definisi 1.2.23.

Misalkan VV dan WW merupakan ruang hasil kali dalam di atas medan skalar yang sama. Untuk (v,w)(v,w) dan (v,w)(v',w') dalam V×WV \times W dan α𝕂\alpha \in \mathbb{K}, definisikan (v,w)+(v,w)=(v+v,w+w)danα(v,w)=(αv,αw).\begin{align*} (v,w) + (v',w') &= (v + v', w + w') \\ &\text{dan}\\ \alpha(v,w) &= (\alpha v,\alpha w)\,. \end{align*} Hasilnya adalah suatu ruang vektor, yaitu jumlah langsung (eksternal) dari VV dan WW. Untuk menjadikannya ruang hasil kali dalam, definisikan (v,w),(v,w)=v,v+w,w.\langle (v,w),(v',w') \rangle = \langle v,v' \rangle + \langle w,w' \rangle. Definisi ini menjadikan jumlah langsung VV dan WW suatu ruang hasil kali dalam. Ruang tersebut merupakan jumlah langsung dari VV dan WW yang ortogonal eksternal, dan dinotasikan dengan VWV \oplus W.

Perhatikan bahwa notasi \oplus yang sama digunakan baik untuk jumlah langsung internal maupun eksternal, serta baik untuk jumlah langsung ruang vektor (lihat definisi 1.1.15) maupun jumlah langsung ortogonal. Jadi, ketika melihat simbol VWV \oplus W, penting untuk mengetahui kategori mana yang sedang kita gunakan: ruang vektor atau ruang hasil kali dalam. Hal ini khususnya penting karena kata “ortogonal” lazim dihilangkan sebagai pewatas “jumlah langsung”, bahkan ketika sifat ortogonal memang dimaksudkan.

Contoh 1.2.24.

Dalam 2\mathbb{R}^2, misalkan MM adalah sumbu-xx dan LL adalah garis dengan persamaan y=xy = x. Jika 2\mathbb{R}^2 dipandang sebagai ruang vektor (real), penulisan 2=ML\mathbb{R}^2 = M \oplus L benar. Sebaliknya, jika 2\mathbb{R}^2 dipandang sebagai ruang hasil kali dalam (real), maka 2ML\mathbb{R}^2 \ne M \oplus L (karena MM dan LL tidak tegak lurus).

Proposisi 1.2.25.

Misalkan VV suatu ruang hasil kali dalam. Hasil kali dalam pada VV, yang dipandang sebagai pemetaan dari VVV \oplus V ke 𝕂\mathbb{K}, bersifat kontinu. Demikian pula normanya, yang dipandang sebagai pemetaan dari VV ke \mathbb{R}.

Mengenai pembuktian proposisi di atas, perhatikan bahwa pemetaan (v,v)v+v(v,v') \mapsto \lVert v\rVert + \lVert v'\rVert, (v,v)v2+v2(v,v') \mapsto \sqrt{\lVert v\rVert^2 + \lVert v'\rVert^2}, dan (v,v)max{v,v}(v,v') \mapsto \max\{\lVert v\rVert, \lVert v'\rVert\} semuanya merupakan norma pada VVV \oplus V. Norma manakah yang diinduksi oleh hasil kali dalam pada VVV \oplus V? Mengapa pilihan norma tidak berpengaruh ketika kita membuktikan bahwa hasil kali dalam tersebut kontinu?

Proposisi 1.2.26.

Jika xx dan yy merupakan vektor dalam suatu ruang hasil kali dalam, maka x+y2+xy2=2x2+2y2.\lVert x + y\rVert^2 + \lVert x - y\rVert^2 = 2\lVert x\rVert^2 + 2\lVert y\rVert^2\,.

Walaupun setiap hasil kali dalam menginduksi suatu norma, tidak setiap norma berasal dari hasil kali dalam.

Contoh 1.2.27.

Tidak ada hasil kali dalam pada ruang 𝒞([0,1])\mathcal{C}([0,1]) yang menginduksi norma seragam.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Gunakan proposisi sebelumnya. ◻

Proposisi 1.2.28.

Jika xx dan yy merupakan vektor dalam ruang hasil kali dalam kompleks, maka x,y=14(x+y2xy2+ix+iy2ixiy2).\langle x,y \rangle = \tfrac14 (\lVert x + y\rVert^2 - \lVert x - y\rVert^2 + i\,\lVert x + iy\rVert^2 - i\,\lVert x - iy\rVert^2)\,.

Apakah identitas yang benar untuk ruang hasil kali dalam real?

Notasi 1.2.29.

Misalkan VV suatu ruang hasil kali dalam, xVx \in V, dan AA, BVB \subseteq V. Jika xax \perp a untuk setiap aAa \in A, kita menulis xAx \perp A; dan jika aba \perp b untuk setiap aAa \in A dan bBb \in B, kita menulis ABA \perp B. Kita mendefinisikan AA^\perp, yaitu komplemen ortogonal dari AA, sebagai {xV:xA}\{x \in V\colon x \perp A\}. Karena frasa “komplemen ortogonal dari AA” agak panjang, terutama jika digunakan berulang kali, simbol “AA^\perp” biasanya dilafalkan “A perp”. Kita menulis AA^{\perp\perp} untuk (A)\left(A^\perp\right)^\perp.

Proposisi 1.2.30.

Jika AA merupakan subhimpunan dari ruang hasil kali dalam VV, maka AA^\perp merupakan subruang linear tertutup dari VV.

Proposisi 1.2.31.

Jika (vk)(v^k) merupakan barisan bebas linear dalam ruang hasil kali dalam VV, maka terdapat barisan ortonormal (ek)(e^k) dalam VV sedemikian sehingga span{v1,,vn}=span{e1,,en}\mathop{\mathrm{span}}\{v^1, \dots, v^n\} = \mathop{\mathrm{span}}\{e^1, \dots, e^n\} untuk setiap nn \in \mathbb{N}.

Akibat 1.2.32.

Jika MM merupakan subruang dari ruang hasil kali dalam berdimensi hingga VV, maka V=MMV = M \oplus M^\perp.

Akan berguna untuk mengatakan bahwa suatu barisan pada akhirnya memiliki sifat tertentu atau bahwa barisan itu sering memiliki sifat tersebut.

Definisi 1.2.33.

Misalkan (xn)(x_n) suatu barisan elemen dari himpunan SS dan PP suatu sifat yang mungkin dimiliki anggota SS. Kita mengatakan bahwa barisan (xn)(x_n) pada akhirnya memiliki sifat PP jika terdapat n0n_0 \in \mathbb{N} sedemikian sehingga xnx_n memiliki sifat PP untuk setiap nn0n \ge n_0. (Cara lain untuk menyatakan hal yang sama: xnx_n memiliki sifat PP untuk semua kecuali sejumlah hingga nn.)

Contoh 1.2.34.

Misalkan lcl_c menyatakan ruang vektor yang terdiri atas semua barisan bilangan kompleks yang pada akhirnya nol; yaitu, himpunan semua barisan yang hanya memiliki sejumlah hingga entri tak nol. Barisan tersebut juga disebut barisan dengan bertumpuan hingga. Operasi ruang vektornya didefinisikan titik demi titik. Kita menjadikan ruang lcl_c suatu ruang hasil kali dalam dengan mendefinisikan a,b=(an),(bn):=k=1akbk¯\langle a,b \rangle = \langle\, (a_n),(b_n)\, \rangle := \sum_{k=1}^\infty a_k \overline{b_k}.

Definisi 1.2.35.

Misalkan (xn)(x_n) suatu barisan elemen dari himpunan SS dan PP suatu sifat yang mungkin dimiliki anggota SS. Kita mengatakan bahwa barisan (xn)(x_n) sering memiliki sifat PP jika untuk setiap kk \in \mathbb{N} terdapat nkn \ge k sedemikian sehingga xnx_n memiliki sifat PP. (Perumusan yang ekuivalen: xnx_n memiliki sifat PP untuk tak hingga banyak nilai nn.)

Contoh 1.2.36.

Misalkan V=l2V = l_2 merupakan ruang hasil kali dalam semua barisan bilangan kompleks yang terjumlah secara kuadrat (lihat contoh 1.2.5) dan M=lcM = l_c (lihat contoh 1.2.34). Maka kesimpulan 1.2.32 gagal.

Definisi 1.2.37.

Suatu fungsional linear pada ruang vektor VV adalah pemetaan linear dari VV ke medan skalarnya. Himpunan semua fungsional linear pada VV merupakan ruang dual (aljabar) dari VV. Kita akan menggunakan notasi V#V^{\#} untuk ruang dual aljabar.

Teorema 1.2.38.

Jika fV#f \in V^{\#} dengan VV suatu ruang hasil kali dalam berdimensi hingga, maka terdapat vektor unik aa dalam VV sedemikian sehingga f(x)=x,af(x) = \langle x,a \rangle untuk semua xx dalam VV.

Sebentar lagi kita akan membuktikan (dalam Teorema 4.5.2) bahwa setiap fungsional linear kontinu pada ruang hasil kali dalam sebarang memiliki representasi di atas. Versi berdimensi hingga yang dinyatakan di sini merupakan kasus khusus, karena setiap pemetaan linear pada ruang hasil kali dalam berdimensi hingga bersifat kontinu (lihat Proposisi 3.3.9).

Definisi 1.2.39.

Misalkan T:VWT\colon V \rightarrow W suatu transformasi linear antara ruang hasil kali dalam kompleks. Jika terdapat fungsi T*:WVT^*\colon W \rightarrow V yang memenuhi T𝒗,𝒘=𝒗,T*𝒘\langle T\mathbf{v},\mathbf{w} \rangle = \langle \mathbf{v},T^*\mathbf{w} \rangle untuk semua 𝒗V\mathbf{v} \in V dan 𝒘W\mathbf{w} \in W, maka T*T^* merupakan adjoin (atau transpos konjugat, atau konjugat Hermitian) dari TT.

Proposisi 1.2.40.

Jika T:VWT\colon V \rightarrow W merupakan pemetaan linear antara ruang hasil kali dalam berdimensi hingga, maka T*T^* ada.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Fungsional ϕ:V×W:(v,w)Tv,w\phi\colon V \times W \rightarrow\mathbb{C}\colon (v,w) \mapsto \langle Tv,w \rangle bersifat seskuilinear. Tetapkan wWw \in W dan definisikan ϕw:V:vϕ(v,w)\phi_w \colon V \rightarrow\mathbb{C}\colon v \mapsto \phi(v,w). Maka ϕwV#\phi_w \in V^{\#}. Gunakan teorema Riesz–Fréchet (1.2.38). ◻

Proposisi 1.2.41.

Jika T:VWT\colon V \rightarrow W merupakan pemetaan linear antara ruang hasil kali dalam berdimensi hingga, maka fungsi T*T^* yang didefinisikan di atas bersifat linear dan T**=TT^{**} = T.

Teorema 1.2.42.

Jika T:VWT\colon V \rightarrow W merupakan pemetaan linear antara ruang hasil kali dalam berdimensi hingga, maka kerT*=(ranT) dan ranT*=(kerT).\ker T^* = (\mathop{\mathrm{ran}}T)^\perp \quad \text{ dan } \quad \mathop{\mathrm{ran}}T^* = (\ker T)^\perp\,.

Definisi 1.2.43.

Suatu operator UU pada ruang hasil kali dalam disebut uniter jika UU*=U*U=IUU^* = U^*U = I, yaitu jika U*=U1U^* = U^{-1}.

Definisi 1.2.44.

Dua operator RR dan TT pada ruang hasil kali dalam VV disebut ekuivalen secara uniter jika terdapat operator uniter UU pada VV sedemikian sehingga R=U*TUR = U^*TU.

Proposisi 1.2.45.

Jika VV merupakan ruang hasil kali dalam, maka ekuivalensi uniter memang merupakan relasi ekuivalensi pada 𝔏(V)\mathfrak{L}(V).

Definisi 1.2.46.

Suatu operator TT pada ruang hasil kali dalam berdimensi hingga VV disebut dapat didiagonalkan secara uniter jika terdapat basis ortonormal untuk VV yang terhadapnya TT bersifat diagonal. Secara ekuivalen, suatu operator pada ruang hasil kali dalam berdimensi hingga dengan basis dapat didiagonalkan secara uniter jika operator itu ekuivalen secara uniter dengan operator diagonal.

Definisi 1.2.47.

Suatu operator TT pada ruang hasil kali dalam disebut swaadjoin (atau Hermitian) jika T*=TT^* = T.

Definisi 1.2.48.

Suatu proyeksi PP dalam ruang hasil kali dalam disebut proyeksi ortogonal jika proyeksi itu swaadjoin. Jika MM merupakan jangkauan suatu proyeksi ortogonal, kita akan menggunakan notasi PMP_{{}_{\scriptstyle{M}}} untuk proyeksi tersebut, bukan notasi yang lebih rumit EMME_{{}_{\scriptstyle{M^\perp M}}}.

Perhatian.

Proyeksi pada ruang vektor atau ruang linear bernorma bersifat linear dan idempoten, sedangkan proyeksi ortogonal pada ruang hasil kali dalam bersifat linear, idempoten, dan swaadjoin. Situasi yang sebenarnya langsung ini agak dirumitkan oleh kecenderungan umum untuk menyebut proyeksi ortogonal hanya sebagai “proyeksi”. Bahkan, kelak dalam catatan ini kita akan menggunakan konvensi tersebut. Dalam ruang hasil kali dalam, \oplus biasanya menyatakan jumlah langsung ortogonal dan “proyeksi” biasanya berarti “proyeksi ortogonal”. Dalam banyak buku pengantar aljabar linear, seluruh pembahasan berlangsung dalam n\mathbb{R}^n, sehingga kadang sulit menentukan apakah pada suatu halaman tertentu penulis memperlakukan n\mathbb{R}^n sebagai ruang vektor atau sebagai ruang hasil kali dalam.

Proposisi 1.2.49.

Jika PP merupakan proyeksi ortogonal pada ruang hasil kali dalam VV, maka kita memperoleh dekomposisi jumlah langsung ortogonal V=kerPranPV = \ker P \oplus \mathop{\mathrm{ran}}P.

Definisi 1.2.50.

Jika IV=P1+P2++PnI_V = P_1 + P_2 + \dots + P_n merupakan resolusi identitas dalam suatu ruang hasil kali dalam VV dan setiap PkP_k merupakan proyeksi ortogonal, kita mengatakan bahwa IV=P1+P2++PnI_V = P_1 + P_2 + \dots + P_n merupakan resolusi ortogonal dari identitas.

Proposisi 1.2.51.

Jika IV=P1+P2++PnI_V = P_1 + P_2 + \dots + P_n merupakan resolusi ortogonal dari identitas pada ruang hasil kali dalam VV, maka V=k=1nranPkV = \bigoplus_{k=1}^n \mathop{\mathrm{ran}}P_k.

Definisi 1.2.52.

Suatu operator NN pada ruang hasil kali dalam disebut normal jika NN*=N*NNN^* = N^*N.

Dua pencapaian besar aljabar linear adalah teorema spektral untuk operator pada ruang hasil kali dalam (kompleks) berdimensi hingga (lihat 1.2.53), yang memberikan syarat perlu dan cukup yang dapat dinyatakan secara sederhana agar suatu operator dapat didiagonalkan secara uniter, dan teorema 1.2.54, yang memberikan klasifikasi lengkap operator-operator tersebut.

Teorema 1.2.53.

Misalkan TT suatu operator pada ruang hasil kali dalam berdimensi hingga VV dengan nilai-nilai eigen (berbeda) λ1,,λn\lambda_1, \dots, \lambda_n. Maka TT dapat didiagonalkan secara uniter jika dan hanya jika TT normal. Jika TT normal, maka terdapat resolusi ortogonal dari identitas IV=P1++PnI_V = P_1 + \dots + P_n, dengan jangkauan proyeksi ortogonal PkP_k untuk setiap kk merupakan ruang eigen yang berkaitan dengan λk\lambda_k, dan selanjutnya T=λ1P1++λnPn.T = \lambda_1P_1 +\dots + \lambda_nP_n\,.

Bukti.

Proof. Lihat [44], halaman 227. ◻

Teorema 1.2.54.

Dua operator normal pada ruang hasil kali dalam berdimensi hingga ekuivalen secara uniter jika dan hanya jika keduanya memiliki nilai-nilai eigen yang sama, masing-masing dengan multiplisitas yang sama; yaitu, jika dan hanya jika keduanya memiliki polinom karakteristik yang sama.

Bukti.

Proof. Lihat [30], halaman 357.  ◻

Sebagian besar uraian selanjutnya dikhususkan untuk upaya yang sungguh tak sepele dalam mencari generalisasi yang tepat dari kedua hasil di atas ke ranah berdimensi tak hingga, serta bentang matematika menakjubkan yang mulai terlihat di sepanjang perjalanan tersebut.

Latihan 1.2.55.

Misalkan N=13[4+2i1i1i1i4+2i1i1i1i4+2i]N = \dfrac13\begin{bmatrix} 4+2i & 1-i & 1-i \\ 1-i & 4+2i & 1-i \\ 1-i & 1-i & 4+2i \end{bmatrix}.

pt

  1. Tunjukkan bahwa matriks NN bersifat normal.

    pt

  2. Dengan demikian, menurut teorema spektral, NN dapat dituliskan sebagai kombinasi linear proyeksi-proyeksi ortogonal. Tunjukkan secara eksplisit cara melakukannya (dan kerjakan perhitungannya).