Bab 14 · Aljabar Pengali

Modul Hilbert

Notasi 14.1.1.

Hasil kali dalam yang muncul sebelumnya dalam catatan ini dan yang dijumpai dalam buku teks dan monograf standar tentang ruang Hilbert, analisis fungsional, dan sebagainya, bersifat linear dalam variabel pertama dan linear konjugat dalam variabel kedua. Kebanyakan ahli aljabar operator kontemporer memilih bekerja dengan objek yang disebut modul Hilbert-AA kanan (AA suatu aljabar-C*C^*). Untuk modul semacam itu, ternyata lebih mudah menggunakan “hasil kali dalam” yang linear dalam variabel kedua dan linear konjugat dalam variabel pertama. Walaupun perubahan konvensi ini mungkin menimbulkan sedikit rasa jengkel, secara matematis pengaruhnya kecil. Tentu saja, kita ingin ruang Hilbert menjadi contoh modul Hilbert-\mathbb{C}. Agar hal ini mungkin, kita membekali ruang Hilbert, yang hasil kali dalamnya dinyatakan dengan ,\langle\mathord{\cdot},\mathord{\cdot}\rangle, dengan “hasil kali dalam” baru yang didefinisikan oleh x|y:=y,x\langle x\,\vert\,y\rangle := \langle y,x \rangle. “Hasil kali dalam” ini linear dalam variabel kedua dan linear konjugat dalam variabel pertama. Saya akan berusaha konsisten dalam menggunakan ,\langle\mathord{\cdot},\mathord{\cdot}\rangle untuk hasil kali dalam standar dan |\langle\mathord{\cdot}\,\vert\,\mathord{\cdot}\rangle untuk hasil kali dalam yang linear dalam variabel keduanya.

Solusi lain (yang sangat umum) untuk persoalan ini adalah menetapkan bahwa hasil kali dalam selalu linear dalam variabel keduanya dan “mengoreksi” buku teks, monograf, dan makalah standar sesuai dengan ketetapan tersebut.

Konvensi 14.1.2.

Berdasarkan uraian sebelumnya, selanjutnya kita akan menggunakan kata “seskuilinear” untuk berarti salah satu di antara linear dalam variabel pertama dan linear konjugat dalam variabel kedua atau linear dalam variabel kedua dan linear konjugat dalam variabel pertama.

Definisi 14.1.3.

Misalkan AA suatu aljabar-C*C^* tak nol. Suatu ruang vektor VV adalah modul-AA jika terdapat suatu pemetaan bilinear B:V×AV:(x,a)xaB\colon V \times A \rightarrow V\colon (x,a) \mapsto xa sedemikian sehingga x(ab)=(xa)bx(ab) = (xa)b berlaku untuk semua xVx \in V dan aa, bAb \in A. Kita juga mensyaratkan bahwa x𝟏A=xx \mathbf{1}_A = x untuk setiap xVx \in V jika AA beridentitas. (Suatu fungsi dua variabel disebut bilinear jika fungsi itu linear dalam kedua variabelnya.)

Definisi 14.1.4.

Untuk memperjelas sebagian materi berikutnya, akan berguna untuk memiliki definisi formal berikut. Suatu ruang vektor (kompleks) adalah tripel (V,+,M)(V,+,M) dengan (V,+)(V,+) suatu grup Abel dan M:Hom(V,+)M\colon \mathbb{C}\rightarrow\mathop{\mathrm{Hom}}(V,+) suatu homomorfisme gelanggang beridentitas. (Seperti dapat diduga, Hom(V,+)\mathop{\mathrm{Hom}}(V,+) menyatakan gelanggang beridentitas dari endomorfisme grup (V,+)(V,+).) Jadi, suatu aljabar adalah kuadruplet terurut (A,+,M,)(A,+,M,\,\cdot\,) dengan (A,+,M)(A,+,M) suatu ruang vektor dan :A×AA:(a,b)ab=ab\,\cdot\,\colon A \times A \rightarrow A \colon (a,b) \mapsto a \cdot b = ab suatu operasi biner pada AA yang memenuhi syarat-syarat dalam 2.1.12.

Latihan 14.1.5.

Pastikan bahwa definisi ruang vektor sebelumnya ekuivalen dengan definisi yang biasa Anda gunakan.

Definisi 14.1.6.

Misalkan (A,+,M,)(A,+,M,\,\cdot\,) suatu aljabar (kompleks). Maka AopA^{\textrm{op}} adalah aljabar (A,+,M,*)(A,+,M,*) dengan a*b=baa*b = b\cdot a untuk semua aa, bAb \in A. Aljabar ini adalah aljabar lawan dari AA. Aljabar itu hanyalah AA dengan urutan perkalian dibalik. Jika AA dan BB adalah aljabar, maka setiap fungsi f:ABf \colon A \rightarrow B dengan cara yang jelas menginduksi suatu fungsi dari AA ke BopB^{\textrm{op}} (atau dari AopA^{\textrm{op}} ke BB, atau dari AopA^{\textrm{op}} ke BopB^{\textrm{op}}). Semua fungsi ini akan kita nyatakan cukup dengan ff.

Definisi 14.1.7.

Misalkan AA dan BB aljabar. Suatu fungsi ϕ:AB\phi\colon A \rightarrow B adalah suatu antihomomorfisme jika fungsi ϕ:ABop\phi\colon A \rightarrow B^{\textrm{op}} merupakan suatu homomorfisme. Suatu antihomomorfisme bijektif adalah antiisomorfisme. Dalam contoh 4.5.5 kita menjumpai antiisomorfisme ruang Hilbert. Antiisomorfisme tersebut agak berbeda karena alih-alih membalik perkalian (yang tidak dimiliki ruang Hilbert), antiisomorfisme itu mengonjugatkan skalar. Dalam kedua kasus, antiisomorfisme bukanlah sesuatu yang sama sekali berbeda dari isomorfisme, melainkan justru sesuatu yang sangat serupa.

Gagasan modul-AA (dengan AA suatu aljabar) telah didefinisikan dalam 14.1.3. Anda mungkin lebih menyukai definisi alternatif berikut, yang lebih selaras dengan definisi ruang vektor dalam 14.1.4.

Definisi 14.1.8.

Misalkan AA suatu aljabar. Kuadruplet terurut (V,+,M,Φ)(V,+,M,\Phi) disebut modul-AA jika (V,+,M)(V,+,M) suatu ruang vektor dan Φ:A𝔏(V)\Phi\colon A \rightarrow\mathfrak{L}(V) suatu homomorfisme aljabar. Jika AA beridentitas, kita juga mensyaratkan bahwa Φ\Phi beridentitas.

Latihan 14.1.9.

Periksa bahwa definisi modul-AA dalam 14.1.3 dan 14.1.8 ekuivalen.

Sekarang kita nyatakan secara tepat apa artinya, ketika AA suatu aljabar-C*C^*, membekali modul-AA dengan hasil kali dalam bernilai-AA.

Definisi 14.1.10.

Misalkan AA suatu aljabar-C*C^*. Suatu modul-AA hasil kali dalam semu adalah suatu modul-AA VV beserta pemetaan β:V×VA:(x,y)x|y\beta\colon V \times V \rightarrow A\colon (x,y) \mapsto \langle x\vert\, y\rangle yang linear dalam variabel keduanya dan memenuhi

  1. x|ya=x|ya\langle x\vert\, ya\rangle = \langle x\vert\, y\rangle a,

  2. x|y=y|x*\langle x\vert\, y\rangle = \langle y\vert\, x\rangle^*, dan

  3. x|x𝟎\langle x\vert\, x\rangle \ge \mathbf{0}

untuk semua xx, yVy \in V dan aAa \in A. Modul ini adalah suatu modul-AA hasil kali dalam (atau suatu modul pra-Hilbert-AA) jika sebagai tambahan

  1. x|x=𝟎\langle x\vert\, x\rangle = \mathbf{0} mengakibatkan x=𝟎x = \mathbf{0}

untuk xVx \in V. Kita akan menyebut pemetaan β\beta sebagai hasil kali dalam (semu) bernilai-AA pada VV.

Contoh 14.1.11.

Setiap ruang hasil kali dalam adalah modul-\mathbb{C} hasil kali dalam.

Proposisi 14.1.12.

Misalkan AA suatu aljabar-C*C^* dan VV suatu modul-AA hasil kali dalam semu. Hasil kali dalam semu |\langle\mathord{\cdot}\vert\,\mathord{\cdot}\rangle bersifat linear konjugat dalam variabel pertamanya, baik secara harfiah maupun dalam arti bahwa va|w=a*v|w\langle va \vert\, w\rangle = a^* \langle v \vert\, w\rangle untuk semua vv, wVw \in V dan aAa \in A.

Proposisi 14.1.13.

Misalkan VV suatu modul-AA hasil kali dalam dengan AA suatu aljabar-C*C^*. Maka x|y*x|yx|xy|y\langle x\vert\, y \rangle^*\langle x\vert\, y \rangle \le \lVert\langle x\vert\, x \rangle\rVert\,\langle y\vert\, y \rangle untuk semua xx, yVy \in V.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Tunjukkan bahwa, tanpa mengurangi keumuman, kita dapat mengasumsikan bahwa x|x=1\lVert\langle x\vert\, x\rangle\rVert = 1. Pertimbangkan elemen positif xay|xay\langle xa - y\vert\, xa - y\rangle dengan a=x|ya = \langle x \vert\, y \rangle. Gunakan proposisi 12.5.21 dan 12.5.22. ◻

Definisi 14.1.14.

Untuk setiap elemen vv dari suatu modul-AA hasil kali dalam (dengan AA suatu aljabar-C*C^*), definisikan v:=v|v1/2.\lVert v\rVert := \lVert\langle v \vert\, v \rangle\rVert^{1/2}.

Proposisi 14.1.15.

Misalkan AA suatu aljabar-C*C^* dan VV suatu modul-AA hasil kali dalam. Maka untuk semua vv, wVw \in V v|wvw.\lVert\langle v \vert\, w\rangle\rVert \le \lVert v\rVert\,\lVert w\rVert.

Akibat 14.1.16.

Jika vv dan ww merupakan elemen suatu modul-AA hasil kali dalam (dengan AA suatu aljabar-C*C^*), maka v+wv+w\lVert v + w\rVert \le \lVert v\rVert + \lVert w\rVert dan pemetaan xxx \mapsto \lVert x\rVert merupakan norma pada VV.

Proposisi 14.1.17.

Jika AA suatu aljabar-C*C^* dan VV suatu modul-AA hasil kali dalam, maka vava\lVert va\rVert \le \lVert v\rVert\, \lVert a\rVert untuk semua vVv \in V dan aAa \in A.

Definisi 14.1.18.

Misalkan AA suatu aljabar-C*C^* dan VV suatu modul-AA hasil kali dalam. Jika VV lengkap terhadap (metrik yang diinduksi oleh) norma yang didefinisikan dalam 14.1.14, maka VV adalah suatu modul Hilbert-AA.

Contoh 14.1.19.

Untuk aa dan bb dalam suatu aljabar-C*C^* AA, definisikan a|b:=a*b.\langle a \vert\, b\rangle := a^*b\,. Maka AA sendiri merupakan modul Hilbert-AA. Setiap ideal kanan tertutup dalam AA juga merupakan modul Hilbert-AA.

Definisi 14.1.20.

Misalkan VV dan WW modul-modul Hilbert-AA dengan AA suatu aljabar-C*C^*. Suatu pemetaan T:VWT\colon V \rightarrow W bersifat linear-AA jika pemetaan itu linear dan jika T(va)=T(v)aT(va) = T(v)a berlaku untuk semua vVv \in V dan aAa \in A. Pemetaan TT adalah suatu morfisme modul Hilbert-AA jika pemetaan itu terbatas dan linear-AA.

Ingat dari 5.2.10 bahwa setiap operator ruang Hilbert memiliki adjoin. Hal ini tidak berlaku untuk modul Hilbert-AA.

Definisi 14.1.21.

Misalkan VV dan WW modul-modul Hilbert-AA dengan AA suatu aljabar-C*C^*. Suatu fungsi T:VWT\colon V \rightarrow W bersifat dapat diadjoinkan jika terdapat suatu fungsi T*:WVT^*\colon W \rightarrow V yang memenuhi Tv|w=v|T*w\langle Tv \vert\, w \rangle = \langle v \vert\, T^*w \rangle untuk semua vVv \in V dan wWw \in W. Fungsi T*T^*, jika ada, adalah adjoin dari TT. Nyatakan dengan 𝔏(V,W)\mathfrak{L}(V,W) keluarga pemetaan yang dapat diadjoinkan dari VV ke WW. Kita menyingkat 𝔏(V,V)\mathfrak{L}(V,V) menjadi 𝔏(V)\mathfrak{L}(V).

Proposisi 14.1.22.

Misalkan VV dan WW modul-modul Hilbert-AA dengan AA suatu aljabar-C*C^*. Jika suatu fungsi T:VWT\colon V \rightarrow W dapat diadjoinkan, maka fungsi itu merupakan morfisme modul Hilbert-AA. Lebih lanjut, jika TT dapat diadjoinkan, maka adjoinnya juga dapat diadjoinkan dan T**=TT^{**} = T.

Contoh 14.1.23.

Misalkan XX interval satuan [0,1][0,1] dan Y={0}Y = \{0\}. Dengan topologi biasa, XX merupakan ruang Hausdorff kompak dan YY suatu subruang dari XX. Misalkan AA adalah aljabar-C*C^* 𝒞(X)\mathcal{C}(X) dan J0J_0 adalah ideal {fA:f(0)=0}\{f \in A\colon f(0) = 0\} (lihat proposisi 11.1.6). Pandang V=AV = A dan W=J0W = J_0 sebagai modul-modul Hilbert-AA (lihat contoh 14.1.19). Maka pemetaan inklusi ι:WV\iota\colon W \rightarrow V merupakan morfisme modul Hilbert-AA yang tidak dapat diadjoinkan.

Proposisi 14.1.24.

Misalkan AA suatu aljabar-C*C^*. Pasangan pemetaan VVV \mapsto V, TT*T \mapsto T^* merupakan funktor kontravarian dari kategori modul Hilbert-AA dan pemetaan yang dapat diadjoinkan ke dirinya sendiri.

Proposisi 14.1.25.

Misalkan AA suatu aljabar-C*C^* dan VV suatu modul Hilbert-AA. Maka 𝔏(V)\mathfrak{L}(V) merupakan aljabar-C*C^* beridentitas.

Notasi 14.1.26.

Misalkan VV dan WW modul-modul Hilbert-AA dengan AA suatu aljabar-C*C^*. Untuk vVv \in V dan wWw \in W, misalkan Θv,w:WV:xvw|x.\Theta_{v,w}\colon W \rightarrow V\colon x \mapsto v\langle w \vert\, x\rangle\,. (Bandingkan dengan 5.7.2.)

Proposisi 14.1.27.

Pemetaan Θ\Theta yang didefinisikan di atas bersifat seskuilinear.

Proposisi 14.1.28.

Misalkan VV dan WW modul-modul Hilbert-AA dengan AA suatu aljabar-C*C^*. Untuk setiap vVv \in V dan wWw \in W, pemetaan Θv,w\Theta_{v,w} dapat diadjoinkan dan (Θv,w)*=Θw,v(\Theta_{v,w})^* = \Theta_{w,v}.

Proposisi berikut memperumum proposisi 5.7.7 dan 5.7.8.

Proposisi 14.1.29.

Misalkan UU, VV, WW, dan ZZ modul-modul Hilbert-AA dengan AA suatu aljabar-C*C^*. Jika S𝔏(Z,W)S \in \mathfrak{L}(Z,W) dan T𝔏(V,U)T \in \mathfrak{L}(V,U), maka TΘv,w=ΘTv,w dan Θv,wS=Θv,S*wT \Theta_{v,w} = \Theta_{Tv,w} \qquad \text{ dan } \qquad \Theta_{v,w} S = \Theta_{v,S^*w} untuk semua vVv \in V dan wWw \in W. ZSWΘv,wVTUZ \to^S W \to^{\Theta_{v,w}} V \to^T U

Proposisi 14.1.30.

Misalkan UU, VV, dan WW modul-modul Hilbert-AA dengan AA suatu aljabar-C*C^*. Andaikan uUu \in U; vv, vVv' \in V; dan wWw \in W. Maka Θu,vΘv,w=Θuv|v,w=Θu,wv|v.\Theta_{u,v}\Theta_{v',w} = \Theta_{u\langle v \vert\,v' \rangle, w} = \Theta_{u, w\langle v'\vert\,v \rangle}\,.

Notasi 14.1.31.

Misalkan AA suatu aljabar-C*C^* dan VV serta WW modul-modul Hilbert-AA. Kita nyatakan dengan 𝔎(W,V)\mathfrak{K}(W,V) rentang linear tertutup dari {Θv,w:vV dan wW}\{\Theta_{v,w}\colon v \in V \text{ dan } w \in W\}. Seperti biasa, kita menyingkat 𝔎(V,V)\mathfrak{K}(V,V) menjadi 𝔎(V)\mathfrak{K}(V).

Proposisi 14.1.32.

Jika AA suatu aljabar-C*C^* dan VV suatu modul Hilbert-AA, maka 𝔎(V)\mathfrak{K}(V) adalah ideal dalam aljabar-C*C^* 𝔏(V)\mathfrak{L}(V).

Contoh berikut dimaksudkan sebagai pembenaran bagi praktik standar untuk mengidentifikasi suatu aljabar-C*C^* AA dengan 𝔎(A)\mathfrak{K}(A).

Contoh 14.1.33.

Jika suatu aljabar-C*C^* AA kita pandang sebagai modul-AA (lihat contoh 14.1.19), maka 𝔎(A)*A\mathfrak{K}(A)\overset{\,{}_\ast}{\cong}A.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Seperti dalam akibat 12.3.3, untuk setiap aAa \in A definisikan operator perkalian kiri La:AA:xaxL_a\colon A \rightarrow A\colon x \mapsto ax. Tunjukkan bahwa setiap operator semacam itu dapat diadjoinkan dan bahwa pemetaan L:A𝔏(A):aLaL\colon A \rightarrow\mathfrak{L}(A) \colon a \mapsto L_a merupakan isomorfisme-**\, ke suatu subaljabar-C*C^* dari 𝔏(A)\mathfrak{L}(A). Kemudian verifikasikan bahwa 𝔎(A)\mathfrak{K}(A) adalah tutupan citra oleh LL dari rentang linear hasil kali elemen-elemen AA. ◻

Contoh 14.1.34.

Misalkan HH suatu ruang Hilbert yang dipandang sebagai modul-\mathbb{C}. Maka 𝔎(H)\mathfrak{K}(H) (sebagaimana didefinisikan dalam 14.1.31) adalah ideal operator kompak pada HH (lihat proposisi 7.1.30).

Bukti.

Proof. Lihat [43], contoh 2.27. ◻

Contoh sebelumnya telah mendorong banyak peneliti, ketika menangani suatu modul Hilbert sebarang VV, menyebut elemen 𝔎(V)\mathfrak{K}(V) sebagai operator kompak. Istilah ini meragukan karena operator semacam itu belum tentu kompak. (Sebagai contoh, jika suatu aljabar-C*C^* beridentitas berdimensi tak hingga AA kita pandang sebagai modul-AA, maka Θ𝟏,𝟏=IA\Theta_{\mathbf{1},\mathbf{1}} = I_A, tetapi operator identitas pada AA tidak kompak—lihat contoh 7.1.20.)

Fakta bahwa modul Hilbert-C*C^* hanya digunakan secara terbatas dalam catatan ini hendaknya tidak membuat Anda berpikir bahwa kajiannya sangat khusus dan/atau kurang penting. Sebaliknya, kajian tersebut sekarang merupakan bidang penelitian penting dan dinamis yang memiliki penerapan pada bidang-bidang yang beragam seperti teori-KK, aljabar-C*C^* graf, grup kuantum, probabilitas kuantum, berkas vektor, geometri nonkomutatif, topologi aljabar dan topologi geometri, ruang dan aljabar operator, serta wavelet. Lihatlah laman web Michael Frank [20], Hilbert C*-modules and related subjects—a guided reference overview, tempat ia mencantumkan 1531 referensi (pada pembaruan 11.09.10) berupa buku, makalah, dan tesis tentang modul semacam itu dan mengelompokkannya menurut penerapan. Terdapat grafik menarik (pada halaman 9) yang menggambarkan pertumbuhan bidang matematika ini. Grafik tersebut mencakup materi dari upaya perintis pada tahun 1950-an dan awal 1960-an (0–2 makalah per tahun) hingga saat catatan ini ditulis (sekitar 100 makalah per tahun).

Ideal Esensial

Contoh 14.2.1.

Jika AA dan BB adalah aljabar-C*C^*, maka AA (lebih tepatnya, A{𝟎}A \oplus \{\mathbf{0}\}) merupakan ideal dalam ABA \oplus B.

Konvensi 14.2.2.

Sebagaimana ditunjukkan oleh contoh sebelumnya, lazimnya AA dipandang sebagai subhimpunan dari ABA \oplus B. Selanjutnya kita akan melakukan ini tanpa menyebutkannya lagi.

Notasi 14.2.3.

Untuk suatu elemen cc dari aljabar AA tetapkan Ic:={a0c+cb0+k=1pakcbk:p,a0,,ap,b0,,bpA}I_c := \biggl\{a_0c + cb_0 + \sum_{k=1}^p a_kcb_k \colon p \in \mathbb{N},\ a_0, \dots, a_p, b_0, \dots, b_p \in A\biggr\}

Proposisi 14.2.4.

Jika cc merupakan elemen dari aljabar AA, maka IcI_c merupakan ideal (aljabar) dalam AA.

Perhatikan bahwa dalam proposisi sebelumnya tidak dinyatakan bahwa ideal aljabar IcI_c harus sejati. Sangat mungkin Ic=AI_c = A (misalnya, ketika cc merupakan elemen invertibel dari aljabar beridentitas).

pt

Definisi 14.2.5.

Misalkan cc suatu elemen dari aljabar-C*C^* AA. Definisikan JcJ_c, yakni ideal utama yang memuat cc, sebagai irisan dari keluarga semua ideal (tertutup) dalam AA yang memuat cc. Jelas bahwa JcJ_c merupakan ideal terkecil yang memuat cc.

Proposisi 14.2.6.

Dalam suatu aljabar-C*C^*, tutupan suatu ideal aljabar merupakan ideal.

Contoh 14.2.7.

Tutupan suatu ideal aljabar sejati dalam aljabar-C*C^* tidak harus merupakan ideal sejati. Sebagai contoh, lcl_c, yaitu himpunan barisan bilangan kompleks yang pada akhirnya nol, padat dalam aljabar-C*C^* l0=𝒞0()l_0 = \mathcal{C}_0(\mathbb{N}). (Namun, ingat proposisi 11.1.1.)

Proposisi 14.2.8.

Jika cc suatu elemen dari aljabar-C*C^*, maka Jc=Ic¯J_c = \overline{I_c}.

Notasi 14.2.9.

Kita menggunakan suatu konvensi notasi standar. Jika AA dan BB merupakan subhimpunan tak kosong dari suatu aljabar, maka ABAB berarti rentang linear dari hasil kali elemen-elemen dalam AA dan elemen-elemen dalam BB; yaitu, AB=span{ab:aA dan bB}AB = \mathop{\mathrm{span}}\{ab \colon \text{$a \in A$ dan $b \in B$}\}. (Perhatikan bahwa dalam definisi 5.7.9 tidak ada bedanya apakah AJAJ diartikan sebagai himpunan hasil kali elemen-elemen dalam AA dengan elemen-elemen dalam JJ atau rentang dari himpunan tersebut.)

Proposisi 14.2.10.

Jika II dan JJ merupakan ideal dalam suatu aljabar-C*C^*, maka IJ¯=IJ\overline{IJ} = I \cap J.

pt

Suatu aljabar-C*C^* tak beridentitas AA dapat dibenamkan sebagai ideal dalam aljabar-C*C^* beridentitas melalui berbagai cara. Aljabar-C*C^* beridentitas terkecil yang memuat AA adalah unitalisasinya Ã\widetilde{A} (lihat proposisi 12.3.4). Tentu saja tidak ada aljabar-C*C^* beridentitas terbesar tempat AA dapat dibenamkan sebagai ideal, sebab jika AA dibenamkan sebagai ideal dalam suatu aljabar-C*C^* beridentitas BB dan CC adalah sebarang aljabar-C*C^* beridentitas, maka AA merupakan ideal dalam aljabar-C*C^* beridentitas BCB \oplus C yang lebih besar lagi. Alasan unitalisasi yang lebih besar ini tidak begitu menarik adalah karena irisan ideal CC dengan AA ialah {𝟎}\{\mathbf{0}\}. Hal ini memotivasi definisi berikut.

pt

Definisi 14.2.11.

Suatu ideal JJ dalam aljabar-C*C^* AA disebut esensial jika dan hanya jika IJ𝟎I \cap J \ne \mathbf{0} untuk setiap ideal tak nol II dalam AA.

Contoh 14.2.12.

Suatu aljabar-C*C^* AA merupakan ideal esensial dalam unitalisasinya Ã\widetilde{A} jika dan hanya jika AA tidak beridentitas.

Contoh 14.2.13.

Jika HH suatu ruang Hilbert, maka ideal operator kompak 𝔎(H)\mathfrak{K}(H) merupakan ideal esensial dalam aljabar-C*C^* 𝔅(H)\mathfrak{B}(H).

Definisi 14.2.14.

Misalkan JJ suatu ideal dalam aljabar-C*C^* AA. Kita mendefinisikan JJ^\perp, yakni anihilator dari JJ, sebagai {aA:Ja={𝟎}}\bigl\{a \in A\colon Ja = \{\mathbf{0}\}\bigr\}.

Proposisi 14.2.15.

Jika JJ suatu ideal dalam aljabar-C*C^*, maka JJ^\perp juga demikian.

Proposisi 14.2.16.

Suatu ideal JJ dalam aljabar-C*C^* AA bersifat esensial jika dan hanya jika J={𝟎}J^\perp = \{\mathbf{0}\}.

Proposisi 14.2.17.

Jika JJ suatu ideal dalam aljabar-C*C^*, maka (JJ)={𝟎}\bigl(J \oplus J^\perp\bigr)^\perp = \{\mathbf{0}\}.

Notasi 14.2.18.

Misalkan ff suatu fungsi bernilai kompleks (atau real) pada himpunan SS. Maka Zf:={sS:f(s)=0}.Z_f := \{ s \in S\colon f(s) = 0\}. Ini adalah himpunan nol dari ff.

pt

Misalkan AA suatu aljabar-C*C^* komutatif tak beridentitas. Menurut teorema Gelfand–Naimark kedua 12.3.14, terdapat suatu ruang Hausdorff kompak lokal tak kompak XX sedemikian sehingga A=𝒞0(X)A = \mathcal{C}_0(X). (Di sini, tentu saja, kita membolehkan diri melakukan penyalahgunaan bahasa yang lazim: secara harfiah, persamaan yang ditunjukkan itu seharusnya berupa isomorfisme-**\, isometrik.) Sekarang misalkan YY suatu ruang Hausdorff kompak yang memuat XX sebagai subhimpunan terbuka dan misalkan B=𝒞(Y)B = \mathcal{C}(Y). Maka BB suatu aljabar-C*C^* komutatif beridentitas. Pandang AA sebagai ideal dalam BB melalui pemetaan ι:AB:ff̃\iota\colon A \rightarrow B\colon f \mapsto \widetilde{f} dengan f̃(y)={f(y),jika yX;0,selainnya.\widetilde{f}(y) = \left\{% \begin{array}{ll} f(y), & \text{jika } y \in X; \\ 0, & \text{selainnya.} \\ \end{array}% \right. Perhatikan bahwa himpunan tertutup XcX^c adalah {Zf̃:f𝒞0(X)}\bigcap\{Z_{\widetilde{f}}\,\colon f \in \mathcal{C}_0(X)\}.

pt

Proposisi 14.2.19.

Gunakan notasi seperti pada paragraf sebelumnya. Maka ideal AA bersifat esensial dalam BB jika dan hanya jika subhimpunan terbuka XX padat dalam YY.

Dengan demikian, sifat esensial suatu ideal dalam konteks unitalisasi aljabar-C*C^* komutatif tak beridentitas berkorespondensi secara tepat dengan sifat suatu subruang terbuka yang padat dalam konteks kompaktifikasi ruang Hausdorff kompak lokal tak kompak.

Kompaktifikasi dan Unitalisasi

Dalam definisi 12.3.6, objek yang keberadaannya dibuktikan dalam proposisi sebelumnya 12.3.4 kita sebut “unitalisasi” dari suatu aljabar-C*C^*. Penyebutan seolah-olah tunggal tersebut jelas menyesatkan. Sebagaimana ruang topologis dapat memiliki banyak kompaktifikasi berbeda, suatu aljabar-C*C^* dapat memiliki banyak unitalisasi. Jika AA merupakan aljabar-C*C^* komutatif tak beridentitas, jelas dari akibat 12.6.15 bahwa unitalisasi Ã\widetilde{A} adalah unitalisasi terkecil yang mungkin dari AA. Demikian pula, dalam topologi, jika XX suatu ruang Hausdorff kompak lokal tak kompak, maka kompaktifikasi satu titiknya jelas merupakan kompaktifikasi terkecil yang mungkin dari XX. Ingat bahwa dalam proposisi 12.3.19 kita membuktikan bahwa membangun unitalisasi terkecil dari AA “pada dasarnya” sama dengan membangun kompaktifikasi terkecil dari XX.

pt

Kadang-kadang lebih nyaman (seperti, misalnya, pada paragraf sebelumnya) untuk mengambil suatu “unitalisasi” dari aljabar yang sudah beridentitas dan kadang-kadang lebih nyaman untuk mengambil suatu “kompaktifikasi” dari ruang yang sudah kompak. Karena tampaknya tidak ada istilah yang diterima secara universal, saya memperkenalkan bahasa berikut (jelas tidak standar, tetapi saya harap berguna).

Definisi 14.3.1.

Misalkan AA dan BB aljabar-C*C^* serta XX dan YY ruang topologis Hausdorff. Kita mengatakan bahwa

  1. BB merupakan suatu unitalisasi dari AA jika BB beridentitas dan AA (**\,-isomorfik dengan) suatu subaljabar-C*C^* dari BB;

  2. BB merupakan suatu unitalisasi esensial dari AA jika BB beridentitas dan AA (**\,-isomorfik dengan) suatu ideal esensial dari BB;

  3. YY merupakan suatu kompaktifikasi dari XX jika ruang itu kompak dan XX (homeomorfik dengan) suatu subruang dari YY; dan

  4. YY merupakan suatu kompaktifikasi esensial dari XX jika ruang itu kompak dan XX (homeomorfik dengan) suatu subruang padat dari YY.

Kiranya beberapa kata perlu disampaikan mengenai bagian-bagian dalam tanda kurung pada definisi sebelumnya. Jarang terjadi bahwa suatu ruang topologis XX secara harfiah merupakan subhimpunan dari kompaktifikasi tertentu atas XX atau bahwa suatu aljabar-C*C^* AA merupakan subhimpunan dari unitalisasi tertentu atas AA. Walaupun tentu benar bahwa sering kali lebih nyaman untuk memandang satu aljabar-C*C^* sebagai subhimpunan dari aljabar lain ketika sebenarnya yang pertama hanya **\,-isomorfik dengan subhimpunan dari yang kedua, ada pula keadaan ketika perincian menjadi lebih jelas jika pembenaman yang sesungguhnya ditentukan. Jika rincian perbedaan ini belum sepenuhnya akrab, dua definisi berikut dimaksudkan untuk membantu.

Definisi 14.3.2.

Misalkan AA dan BB aljabar-C*C^*. Kita mengatakan bahwa AA dibenamkan dalam BB jika terdapat suatu homomorfisme-**\, injektif ι:AB\iota\colon A \rightarrow B; yaitu, jika AA isomorfik-**\, dengan suatu subaljabar-C*C^* dari BB (lihat proposisi 12.6.9 dan 12.3.17). Homomorfisme-**\, injektif ι\iota merupakan suatu pembenaman dari AA ke dalam BB. Dalam situasi ini lazimnya AA dan jangkauan ι\iota diperlakukan sebagai aljabar-C*C^* yang identik. Pasangan (B,ι)(B,\iota) merupakan suatu unitalisasi dari AA jika BB merupakan aljabar-C*C^* beridentitas dan ι:AB\iota\colon A \rightarrow B merupakan suatu pembenaman. Unitalisasi (B,ι)(B,\iota) bersifat esensial jika jangkauan ι\iota merupakan ideal esensial dalam BB.

Definisi 14.3.3.

Misalkan XX dan YY ruang topologis Hausdorff. Kita mengatakan bahwa XX dibenamkan dalam YY jika terdapat homeomorfisme jj dari XX ke suatu subruang dari YY. Homeomorfisme jj merupakan suatu pembenaman dari XX ke dalam YY. Seperti dalam aljabar-C*C^*, lazimnya jangkauan jj diidentifikasi dengan ruang XX. Pasangan (Y,j)(Y,j) merupakan suatu kompaktifikasi dari XX jika YY suatu ruang Hausdorff kompak dan j:XYj\colon X \rightarrow Y merupakan suatu pembenaman. Kompaktifikasi (Y,j)(Y,j) bersifat esensial jika jangkauan jj padat dalam YY.

Kita telah membahas unitalisasi terkecil dari suatu aljabar-C*C^* dan kompaktifikasi terkecil dari suatu ruang Hausdorff kompak lokal. Sekarang, bagaimana dengan aljabar beridentitas terbesar, atau bahkan maksimal, yang memuat AA? Jelas bahwa objek seperti itu tidak ada, sebab jika BB suatu aljabar beridentitas yang memuat AA, maka BCB \oplus C juga demikian, dengan CC sebarang aljabar-C*C^* beridentitas. Demikian pula, tidak ada ruang kompak terbesar yang memuat XX: jika YY suatu ruang kompak yang memuat XX, maka gabungan saling lepas topologis YKY \uplus K juga demikian, dengan KK sebarang ruang kompak tak kosong. Namun, masuk akal untuk menanyakan apakah terdapat suatu unitalisasi esensial maksimal dari aljabar-C*C^* atau suatu kompaktifikasi esensial maksimal dari ruang Hausdorff kompak lokal. Jawabannya adalah ya dalam kedua kasus. Kompaktifikasi Stone–Čech β(X)\beta(X) yang terkenal bersifat maksimal di antara kompaktifikasi esensial dari ruang Hausdorff kompak lokal tak kompak XX. Perinciannya dapat ditemukan dalam sebarang buku teks topologi yang baik. Salah satu uraian standar yang mudah dibaca adalah [53], butir 19.3–19.12. Pendekatan yang lebih canggih menggunakan sebagian analisis fungsional—lihat, misalnya, [8], bab V, bagian 6. Ternyata terdapat pula unitalisasi esensial maksimal dari suatu aljabar-C*C^* tak beridentitas AA—objek ini disebut aljabar pengali dari AA.

Kita mengatakan bahwa suatu unitalisasi esensial MM dari aljabar-C*C^* AA bersifat maksimal jika setiap aljabar-C*C^* yang memuat AA sebagai ideal esensial dapat dibenamkan dalam MM. Berikut pernyataan yang lebih formal.

Definisi 14.3.4.

Suatu unitalisasi esensial (M,j)(M,j) dari aljabar-C*C^* AA disebut maksimal jika untuk setiap pembenaman ι:AB\iota\colon A \rightarrow B yang jangkauannya merupakan ideal esensial dalam BB, terdapat homomorfisme-**\, ϕ:BM\phi\colon B \rightarrow M sedemikian sehingga ϕι=j\phi \circ \iota = j.

Proposisi 14.3.5.

Dalam definisi sebelumnya, homomorfisme-**\, ϕ\phi, jika ada, harus injektif.

Proposisi 14.3.6.

Dalam definisi sebelumnya, homomorfisme-**\, ϕ\phi, jika ada, harus tunggal.

Bandingkan definisi berikut dengan 13.2.1.

Definisi 14.3.7.

Misalkan AA dan BB aljabar-C*C^*, dan VV modul Hilbert-AA. Pemetaan ϕ:B𝔏(V)\phi\colon B \rightarrow\mathfrak{L}(V) yang merupakan homomorfisme-**\, disebut tak terdegenerasi jika ϕ(B)V\phi^\rightarrow(B)\,V padat dalam VV.

Proposisi 14.3.8.

Misalkan AA, BB, dan JJ aljabar-C*C^*, VV suatu modul Hilbert-BB, serta ι:JA\iota\colon J \rightarrow A suatu homomorfisme-**\, injektif yang jangkauannya merupakan ideal dalam AA. Jika ϕ:J𝔏(V)\phi\colon J \rightarrow\mathfrak{L}(V) suatu homomorfisme-**\, tak terdegenerasi, maka terdapat perpanjangan tunggal dari ϕ\phi menjadi homomorfisme-**\, ϕ¯:A𝔏(V)\overline\phi\colon A \rightarrow \mathfrak{L}(V) yang memenuhi ϕ¯ι=ϕ\overline\phi \circ \iota = \phi.

Proposisi 14.3.9.

Jika AA suatu aljabar-C*C^* tak nol, maka (𝔏(A),L)(\mathfrak{L}(A),L) merupakan unitalisasi esensial maksimal dari AA. Unitalisasi ini tunggal dalam arti bahwa jika (M,j)(M,j) merupakan unitalisasi esensial maksimal lain dari AA, maka terdapat suatu isomorfisme-**\, ϕ:M𝔏(A)\phi \colon M \rightarrow\mathfrak{L}(A) sedemikian sehingga ϕj=L\phi \circ j = L.

Definisi 14.3.10.

Misalkan AA suatu aljabar-C*C^*. Kita mendefinisikan aljabar pengali dari AA sebagai keluarga 𝔏(A)\mathfrak{L}(A) operator yang dapat diadjoinkan pada AA. Mulai sekarang kita menyatakan keluarga ini dengan M(A)M(A).