Bab 5 · Operator pada Ruang Hilbert
Pemetaan Linear Invertibel dan Isometri
Definisi 5.1.1.
Suatu pemetaan linear antara dua ruang hasil kali dalam dikatakan mempertahankan hasil kali dalam jika untuk semua , .
Proposisi 5.1.2.
Misalkan suatu pemetaan linear antara ruang-ruang hasil kali dalam. Maka pernyataan-pernyataan berikut ekuivalen:
mempertahankan hasil kali dalam;
mempertahankan norma; dan
merupakan isometri.
Sama seperti pada ruang linear bernorma (lihat bagian paling akhir dari seksi 3.2), terdapat (sekurang-kurangnya) dua kategori penting yang objek-objeknya adalah ruang Hilbert:
ruang Hilbert dan pemetaan linear terbatas, dan
ruang Hilbert dan kontraksi linear.
Dalam kategori apa pun, lazim untuk mendefinisikan isomorfisme sebagai morfisme invertibel. Karena hampir selalu kategori (topologis) ruang Hilbert dan pemetaan linear terbataslah yang kita jumpai dalam catatan ini, tampaknya masuk akal untuk menerapkan kata “isomorfisme” pada isomorfisme dalam kategori ini—dengan kata lain, pada pemetaan invertibel; sedangkan isomorfisme dalam kategori yang lebih ketat, yaitu kategori (geometris) ruang Hilbert dan kontraksi linear, dapat secara wajar disebut isomorfisme isometrik. Namun, ini bukan konvensi yang dipakai. Ketika kebanyakan matematikawan memikirkan “isomorfisme ruang Hilbert”, yang mereka maksud adalah pemetaan yang mempertahankan seluruh struktur ruang Hilbert—termasuk hasil kali dalam. Dengan demikian (menggunakan 5.1.2), kata “isomorfisme”, apabila diterapkan pada pemetaan antara ruang-ruang Hilbert, di hampir semua tempat berarti isomorfisme isometrik. Akibatnya, isomorfisme dalam kategori yang lebih umum disebut pemetaan (linear terbatas) invertibel. Ingat pula: Kita mencadangkan kata “operator” bagi pemetaan linear terbatas dari suatu ruang ke ruang itu sendiri.
Contoh 5.1.3.
Definisikan suatu operator pada ruang Hilbert dengan Maka merupakan isometri, tetapi bukan isomorfisme isometrik. Sebaliknya, jika dan memetakan setiap ke fungsi , maka merupakan isomorfisme isometrik.
Contoh 5.1.4.
Misalkan ruang Hilbert yang didefinisikan dalam contoh 4.1.10. Maka pemetaan diferensiasi dari ke merupakan isomorfisme isometrik. Apa inversnya?
Contoh 5.1.5.
Misalkan suatu keluarga ruang ukur -hingga. Jadikan gabungan saling lepas sebagai ruang ukur dengan cara biasa. Maka isomorfik secara isometrik dengan jumlah langsung ruang-ruang Hilbert .
Contoh 5.1.6.
Misalkan ukuran Lebesgue pada dan ukuran Lebesgue pada . Misalkan untuk semua dan semua . Maka merupakan isomorfisme isometrik antara dan .
Proposisi 5.1.7.
Setiap surjeksi yang mempertahankan hasil kali dalam dari suatu ruang Hilbert ke ruang Hilbert lainnya secara otomatis linear.
Proposisi 5.1.8.
Jika merupakan pemetaan linear terbatas antara ruang-ruang Hilbert tak nol, maka
Bukti.
Petunjuk pembuktian. Tunjukkan terlebih dahulu bahwa . ◻
Definisi 5.1.9.
Suatu kurva dalam ruang Hilbert adalah pemetaan kontinu dari ke . Suatu kurva dikatakan sederhana jika kurva itu injektif. Jika suatu kurva dan , maka tali busur dari yang bersesuaian dengan interval adalah vektor . Dua tali busur dikatakan tak bertumpang tindih jika interval parameter yang terkait dengannya paling banyak memiliki satu titik ujung bersama.
Dalam [24], Halmos menggambarkan betapa luasnya ruang Hilbert berdimensi tak hingga melalui contoh elegan berikut.
Contoh 5.1.10.
Dalam setiap ruang Hilbert berdimensi tak hingga terdapat kurva sederhana yang berbelok membentuk sudut siku-siku di setiap titik, dalam arti bahwa setiap pasangan tali busur yang tak bertumpang tindih saling tegak lurus.
Bukti.
Petunjuk pembuktian. Tinjau fungsi-fungsi karakteristik dalam . ◻
Operator dan Adjoinnya
Proposisi 5.2.1.
Misalkan , , dengan dan ruang Hilbert. Jika untuk setiap dan , maka .
Definisi 5.2.2.
Misalkan suatu operator pada ruang Hilbert . Maka , yaitu bentuk kuadratik yang terkait dengan , adalah fungsi bernilai skalar yang didefinisikan oleh untuk setiap .
Suatu operator pada ruang Hilbert kompleks adalah operator nol jika dan hanya jika bentuk kuadratik yang terkait dengannya adalah fungsi nol.
Proposisi 5.2.3.
Jika adalah ruang Hilbert kompleks dan , maka jika dan hanya jika .
Bukti.
Petunjuk pembuktian. Dalam hipotesis untuk setiap , gantilah mula-mula dengan dan kemudian dengan . ◻
Proposisi sebelumnya merupakan salah satu dari sedikit proposisi yang akan kita jumpai yang tidak berlaku sekaligus untuk ruang Hilbert real dan kompleks.
Contoh 5.2.4.
Proposisi 5.2.3 tidak benar jika dalam hipotesis kata “kompleks” diganti dengan “real”.
Definisi 5.2.5.
Suatu fungsi antara ruang vektor kompleks disebut linear konjugat jika fungsi itu aditif () dan memenuhi untuk semua dan . Suatu fungsi bernilai kompleks dengan dua variabel disebut fungsional seskuilinear jika fungsi itu linear dalam variabel pertamanya dan linear konjugat dalam variabel keduanya.
Jika dan adalah ruang linear bernorma, suatu fungsional seskuilinear pada disebut terbatas jika terdapat suatu konstanta sedemikian sehingga untuk semua dan .
Proposisi 5.2.6.
Jika adalah fungsional seskuilinear terbatas pada jumlah langsung dua ruang Hilbert tak nol, maka bilangan-bilangan berikut semuanya ada dan sama:
pt
pt
pt
.
Bukti.
Petunjuk pembuktian. Pembuktiannya hampir sama persis dengan hasil yang bersesuaian untuk pemetaan linear (lihat 3.2.5). ◻
Definisi 5.2.7.
Misalkan fungsional seskuilinear terbatas pada jumlah langsung dua ruang Hilbert tak nol. Kita mendefinisikan , yaitu norma dari , sebagai salah satu di antara ekspresi-ekspresi (yang sama) dalam hasil sebelumnya.
Proposisi 5.2.8.
Misalkan pemetaan linear terbatas antara ruang Hilbert tak nol. Maka adalah fungsional seskuilinear terbatas pada dan .
Proposisi 5.2.9.
Misalkan fungsional seskuilinear terbatas pada hasil kali dua ruang Hilbert tak nol. Maka terdapat pemetaan linear terbatas yang unik dan sedemikian sehingga untuk semua dan . Selain itu, .
Bukti.
Petunjuk pembuktian. Tunjukkan bahwa untuk setiap , pemetaan adalah fungsional linear terbatas pada . ◻
Definisi 5.2.10.
Misalkan pemetaan linear terbatas antara ruang-ruang Hilbert. Pemetaan dari ke dalam adalah fungsional seskuilinear terbatas. Berdasarkan proposisi sebelumnya, terdapat pemetaan linear terbatas yang unik yang disebut adjoin dari sedemikian sehingga untuk semua dan .
Contoh 5.2.11.
Ingat dari Contoh 4.1.3 bahwa keluarga dari semua barisan bilangan kompleks yang kuadratnya dapat dijumlahkan merupakan ruang Hilbert. Misalkan Maka adalah operator pada , yang disebut operator geser unilateral, dan . Adjoin dari operator geser unilateral diberikan oleh
Contoh 5.2.12.
Ambil sebagai basis ortonormal bagi ruang Hilbert separabel dan barisan terbatas bilangan kompleks. Misalkan untuk setiap . Maka dapat diperluas secara unik menjadi operator pada . Berapakah norma operator ini? Apa adjoinnya?
Definisi 5.2.13.
Operator yang dibahas dalam contoh sebelumnya dikenal sebagai operator diagonal. Notasi yang lazim untuk operator ini adalah .
Dalam kategori ruang hasil kali dalam dan pemetaan linear terbatas, baik kernel maupun jangkauan suatu morfisme merupakan objek dalam kategori tersebut. Namun, seperti ditunjukkan oleh contoh berikut, hal ini tidak harus berlaku untuk ruang Hilbert. Walaupun operator pada ruang Hilbert selalu mempunyai kernel yang sendiri merupakan ruang Hilbert, jangkauannya mungkin tidak tertutup dan akibatnya tidak lengkap.
Contoh 5.2.14.
Jangkauan operator diagonal pada ruang Hilbert tidak tertutup.
Contoh 5.2.15.
Misalkan ruang ukur positif yang sigma-hingga dan ruang Hilbert dari semua (kelas ekuivalensi) fungsi bernilai kompleks pada yang terintegralkan kuadrat terhadap . Misalkan fungsi bernilai kompleks yang terbatas secara esensial dan terukur terhadap pada . Definisikan pada dengan . Maka adalah operator pada ; operator ini disebut operator perkalian. Normanya diberikan oleh dan adjoinnya oleh .
Akan berguna untuk sedikit memperluas Definisi 1.2.44.
Definisi 5.2.16.
Operator dan masing-masing pada ruang Hilbert dan disebut ekuivalen secara uniter jika terdapat isomorfisme isometrik sedemikian sehingga .
Contoh 5.2.17.
Misalkan ukuran Lebesgue pada dan ukuran Lebesgue pada . Misalkan untuk dan untuk . Maka operator perkalian dan (masing-masing pada dan ) ekuivalen secara uniter.
Contoh 5.2.18.
Misalkan operator perkalian pada , dengan ruang ukuran -hingga seperti dalam Contoh 5.2.15. Maka idempoten jika dan hanya jika adalah fungsi karakteristik dari suatu himpunan dalam .
Kita dapat memandang teorema spektral dalam aljabar linear dasar sebagai pernyataan berikut: Setiap operator normal pada ruang hasil kali dalam kompleks berdimensi hingga ekuivalen secara uniter dengan suatu operator perkalian. Yang benar-benar menakjubkan adalah bagaimana pernyataan ini digeneralisasi ke ruang Hilbert berdimensi tak hingga—pokok bahasan yang akan dibicarakan jauh kemudian.
Latihan 5.2.19.
Misalkan dan ukuran pencacahan pada .
Identifikasilah ruang Hilbert .
Identifikasilah operator perkalian pada .
Misalkan operator linear pada yang representasi matriksnya adalah Gunakan operator untuk mengilustrasikan rumusan teorema spektral sebelumnya.
Contoh 5.2.20.
Misalkan ruang Hilbert dari semua (kelas ekuivalensi) fungsi bernilai kompleks pada yang terintegralkan kuadrat terhadap ukuran Lebesgue . Jika fungsi terukur Borel yang terbatas, definisikan pada dengan Maka adalah operator integral dan kernel dari operator tersebut adalah fungsi . (Ini merupakan penggunaan lain dari kata “kernel”; penggunaan ini sama sekali tidak berkaitan dengan penggunaan kata yang lebih umum: —lihat Definisi 1.1.23 ). Adjoin dari operator juga merupakan operator integral pada dan kernelnya adalah fungsi yang didefinisikan pada oleh .
Bukti.
Petunjuk pembuktian. Verifikasilah bahwa untuk ◻
Contoh 5.2.21.
Misalkan ruang Hilbert real dari semua (kelas ekuivalensi) fungsi bernilai real pada yang terintegralkan kuadrat terhadap ukuran Lebesgue. Definisikan pada dengan Maka merupakan operator pada . Operator ini adalah operator Volterra dan merupakan contoh operator integral. (Apa kernel untuk operator ini?)
Latihan 5.2.22.
Misalkan adalah operator Volterra yang didefinisikan di atas.
Tunjukkan bahwa injektif.
Hitunglah .
Tentukan beserta jangkauannya.
Proposisi 5.2.23.
Jika dan adalah operator pada ruang Hilbert kompleks dan , maka
;
;
; dan
.
Proposisi 5.2.24.
Misalkan operator pada ruang Hilbert . Maka
dan
.
Bukti.
Petunjuk pembuktian. Perhatikan bahwa karena , untuk membuktikan (a) cukup ditunjukkan bahwa . Untuk itu, amati bahwa apabila dan . Dari sini simpulkan bahwa . ◻
Syarat (b) yang tampak cukup biasa dalam proposisi sebelumnya kelak ternyata menjadi sifat yang sangat penting ketika aljabar- pertama kali diperkenalkan dalam Bab 7.
Proposisi 5.2.25.
Jika adalah operator pada ruang Hilbert, maka
,
,
, dan
.
Bandingkan hasil sebelumnya dengan Teorema 1.2.42.
Definisi 5.2.26.
Suatu pemetaan linear terbatas antara ruang linear bernorma disebut terbatas jauh dari nol (atau terbatas dari bawah) jika terdapat suatu bilangan sedemikian sehingga untuk setiap .
Contoh 5.2.27.
Jelas bahwa jika suatu pemetaan linear terbatas memiliki sifat terbatas jauh dari nol, maka pemetaan itu injektif. Operator yang didefinisikan pada ruang Hilbert menunjukkan bahwa sifat terbatas jauh dari nol merupakan syarat yang sungguh lebih kuat daripada sifat injektif.
Proposisi 5.2.28.
Setiap pemetaan linear terbatas antara ruang Hilbert yang terbatas jauh dari nol memiliki jangkauan tertutup.
Proposisi 5.2.29.
Suatu operator pada ruang Hilbert invertibel jika dan hanya jika operator itu terbatas jauh dari nol dan memiliki jangkauan padat.
Proposisi 5.2.30.
Pasangan pemetaan dan yang memetakan setiap ruang Hilbert ke dirinya sendiri dan setiap pemetaan linear terbatas antara ruang Hilbert ke adjoinnya merupakan funktor kontravarian dari kategori yang terdiri atas ruang Hilbert dan pemetaan linear terbatas ke kategori itu sendiri.
Proposisi 5.2.31.
Misalkan ruang Hilbert, , , dan adalah graf dari .
Maka adalah subruang linear tertutup dari .
injektif jika dan hanya jika .
padat dalam jika dan hanya jika padat dalam .
surjektif jika dan hanya jika .
Contoh 5.2.32.
Terdapat ruang Hilbert dengan subruang dan sedemikian sehingga tidak tertutup.
Proposisi 5.2.33.
Misalkan dan ruang Hilbert dan adalah subruang vektor dari . Setiap pemetaan linear terbatas dapat diperluas menjadi pemetaan linear terbatas dari , yaitu tutupan , tanpa memperbesar normanya.
Latihan 5.2.34.
Misalkan adalah basis ortonormal bagi ruang Hilbert . Bahas transformasi linear pada sedemikian sehingga untuk setiap . Berikan contoh tak trivial.
Aljabar dengan Involusi
Definisi 5.3.1.
Suatu involusi pada suatu aljabar adalah suatu pemetaan dari ke yang memenuhi
,
,
, dan
untuk semua , , dan . Suatu aljabar yang padanya telah didefinisikan suatu involusi adalah aljabar- (dibaca “aljabar bintang”). Jika adalah elemen dari suatu aljabar-, maka disebut adjoin dari .
Contoh 5.3.2.
Dalam aljabar dari bilangan kompleks, pemetaan yang memetakan suatu bilangan ke konjugat kompleksnya merupakan suatu involusi.
Contoh 5.3.3.
Pemetaan yang memetakan suatu matriks ke transpos konjugatnya merupakan suatu involusi pada aljabar beridentitas .
Contoh 5.3.4.
Misalkan suatu ruang Hausdorff kompak. Pemetaan yang memetakan suatu fungsi ke konjugat kompleksnya merupakan suatu involusi dalam aljabar .
Contoh 5.3.5.
Pemetaan yang memetakan suatu operator ruang Hilbert ke adjoinnya merupakan suatu involusi dalam aljabar (lihat proposisi 5.2.23).
Proposisi 5.3.6.
Misalkan dan elemen dari suatu aljabar-. Maka berkomutasi dengan jika dan hanya jika berkomutasi dengan .
Proposisi 5.3.7.
Dalam suatu aljabar- beridentitas, .
Proposisi 5.3.8.
Jika suatu aljabar- memiliki identitas perkalian kiri , maka beridentitas dan .
Proposisi 5.3.9.
Misalkan elemen dari suatu aljabar- beridentitas. Maka invertibel jika dan hanya jika invertibel. Dan ketika invertibel, berlaku
Definisi 5.3.10.
Suatu homomorfisme aljabar di antara aljabar- yang mempertahankan involusi (yaitu, sedemikian sehingga ) adalah suatu homomorfisme- (dibaca “homomorfisme bintang”). Suatu homomorfisme- di antara aljabar beridentitas disebut beridentitas jika . Dalam kategori aljabar- dan homomorfisme-, isomorfisme (yang untuk penegasan disebut isomorfisme-) adalah homomorfisme- bijektif.
Proposisi 5.3.11.
Misalkan suatu homomorfisme- di antara aljabar-. Maka kernel adalah suatu ideal- dalam , dan citra adalah suatu subaljabar- dari .
Operator Swaadjoin
Definisi 5.4.1.
Suatu elemen dari aljabar- bersifat swaadjoin (atau Hermitian) jika . Elemen ini bersifat normal jika . Jika aljabarnya beridentitas, elemen ini bersifat uniter jika . Himpunan semua elemen swaadjoin dari dinotasikan dengan , himpunan semua elemen normal dengan , dan, ketika aljabarnya beridentitas, himpunan semua elemen uniter dengan .
Proposisi 5.4.2.
Misalkan elemen dari suatu aljabar- kompleks. Maka terdapat elemen swaadjoin unik dan sedemikian sehingga .
Bukti.
Petunjuk pembuktian. Pikirkan kasus khusus penulisan suatu bilangan kompleks dalam bentuk bagian real dan imajinernya. ◻
Definisi 5.4.3.
Ambil suatu himpunan bagian dari aljabar- . Maka . Himpunan disebut swaadjoin jika .
Suatu subaljabar swaadjoin tak kosong dari disebut subaljabar-. Istilah sumber yang bersinonim juga diterjemahkan sebagai subaljabar-.
Perhatian.
Definisi sebelumnya tidak menyatakan bahwa elemen-elemen dari suatu himpunan bagian swaadjoin dari suatu aljabar- dengan sendirinya bersifat swaadjoin.
Proposisi 5.4.4.
Suatu operator pada ruang Hilbert kompleks bersifat swaadjoin jika dan hanya jika bentuk kuadratik terkaitnya bernilai real.
Bukti.
Petunjuk pembuktian. Gunakan trik yang sama seperti dalam 5.2.3. Dalam hipotesis bahwa selalu real, gantilah mula-mula dengan , lalu dengan . ◻
Definisi 5.4.5.
Misalkan suatu operator pada ruang Hilbert tak nol . Adapun jangkauan numerik dari , yang dinotasikan dengan , adalah jangkauan yang diperoleh pada sfer satuan dari dengan membatasi bentuk kuadratik yang terkait dengan . Yaitu, Adapun radius numerik dari , yang dinotasikan dengan , adalah .
Proposisi 5.4.6.
Jika suatu operator swaadjoin pada ruang Hilbert tak nol, maka .
Bukti.
Petunjuk pembuktian. Bagian yang sulit adalah menunjukkan bahwa . Untuk itu, tunjukkan terlebih dahulu bahwa untuk semua vektor dan dalam ruang Hilbert, di mana merupakan bentuk kuadratik yang terkait dengan dan adalah bagian real dari bilangan kompleks . Gunakan ini untuk memverifikasi bahwa jika , maka Tuliskan bilangan kompleks dalam bentuk polar . Jelas bahwa jika kita mengganti dengan dalam pertidaksamaan 5.4.2, pertidaksamaan yang dihasilkan tetap berlaku kapan pun .
Terakhir, perhatikan bahwa jika dan adalah sebarang vektor dalam sedemikian sehingga , maka Dengan demikian, hasil yang diinginkan segera diperoleh. ◻
Dalam proposisi 5.2.3, kita melihat bahwa suatu operator pada ruang Hilbert kompleks merupakan operator nol jika dan hanya jika bentuk kuadratik terkaitnya bernilai nol. Dari proposisi sebelumnya mudah diperoleh akibat bahwa ekuivalensi ini juga berlaku untuk operator swaadjoin pada ruang Hilbert real.
Akibat 5.4.7.
Misalkan suatu operator swaadjoin pada ruang Hilbert. Maka jika dan hanya jika bentuk kuadratik terkaitnya bernilai nol.
Definisi 5.4.8.
Suatu operator pada ruang Hilbert bersifat positif jika operator tersebut swaadjoin dan bentuk kuadratik terkaitnya positif ( untuk setiap ).
Latihan 5.4.9.
Misalkan ruang Hilbert kompleks dan operator positif pada . Definisikan untuk semua .
Buktikan bahwa merupakan norma jika dan hanya jika .
Misalkan . Tunjukkan bahwa norma dan menginduksi topologi yang sama pada jika dan hanya jika invertibel dalam . Petunjuk. Ketika terdapat dua topologi pada , sering kali berguna untuk mempertimbangkan operator identitas pada .
Misalkan invertibel dalam . Untuk , carilah suatu rumus bagi adjoin dari terhadap hasil kali dalam .
Proyeksi
Konvensi 5.5.1.
Saat ini perhatian kita terutama difokuskan pada operator pada ruang Hilbert. Dalam konteks ini, istilah proyeksi selalu dimaknai sebagai proyeksi ortogonal (lihat definisi 1.2.48). Jadi, suatu operator pada ruang Hilbert disebut proyeksi jika dan .
Kita memperumum definisi “proyeksi (ortogonal)” dari ruang Hilbert ke aljabar-.
Definisi 5.5.2.
Suatu proyeksi dalam suatu aljabar- adalah suatu elemen dari aljabar tersebut yang bersifat idempoten () dan swaadjoin (). Himpunan semua proyeksi dalam dinotasikan dengan . Dalam kasus , yaitu operator terbatas pada suatu ruang Hilbert, kita menulis , atau, jika telah dipahami, cukup , untuk notasi yang lebih informatif .
Proposisi 5.5.3.
Setiap operator pada ruang Hilbert yang merupakan isometri pada komplemen ortogonal dari kernelnya memiliki jangkauan tertutup.
Bukti.
Petunjuk pembuktian. Perhatikan terlebih dahulu bahwa jika , dengan adalah operator yang dimaksud, maka . ◻
Proposisi 5.5.4.
Misalkan suatu proyeksi pada ruang Hilbert . Maka
jika dan hanya jika ;
; dan
.
Pada bagian (c) dari proposisi sebelumnya, lambang tentu saja menyatakan jumlah langsung ortogonal (lihat paragraf setelah 1.2.48).
Proposisi 5.5.5.
Misalkan suatu subruang dari ruang Hilbert . Jika , jika untuk setiap , dan jika untuk setiap , maka adalah proyeksi dari pada .
Pada bagian selebihnya dari seksi ini, penting untuk selalu mengingat bahwa ruang dari operator pada ruang Hilbert merupakan contoh aljabar-, dan bahwa proyeksi (ortogonal) pada suatu ruang Hilbert merupakan contoh proyeksi dalam aljabar-. Jadi, di satu sisi, semua hal yang dinyatakan untuk proyeksi semacam itu dalam aljabar- berlaku bagi proyeksi ruang Hilbert. Karena tidak ada nama yang lebih baik, kita akan mengatakan bahwa hasil-hasil ini mendokumentasikan struktur abstrak dari proyeksi. Di sisi lain, proyeksi ruang Hilbert memiliki struktur tambahan yang tidak bermakna dalam aljabar- umum: proyeksi tersebut memiliki domain dan jangkauan, serta bekerja pada vektor. Ketika menyelidiki hal-hal semacam itu, kita akan mengatakan bahwa kita membahas struktur spasial (atau konkret) dari proyeksi. Perhatikan bagaimana kedua pandangan ini muncul berselang-seling dalam bagian selebihnya dari seksi ini.
Hasil pertama kita memberikan syarat perlu dan cukup agar jumlah proyeksi merupakan suatu proyeksi.
Proposisi 5.5.6.
Misalkan dan proyeksi dalam suatu aljabar-. Maka pernyataan berikut ekuivalen:
;
;
;
merupakan suatu proyeksi.
Definisi 5.5.7.
Misalkan dan proyeksi dalam suatu aljabar-. Jika salah satu syarat dalam hasil sebelumnya berlaku, maka kita mengatakan bahwa dan bersifat ortogonal dan menulis . (Jadi, untuk operator pada suatu ruang Hilbert, kita dapat dengan tepat, meskipun tidak nyaman, menyebut proyeksi ortogonal yang ortogonal!)
Berikutnya adalah hasil spasial yang bersesuaian untuk jumlah dua proyeksi.
Proposisi 5.5.8.
Misalkan dan proyeksi pada ruang Hilbert . Maka jika dan hanya jika . Dalam kasus ini, merupakan suatu proyeksi yang kernelnya adalah dan jangkauannya adalah .
Contoh 5.5.9.
Pada suatu ruang Hilbert, proyeksi (ortogonal) tidak harus berkomutasi. Sebagai contoh, misalkan proyeksi dari ruang Hilbert (real) pada garis dan adalah proyeksi dari pada sumbu-. Maka .
Hasil kali dua proyeksi merupakan suatu proyeksi jika dan hanya jika keduanya berkomutasi.
Proposisi 5.5.10.
Misalkan dan proyeksi dalam suatu aljabar-. Maka merupakan suatu proyeksi jika dan hanya jika .
Proposisi 5.5.11.
Misalkan dan proyeksi pada ruang Hilbert . Jika , maka merupakan suatu proyeksi yang kernelnya adalah dan jangkauannya adalah .
Proposisi 5.5.12.
Misalkan dan proyeksi dalam suatu aljabar-. Maka pernyataan berikut ekuivalen:
;
;
merupakan suatu proyeksi.
Definisi 5.5.13.
Misalkan dan proyeksi dalam suatu aljabar-. Jika salah satu dari syarat dalam hasil sebelumnya berlaku, maka kita menulis .
Proposisi 5.5.14.
Misalkan dan proyeksi pada ruang Hilbert . Maka pernyataan berikut ekuivalen:
;
untuk semua ; dan
.
Dalam kasus ini, merupakan suatu proyeksi yang kernelnya adalah dan jangkauannya adalah .
Notasi: Misalkan , , dan subruang dari suatu ruang Hilbert. Pernyataan dapat ditulis ulang sebagai (atau ).
Proposisi 5.5.15.
Operasi yang didefinisikan dalam 5.5.13 untuk proyeksi pada suatu aljabar- beridentitas merupakan urutan parsial pada . Jika adalah suatu proyeksi dalam , maka .
Proposisi 5.5.16.
Misalkan dan proyeksi dalam suatu aljabar- . Jika , maka infimum dari dan , yang kita notasikan dengan , ada terhadap urutan parsial dan . Infimum dapat ada bahkan ketika dan tidak berkomutasi. Syarat perlu dan cukup agar berlaku adalah bahwa dan keduanya berlaku.
Proposisi 5.5.17.
Misalkan dan proyeksi dalam suatu aljabar- . Jika , maka supremum dari dan , yang kita notasikan dengan , ada terhadap urutan parsial dan . Supremum dapat ada bahkan ketika dan tidak ortogonal.
Proposisi 5.5.18.
Misalkan suatu aljabar-, suatu elemen positif, dan . Jika , maka terdapat suatu proyeksi dalam sedemikian sehingga .
Operator Normal
Proposisi 5.6.1.
Suatu operator pada ruang Hilbert bersifat normal jika dan hanya jika untuk semua .
Bukti.
Petunjuk pembuktian. Gunakan Korolar 5.4.7. ◻
Akibat 5.6.2.
Jika merupakan operator normal pada suatu ruang Hilbert, maka .
Proposisi 5.6.3.
Jika merupakan operator normal pada suatu ruang Hilbert, maka .
Bukti.
Petunjuk pembuktian. Substitusikan sebagai pengganti dalam Proposisi 5.6.1. Gunakan Proposisi 5.2.24. ◻
Proposisi 5.6.4.
Jika merupakan operator normal pada ruang Hilbert , maka
Akibat 5.6.5.
Suatu operator normal pada ruang Hilbert memiliki jangkauan padat jika dan hanya jika operator itu injektif.
Contoh 5.6.6.
Operator geser unilateral (5.2.11) merupakan contoh operator pada ruang Hilbert yang injektif tetapi tidak memiliki jangkauan padat. Adjoinnya memiliki jangkauan padat (bahkan, bersifat surjektif), tetapi tidak injektif.
Akibat 5.6.7.
Suatu operator normal pada ruang Hilbert bersifat invertibel jika dan hanya jika operator tersebut terbatas jauh dari nol.
Operator Berperingkat Hingga
Definisi 5.7.1.
peringkat suatu pemetaan linear adalah dimensi (ruang vektor) dari jangkauannya. Jadi, suatu operator berperingkat hingga adalah operator yang memiliki jangkauan berdimensi hingga. Kita menyatakan dengan keluarga operator berperingkat hingga pada suatu ruang vektor .
Contoh 5.7.2.
Untuk vektor dan dalam ruang Hilbert , definisikan Jika dan merupakan vektor tak nol dalam , maka merupakan operator berperingkat satu pada .
Dua proposisi berikutnya mengidentifikasi adjoin dan komposisi operator-operator berperingkat satu ini.
Proposisi 5.7.3.
Jika dan merupakan vektor dalam suatu ruang Hilbert, maka
Proposisi 5.7.4.
Jika , , , dan merupakan vektor dalam suatu ruang Hilbert, maka
Proposisi 5.7.5.
Jika merupakan vektor dalam ruang Hilbert , maka merupakan proyeksi berperingkat satu jika dan hanya jika merupakan vektor satuan.
Proposisi 5.7.6.
Andaikan bahwa merupakan himpunan ortonormal dalam ruang Hilbert . Misalkan . Maka merupakan proyeksi ortogonal dari ke .
Proposisi 5.7.7.
Jika dan merupakan vektor dalam suatu ruang Hilbert dan merupakan operator pada ruang Hilbert yang sama, yaitu , maka
Proposisi 5.7.8.
Jika dan merupakan vektor dalam suatu ruang Hilbert dan merupakan operator pada ruang Hilbert yang sama, yaitu , maka
Kita akan segera melihat bahwa keluarga semua operator berperingkat hingga pada suatu ruang Hilbert tak nol merupakan ideal- minimal dalam aljabar- . Sebagai persiapan, kita meninjau beberapa fakta dasar tentang ideal dalam aljabar.
Definisi 5.7.9.
Suatu ideal kiri dalam suatu aljabar adalah subruang vektor dari sedemikian sehingga . (Untuk ideal kanan, tentu saja, kita mensyaratkan .) Kita mengatakan bahwa merupakan suatu ideal jika ideal tersebut merupakan ideal dua sisi, yaitu ideal kiri sekaligus ideal kanan. Suatu ideal disebut sejati jika ideal itu merupakan subhimpunan sejati dari .
Ideal dan sering disebut sebagai ideal trivial dari . Aljabar disebut sederhana jika tidak memiliki ideal tak trivial.
Suatu ideal maksimal adalah ideal sejati yang tidak termuat secara sejati dalam ideal sejati lain. Kita menyatakan keluarga semua ideal maksimal dalam suatu aljabar dengan . Suatu ideal minimal adalah ideal tak nol yang tidak memuat secara sejati ideal tak nol lain.
Konvensi 5.7.10.
Setiap kali kita merujuk pada suatu ideal dalam aljabar, ideal tersebut dipahami sebagai ideal dua sisi (kecuali dinyatakan sebaliknya).
Proposisi 5.7.11.
Tidak satu pun elemen invertibel dalam aljabar beridentitas dapat termasuk dalam suatu ideal sejati.
Proposisi 5.7.12.
Setiap ideal sejati dalam aljabar beridentitas termuat dalam suatu ideal maksimal. Jadi, khususnya, tak kosong apabila merupakan aljabar beridentitas.
Bukti.
Petunjuk pembuktian. Lema Zorn. ◻
Proposisi 5.7.13.
Misalkan suatu elemen dari aljabar komutatif . Jika beridentitas dan tidak invertibel, maka merupakan ideal sejati dalam .
Definisi 5.7.14.
Ideal dalam proposisi sebelumnya adalah ideal utama yang dibangkitkan oleh .
Definisi 5.7.15.
Misalkan suatu ideal dalam aljabar . Definisikan suatu relasi ekuivalensi pada dengan Untuk setiap , misalkan adalah kelas ekuivalensi yang memuat . Misalkan adalah himpunan semua kelas ekuivalensi elemen-elemen . Untuk dan dalam , definisikan dan untuk dan , definisikan Terhadap operasi-operasi ini, menjadi suatu aljabar. Aljabar tersebut adalah aljabar hasil bagi dari oleh . Notasi biasanya dibaca “ modulo ”. Homomorfisme aljabar surjektif disebut pemetaan hasil bagi.
Proposisi 5.7.16.
Definisi sebelumnya bermakna dan pernyataan-pernyataan di dalamnya benar. Lebih lanjut, jika ideal bersifat sejati, maka aljabar hasil bagi beridentitas jika beridentitas.
Bukti.
Petunjuk pembuktian. Anda perlu menunjukkan bahwa:
merupakan relasi ekuivalensi.
Penjumlahan dan perkalian kelas-kelas ekuivalensi terdefinisi dengan baik.
Perkalian suatu kelas ekuivalensi dengan skalar terdefinisi dengan baik.
merupakan suatu aljabar.
“Pemetaan hasil bagi” memang merupakan homomorfisme aljabar surjektif.
(Pada tahap mana diperlukan bahwa kita mengambil hasil bagi oleh suatu ideal, bukan sekadar subaljabar?) ◻
Definisi 5.7.17.
Dalam suatu aljabar dengan involusi, suatu ideal- adalah ideal swaadjoin dalam .
Proposisi 5.7.18.
Andaikan suatu ideal- dalam aljabar- . Dalam aljabar hasil bagi , sebagaimana dikembangkan dalam 5.7.15, definisikan untuk setiap . Ini merupakan operasi uner yang terdefinisi dengan baik pada aljabar hasil bagi yang terbentuk; aljabar tersebut menjadi aljabar-, dan pemetaan hasil bagi merupakan homomorfisme-. Aljabar- adalah, tentu saja, hasil bagi dari oleh .
Proposisi 5.7.19.
Misalkan suatu ruang Hilbert. Maka keluarga dari semua operator berperingkat hingga pada merupakan ideal- dalam aljabar- .
Proposisi 5.7.20.
Misalkan suatu operator berperingkat pada ruang Hilbert . Maka terdapat vektor , …, , , …, dalam sedemikian sehingga
Bukti.
Petunjuk pembuktian. Misalkan suatu basis ortonormal bagi jangkauan . Untuk sembarang vektor , tuliskan ekspansi Fourier dari (lihat Proposisi 4.4.5(d) ). ◻
Akibat 5.7.21.
Setiap operator berperingkat satu pada suatu ruang Hilbert berbentuk untuk suatu pasangan vektor tak nol dan dalam .
Akibat 5.7.22.
Setiap operator berperingkat hingga pada suatu ruang Hilbert merupakan jumlah dari (sejumlah berhingga) operator berperingkat satu.
Proposisi 5.7.23.
Jika merupakan ruang Hilbert, maka keluarga dari operator berperingkat hingga pada merupakan ideal minimal dalam .
Bukti.
Petunjuk pembuktian. Misalkan suatu ideal tak nol dalam . Kita perlu menunjukkan bahwa memuat . Berdasarkan Proposisi 5.7.20, cukup dibuktikan bahwa memuat setiap operator berbentuk . Untuk itu, misalkan sebarang anggota tak nol dari , misalkan suatu vektor satuan dalam jangkauan , dan misalkan sebarang vektor dalam sedemikian sehingga . Tinjau operator . ◻
Meskipun himpunan operator berperingkat hingga merupakan ideal dalam aljabar Banach yang terdiri atas operator pada suatu ruang Hilbert berdimensi tak hingga, himpunan itu bukan ideal tertutup dan, sebagai akibatnya, ternyata bukan himpunan yang tepat untuk membentuk hasil bagi dengan harapan memperoleh suatu objek hasil bagi dalam kategori aljabar Banach. Tutupan ideal operator berperingkat hingga pada suatu ruang Hilbert adalah ideal operator kompak. Dalam arti tertentu, langkah berikutnya yang wajar ialah mengkaji sifat-sifat kelas operator ini; di dalamnya kita menjumpai beberapa operator terpenting dalam penerapan, misalnya operator integral. Namun, pemaparan yang lebih lancar dan lebih gamblang dimungkinkan jika kita memiliki sedikit lebih banyak perangkat teknis. Oleh karena itu, dalam bab berikutnya kita akan berfokus pada pengembangan beberapa alat baku yang digunakan dalam analisis fungsional.