Bab 5 · Operator pada Ruang Hilbert

Pemetaan Linear Invertibel dan Isometri

Definisi 5.1.1.

Suatu pemetaan linear T:HKT\colon H \rightarrow K antara dua ruang hasil kali dalam dikatakan mempertahankan hasil kali dalam jika Tx,Ty=x,y\langle Tx, Ty \rangle = \langle x, y \rangle untuk semua xx, yHy \in H.

Proposisi 5.1.2.

Misalkan T:HKT\colon H \rightarrow K suatu pemetaan linear antara ruang-ruang hasil kali dalam. Maka pernyataan-pernyataan berikut ekuivalen:

  1. TT mempertahankan hasil kali dalam;

  2. TT mempertahankan norma; dan

  3. TT merupakan isometri.

Sama seperti pada ruang linear bernorma (lihat bagian paling akhir dari seksi 3.2), terdapat (sekurang-kurangnya) dua kategori penting yang objek-objeknya adalah ruang Hilbert:

  1. 𝑯𝑺𝒑=\mathbf{HSp} = ruang Hilbert dan pemetaan linear terbatas, dan

  2. 𝑯𝑺𝒑𝟏=\mathbf{HSp_1} = ruang Hilbert dan kontraksi linear.

Dalam kategori apa pun, lazim untuk mendefinisikan isomorfisme sebagai morfisme invertibel. Karena hampir selalu kategori (topologis) ruang Hilbert dan pemetaan linear terbataslah yang kita jumpai dalam catatan ini, tampaknya masuk akal untuk menerapkan kata “isomorfisme” pada isomorfisme dalam kategori ini—dengan kata lain, pada pemetaan invertibel; sedangkan isomorfisme dalam kategori yang lebih ketat, yaitu kategori (geometris) ruang Hilbert dan kontraksi linear, dapat secara wajar disebut isomorfisme isometrik. Namun, ini bukan konvensi yang dipakai. Ketika kebanyakan matematikawan memikirkan “isomorfisme ruang Hilbert”, yang mereka maksud adalah pemetaan yang mempertahankan seluruh struktur ruang Hilbert—termasuk hasil kali dalam. Dengan demikian (menggunakan 5.1.2), kata “isomorfisme”, apabila diterapkan pada pemetaan antara ruang-ruang Hilbert, di hampir semua tempat berarti isomorfisme isometrik. Akibatnya, isomorfisme dalam kategori yang lebih umum 𝑯𝑺𝒑\mathbf{HSp} disebut pemetaan (linear terbatas) invertibel. Ingat pula: Kita mencadangkan kata “operator” bagi pemetaan linear terbatas dari suatu ruang ke ruang itu sendiri.

Contoh 5.1.3.

Definisikan suatu operator TT pada ruang Hilbert H=L2([0,))H = L_2([0,\infty)) dengan Tf(t)={f(t1), jika t10, jika 0t<1.Tf(t) = \begin{cases} f(t-1), &\text{ jika $t \ge 1$} \\ 0, &\text{ jika $0 \le t < 1$.} \end{cases} Maka TT merupakan isometri, tetapi bukan isomorfisme isometrik. Sebaliknya, jika H=L2()H = L_2(\mathbb{R}) dan TT memetakan setiap fHf \in H ke fungsi tf(t1)t \mapsto f(t-1), maka TT merupakan isomorfisme isometrik.

Contoh 5.1.4.

Misalkan HH ruang Hilbert yang didefinisikan dalam contoh 4.1.10. Maka pemetaan diferensiasi D:ffD\colon f \mapsto f\,' dari HH ke L2([0,1])L_2([0,1]) merupakan isomorfisme isometrik. Apa inversnya?

Contoh 5.1.5.

Misalkan {(Xi,μi):iI}\{(X_i,\mu_i) \colon i \in I\} suatu keluarga ruang ukur σ\sigma-hingga. Jadikan gabungan saling lepas X=iIXi\displaystyle X = \biguplus_{i \in I}X_i sebagai ruang ukur (X,μ)(X,\mu) dengan cara biasa. Maka L2(X,μ)L_2(X,\mu) isomorfik secara isometrik dengan jumlah langsung ruang-ruang Hilbert L2(Xi,μi)L_2(X_i,\mu_i).

Contoh 5.1.6.

Misalkan μ\mu ukuran Lebesgue pada [π2,π2][-\frac\pi2, \frac\pi2] dan ν\nu ukuran Lebesgue pada \mathbb{R}. Misalkan (Uf)(x)=f(arctanx)1+x2(Uf)(x) = \dfrac{f(\arctan x)}{\sqrt{1+x^2}} untuk semua fL2(μ)f \in L_2(\mu) dan semua xx \in \mathbb{R}. Maka UU merupakan isomorfisme isometrik antara L2([π2,π2],μ)L_2([-\frac\pi2, \frac\pi2], \mu) dan L2(,ν)L_2(\mathbb{R}, \nu).

Proposisi 5.1.7.

Setiap surjeksi yang mempertahankan hasil kali dalam dari suatu ruang Hilbert ke ruang Hilbert lainnya secara otomatis linear.

Proposisi 5.1.8.

Jika T:HKT\colon H \rightarrow K merupakan pemetaan linear terbatas antara ruang-ruang Hilbert tak nol, maka T=sup{|Tx,y|:x=y=1}.\lVert T\rVert = \sup\{\lvert\langle Tx,y \rangle\rvert\colon \lVert x\rVert = \lVert y\rVert = 1\}\,.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Tunjukkan terlebih dahulu bahwa x=sup{|x,y|:y=1}\lVert x\rVert = \sup\{\lvert\langle x,y \rangle\rvert\colon \lVert y\rVert = 1\}. ◻

Definisi 5.1.9.

Suatu kurva dalam ruang Hilbert HH adalah pemetaan kontinu dari [0,1][0,1] ke HH. Suatu kurva dikatakan sederhana jika kurva itu injektif. Jika cc suatu kurva dan 0a<b10 \le a < b \le 1, maka tali busur dari cc yang bersesuaian dengan interval [a,b][a,b] adalah vektor c(b)c(a)c(b) - c(a). Dua tali busur dikatakan tak bertumpang tindih jika interval parameter yang terkait dengannya paling banyak memiliki satu titik ujung bersama.

Dalam [24], Halmos menggambarkan betapa luasnya ruang Hilbert berdimensi tak hingga melalui contoh elegan berikut.

Contoh 5.1.10.

Dalam setiap ruang Hilbert berdimensi tak hingga terdapat kurva sederhana yang berbelok membentuk sudut siku-siku di setiap titik, dalam arti bahwa setiap pasangan tali busur yang tak bertumpang tindih saling tegak lurus.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Tinjau fungsi-fungsi karakteristik dalam L2([0,1])L_2([0,1]). ◻

Operator dan Adjoinnya

Proposisi 5.2.1.

Misalkan SS, T𝔅(H,K)T \in \mathfrak{B}(H,K), dengan HH dan KK ruang Hilbert. Jika Sx,y=Tx,y\langle Sx,y \rangle = \langle Tx,y \rangle untuk setiap xHx \in H dan yKy \in K, maka S=TS = T.

Definisi 5.2.2.

Misalkan TT suatu operator pada ruang Hilbert HH. Maka QTQ_T, yaitu bentuk kuadratik yang terkait dengan TT, adalah fungsi bernilai skalar yang didefinisikan oleh QT(x):=Tx,xQ_T(x) := \langle Tx,x \rangle untuk setiap xHx \in H.

Suatu operator pada ruang Hilbert kompleks adalah operator nol jika dan hanya jika bentuk kuadratik yang terkait dengannya adalah fungsi nol.

Proposisi 5.2.3.

Jika HH adalah ruang Hilbert kompleks dan T𝔅(H)T \in \mathfrak{B}(H), maka T=𝟎T = \mathbf{0} jika dan hanya jika QT=0Q_T = 0.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Dalam hipotesis QT(z)=0Q_T(z) = 0 untuk setiap zHz \in H, gantilah zz mula-mula dengan y+xy + x dan kemudian dengan y+ixy + ix.  ◻

Proposisi sebelumnya merupakan salah satu dari sedikit proposisi yang akan kita jumpai yang tidak berlaku sekaligus untuk ruang Hilbert real dan kompleks.

Contoh 5.2.4.

Proposisi 5.2.3 tidak benar jika dalam hipotesis kata “kompleks” diganti dengan “real”.

Definisi 5.2.5.

Suatu fungsi T:VWT\colon V \rightarrow W antara ruang vektor kompleks disebut linear konjugat jika fungsi itu aditif (T(x+y)=Tx+TyT(x+y) = Tx + Ty) dan memenuhi T(αx)=α¯TxT(\alpha x) = \overline{\alpha}\, Tx untuk semua xVx \in V dan α\alpha \in \mathbb{C}. Suatu fungsi bernilai kompleks dengan dua variabel ϕ:V×W\phi\colon V \times W \rightarrow\mathbb{C} disebut fungsional seskuilinear jika fungsi itu linear dalam variabel pertamanya dan linear konjugat dalam variabel keduanya.

Jika HH dan KK adalah ruang linear bernorma, suatu fungsional seskuilinear ϕ\phi pada H×KH \times K disebut terbatas jika terdapat suatu konstanta M>0M > 0 sedemikian sehingga |ϕ(x,y)|Mxy\lvert\phi(x,y)\rvert \le M\lVert x\rVert\lVert y\rVert untuk semua xHx \in H dan yKy \in K.

Proposisi 5.2.6.

Jika ϕ:HK\phi \colon H \oplus K \rightarrow\mathbb{C} adalah fungsional seskuilinear terbatas pada jumlah langsung dua ruang Hilbert tak nol, maka bilangan-bilangan berikut semuanya ada dan sama:

  1. sup{|ϕ(x,y)|:x1,y1}\sup\{\lvert\phi(x,y)\rvert\colon \lVert x\rVert \le 1, \lVert y\rVert \le 1\} pt

  2. sup{|ϕ(x,y)|:x=y=1}\sup\{\lvert\phi(x,y)\rvert\colon \lVert x\rVert = \lVert y\rVert = 1\} pt

  3. sup{|ϕ(x,y)|xy:x,y0}\sup\left\{\dfrac{\lvert\phi(x,y)\rvert}{\lVert x\rVert\,\lVert y\rVert}\colon x,y \ne 0\right\} pt

  4. inf{M>0:|ϕ(x,y)|Mxy untuk semua xH, yK}\inf\{M > 0\colon \lvert\phi(x,y)\rvert \le M\lVert x\rVert\,\lVert y\rVert \text{ untuk semua $x \in H$, $y \in K$}\}.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Pembuktiannya hampir sama persis dengan hasil yang bersesuaian untuk pemetaan linear (lihat 3.2.5). ◻

Definisi 5.2.7.

Misalkan ϕ:HK\phi \colon H \oplus K \rightarrow\mathbb{C} fungsional seskuilinear terbatas pada jumlah langsung dua ruang Hilbert tak nol. Kita mendefinisikan ϕ\lVert\phi\rVert, yaitu norma dari ϕ\phi, sebagai salah satu di antara ekspresi-ekspresi (yang sama) dalam hasil sebelumnya.

Proposisi 5.2.8.

Misalkan T:HKT\colon H \rightarrow K pemetaan linear terbatas antara ruang Hilbert tak nol. Maka ϕ:HK:(x,y)Tx,y\phi \colon H \oplus K \rightarrow\mathbb{C}\colon (x,y) \mapsto \langle Tx,y \rangle adalah fungsional seskuilinear terbatas pada HKH \oplus K dan ϕ=T\lVert\phi \rVert= \lVert T\rVert.

Proposisi 5.2.9.

Misalkan ϕ:H×K\phi \colon H \times K \rightarrow\mathbb{C} fungsional seskuilinear terbatas pada hasil kali dua ruang Hilbert tak nol. Maka terdapat pemetaan linear terbatas yang unik T𝔅(H,K)T \in \mathfrak{B}(H,K) dan S𝔅(K,H)S \in \mathfrak{B}(K,H) sedemikian sehingga ϕ(x,y)=Tx,y=x,Sy\phi(x,y) = \langle Tx,y \rangle = \langle x,Sy \rangle untuk semua xHx \in H dan yKy \in K. Selain itu, T=S=ϕ\lVert T\rVert = \lVert S\rVert = \lVert\phi\rVert.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Tunjukkan bahwa untuk setiap xHx \in H, pemetaan yϕ(x,y)¯y \mapsto \overline{\phi(x,y)} adalah fungsional linear terbatas pada KK. ◻

Definisi 5.2.10.

Misalkan T:HKT\colon H \rightarrow K pemetaan linear terbatas antara ruang-ruang Hilbert. Pemetaan (x,y)Tx,y(x,y) \mapsto \langle Tx,y \rangle dari HKH \oplus K ke dalam \mathbb{C} adalah fungsional seskuilinear terbatas. Berdasarkan proposisi sebelumnya, terdapat pemetaan linear terbatas yang unik T*:KHT^*\colon K \rightarrow H yang disebut adjoin dari TT sedemikian sehingga Tx,y=x,T*y\langle Tx,y \rangle = \langle x,T^*y \rangle untuk semua xHx \in H dan yKy \in K.

Contoh 5.2.11.

Ingat dari Contoh 4.1.3 bahwa keluarga l2l_2 dari semua barisan bilangan kompleks yang kuadratnya dapat dijumlahkan merupakan ruang Hilbert. Misalkan S:l2l2:(x1,x2,x3,)(0,x1,x2,).S\colon l_2 \rightarrow l_2\colon (x_1,x_2,x_3,\dots) \mapsto (0,x_1,x_2,\dots)\,. Maka SS adalah operator pada l2l_2, yang disebut operator geser unilateral, dan S=1\lVert S\rVert = 1. Adjoin S*S^* dari operator geser unilateral diberikan oleh S*:l2l2:(x1,x2,x3,)(x2,x3,x4,).S^*\colon l_2 \rightarrow l_2\colon (x_1,x_2,x_3,\dots) \mapsto (x_2,x_3,x_4,\dots).

Contoh 5.2.12.

Ambil (en)n=1\bigl(e^n\bigr)_{n=1}^\infty sebagai basis ortonormal bagi ruang Hilbert separabel HH dan (αn)n=1\bigl(\alpha_n\bigr)_{n=1}^\infty barisan terbatas bilangan kompleks. Misalkan Ten=αnenTe^n = \alpha_n e^n untuk setiap nn. Maka TT dapat diperluas secara unik menjadi operator pada HH. Berapakah norma operator ini? Apa adjoinnya?

Definisi 5.2.13.

Operator yang dibahas dalam contoh sebelumnya dikenal sebagai operator diagonal. Notasi yang lazim untuk operator ini adalah diag(α1,α2,)\mathop{\mathrm{diag}}(\alpha_1,\alpha_2,\dots).

Dalam kategori ruang hasil kali dalam dan pemetaan linear terbatas, baik kernel maupun jangkauan suatu morfisme merupakan objek dalam kategori tersebut. Namun, seperti ditunjukkan oleh contoh berikut, hal ini tidak harus berlaku untuk ruang Hilbert. Walaupun operator pada ruang Hilbert selalu mempunyai kernel yang sendiri merupakan ruang Hilbert, jangkauannya mungkin tidak tertutup dan akibatnya tidak lengkap.

Contoh 5.2.14.

Jangkauan operator diagonal diag(1,12,13,)\mathop{\mathrm{diag}}\bigl(1,\frac12,\frac13, \dots\bigr) pada ruang Hilbert l2l_2 tidak tertutup.

Contoh 5.2.15.

Misalkan (S,𝒜,μ)(S,\mathcal{A}, \mu) ruang ukur positif yang sigma-hingga dan L2(S,μ)L_2(S,\mu) ruang Hilbert dari semua (kelas ekuivalensi) fungsi bernilai kompleks pada SS yang terintegralkan kuadrat terhadap μ\mu. Misalkan ϕ\phi fungsi bernilai kompleks yang terbatas secara esensial dan terukur terhadap μ\mu pada SS. Definisikan MϕM_\phi pada L2(S,μ)L_2(S,\mu) dengan Mϕ(f):=ϕfM_\phi(f) := \phi f. Maka MϕM_\phi adalah operator pada L2(S,μ)L_2(S,\mu); operator ini disebut operator perkalian. Normanya diberikan oleh Mϕ=ϕ\lVert M_\phi\rVert = \lVert\phi\rVert_\infty dan adjoinnya oleh Mϕ*=Mϕ¯{M_\phi}^*~=~M_{\overline{\phi}}.

Akan berguna untuk sedikit memperluas Definisi 1.2.44.

Definisi 5.2.16.

Operator SS dan TT masing-masing pada ruang Hilbert HH dan KK disebut ekuivalen secara uniter jika terdapat isomorfisme isometrik U:HKU\colon H \rightarrow K sedemikian sehingga T=USU1T = USU^{-1}.

Contoh 5.2.17.

Misalkan μ\mu ukuran Lebesgue pada [π2,π2][-\frac\pi2, \frac\pi2] dan ν\nu ukuran Lebesgue pada \mathbb{R}. Misalkan ϕ(x)=x\phi(x) = x untuk x[π2,π2]x \in [-\frac\pi2, \frac\pi2] dan ψ(x)=arctanx\psi(x) = \arctan x untuk xx \in \mathbb{R}. Maka operator perkalian MϕM_\phi dan MψM_\psi (masing-masing pada L2([π2,π2],μ)L_2([-\frac\pi2, \frac\pi2], \mu) dan L2(,ν)L_2(\mathbb{R}, \nu)) ekuivalen secara uniter.

Contoh 5.2.18.

Misalkan MϕM_\phi operator perkalian pada L2(S,μ)L_2(S,\mu), dengan (S,𝒜,μ)(S,\mathcal{A},\mu) ruang ukuran σ\sigma-hingga seperti dalam Contoh 5.2.15. Maka MϕM_\phi idempoten jika dan hanya jika ϕ\phi adalah fungsi karakteristik dari suatu himpunan dalam 𝒜\mathcal{A}.

Kita dapat memandang teorema spektral dalam aljabar linear dasar sebagai pernyataan berikut: Setiap operator normal pada ruang hasil kali dalam kompleks berdimensi hingga ekuivalen secara uniter dengan suatu operator perkalian. Yang benar-benar menakjubkan adalah bagaimana pernyataan ini digeneralisasi ke ruang Hilbert berdimensi tak hingga—pokok bahasan yang akan dibicarakan jauh kemudian.

Latihan 5.2.19.

Misalkan 3={1,2,3}\mathbb{N}_3 = \{1,2,3\} dan μ\mu ukuran pencacahan pada 3\mathbb{N}_3.

  1. Identifikasilah ruang Hilbert L2(3,μ)L_2(\mathbb{N}_3,\mu).

  2. Identifikasilah operator perkalian pada L2(3,μ)L_2(\mathbb{N}_3,\mu).

  3. Misalkan TT operator linear pada 3\mathbb{C}^3 yang representasi matriksnya adalah [201021111].\begin{bmatrix} 2 & 0 & 1 \\ 0 & 2 & -1 \\ 1 & -1 & 1 \end{bmatrix}. Gunakan operator TT untuk mengilustrasikan rumusan teorema spektral sebelumnya.

Contoh 5.2.20.

Misalkan L2=L2([0,1],λ)L_2 = L_2([0,1],\lambda) ruang Hilbert dari semua (kelas ekuivalensi) fungsi bernilai kompleks pada [0,1][0,1] yang terintegralkan kuadrat terhadap ukuran Lebesgue λ\lambda. Jika k:[0,1]×[0,1]k\colon [0,1] \times [0,1] \rightarrow\mathbb{C} fungsi terukur Borel yang terbatas, definisikan KK pada L2L_2 dengan (Kf)(x)=01k(x,y)f(y)dy.(Kf)(x) = \int_0^1 k(x,y)f(y)\,dy\,. Maka KK adalah operator integral dan kernel dari operator tersebut adalah fungsi kk. (Ini merupakan penggunaan lain dari kata “kernel”; penggunaan ini sama sekali tidak berkaitan dengan penggunaan kata yang lebih umum: kerK=K({𝟎})\ker K = K^{\gets}(\{\mathbf{0}\})—lihat Definisi 1.1.23 ). Adjoin K*K^* dari operator KK juga merupakan operator integral pada L2L_2 dan kernelnya adalah fungsi k*k^* yang didefinisikan pada [0,1]×[0,1][0,1] \times [0,1] oleh k*(x,y)=k(y,x)¯k^*(x,y) = \overline{k(y,x)}.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Verifikasilah bahwa untuk fL2f \in L_2 |(Kf)(x)|k1/2[01|k(x,y)||f(y)|2dy]1/2.\lvert(Kf)(x)\rvert \le \lVert k\rVert_\infty^{1/2}\left[ \int_0^1 \lvert k(x,y)\rvert\lvert f(y)\rvert^2\,dy\right]^{1/2}. ◻

Contoh 5.2.21.

Misalkan H=L2([0,1])H = L_2([0,1]) ruang Hilbert real dari semua (kelas ekuivalensi) fungsi bernilai real pada [0,1][0,1] yang terintegralkan kuadrat terhadap ukuran Lebesgue. Definisikan VV pada HH dengan Vf(x)=0xf(t)dt.\begin{equation} \label{000319i} Vf(x) = \int_0^x f(t)\,dt\,. \end{equation} Maka VV merupakan operator pada HH. Operator ini adalah operator Volterra dan merupakan contoh operator integral. (Apa kernel kk  untuk operator ini?)

Latihan 5.2.22.

Misalkan VV adalah operator Volterra yang didefinisikan di atas.

  1. Tunjukkan bahwa VV injektif.

  2. Hitunglah V*V^*.

  3. Tentukan V+V*V + V^* beserta jangkauannya.

Proposisi 5.2.23.

Jika SS dan TT adalah operator pada ruang Hilbert kompleks HH dan α\alpha \in \mathbb{C}, maka

  1. (S+T)*=S*+T*(S + T)^* = S^* + T^*;

  2. (αT)*=α¯T*(\alpha T)^* = \overline{\alpha }T^*;

  3. T**=TT^{**} = T; dan

  4. (TS)*=S*T*(TS)^* = S^*T^*.

Proposisi 5.2.24.

Misalkan TT operator pada ruang Hilbert HH. Maka

  1. T*=T\lVert T^*\rVert = \lVert T\rVert dan

  2. T*T=T2\lVert T^*T\rVert = {\lVert T\rVert}^2.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Perhatikan bahwa karena T=T**T = T^{**}, untuk membuktikan (a) cukup ditunjukkan bahwa TT*\lVert T\rVert \le \lVert T^*\rVert. Untuk itu, amati bahwa Tx2=T*Tx,xT*T{\lVert Tx\rVert}^2 = \langle T^*Tx,x \rangle \le \lVert T^*\rVert\lVert T\rVert apabila xHx \in H dan x1\lVert x\rVert \le 1. Dari sini simpulkan bahwa T2T*TT*T{\lVert T\rVert}^2 \le \lVert T^*T\rVert \le \lVert T^*\rVert\lVert T\rVert.  ◻

Syarat (b) yang tampak cukup biasa dalam proposisi sebelumnya kelak ternyata menjadi sifat yang sangat penting ketika aljabar-C*C^* pertama kali diperkenalkan dalam Bab 7.

Proposisi 5.2.25.

Jika TT adalah operator pada ruang Hilbert, maka

  1. kerT*=(ranT)\ker T^* = (\mathop{\mathrm{ran}}T)^\perp,

  2. ranT*¯=(kerT)\overline{\mathop{\mathrm{ran}}T^*} = (\ker T)^\perp,

  3. kerT=(ranT*)\ker T = (\mathop{\mathrm{ran}}T^*)^\perp, dan

  4. ranT¯=(kerT*)\overline{\mathop{\mathrm{ran}}T} = (\ker T^*)^\perp.

Bandingkan hasil sebelumnya dengan Teorema 1.2.42.

Definisi 5.2.26.

Suatu pemetaan linear terbatas T:VWT \colon V \rightarrow W antara ruang linear bernorma disebut terbatas jauh dari nol (atau terbatas dari bawah) jika terdapat suatu bilangan δ>0\delta > 0 sedemikian sehingga Txδx\lVert Tx\rVert \ge \delta\lVert x\rVert untuk setiap xVx \in V.

Contoh 5.2.27.

Jelas bahwa jika suatu pemetaan linear terbatas memiliki sifat terbatas jauh dari nol, maka pemetaan itu injektif. Operator T:x(x1,12x2,13x3,)T\colon x \mapsto (x_1, \frac12 x_2, \frac13 x_3, \dots) yang didefinisikan pada ruang Hilbert l2l_2 menunjukkan bahwa sifat terbatas jauh dari nol merupakan syarat yang sungguh lebih kuat daripada sifat injektif.

Proposisi 5.2.28.

Setiap pemetaan linear terbatas antara ruang Hilbert yang terbatas jauh dari nol memiliki jangkauan tertutup.

Proposisi 5.2.29.

Suatu operator pada ruang Hilbert invertibel jika dan hanya jika operator itu terbatas jauh dari nol dan memiliki jangkauan padat.

Proposisi 5.2.30.

Pasangan pemetaan HHH \mapsto H dan TT*T \mapsto T^* yang memetakan setiap ruang Hilbert ke dirinya sendiri dan setiap pemetaan linear terbatas antara ruang Hilbert ke adjoinnya merupakan funktor kontravarian dari kategori 𝑯𝑺𝒑\mathbf{HSp} yang terdiri atas ruang Hilbert dan pemetaan linear terbatas ke kategori itu sendiri.

Proposisi 5.2.31.

Misalkan HH ruang Hilbert, T𝔅(H)T \in \mathfrak{B}(H), M=H{0}M = H \oplus \{0\}, dan NN adalah graf dari TT.

  1. Maka NN adalah subruang linear tertutup dari HHH \oplus H.

  2. TT injektif jika dan hanya jika MN={(0,0)}M \cap N = \{(0,0)\}.

  3. ranT\mathop{\mathrm{ran}}T padat dalam HH jika dan hanya jika M+NM + N padat dalam HHH \oplus H.

  4. TT surjektif jika dan hanya jika M+N=HHM + N = H \oplus H.

Contoh 5.2.32.

Terdapat ruang Hilbert HH dengan subruang MM dan NN sedemikian sehingga M+NM + N tidak tertutup.

Proposisi 5.2.33.

Misalkan HH dan KK ruang Hilbert dan VV adalah subruang vektor dari HH. Setiap pemetaan linear terbatas T:VKT\colon V \rightarrow K dapat diperluas menjadi pemetaan linear terbatas dari V¯\overline{V}, yaitu tutupan VV, tanpa memperbesar normanya.

Latihan 5.2.34.

Misalkan \mathcal{E} adalah basis ortonormal bagi ruang Hilbert HH. Bahas transformasi linear TT pada HH sedemikian sehingga T(e)=0T(e) = 0 untuk setiap ee \in \mathcal{E}. Berikan contoh tak trivial.

Aljabar dengan Involusi

Definisi 5.3.1.

Suatu involusi pada suatu aljabar AA adalah suatu pemetaan xx*x \mapsto x^\ast dari AA ke AA yang memenuhi

  1. (x+y)*=x*+y*(x + y)^\ast = x^\ast + y^\ast,

  2. (αx)*=α¯x*(\alpha x)^* = \overline{\alpha}\, x^*,

  3. x**=xx^{\ast\ast} = x, dan

  4. (xy)*=y*x*(xy)^\ast = y^\ast x^\ast

untuk semua xx, yAy \in A, dan α\alpha \in \mathbb{C}. Suatu aljabar yang padanya telah didefinisikan suatu involusi adalah aljabar-**\, (dibaca “aljabar bintang”). Jika aa adalah elemen dari suatu aljabar-**\,, maka a*a^* disebut adjoin dari aa.

Contoh 5.3.2.

Dalam aljabar \mathbb{C} dari bilangan kompleks, pemetaan zz¯z \mapsto \overline{z} yang memetakan suatu bilangan ke konjugat kompleksnya merupakan suatu involusi.

Contoh 5.3.3.

Pemetaan yang memetakan suatu matriks n×nn \times n ke transpos konjugatnya merupakan suatu involusi pada aljabar beridentitas MnM_n.

Contoh 5.3.4.

Misalkan XX suatu ruang Hausdorff kompak. Pemetaan ff¯f \mapsto \overline{f} yang memetakan suatu fungsi ke konjugat kompleksnya merupakan suatu involusi dalam aljabar 𝒞(X)\mathcal{C}(X).

Contoh 5.3.5.

Pemetaan TT*T \mapsto T^* yang memetakan suatu operator ruang Hilbert ke adjoinnya merupakan suatu involusi dalam aljabar 𝔅(H)\mathfrak{B}(H) (lihat proposisi 5.2.23).

Proposisi 5.3.6.

Misalkan aa dan bb elemen dari suatu aljabar-**\,. Maka aa berkomutasi dengan bb jika dan hanya jika a*a^* berkomutasi dengan b*b^*.

Proposisi 5.3.7.

Dalam suatu aljabar-**\, beridentitas, 𝟏*=𝟏\mathbf{1}^* = \mathbf{1}.

Proposisi 5.3.8.

Jika suatu aljabar-**\, AA memiliki identitas perkalian kiri ee, maka AA beridentitas dan e=𝟏Ae = \mathbf{1}_A.

Proposisi 5.3.9.

Misalkan aa elemen dari suatu aljabar-**\, beridentitas. Maka a*a^* invertibel jika dan hanya jika aa invertibel. Dan ketika aa invertibel, berlaku (a*)1=(a1)*.(a^*)^{-1} = \bigl(a^{-1}\bigr)^*\,.

Definisi 5.3.10.

Suatu homomorfisme aljabar ϕ\phi di antara aljabar-**\, yang mempertahankan involusi (yaitu, sedemikian sehingga ϕ(a*)=(ϕ(a))*\phi(a^*) = (\phi(a))^*) adalah suatu homomorfisme-**\, (dibaca “homomorfisme bintang”). Suatu homomorfisme-**\, ϕ:AB\phi\colon A \rightarrow B di antara aljabar beridentitas disebut beridentitas jika ϕ(𝟏A)=𝟏B\phi(\mathbf{1}_A) = \mathbf{1}_B. Dalam kategori aljabar-**\, dan homomorfisme-**\,, isomorfisme (yang untuk penegasan disebut isomorfisme-**\,) adalah homomorfisme-**\, bijektif.

Proposisi 5.3.11.

Misalkan ϕ:AB\phi\colon A \rightarrow B suatu homomorfisme-**\, di antara aljabar-**\,. Maka kernel ϕ\phi adalah suatu ideal-**\, dalam AA, dan citra ϕ\phi adalah suatu subaljabar-**\, dari BB.

Operator Swaadjoin

Definisi 5.4.1.

Suatu elemen aa dari aljabar-**\, AA bersifat swaadjoin (atau Hermitian) jika a*=aa^* = a. Elemen ini bersifat normal jika a*a=aa*a^*a = aa^*. Jika aljabarnya beridentitas, elemen ini bersifat uniter jika a*a=aa*=𝟏a^*a = aa^* = \mathbf{1}. Himpunan semua elemen swaadjoin dari AA dinotasikan dengan (A)\mathcal{H}(A), himpunan semua elemen normal dengan 𝒩(A)\mathcal{N}(A), dan, ketika aljabarnya beridentitas, himpunan semua elemen uniter dengan 𝒰(A)\mathcal{U}(A).

Proposisi 5.4.2.

Misalkan aa elemen dari suatu aljabar-**\, kompleks. Maka terdapat elemen swaadjoin unik uu dan vv sedemikian sehingga a=u+iva = u + iv.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Pikirkan kasus khusus penulisan suatu bilangan kompleks dalam bentuk bagian real dan imajinernya. ◻

Definisi 5.4.3.

Ambil SS suatu himpunan bagian dari aljabar-**\, AA. Maka S*={s*:sS}S^*~=~\{s^*\colon~s~\in~S\}. Himpunan SS disebut swaadjoin jika S*=SS^* = S.

Suatu subaljabar swaadjoin tak kosong dari AA disebut subaljabar-**\,. Istilah sumber yang bersinonim juga diterjemahkan sebagai subaljabar-**\,.

Perhatian.

Definisi sebelumnya tidak menyatakan bahwa elemen-elemen dari suatu himpunan bagian swaadjoin dari suatu aljabar-**\, dengan sendirinya bersifat swaadjoin.

Proposisi 5.4.4.

Suatu operator TT pada ruang Hilbert kompleks HH bersifat swaadjoin jika dan hanya jika bentuk kuadratik terkaitnya QTQ_T bernilai real.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Gunakan trik yang sama seperti dalam 5.2.3. Dalam hipotesis bahwa QT(z)Q_T(z) selalu real, gantilah zz mula-mula dengan y+xy + x, lalu dengan y+ixy + ix. ◻

Definisi 5.4.5.

Misalkan TT suatu operator pada ruang Hilbert tak nol HH. Adapun jangkauan numerik dari TT, yang dinotasikan dengan W(T)W(T), adalah jangkauan yang diperoleh pada sfer satuan dari HH dengan membatasi bentuk kuadratik yang terkait dengan TT. Yaitu, W(T):={QT(x):xH dan x=1}.W(T) := \{Q_T(x) \colon x \in H \text{ dan } \lVert x\rVert = 1\}. Adapun radius numerik dari TT, yang dinotasikan dengan w(T)w(T), adalah sup{|λ|:λW(T)}\sup\{\lvert\lambda\rvert\colon \lambda \in W(T)\}.

Proposisi 5.4.6.

Jika TT suatu operator swaadjoin pada ruang Hilbert tak nol, maka T=w(T)\lVert T\rVert = w(T).

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Bagian yang sulit adalah menunjukkan bahwa Tw(T)\lVert T\rVert \le w(T). Untuk itu, tunjukkan terlebih dahulu bahwa QT(x+y)QT(xy)=4Tx,y\begin{equation} Q_T(x + y) - Q_T(x - y) = 4 \Re\langle Tx,y \rangle \end{equation} untuk semua vektor xx dan yy dalam ruang Hilbert, di mana QTQ_T merupakan bentuk kuadratik yang terkait dengan TT dan z\Re z adalah bagian real dari bilangan kompleks zz. Gunakan ini untuk memverifikasi bahwa jika x=y=1\lVert x\rVert = \lVert y\rVert = 1, maka Tx,yw(T).\begin{equation} \label{num_ran_saop_eqn2} \Re\langle Tx,y \rangle \le w(T). \end{equation} Tuliskan bilangan kompleks Tx,y\langle Tx,y \rangle dalam bentuk polar reiθre^{i\theta}. Jelas bahwa jika kita mengganti xx dengan eiθxe^{-i\theta}x dalam pertidaksamaan 5.4.2, pertidaksamaan yang dihasilkan tetap berlaku kapan pun x=y=1\lVert x\rVert = \lVert y\rVert = 1.

Terakhir, perhatikan bahwa jika x=1\lVert x\rVert = 1 dan yy adalah sebarang vektor dalam HH sedemikian sehingga Tx=TxyTx = \lVert Tx\rVert\,y, maka Tx=Tx,y.\begin{equation} \lVert Tx\rVert = \langle Tx,y \rangle\,. \end{equation} Dengan demikian, hasil yang diinginkan segera diperoleh.  ◻

Dalam proposisi 5.2.3, kita melihat bahwa suatu operator TT pada ruang Hilbert kompleks merupakan operator nol jika dan hanya jika bentuk kuadratik terkaitnya bernilai nol. Dari proposisi sebelumnya mudah diperoleh akibat bahwa ekuivalensi ini juga berlaku untuk operator swaadjoin pada ruang Hilbert real.

Akibat 5.4.7.

Misalkan TT suatu operator swaadjoin pada ruang Hilbert. Maka T=𝟎T = \mathbf{0} jika dan hanya jika bentuk kuadratik terkaitnya QTQ_T bernilai nol.

Definisi 5.4.8.

Suatu operator TT pada ruang Hilbert HH bersifat positif jika operator tersebut swaadjoin dan bentuk kuadratik terkaitnya positif (QT(x)0Q_T(x) \ge 0 untuk setiap xHx \in H).

Latihan 5.4.9.

Misalkan HH ruang Hilbert kompleks dan TT operator positif pada HH. Definisikan x,y1:=Tx,y dan x1x,x1\langle x,y \rangle_1 := \langle Tx,y \rangle \qquad \text{ dan } \qquad \lVert x\rVert_1 \equiv \sqrt{\langle x,x \rangle_1} untuk semua xHx \in H.

  1. Buktikan bahwa 1\lVert\mathord{\cdot}\rVert_1 merupakan norma jika dan hanya jika kerT={0}\ker T = \{0\}.

  2. Misalkan kerT={0}\ker T = \{0\}. Tunjukkan bahwa norma \lVert\mathord{\cdot}\rVert dan 1\lVert\mathord{\cdot}\rVert_1 menginduksi topologi yang sama pada HH jika dan hanya jika TT invertibel dalam 𝔅(H)\mathfrak{B}(H). Petunjuk. Ketika terdapat dua topologi pada HH, sering kali berguna untuk mempertimbangkan operator identitas pada HH.

  3. Misalkan TT invertibel dalam 𝔅(H)\mathfrak{B}(H). Untuk S𝔅(H)S \in \mathfrak{B}(H), carilah suatu rumus bagi adjoin dari SS terhadap hasil kali dalam ,1\langle \mathord{\cdot} , \mathord{\cdot} \rangle_1.

Proyeksi

Konvensi 5.5.1.

Saat ini perhatian kita terutama difokuskan pada operator pada ruang Hilbert. Dalam konteks ini, istilah proyeksi selalu dimaknai sebagai proyeksi ortogonal (lihat definisi 1.2.48). Jadi, suatu operator pada ruang Hilbert disebut proyeksi jika P2=PP^2 = P dan P*=PP^* = P.

Kita memperumum definisi “proyeksi (ortogonal)” dari ruang Hilbert ke aljabar-**\,.

Definisi 5.5.2.

Suatu proyeksi dalam suatu aljabar-**\, AA adalah suatu elemen pp dari aljabar tersebut yang bersifat idempoten (p2=pp^2 = p) dan swaadjoin (p*=pp^* = p). Himpunan semua proyeksi dalam AA dinotasikan dengan 𝒫(A)\mathcal{P}(A). Dalam kasus 𝔅(H)\mathfrak{B}(H), yaitu operator terbatas pada suatu ruang Hilbert, kita menulis 𝒫(H)\mathcal{P}(H), atau, jika HH telah dipahami, cukup 𝒫\mathcal{P}, untuk notasi yang lebih informatif 𝒫(𝔅(H))\mathcal{P}(\mathfrak{B}(H)).

Proposisi 5.5.3.

Setiap operator pada ruang Hilbert yang merupakan isometri pada komplemen ortogonal dari kernelnya memiliki jangkauan tertutup.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Perhatikan terlebih dahulu bahwa jika M=(kerT)M = (\ker T)^\perp, dengan TT adalah operator yang dimaksud, maka ranT=T(M)\mathop{\mathrm{ran}}T = T^{\rightarrow}(M). ◻

Proposisi 5.5.4.

Misalkan PP suatu proyeksi pada ruang Hilbert HH. Maka

  1. Px=xPx = x jika dan hanya jika xranPx \in \mathop{\mathrm{ran}}P ;

  2. kerP=(ranP)\ker P = (\mathop{\mathrm{ran}}P)^\perp; dan

  3. H=kerPranPH = \ker P \oplus \mathop{\mathrm{ran}}P.

Pada bagian (c) dari proposisi sebelumnya, lambang \oplus tentu saja menyatakan jumlah langsung ortogonal (lihat paragraf setelah 1.2.48).

Proposisi 5.5.5.

Misalkan MM suatu subruang dari ruang Hilbert HH. Jika P𝔅(H)P \in \mathfrak{B}(H), jika Px=xPx = x untuk setiap xMx \in M, dan jika Px=𝟎Px = \mathbf{0} untuk setiap xMx \in M^\perp, maka PP adalah proyeksi dari HH pada MM.

Pada bagian selebihnya dari seksi ini, penting untuk selalu mengingat bahwa ruang 𝔅(H)\mathfrak{B}(H) dari operator pada ruang Hilbert merupakan contoh aljabar-**\,, dan bahwa proyeksi (ortogonal) pada suatu ruang Hilbert merupakan contoh proyeksi dalam aljabar-**\,. Jadi, di satu sisi, semua hal yang dinyatakan untuk proyeksi semacam itu dalam aljabar-**\, berlaku bagi proyeksi ruang Hilbert. Karena tidak ada nama yang lebih baik, kita akan mengatakan bahwa hasil-hasil ini mendokumentasikan struktur abstrak dari proyeksi. Di sisi lain, proyeksi ruang Hilbert memiliki struktur tambahan yang tidak bermakna dalam aljabar-**\, umum: proyeksi tersebut memiliki domain dan jangkauan, serta bekerja pada vektor. Ketika menyelidiki hal-hal semacam itu, kita akan mengatakan bahwa kita membahas struktur spasial (atau konkret) dari proyeksi. Perhatikan bagaimana kedua pandangan ini muncul berselang-seling dalam bagian selebihnya dari seksi ini.

Hasil pertama kita memberikan syarat perlu dan cukup agar jumlah proyeksi merupakan suatu proyeksi.

Proposisi 5.5.6.

Misalkan pp dan qq proyeksi dalam suatu aljabar-**\,. Maka pernyataan berikut ekuivalen:

  1. pq=𝟎pq = \mathbf{0};

  2. qp=𝟎qp = \mathbf{0};

  3. qp=pqqp = -pq;

  4. p+qp + q merupakan suatu proyeksi.

Definisi 5.5.7.

Misalkan pp dan qq proyeksi dalam suatu aljabar-**\,. Jika salah satu syarat dalam hasil sebelumnya berlaku, maka kita mengatakan bahwa pp dan qq bersifat ortogonal dan menulis pqp \perp q. (Jadi, untuk operator pada suatu ruang Hilbert, kita dapat dengan tepat, meskipun tidak nyaman, menyebut proyeksi ortogonal yang ortogonal!)

Berikutnya adalah hasil spasial yang bersesuaian untuk jumlah dua proyeksi.

Proposisi 5.5.8.

Misalkan PP dan QQ proyeksi pada ruang Hilbert HH. Maka PQP \perp Q jika dan hanya jika ranPranQ\mathop{\mathrm{ran}}P \perp \mathop{\mathrm{ran}}Q. Dalam kasus ini, P+QP + Q merupakan suatu proyeksi yang kernelnya adalah kerPkerQ\ker P \cap \ker Q dan jangkauannya adalah ranP+ranQ\mathop{\mathrm{ran}}P + \mathop{\mathrm{ran}}Q.

Contoh 5.5.9.

Pada suatu ruang Hilbert, proyeksi (ortogonal) tidak harus berkomutasi. Sebagai contoh, misalkan PP proyeksi dari ruang Hilbert (real) 2\mathbb{R}^2 pada garis y=xy = x dan QQ adalah proyeksi dari 2\mathbb{R}^2 pada sumbu-xx. Maka PQQPPQ \ne QP.

Hasil kali dua proyeksi merupakan suatu proyeksi jika dan hanya jika keduanya berkomutasi.

Proposisi 5.5.10.

Misalkan pp dan qq proyeksi dalam suatu aljabar-**\,. Maka pqpq merupakan suatu proyeksi jika dan hanya jika pq=qppq = qp.

Proposisi 5.5.11.

Misalkan PP dan QQ proyeksi pada ruang Hilbert HH. Jika PQ=QPPQ = QP, maka PQPQ merupakan suatu proyeksi yang kernelnya adalah kerP+kerQ\ker P + \ker Q dan jangkauannya adalah ranPranQ\mathop{\mathrm{ran}}P \cap \mathop{\mathrm{ran}}Q.

Proposisi 5.5.12.

Misalkan pp dan qq proyeksi dalam suatu aljabar-**\,. Maka pernyataan berikut ekuivalen:

  1. pq=ppq = p;

  2. qp=pqp = p;

  3. qpq - p merupakan suatu proyeksi.

Definisi 5.5.13.

Misalkan pp dan qq proyeksi dalam suatu aljabar-**\,. Jika salah satu dari syarat dalam hasil sebelumnya berlaku, maka kita menulis pqp \preceq q.

Proposisi 5.5.14.

Misalkan PP dan QQ proyeksi pada ruang Hilbert HH. Maka pernyataan berikut ekuivalen:

  1. PQP \preceq Q;

  2. PxQx\lVert Px\rVert \le \lVert Qx\rVert untuk semua xHx \in H; dan

  3. ranPranQ\mathop{\mathrm{ran}}P \subseteq \mathop{\mathrm{ran}}Q.

Dalam kasus ini, QPQ - P merupakan suatu proyeksi yang kernelnya adalah ranP+kerQ\mathop{\mathrm{ran}}P + \ker Q dan jangkauannya adalah ranQranP\mathop{\mathrm{ran}}Q \ominus \mathop{\mathrm{ran}}P.

Notasi: Misalkan HH, MM, dan NN subruang dari suatu ruang Hilbert. Pernyataan H=MNH = M \oplus N dapat ditulis ulang sebagai M=HNM = H \ominus N (atau N=HMN = H \ominus M).

Proposisi 5.5.15.

Operasi \preceq yang didefinisikan dalam 5.5.13 untuk proyeksi pada suatu aljabar-**\, beridentitas AA merupakan urutan parsial pada 𝒫(A)\mathcal{P}(A). Jika pp adalah suatu proyeksi dalam AA, maka 𝟎p𝟏\mathbf{0} \preceq p \preceq \mathbf{1}.

Proposisi 5.5.16.

Misalkan pp dan qq proyeksi dalam suatu aljabar-**\, AA. Jika pq=qppq = qp, maka infimum dari pp dan qq, yang kita notasikan dengan pqp \curlywedge q, ada terhadap urutan parsial \preceq dan pq=pqp \curlywedge q = pq. Infimum pqp \curlywedge q dapat ada bahkan ketika pp dan qq tidak berkomutasi. Syarat perlu dan cukup agar pqp \perp q berlaku adalah bahwa pq=𝟎p \curlywedge q = \mathbf{0} dan pq=qppq = qp keduanya berlaku.

Proposisi 5.5.17.

Misalkan pp dan qq proyeksi dalam suatu aljabar-**\, AA. Jika pqp \perp q, maka supremum dari pp dan qq, yang kita notasikan dengan pqp \curlyvee q, ada terhadap urutan parsial \preceq dan pq=p+qp \curlyvee q = p + q. Supremum pqp \curlyvee q dapat ada bahkan ketika pp dan qq tidak ortogonal.

Proposisi 5.5.18.

Misalkan AA suatu aljabar-C*C^*, aAa \in A suatu elemen positif, dan 0<ϵ120 < \epsilon \le \frac12. Jika a2a<ϵ/2\lVert a^2 - a\rVert < \epsilon/2, maka terdapat suatu proyeksi pp dalam AA sedemikian sehingga pa<ϵ\lVert p - a\rVert < \epsilon.

Operator Normal

Proposisi 5.6.1.

Suatu operator TT pada ruang Hilbert HH bersifat normal jika dan hanya jika Tx=T*x\lVert Tx\rVert = \lVert T^*x\rVert untuk semua xHx \in H.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Gunakan Korolar 5.4.7. ◻

Akibat 5.6.2.

Jika TT merupakan operator normal pada suatu ruang Hilbert, maka kerT=kerT*\ker T = \ker T^*.

Proposisi 5.6.3.

Jika TT merupakan operator normal pada suatu ruang Hilbert, maka T2=T2\lVert T^2\rVert = {\lVert T\rVert}^2.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Substitusikan TxTx sebagai pengganti xx dalam Proposisi 5.6.1. Gunakan Proposisi 5.2.24. ◻

Proposisi 5.6.4.

Jika TT merupakan operator normal pada ruang Hilbert HH, maka H=ranT¯kerT.H = \overline{\mathop{\mathrm{ran}}T} \oplus \ker T\,.

Akibat 5.6.5.

Suatu operator normal pada ruang Hilbert memiliki jangkauan padat jika dan hanya jika operator itu injektif.

Contoh 5.6.6.

Operator geser unilateral (5.2.11) merupakan contoh operator pada ruang Hilbert yang injektif tetapi tidak memiliki jangkauan padat. Adjoinnya memiliki jangkauan padat (bahkan, bersifat surjektif), tetapi tidak injektif.

Akibat 5.6.7.

Suatu operator normal pada ruang Hilbert bersifat invertibel jika dan hanya jika operator tersebut terbatas jauh dari nol.

Operator Berperingkat Hingga

Definisi 5.7.1.

peringkat suatu pemetaan linear adalah dimensi (ruang vektor) dari jangkauannya. Jadi, suatu operator berperingkat hingga adalah operator yang memiliki jangkauan berdimensi hingga. Kita menyatakan dengan 𝔉(V)\mathfrak{FR}(V) keluarga operator berperingkat hingga pada suatu ruang vektor VV.

Contoh 5.7.2.

Untuk vektor xx dan yy dalam ruang Hilbert HH, definisikan xy:HH:zz,yx.x \otimes y\colon H \rightarrow H \colon z \mapsto \langle z,y \rangle x\,. Jika xx dan yy merupakan vektor tak nol dalam HH, maka xyx \otimes y merupakan operator berperingkat satu pada HH.

Dua proposisi berikutnya mengidentifikasi adjoin dan komposisi operator-operator berperingkat satu ini.

Proposisi 5.7.3.

Jika uu dan vv merupakan vektor dalam suatu ruang Hilbert, maka (uv)*=vu.(u \otimes v)^* = v \otimes u\,.

Proposisi 5.7.4.

Jika uu, vv, xx, dan yy merupakan vektor dalam suatu ruang Hilbert, maka (uv)(xy)=x,v(uy).(u \otimes v)(x \otimes y) = \langle x,v \rangle (u \otimes y)\,.

Proposisi 5.7.5.

Jika xx merupakan vektor dalam ruang Hilbert HH, maka xxx \otimes x merupakan proyeksi berperingkat satu jika dan hanya jika xx merupakan vektor satuan.

Proposisi 5.7.6.

Andaikan bahwa {e1,e2,e3,,en}\{e^1, e^2, e^3, \dots, e^n\} merupakan himpunan ortonormal dalam ruang Hilbert HH. Misalkan M=span{e1,,en}M = \mathop{\mathrm{span}}\{e^1, \dots, e^n\}. Maka P=k=1nekekP = \sum_{k=1}^n e^k \otimes e^k merupakan proyeksi ortogonal dari HH ke MM.

Proposisi 5.7.7.

Jika uu dan vv merupakan vektor dalam suatu ruang Hilbert dan TT merupakan operator pada ruang Hilbert yang sama, yaitu HH, maka T(uv)=(Tu)v.T\,(u \otimes v) = (Tu) \otimes v\,.

Proposisi 5.7.8.

Jika uu dan vv merupakan vektor dalam suatu ruang Hilbert dan TT merupakan operator pada ruang Hilbert yang sama, yaitu HH, maka (uv)T=uT*v.(u \otimes v)\,T = u \otimes T^*v\,.

Kita akan segera melihat bahwa keluarga semua operator berperingkat hingga pada suatu ruang Hilbert tak nol merupakan ideal-**\, minimal dalam aljabar-**\, 𝔅(H)\mathfrak{B}(H). Sebagai persiapan, kita meninjau beberapa fakta dasar tentang ideal dalam aljabar.

Definisi 5.7.9.

Suatu ideal kiri dalam suatu aljabar AA adalah subruang vektor JJ dari AA sedemikian sehingga AJJAJ \subseteq J. (Untuk ideal kanan, tentu saja, kita mensyaratkan JAJJA \subseteq J.) Kita mengatakan bahwa JJ merupakan suatu ideal jika ideal tersebut merupakan ideal dua sisi, yaitu ideal kiri sekaligus ideal kanan. Suatu ideal disebut sejati jika ideal itu merupakan subhimpunan sejati dari AA.

Ideal {0}\{0\} dan AA sering disebut sebagai ideal trivial dari AA. Aljabar AA disebut sederhana jika tidak memiliki ideal tak trivial.

Suatu ideal maksimal adalah ideal sejati yang tidak termuat secara sejati dalam ideal sejati lain. Kita menyatakan keluarga semua ideal maksimal dalam suatu aljabar AA dengan MaxA\mathop{\mathrm{Max}}A. Suatu ideal minimal adalah ideal tak nol yang tidak memuat secara sejati ideal tak nol lain.

Konvensi 5.7.10.

Setiap kali kita merujuk pada suatu ideal dalam aljabar, ideal tersebut dipahami sebagai ideal dua sisi (kecuali dinyatakan sebaliknya).

Proposisi 5.7.11.

Tidak satu pun elemen invertibel dalam aljabar beridentitas dapat termasuk dalam suatu ideal sejati.

Proposisi 5.7.12.

Setiap ideal sejati dalam aljabar beridentitas AA termuat dalam suatu ideal maksimal. Jadi, khususnya, MaxA\mathop{\mathrm{Max}}A tak kosong apabila AA merupakan aljabar beridentitas.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Lema Zorn. ◻

Proposisi 5.7.13.

Misalkan aa suatu elemen dari aljabar komutatif AA. Jika AA beridentitas dan aa tidak invertibel, maka aAaA merupakan ideal sejati dalam AA.

Definisi 5.7.14.

Ideal aAaA dalam proposisi sebelumnya adalah ideal utama yang dibangkitkan oleh aa.

Definisi 5.7.15.

Misalkan JJ suatu ideal dalam aljabar AA. Definisikan suatu relasi ekuivalensi \sim pada AA dengan abjika dan hanya jika baJ.a \sim b \qquad \text{jika dan hanya jika } \qquad b-a \in J. Untuk setiap aAa \in A, misalkan [a][a] adalah kelas ekuivalensi yang memuat aa. Misalkan A/JA/J adalah himpunan semua kelas ekuivalensi elemen-elemen AA. Untuk [a][a] dan [b][b] dalam A/JA/J, definisikan [a]+[b]:=[a+b] dan [a][b]:=[ab][a] + [b] := [a+b] \qquad \text{ dan } \qquad [a][b] := [ab] dan untuk α\alpha \in \mathbb{C} dan [a]A/J[a] \in A/J, definisikan α[a]:=[αa].\alpha[a] := [\alpha a] \,. Terhadap operasi-operasi ini, A/JA/J menjadi suatu aljabar. Aljabar tersebut adalah aljabar hasil bagi dari AA oleh JJ. Notasi A/JA/J biasanya dibaca “AA modulo JJ”. Homomorfisme aljabar surjektif π:AA/J:a[a]\pi\colon A \rightarrow A/J\colon a \mapsto [a] disebut pemetaan hasil bagi.

Proposisi 5.7.16.

Definisi sebelumnya bermakna dan pernyataan-pernyataan di dalamnya benar. Lebih lanjut, jika ideal JJ bersifat sejati, maka aljabar hasil bagi A/JA/J beridentitas jika AA beridentitas.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Anda perlu menunjukkan bahwa:

  1. \sim merupakan relasi ekuivalensi.

  2. Penjumlahan dan perkalian kelas-kelas ekuivalensi terdefinisi dengan baik.

  3. Perkalian suatu kelas ekuivalensi dengan skalar terdefinisi dengan baik.

  4. A/JA/J merupakan suatu aljabar.

  5. “Pemetaan hasil bagi” π\pi memang merupakan homomorfisme aljabar surjektif.

(Pada tahap mana diperlukan bahwa kita mengambil hasil bagi oleh suatu ideal, bukan sekadar subaljabar?) ◻

Definisi 5.7.17.

Dalam suatu aljabar AA dengan involusi, suatu ideal-**\, adalah ideal swaadjoin dalam AA.

Proposisi 5.7.18.

Andaikan JJ suatu ideal-**\, dalam aljabar-**\, AA. Dalam aljabar hasil bagi A/JA/J, sebagaimana dikembangkan dalam 5.7.15, definisikan [a]*:=[a*][a]^* := [a^*] untuk setiap [a]A/J[a] \in A/J. Ini merupakan operasi uner yang terdefinisi dengan baik pada aljabar hasil bagi A/JA/J yang terbentuk; aljabar tersebut menjadi aljabar-**\,, dan pemetaan hasil bagi a[a]a \mapsto [a] merupakan homomorfisme-**\,. Aljabar-**\, A/JA/J adalah, tentu saja, hasil bagi dari AA oleh JJ.

Proposisi 5.7.19.

Misalkan HH suatu ruang Hilbert. Maka keluarga 𝔉(H)\mathfrak{FR}(H) dari semua operator berperingkat hingga pada HH merupakan ideal-**\, dalam aljabar-**\, 𝔅(H)\mathfrak{B}(H).

Proposisi 5.7.20.

Misalkan TT suatu operator berperingkat nn pada ruang Hilbert HH. Maka terdapat vektor u1u^1, …, unu^n, v1v^1, …, vnv^n dalam HH sedemikian sehingga T=k=1nukvk.T = \sum_{k=1}^n u^k \otimes v^k\,.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Misalkan {e1,,en}\{e^1, \dots, e^n\} suatu basis ortonormal bagi jangkauan TT. Untuk sembarang vektor xHx \in H, tuliskan ekspansi Fourier dari TxTx (lihat Proposisi 4.4.5(d) ). ◻

Akibat 5.7.21.

Setiap operator berperingkat satu pada suatu ruang Hilbert berbentuk uvu \otimes v untuk suatu pasangan vektor tak nol uu dan vv dalam HH.

Akibat 5.7.22.

Setiap operator berperingkat hingga pada suatu ruang Hilbert merupakan jumlah dari (sejumlah berhingga) operator berperingkat satu.

Proposisi 5.7.23.

Jika H{0}H \ne \{0\} merupakan ruang Hilbert, maka keluarga 𝔉(H)\mathfrak{FR}(H) dari operator berperingkat hingga pada HH merupakan ideal minimal dalam 𝔅(H)\mathfrak{B}(H).

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Misalkan 𝔍\mathfrak{J} suatu ideal tak nol dalam 𝔅(H)\mathfrak{B}(H). Kita perlu menunjukkan bahwa 𝔍\mathfrak{J} memuat 𝔉(H)\mathfrak{FR}(H). Berdasarkan Proposisi 5.7.20, cukup dibuktikan bahwa 𝔍\mathfrak{J} memuat setiap operator berbentuk uvu \otimes v. Untuk itu, misalkan TT sebarang anggota tak nol dari 𝔍\mathfrak{J}, misalkan yy suatu vektor satuan dalam jangkauan TT, dan misalkan xx sebarang vektor dalam HH sedemikian sehingga y=Txy = Tx. Tinjau operator (uy)T(xv)(u \otimes y)T(x \otimes v).  ◻

Meskipun himpunan operator berperingkat hingga merupakan ideal dalam aljabar Banach yang terdiri atas operator pada suatu ruang Hilbert berdimensi tak hingga, himpunan itu bukan ideal tertutup dan, sebagai akibatnya, ternyata bukan himpunan yang tepat untuk membentuk hasil bagi dengan harapan memperoleh suatu objek hasil bagi dalam kategori aljabar Banach. Tutupan ideal operator berperingkat hingga pada suatu ruang Hilbert adalah ideal operator kompak. Dalam arti tertentu, langkah berikutnya yang wajar ialah mengkaji sifat-sifat kelas operator ini; di dalamnya kita menjumpai beberapa operator terpenting dalam penerapan, misalnya operator integral. Namun, pemaparan yang lebih lancar dan lebih gamblang dimungkinkan jika kita memiliki sedikit lebih banyak perangkat teknis. Oleh karena itu, dalam bab berikutnya kita akan berfokus pada pengembangan beberapa alat baku yang digunakan dalam analisis fungsional.