Bab 12 · Bertahan Tanpa Identitas

Unitalisasi Aljabar Banach

Definisi 12.1.1.

Misalkan AA suatu aljabar. Definisikan AA \bowtie \mathbb{C} sebagai himpunan A×A \times \mathbb{C} yang penjumlahan dan perkalian skalarnya didefinisikan secara titik demi titik dan perkaliannya didefinisikan oleh (a,λ)(b,μ)=(ab+μa+λb,λμ).(a,\lambda)\cdot(b,\mu) = (ab + \mu a + \lambda b, \lambda\mu). Jika aljabar AA dilengkapi dengan suatu involusi, definisikan involusi pada AA \bowtie \mathbb{C} secara titik demi titik; yaitu, (a,λ)*:=(a*,λ¯)(a,\lambda)^* := (a^*, \overline{\lambda}). (Notasi AA \bowtie \mathbb{C} tidak baku.)

Proposisi 12.1.2.

Jika AA suatu aljabar, maka AA \bowtie \mathbb{C} adalah aljabar beridentitas yang di dalamnya AA dibenamkan sebagai (yaitu, isomorfik dengan) suatu ideal sedemikian sehingga (A)/A(A \bowtie \mathbb{C})/A \cong \mathbb{C}. Identitas AA \bowtie \mathbb{C} adalah (0,1)(0,1). Jika AA suatu aljabar-**\,, maka AA \bowtie \mathbb{C} adalah aljabar-**\, beridentitas yang di dalamnya AA merupakan ideal-**\, sedemikian sehingga (A)/A(A \bowtie \mathbb{C})/A \cong \mathbb{C}.

Definisi 12.1.3.

Aljabar AA \bowtie \mathbb{C} adalah unitalisasi dari aljabar (atau aljabar-**\,AA.

Notasi 12.1.4.

Dalam konstruksi sebelumnya, unsur-unsur aljabar AA \bowtie \mathbb{C} secara teknis adalah pasangan terurut (a,λ)(a,\lambda). Unsur-unsur itu biasanya ditulis secara berbeda. Misalkan ι:AA:a(a,0)\iota\colon A \rightarrow A \bowtie \mathbb{C}\colon a \mapsto (a,0) dan π:A:(a,λ)λ\pi\colon A \bowtie \mathbb{C}\rightarrow\mathbb{C}\colon (a,\lambda) \mapsto \lambda. Karena (0,1)(0,1) adalah identitas dalam AA \bowtie \mathbb{C}, diperoleh (a,λ)=(a,0)+(𝟎,λ)=ι(a)+λ𝟏A\begin{align*} (a,\lambda) &= (a,0) + (\mathbf{0},\lambda) \\ &= \iota(a) + \lambda \mathbf{1}_{A \bowtie \mathbb{C}} \end{align*} Sudah lazim untuk memperlakukan ι\iota sebagai pemetaan inklusi. Jadi, wajar untuk menulis (a,λ)(a,\lambda) sebagai a+λ𝟏Aa + \lambda \mathbf{1}_{A \bowtie \mathbb{C}} atau cukup sebagai a+λ𝟏a + \lambda \mathbf{1}. Tampaknya tidak timbul ambiguitas dengan menghilangkan acuan pada identitas perkalian, sehingga notasi baku untuk pasangan (a,λ)(a,\lambda) adalah a+λa + \lambda.

Definisi 12.1.5.

Misalkan AA suatu aljabar yang tak beridentitas. Definisikan spektrum suatu unsur aAa \in A sebagai spektrum aa ketika dipandang sebagai unsur dari AA \bowtie \mathbb{C}; yaitu, σA(a):=σA(a)\sigma_A(a) := \sigma_{A \bowtie \mathbb{C}}(a).

Definisi 12.1.6.

Misalkan AA suatu aljabar bernorma (dengan atau tanpa involusi). Pada unitalisasi AA \bowtie \mathbb{C} dari AA, definisikan (a,λ):=a+|λ|\lVert(a,\lambda)\rVert := \lVert a\rVert + \lvert\lambda\rvert.

Proposisi 12.1.7.

Misalkan AA suatu aljabar bernorma. Pemetaan (a,λ)a+|λ|(a,\lambda) \mapsto \lVert a\rVert + \lvert\lambda\rvert yang didefinisikan di atas adalah norma yang menjadikan AA \bowtie \mathbb{C} suatu aljabar bernorma. Jika AA suatu aljabar Banach (berturut-turut, aljabar Banach-**\,), maka AA \bowtie \mathbb{C} adalah aljabar Banach (berturut-turut, aljabar Banach-**\,). Aljabar Banach (atau aljabar Banach-**\,) yang dihasilkan adalah unitalisasi dari AA dan akan dinotasikan dengan AeA_e.

Dengan definisi spektrum yang diperluas ini, banyak fakta terdahulu untuk aljabar Banach beridentitas tetap berlaku dalam tatanan yang lebih umum. Secara khusus, untuk rujukan selanjutnya, kita nyatakan kembali butir-butir 8.1.36, 8.1.41, 8.1.46, dan 8.1.50.

Proposisi 12.1.8.

Misalkan aa suatu unsur dari aljabar Banach AA. Maka spektrum aa kompak dan |λ|a\lvert\lambda \rvert\le \lVert a\rVert untuk setiap λσ(a)\lambda \in \sigma(a).

Proposisi 12.1.9.

Spektrum setiap unsur dari suatu aljabar Banach tidak kosong.

Proposisi 12.1.10.

Untuk setiap unsur aa dari suatu aljabar Banach, ρ(a)a\rho(a) \le \lVert a\rVert dan ρ(an)=(ρ(a))n\rho(a^n) = \bigr(\rho(a)\bigr)^n.

Teorema 12.1.11.

Jika aa suatu unsur dari aljabar Banach, maka ρ(a)=inf{an1/n:n}=limnan1/n.\rho(a) = \inf\bigl\{\lVert a^n\rVert^{1/n}\colon n \in \mathbb{N}\bigr\} = \lim_{n \rightarrow\infty} \lVert a^n\rVert^{1/n}.

Definisi 12.1.12.

Misalkan AA suatu aljabar. Suatu ideal kiri JJ dalam AA adalah ideal kiri modular jika terdapat suatu unsur uu dalam AA sedemikian sehingga auaJau - a \in J untuk setiap aAa \in A. Unsur uu demikian disebut identitas kanan terhadap JJ. Demikian pula, suatu ideal kanan JJ dalam AA adalah ideal kanan modular jika terdapat suatu unsur vv dalam AA sedemikian sehingga vaaJva - a \in J untuk setiap aAa \in A. Unsur vv demikian disebut identitas kiri terhadap JJ. Suatu ideal dua sisi JJ adalah ideal modular jika terdapat suatu unsur ee yang sekaligus merupakan identitas kiri dan identitas kanan terhadap JJ.

Proposisi 12.1.13.

Suatu ideal JJ dalam suatu aljabar bersifat modular jika dan hanya jika ideal tersebut merupakan ideal kiri modular sekaligus ideal kanan modular.

Bukti.

Petunjuk untuk pembuktian. Tunjukkan bahwa jika uu suatu identitas kanan terhadap JJ dan vv suatu identitas kiri terhadap JJ, maka vuvu sekaligus merupakan identitas kanan dan identitas kiri terhadap JJ. ◻

Proposisi 12.1.14.

Suatu ideal JJ dalam suatu aljabar AA bersifat modular jika dan hanya jika aljabar hasil bagi A/JA/J beridentitas.

Contoh 12.1.15.

Misalkan XX suatu ruang Hausdorff kompak lokal. Untuk setiap xXx \in X, ideal JxJ_x adalah ideal modular maksimal dalam aljabar-C*C^* 𝒞0(X)\mathcal{C}_0(X) dari fungsi-fungsi kontinu bernilai kompleks pada XX.

Bukti.

Proof. Menurut versi lema Urysohn untuk ruang Hausdorff kompak lokal (lihat, misalnya, [16], teorema 17.2.10), terdapat suatu fungsi g𝒞0(X)g \in \mathcal{C}_0(X) sedemikian sehingga g(x)=1g(x) = 1. Jadi, JxJ_x bersifat modular karena gg merupakan suatu identitas terhadap JxJ_x. Karena 𝒞0(X)=Jxspan{g}\mathcal{C}_0(X) = J_x \oplus\,\, \mathop{\mathrm{span}}\{g\}, ideal JxJ_x mempunyai kodimensi 11 dan oleh karena itu maksimal. ◻

Proposisi 12.1.16.

Jika JJ suatu ideal modular sejati dalam aljabar Banach, maka penutupannya juga demikian.

Akibat 12.1.17.

Setiap ideal modular maksimal dalam suatu aljabar Banach tertutup.

Proposisi 12.1.18.

Setiap ideal modular sejati dalam suatu aljabar Banach termuat dalam suatu ideal modular maksimal.

Proposisi 12.1.19.

Misalkan AA suatu aljabar Banach komutatif dan ϕΔA\phi \in \Delta A. Maka kerϕ\ker\phi adalah ideal modular maksimal dalam AA dan A/kerϕA/\ker\phi adalah suatu medan. Lebih lanjut, setiap ideal modular maksimal merupakan kernel dari tepat satu karakter dalam ΔA\Delta A.

Proposisi 12.1.20.

Setiap fungsional linear multiplikatif pada suatu aljabar Banach komutatif AA bersifat kontinu. Bahkan, setiap karakter bersifat kontraktif.

Contoh 12.1.21.

Misalkan AeA_e unitalisasi dari suatu aljabar Banach komutatif AA (lihat proposisi 12.1.7). Definisikan ϕ:Ae:(a,λ)λ.\phi_\infty\colon A_e \rightarrow\mathbb{C}\colon (a,\lambda) \mapsto \lambda\,. Maka ϕ\phi_\infty adalah suatu karakter pada AeA_e.

Proposisi 12.1.22.

Setiap karakter ϕ\phi pada suatu aljabar Banach komutatif AA mempunyai perpanjangan tunggal menjadi suatu karakter ϕe\phi_e pada unitalisasi AeA_e dari AA. Selain itu, pembatasan pada AA dari sebarang karakter pada AeA_e, dengan pengecualian yang jelas yaitu ϕ\phi_\infty, adalah suatu karakter pada AA.

Proposisi 12.1.23.

Jika AA suatu aljabar Banach komutatif, maka

  1. ΔA\Delta A adalah ruang Hausdorff kompak lokal,

  2. ΔAe=ΔA{ϕ}\Delta A_e = \Delta A \cup \{\phi_\infty\},

  3. ΔAe\Delta A_e adalah kompaktifikasi satu titik dari ΔA\Delta A, dan

  4. pemetaan ϕϕe\phi \mapsto \phi_e adalah homeomorfisme dari ΔA\Delta A ke ΔAe\{ϕ}\Delta A_e \setminus \{\phi_\infty\}.

Jika AA beridentitas (sehingga ΔA\Delta A kompak), maka ϕ\phi_\infty adalah titik terisolasi dari ΔAe\Delta A_e.

Teorema 12.1.24.

Jika AA suatu aljabar Banach komutatif dengan ruang karakter yang tidak kosong, maka transformasi Gelfand Γ=ΓA:A𝒞0(ΔA):aâ=Γa\Gamma = \Gamma_A\colon A \rightarrow\mathcal{C}_0(\Delta A)\colon a \mapsto \widehat{a} = \Gamma_a adalah suatu homomorfisme aljabar kontraktif dan ρ(a)=âu\rho(a) = \lVert\widehat{a}\rVert_u. Lebih lanjut, jika AA tidak beridentitas, maka σ(a)=ranâ{0}\sigma(a) = \mathop{\mathrm{ran}}\widehat{a} \cup \{0\} untuk setiap aAa \in A.

Barisan Eksak dan Ekstensi

Prosedur yang cukup sederhana untuk unitalisasi aljabar Banach-**\, (lihat 12.1.1 dan 12.1.6) tidak dapat diterapkan begitu saja pada aljabar-C*C^*. Norma yang didefinisikan dalam 12.1.6 tidak memenuhi syarat-C*C^* (definisi 7.1.23). Ternyata unitalisasi aljabar-C*C^* sedikit lebih rumit. Sebelum menelaah perinciannya, kita melihat beberapa bahan persiapan mengenai barisan eksak dan ekstensi aljabar-C*C^*.

Dalam dunia aljabar-C*C^*, barisan eksak didefinisikan pada dasarnya dengan cara yang sama seperti barisan eksak aljabar Banach (lihat 6.5.9).

Definisi 12.2.1.

Suatu barisan aljabar-C*C^* dan homomorfisme-**\,

Potongan barisan aljabar C-bintang: elipsis menuju A sub-n-minus-satu, lalu panah phi sub-n ke A sub-n, lalu panah phi sub-n-plus-satu ke A sub-n-plus-satu, lalu elipsis. Barisan eksak di A sub-n bila jangkauan phi sub-n sama dengan kernel phi sub-n-plus-satu. Ini barisan berarah, bukan diagram komutatif bercabang.

Potongan barisan aljabar C-bintang: elipsis menuju A sub-n-minus-satu, lalu panah phi sub-n ke A sub-n, lalu panah phi sub-n-plus-satu ke A sub-n-plus-satu, lalu elipsis. Barisan eksak di A sub-n bila jangkauan phi sub-n sama dengan kernel phi sub-n-plus-satu. Ini barisan berarah, bukan diagram komutatif bercabang.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

dikatakan eksak di AnA_n jika ranϕn=kerϕn+1\mathop{\mathrm{ran}}\phi_n = \ker \phi_{n+1}. Suatu barisan disebut eksak jika barisan tersebut eksak di setiap aljabar-C*C^* penyusunnya. Suatu barisan aljabar-C*C^* dan homomorfisme-**\, berbentuk

Barisan eksak pendek aljabar C-bintang: ruang nol menuju A, lalu phi dari A ke E, lalu psi dari E ke B, lalu B menuju ruang nol. Eksak berarti phi injektif, psi surjektif, dan jangkauan phi sama dengan kernel psi. Barisan terbelah bila ada homomorfisme xi dari B ke E dengan psi setelah xi sama dengan identitas B.

Barisan eksak pendek aljabar C-bintang: ruang nol menuju A, lalu phi dari A ke E, lalu psi dari E ke B, lalu B menuju ruang nol. Eksak berarti phi injektif, psi surjektif, dan jangkauan phi sama dengan kernel psi. Barisan terbelah bila ada homomorfisme xi dari B ke E dengan psi setelah xi sama dengan identitas B.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

adalah suatu barisan eksak pendek. (Di sini 𝟎\mathbf{0} menyatakan aljabar-C*C^* trivial berdimensi 00, dan panah-panah tanpa label adalah homomorfisme-** yang jelas.) Barisan eksak pendek aljabar-C*C^* 12.2.1 adalah eksak terbelah jika terdapat suatu homomorfisme-**\, ξ:BE\xi\colon B \rightarrow E sedemikian sehingga ψξ=idB\psi\circ\xi = \operatorname{id}_{B}.

Definisi-definisi sebelumnya diberikan untuk kategori 𝑪𝑺𝑨\mathbf{CSA} dari aljabar-C*C^* dan homomorfisme-**\,. Tentu saja, tidak ada yang khusus mengenai kategori tertentu ini. Barisan eksak bermakna dalam banyak situasi, misalnya dalam berbagai kategori ruang Banach, aljabar Banach, ruang Hilbert, ruang vektor, grup Abel, modul, dan sebagainya.

Sering kali, dalam konteks aljabar-C*C^*, barisan eksak 12.2.1 disebut suatu ekstensi. Sebagian penulis menyebutnya ekstensi AA oleh BB (misalnya, [51] dan [10]), sedangkan penulis lain mengatakan bahwa barisan itu merupakan ekstensi BB oleh AA ([39], [18], dan [3]). Dalam [18] dan [3], ekstensi didefinisikan sebagai barisan 12.2.1; dalam [51], ekstensi didefinisikan sebagai tripel terurut (ϕ,E,ψ)(\phi,E,\psi); dan dalam [39] serta [10], ekstensi didefinisikan sebagai aljabar-C*C^* EE itu sendiri. Terlepas dari definisi formalnya, umum dikatakan bahwa EE adalah ekstensi AA oleh BB (atau BB oleh AA).

Konvensi 12.2.2.

Dalam suatu aljabar-C*C^*, kata ideal akan selalu berarti suatu ideal-**\, dua sisi tertutup (kecuali, tentu saja, jika yang sebaliknya dinyatakan secara eksplisit). Sebentar lagi akan kita tunjukkan (dalam proposisi 12.6.6) bahwa syarat agar suatu ideal dalam aljabar-C*C^* bersifat swaadjoin sebenarnya berlebih. Suatu ideal aljabar dua sisi dari aljabar-C*C^* yang tidak harus tertutup akan disebut ideal aljabar. Suatu ideal aljabar swaadjoin dari aljabar-C*C^* akan disebut ideal-*\ast aljabar.

Bandingkan dua proposisi berikut dengan 6.5.10 dan 6.5.11 yang hampir identik.

Proposisi 12.2.3.

Tinjau diagram berikut dalam kategori aljabar-C*C^* dan homomorfisme-*{}^*

Dua baris eksak pendek aljabar C-bintang: nol ke A melalui j ke B melalui k ke C ke nol, dan nol ke A prima melalui j prima ke B prima melalui k prima ke C prima ke nol. Panah vertikal f dari A ke A prima dan g dari B ke B prima membuat persegi kiri komutatif; terdapat satu-satunya panah putus-putus h dari C ke C prima yang membuat persegi kanan komutatif, yaitu h setelah k sama dengan k prima setelah g.

Dua baris eksak pendek aljabar C-bintang: nol ke A melalui j ke B melalui k ke C ke nol, dan nol ke A prima melalui j prima ke B prima melalui k prima ke C prima ke nol. Panah vertikal f dari A ke A prima dan g dari B ke B prima membuat persegi kiri komutatif; terdapat satu-satunya panah putus-putus h dari C ke C prima yang membuat persegi kanan komutatif, yaitu h setelah k sama dengan k prima setelah g.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

Jika baris-barisnya eksak dan persegi kirinya komutatif, maka terdapat homomorfisme-*{}^* h:CCh\colon C \rightarrow C' tunggal yang membuat persegi kanannya komutatif.

Proposisi 12.2.4.

Andaikan dalam diagram aljabar-C*C^* dan homomorfisme-*{}^* berikut

Diagram Lema Lima untuk aljabar C-bintang, dengan dua baris eksak pendek: nol ke A melalui j ke B melalui k ke C ke nol, dan nol ke A prima melalui j prima ke B prima melalui k prima ke C prima ke nol. Panah vertikal f, g, dan h menghubungkan objek dengan versi primanya; kedua persegi komutatif, sehingga g setelah j sama dengan j prima setelah f dan h setelah k sama dengan k prima setelah g.

Diagram Lema Lima untuk aljabar C-bintang, dengan dua baris eksak pendek: nol ke A melalui j ke B melalui k ke C ke nol, dan nol ke A prima melalui j prima ke B prima melalui k prima ke C prima ke nol. Panah vertikal f, g, dan h menghubungkan objek dengan versi primanya; kedua persegi komutatif, sehingga g setelah j sama dengan j prima setelah f dan h setelah k sama dengan k prima setelah g.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

baris-barisnya eksak dan persegi-perseginya komutatif. Buktikan hal-hal berikut.

  1. Jika gg surjektif, maka hh juga surjektif.

  2. Jika ff surjektif dan gg injektif, maka hh injektif.

  3. Jika ff dan hh surjektif, maka gg juga surjektif.

  4. Jika ff dan hh injektif, maka gg juga injektif.

Definisi 12.2.5.

Misalkan AA dan BB aljabar-C*C^*. Kita mendefinisikan jumlah langsung (eksternal) dari AA dan BB, yang dinotasikan dengan ABA \oplus B, sebagai hasil kali Cartesius A×BA \times B dengan operasi-operasi aljabar yang didefinisikan secara titik demi titik dan norma yang diberikan oleh (a,b)=max{a,b}\lVert(a,b)\rVert = \max\{\lVert a\rVert,\lVert b\rVert\} untuk semua aAa \in A dan bBb \in B. Notasi alternatif untuk unsur (a,b)(a,b) dalam ABA \oplus B adalah aba \oplus b.

Contoh 12.2.6.

Misalkan AA dan BB aljabar-C*C^*. Maka jumlah langsung AA dan BB adalah suatu aljabar-C*C^* dan barisan berikut adalah barisan eksak pendek terbelah:

Ekstensi jumlah langsung yang terbelah: ruang nol menuju A, lalu inklusi iota satu membawa a ke pasangan (a, nol) dalam A tambah langsung B, lalu proyeksi pi dua membawa pasangan ke B, lalu B menuju ruang nol. Barisan eksak dan terbelah oleh inklusi faktor B ke A tambah langsung B.

Ekstensi jumlah langsung yang terbelah: ruang nol menuju A, lalu inklusi iota satu membawa a ke pasangan (a, nol) dalam A tambah langsung B, lalu proyeksi pi dua membawa pasangan ke B, lalu B menuju ruang nol. Barisan eksak dan terbelah oleh inklusi faktor B ke A tambah langsung B.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

Pemetaan-pemetaan yang ditunjukkan di atas adalah pemetaan-pemetaan yang jelas: ι1:AAB:a(a,𝟎)danπ2:ABB:(a,b)b.\iota_1\colon A \rightarrow A \oplus B\colon a \mapsto (a,\mathbf{0}) \qquad \text{dan} \qquad \pi_2 \colon A \oplus B \rightarrow B: (a,b) \mapsto b\,. Ini adalah ekstensi jumlah langsung.

Proposisi 12.2.7.

Jika AA dan BB adalah aljabar-C*C^* tak nol, maka jumlah langsungnya ABA \oplus B merupakan produk dalam kategori 𝑪𝑺𝑨\mathbf{CSA} dari aljabar-C*C^* dan homomorfisme-**\, (lihat contoh 4.7.15). Jumlah langsung itu beridentitas jika dan hanya jika AA dan BB keduanya beridentitas.

Definisi 12.2.8.

Misalkan AA dan BB aljabar-C*C^* serta EE dan EE' merupakan ekstensi AA oleh BB. Ekstensi-ekstensi ini ekuivalen kuat jika terdapat suatu isomorfisme-*{}^* θ:EE\theta\colon E \rightarrow E' yang membuat diagram

Diagram ekuivalensi kuat dua ekstensi A oleh B. Baris atas dan bawah masing-masing adalah nol menuju A menuju E atau E prima menuju B menuju nol. Panah vertikal pada A dan B adalah identitas, sedangkan panah tengah adalah isomorfisme bintang theta dari E ke E prima. Kedua persegi komutatif, sehingga theta menghormati penyertaan A dan pemetaan hasil bagi ke B.

Diagram ekuivalensi kuat dua ekstensi A oleh B. Baris atas dan bawah masing-masing adalah nol menuju A menuju E atau E prima menuju B menuju nol. Panah vertikal pada A dan B adalah identitas, sedangkan panah tengah adalah isomorfisme bintang theta dari E ke E prima. Kedua persegi komutatif, sehingga theta menghormati penyertaan A dan pemetaan hasil bagi ke B.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

komutatif.

Proposisi 12.2.9.

Dalam definisi sebelumnya, cukup disyaratkan bahwa θ\theta merupakan suatu homomorfisme-*{}^*.

Proposisi 12.2.10.

Misalkan AA dan BB aljabar-C*C^*. Suatu ekstensi

Ekstensi umum A oleh B: ruang nol menuju A, lalu phi dari A ke E, lalu psi dari E ke B, lalu B menuju ruang nol. Barisan ini eksak. Pernyataan di sekitarnya mencirikan kapan ekstensi tersebut ekuivalen kuat dengan ekstensi jumlah langsung.

Ekstensi umum A oleh B: ruang nol menuju A, lalu phi dari A ke E, lalu psi dari E ke B, lalu B menuju ruang nol. Barisan ini eksak. Pernyataan di sekitarnya mencirikan kapan ekstensi tersebut ekuivalen kuat dengan ekstensi jumlah langsung.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

ekuivalen kuat dengan ekstensi jumlah langsung ABA \oplus B jika dan hanya jika terdapat
suatu homomorfisme-*{}^* ν:EA\nu\colon E \rightarrow A sedemikian sehingga νϕ=idA\nu\circ\phi = \operatorname{id}_{A}.

Proposisi 12.2.11.

Jika barisan-barisan aljabar-C*C^*

Barisan eksak pendek pertama dalam perbandingan ekstensi: ruang nol menuju A, lalu phi dari A ke E, lalu psi dari E ke B, lalu B menuju ruang nol. Barisan ini diasumsikan terbelah.

Barisan eksak pendek pertama dalam perbandingan ekstensi: ruang nol menuju A, lalu phi dari A ke E, lalu psi dari E ke B, lalu B menuju ruang nol. Barisan ini diasumsikan terbelah.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

dan

Barisan eksak pendek kedua dalam perbandingan ekstensi: ruang nol menuju A, lalu phi prima dari A ke E prima, lalu psi prima dari E prima ke B, lalu B menuju ruang nol. Jika barisan ini ekuivalen kuat dengan barisan pertama yang terbelah, barisan ini juga terbelah.

Barisan eksak pendek kedua dalam perbandingan ekstensi: ruang nol menuju A, lalu phi prima dari A ke E prima, lalu psi prima dari E prima ke B, lalu B menuju ruang nol. Jika barisan ini ekuivalen kuat dengan barisan pertama yang terbelah, barisan ini juga terbelah.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

ekuivalen kuat dan 12.2.2 terbelah, maka 12.2.3 juga terbelah.

Unitalisasi Aljabar-C*C^*

Prosedur yang cukup sederhana untuk unitalisasi aljabar Banach-**\, (lihat 12.1.1 dan 12.1.6) tidak dapat diterapkan begitu saja pada aljabar-C*C^*. Norma yang didefinisikan dalam 12.1.6 tidak memenuhi syarat-C*C^* (definisi 7.1.23). Ternyata unitalisasi aljabar-C*C^* sedikit lebih rumit.

Proposisi 12.3.1.

Kernel dari suatu homomorfisme-**\, ϕ:AB\phi\colon A \rightarrow B antara aljabar-C*C^* adalah suatu ideal-**\, tertutup dalam AA dan jangkauannya adalah suatu subaljabar-**\, dari BB.

Proposisi 12.3.2.

Jika aa suatu unsur dalam aljabar-C*C^*, maka a=sup{xa:x1}=sup{ax:x1}.\begin{align*} \lVert a\rVert &= \sup\{\lVert xa\rVert\colon \lVert x\rVert \le 1\} \\ &= \sup\{\lVert ax\rVert\colon \lVert x\rVert \le 1\}. \end{align*}

Akibat 12.3.3.

Jika aa suatu unsur dari aljabar-C*C^* AA, operator LaL_a, yang disebut perkalian kiri oleh aa dan didefinisikan oleh La:AA:xaxL_a\colon A \rightarrow A\colon x \mapsto ax adalah suatu operator (linear terbatas) pada AA. Lebih lanjut, pemetaan L:A𝔅(A):aLaL\colon A \rightarrow\mathfrak{B}(A)\colon a \mapsto L_a sekaligus merupakan isometri dan homomorfisme aljabar.

Proposisi 12.3.4.

Misalkan AA suatu aljabar-C*C^*. Maka terdapat suatu aljabar-C*C^* beridentitas Ã\widetilde{A} yang di dalamnya AA dibenamkan sebagai suatu ideal sedemikian sehingga barisan

Barisan unitalisasi: ruang nol menuju aljabar C-bintang A, lalu A masuk ke unitalisasi A tilde, lalu A tilde dipetakan ke bilangan kompleks, lalu menuju ruang nol. Barisan eksak dan terbelah; A tertanam sebagai ideal dan hasil baginya isomorfik dengan bilangan kompleks.

Barisan unitalisasi: ruang nol menuju aljabar C-bintang A, lalu A masuk ke unitalisasi A tilde, lalu A tilde dipetakan ke bilangan kompleks, lalu menuju ruang nol. Barisan eksak dan terbelah; A tertanam sebagai ideal dan hasil baginya isomorfik dengan bilangan kompleks.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

eksak terbelah. Jika AA beridentitas, maka barisan 12.3.1 ekuivalen kuat dengan ekstensi jumlah langsung, sehingga ÃA\widetilde{A} \cong A \oplus \mathbb{C}. Jika AA tidak beridentitas, maka Ã\widetilde{A} tidak isomorfik dengan AA \oplus \mathbb{C}.

Bukti.

Petunjuk untuk pembuktian. Pembuktian hasil ini agak rumit. Setiap orang sebaiknya menelusuri semua perinciannya setidaknya sekali dalam hidupnya. Berikut ini adalah garis besar suatu pembuktian.

Perhatikan bahwa kita berbicara tentang unitalisasi dari suatu aljabar-C*C^* AA baik AA sudah memiliki unit (identitas perkalian) maupun belum. Kita membagi argumen menjadi dua kasus.

pt

Kasus 1: aljabar AA beridentitas.

  1. Pada aljabar AA \bowtie \mathbb{C}, definisikan (a,λ):=max{a+λ𝟏A,|λ|}\lVert(a,\lambda)\rVert := \max\{\lVert a + \lambda \mathbf{1}_A\rVert, \lvert\lambda\rvert\} dan misalkan Ã:=A\widetilde{A} := A \bowtie \mathbb{C} bersama dengan norma ini.

  2. Buktikan bahwa pemetaan (a,λ)(a,λ)(a,\lambda) \mapsto \lVert(a,\lambda)\rVert adalah norma pada AA \bowtie \mathbb{C}.

  3. Buktikan bahwa norma ini adalah norma aljabar.

  4. Tunjukkan bahwa norma ini, sesungguhnya, merupakan norma-C*C^* pada AA \bowtie \mathbb{C}.

  5. Amati bahwa norma ini merupakan perpanjangan dari norma pada AA.

  6. Buktikan bahwa AA \bowtie \mathbb{C} adalah suatu aljabar-C*C^* dengan memverifikasi kelengkapan ruang metrik yang diinduksi oleh norma sebelumnya.

  7. Buktikan bahwa barisan

    Barisan unitalisasi terbelah: ruang nol menuju A, inklusi iota dari A ke A tilde, panah hasil bagi Q dari A tilde ke bilangan kompleks, panah balik psi dari bilangan kompleks ke A tilde, lalu bilangan kompleks menuju ruang nol. Barisan ke arah kanan eksak dan Q setelah psi adalah identitas pada bilangan kompleks.

    Barisan unitalisasi terbelah: ruang nol menuju A, inklusi iota dari A ke A tilde, panah hasil bagi Q dari A tilde ke bilangan kompleks, panah balik psi dari bilangan kompleks ke A tilde, lalu bilangan kompleks menuju ruang nol. Barisan ke arah kanan eksak dan Q setelah psi adalah identitas pada bilangan kompleks.

    Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

    eksak terbelah (dengan ι:a(a,0)\iota\colon a \mapsto (a,0), Q:(a,λ)λQ\colon (a,\lambda) \mapsto \lambda, dan ψ:λ(0,λ)\psi\colon \lambda \mapsto (0,\lambda)).

  8. Buktikan bahwa Ã*A\widetilde{A}\overset{\,{}_\ast}{\cong}A \oplus \mathbb{C}.

pt

Kasus 2: aljabar AA tidak beridentitas.

  1. Buktikan fakta sederhana berikut.

    Lema 12.3.5.

    Misalkan AA suatu aljabar dan BB suatu aljabar bernorma. Jika ϕ:AB\phi\colon A \rightarrow B adalah homomorfisme aljabar, maka fungsi aa:=ϕ(a)a \mapsto \lVert a\rVert := \lVert\phi(a)\rVert adalah seminorma pada AA. Fungsi tersebut adalah norma jika ϕ\phi injektif.

  2. Ingat bahwa dalam 12.3.3 kita mendefinisikan operator LaL_a, perkalian kiri oleh aa. Sekarang, misalkan A:={La+λIA𝔅(A):aA dan λ}A^{\sharp} := \{ L_a + \lambda I_A \in \mathfrak{B}(A)\colon a \in A \text{ dan } \lambda \in \mathbb{C}\} dan tunjukkan bahwa AA^\sharp adalah suatu aljabar bernorma.

  3. Jadikan AA^\sharp suatu aljabar-**\, dengan mendefinisikan (La+λIA)*:=La*+λ¯IA(L_a + \lambda I_A)^* := L_{a^*} + \overline{\lambda }I_A untuk semua aAa \in A dan λ\lambda \in \mathbb{C}.

  4. Definisikan ϕ:AA:(a,λ)La+λIA\phi\colon A \bowtie \mathbb{C}\rightarrow A^\sharp\colon (a,\lambda) \mapsto L_a + \lambda I_A dan verifikasikan bahwa ϕ\phi adalah suatu homomorfisme-**\,.

  5. Buktikan bahwa ϕ\phi injektif.

  6. Gunakan (9) untuk melengkapi AA \bowtie \mathbb{C} dengan suatu norma yang menjadikannya aljabar bernorma beridentitas. Misalkan Ã:=A\widetilde{A} := A \bowtie \mathbb{C} dengan norma yang ditarik balik oleh ϕ\phi dari AA^\sharp.

  7. Verifikasikan fakta-fakta berikut.

    1. Pemetaan ϕ:ÃA\phi\colon \widetilde{A} \rightarrow A^\sharp adalah isomorfisme isometrik.

    2. ranL\mathop{\mathrm{ran}}L adalah subaljabar tertutup dari ranϕ=A𝔅(A)\mathop{\mathrm{ran}}\phi = A^\sharp \subseteq \mathfrak{B}(A).

    3. IAranLI_A \notin \mathop{\mathrm{ran}}L.

  8. Buktikan bahwa norma pada Ã\widetilde{A} memenuhi syarat-C*C^*.

  9. Buktikan bahwa Ã\widetilde{A} adalah suatu aljabar-C*C^* beridentitas. (Untuk menunjukkan bahwa Ã\widetilde{A} lengkap, kita hanya perlu menunjukkan bahwa AA^\sharp lengkap. Untuk tujuan ini, misalkan (ϕ(an,λn))n=1\bigl(\phi(a_n,\lambda_n)\bigr)_{n=1}^\infty suatu barisan Cauchy dalam AA^\sharp. Untuk menunjukkan bahwa barisan ini konvergen, cukup ditunjukkan bahwa barisan itu mempunyai suatu subbarisan konvergen. Dengan menunjukkan bahwa barisan (λn)(\lambda_n) terbatas, kita dapat mengekstrak darinya suatu subbarisan konvergen (λnk)\bigl(\lambda_{n_k}\bigr). Buktikan bahwa (Lank)(L_{a_{n_k}}) konvergen.)

  10. Buktikan bahwa barisan

    Barisan unitalisasi untuk aljabar A yang tidak beridentitas: ruang nol menuju A, lalu A masuk ke A tilde, lalu A tilde dipetakan ke bilangan kompleks, lalu menuju ruang nol. Barisan eksak dan terbelah, tetapi A tilde tidak isomorfik dengan jumlah langsung A dan bilangan kompleks.

    Barisan unitalisasi untuk aljabar A yang tidak beridentitas: ruang nol menuju A, lalu A masuk ke A tilde, lalu A tilde dipetakan ke bilangan kompleks, lalu menuju ruang nol. Barisan eksak dan terbelah, tetapi A tilde tidak isomorfik dengan jumlah langsung A dan bilangan kompleks.

    Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

    eksak terbelah.

  11. Aljabar-C*C^* Ã\widetilde{A} tidak isomorfik dengan AA \oplus \mathbb{C}.

 ◻

Definisi 12.3.6.

Aljabar-C*C^* Ã\widetilde{A} yang dikonstruksi dalam proposisi sebelumnya adalah unitalisasi dari AA.

Perhatikan bahwa definisi spektrum yang diperluas dalam 12.1.5 berlaku untuk aljabar-C*C^* karena penambahan identitas merupakan perkara aljabar murni dan sama bagi aljabar-C*C^* seperti bagi aljabar Banach umum. Dengan demikian, banyak fakta terdahulu yang dinyatakan untuk aljabar-C*C^* beridentitas tetap berlaku. Secara khusus, untuk rujukan selanjutnya, kita nyatakan kembali butir-butir 11.4.6, 11.4.8, 11.4.9, 11.4.10, 11.4.11, 11.4.12, dan 11.4.13.

Proposisi 12.3.7.

Misalkan aa suatu unsur normal dari suatu aljabar-C*C^*. Maka a2=a2\lVert a^2\rVert = {\lVert a\rVert}^2 dan karena itu ρ(a)=a\rho(a)~=~\lVert a\rVert.

Akibat 12.3.8.

Jika AA suatu aljabar-C*C^* komutatif, maka a2=a2\lVert a^2\rVert = {\lVert a\rVert}^2 dan ρ(a)=a\rho(a)~=~\lVert a\rVert untuk setiap aAa \in A.

Akibat 12.3.9.

Pada suatu aljabar-C*C^* komutatif AA, transformasi Gelfand Γ\Gamma adalah isometri; yaitu, Γau=âu=a\lVert\Gamma_a\rVert_u = \lVert\widehat{a}\rVert_u = \lVert a\rVert untuk setiap aAa \in A.

Akibat 12.3.10.

Norma suatu aljabar-C*C^* bersifat tunggal dalam arti bahwa, jika diberikan suatu aljabar AA dengan involusi, paling banyak ada satu norma yang menjadikan AA suatu aljabar-C*C^*.

Proposisi 12.3.11.

Jika hh suatu unsur swaadjoin dari suatu aljabar-C*C^*, maka σ(h)\sigma(h) \subseteq \mathbb{R}.

Proposisi 12.3.12.

Jika aa suatu unsur swaadjoin dalam suatu aljabar-C*C^*, maka transformasi Gelfandnya â\widehat{a} bernilai real.

Proposisi 12.3.13.

Setiap karakter pada suatu aljabar-C*C^* AA mempertahankan involusi; dengan demikian, transformasi Gelfand ΓA\Gamma_{{}_{\scriptstyle{\!\!A}}} adalah suatu homomorfisme-**.

Akibat langsung dari hasil-hasil sebelumnya adalah versi kedua dari teorema Gelfand–Naimark, yang menyatakan bahwa setiap aljabar-C*C^* komutatif (isomorfik-**\, secara isometrik dengan) aljabar dari semua fungsi kontinu pada suatu ruang Hausdorff kompak lokal yang lenyap di tak hingga. Seperti halnya pada versi pertama teorema ini (lihat 11.5.2), ruang Hausdorff kompak lokal yang dimaksud adalah ruang karakter dari aljabar tersebut.

Teorema 12.3.14.

Misalkan AA suatu aljabar-C*C^* komutatif. Maka transformasi Gelfand ΓA:aâ\Gamma_A\colon a \mapsto \widehat{a} adalah suatu isomorfisme-**\, isometrik dari AA pada 𝒞0(ΔA)\mathcal{C}_0(\Delta A).

Dari proposisi berikut, diperoleh bahwa proses unitalisasi bersifat funktorial.

Proposisi 12.3.15.

Setiap homomorfisme-** ϕ:AB\phi\colon A \rightarrow B antara aljabar-C*C^* mempunyai suatu perpanjangan tunggal menjadi homomorfisme-** beridentitas ϕ̃:ÃB̃\widetilde{\phi}\colon \widetilde{A} \rightarrow\widetilde{B} antara unitalisasi masing-masing.

Berbeda dengan keadaan pada aljabar Banach umum, tidak ada perbedaan antara kategori topologis dan kategori geometris aljabar-C*C^*. Salah satu aspek paling mengagumkan dari teori aljabar-C*C^* adalah bahwa homomorfisme-** antara aljabar-aljabar demikian secara otomatis kontinu—bahkan, kontraktif. Akibatnya, jika dua aljabar-C*C^* isomorfik-** secara aljabar, maka keduanya isomorfik secara isometrik.

Proposisi 12.3.16.

Setiap homomorfisme-** antara aljabar-C*C^* bersifat kontraktif.

Proposisi 12.3.17.

Setiap homomorfisme-** injektif antara aljabar-C*C^* adalah suatu isometri.

Proposisi 12.3.18.

Misalkan XX suatu ruang Hausdorff kompak lokal dan X̃=X{}\widetilde{X} = X \cup \{\infty\} merupakan kompaktifikasi satu titiknya. Definisikan ι:𝒞0(X)𝒞(X̃):ff̃\iota\colon \mathcal{C}_0(X) \rightarrow\,\mathcal{C}(\widetilde{X})\colon f \mapsto \widetilde{f} dengan f̃(x)={f(x),jika xX;0,jika x=.\widetilde{f}(x) = \left\{% \begin{array}{ll} f(x), & \text{jika } x \in X; \\ 0, & \text{jika } x = \infty. \\ \end{array}% \right. Definisikan pula EE_\infty pada 𝒞(X̃)\mathcal{C}(\widetilde{X}) dengan E(g)=g()E_\infty(g) = g(\infty). Maka barisan 𝟎𝒞0(X)ι𝒞(X̃)E𝟎\mathbf{0} \to \mathcal{C}_0(X) \to^\iota \,\,\mathcal{C}(\widetilde{X}) \to^{E_\infty} \mathbb{C}\to \mathbf{0} eksak.

Dalam proposisi sebelumnya, kita menyebut X̃\widetilde{X} sebagai kompaktifikasi satu titik dari XX bahkan jika XX sejak awal kompak. Kebanyakan definisi kompaktifikasi mensyaratkan suatu ruang rapat dalam setiap kompaktifikasinya. (Lihat ulasan saya pada awal bagian 17.3 dari [16].) Sebelumnya kita telah menggunakan konvensi bahwa unitalisasi dari suatu aljabar beridentitas memperoleh suatu identitas perkalian baru. Demi konsistensi dengan pilihan ini, selanjutnya kita akan menganut konvensi bahwa kompaktifikasi satu titik dari suatu ruang kompak memperoleh suatu titik tambahan (terisolasi). (Lihat pula istilah yang kita perkenalkan dalam 14.3.1.)

pt

Dari sudut pandang teorema Gelfand–Naimark (12.3.14), wawasan mendasar yang disarankan oleh proposisi berikut adalah bahwa unitalisasi suatu aljabar-C*C^* komutatif, dalam arti tertentu, merupakan “hal yang sama” dengan kompaktifikasi satu titik dari suatu ruang Hausdorff kompak lokal.

Proposisi 12.3.19.

Jika XX suatu ruang Hausdorff kompak lokal, maka aljabar-C*C^* beridentitas (𝒞0(X))\bigl(\mathcal{C}_0(X)\bigr)^\sim dan 𝒞(X̃)\mathcal{C}(\widetilde{X}) isomorfik-**\, secara isometrik.

Bukti.

Proof. Definisikan θ:(𝒞0(X))𝒞(X̃):(f,λ)f̃+λ𝟏X̃\theta\colon \bigl(\mathcal{C}_0(X)\bigr)^\sim \!\!\rightarrow\mathcal{C}(\widetilde{X})\colon (f,\lambda) \mapsto \widetilde{f} + \lambda \mathbf{1}_{\widetilde{X}} (dengan 𝟏X̃\mathbf{1}_{\widetilde{X}} menyatakan fungsi konstan 11 pada X̃\widetilde{X}). Kemudian tinjau diagram

Diagram dua ekstensi yang membandingkan unitalisasi C nol(X) dengan C dari kompaktifikasi satu titik X tilde. Baris atas: nol ke C nol(X), lalu ke unitalisasinya, lalu ke bilangan kompleks, lalu nol. Baris bawah: nol ke C nol(X) melalui inklusi iota ke C(X tilde), lalu evaluasi di titik tak hingga E sub-tak-hingga ke bilangan kompleks, lalu nol. Panah vertikal pada kedua ujung adalah identitas dan panah tengah theta; kedua persegi komutatif.

Diagram dua ekstensi yang membandingkan unitalisasi C nol(X) dengan C dari kompaktifikasi satu titik X tilde. Baris atas: nol ke C nol(X), lalu ke unitalisasinya, lalu ke bilangan kompleks, lalu nol. Baris bawah: nol ke C nol(X) melalui inklusi iota ke C(X tilde), lalu evaluasi di titik tak hingga E sub-tak-hingga ke bilangan kompleks, lalu nol. Panah vertikal pada kedua ujung adalah identitas dan panah tengah theta; kedua persegi komutatif.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

Baris atas eksak menurut proposisi 12.3.4, baris bawah eksak menurut proposisi 12.3.18, dan diagram tersebut jelas komutatif. Pemeriksaan bahwa θ\theta adalah suatu homomorfisme-**\, bersifat rutin. Oleh karena itu, θ\theta adalah suatu isomorfisme-**\, isometrik menurut proposisi 12.2.9 dan korolari 12.3.17. ◻

Kuasi-Invers

Definisi 12.4.1.

Suatu elemen bb dari aljabar AA adalah kuasi-invers kiri bagi aAa \in A jika ba=a+bba = a + b. Elemen tersebut adalah kuasi-invers kanan bagi aa jika ab=a+bab = a + b. Jika bb sekaligus merupakan kuasi-invers kiri dan kuasi-invers kanan bagi aa, maka bb adalah kuasi-invers bagi aa. Jika aa memiliki kuasi-invers, kita lambangkan kuasi-invers itu dengan aa'.

Proposisi 12.4.2.

Jika bb adalah kuasi-invers kiri bagi aa dalam aljabar AA dan cc adalah kuasi-invers kanan bagi aa dalam AA, maka b=cb = c.

Proposisi 12.4.3.

Misalkan AA aljabar beridentitas dan aa, bAb \in A. Maka

  1. aa' ada jika dan hanya jika (𝟏a)1(\mathbf{1} - a)^{-1} ada; dan

  2. b1b^{-1} ada jika dan hanya jika (𝟏b)(\mathbf{1} - b)' ada.

Bukti.

Petunjuk bukti. Untuk arah sebaliknya pada (a), tinjau a+caca + c - ac, dengan c=𝟏(𝟏a)1c = \mathbf{1} - (\mathbf{1} - a)^{-1}. ◻

Proposisi 12.4.4.

Suatu elemen aa dari aljabar Banach AA bersifat kuasi-invertibel jika dan hanya jika elemen itu bukan merupakan identitas terhadap ideal modular maksimal mana pun dalam AA.

Proposisi 12.4.5.

Misalkan AA aljabar Banach dan aAa \in A. Jika ρ(a)<1\rho(a) < 1, maka aa' ada dan a=k=1aka' = -\sum_{k=1}^\infty a^k.

Proposisi 12.4.6.

Misalkan AA aljabar Banach dan aAa \in A. Jika a<1\lVert a\rVert < 1, maka aa' ada dan a1+aaa1a.\frac{\lVert a\rVert}{1 + \lVert a\rVert} \le \lVert a'\rVert \le \frac{\lVert a\rVert}{1 - \lVert a\rVert}.

Proposisi 12.4.7.

Misalkan AA aljabar Banach beridentitas dan aAa \in A. Jika ρ(𝟏a)<1\rho(\mathbf{1} - a) < 1, maka aa invertibel dalam AA.

Proposisi 12.4.8.

Misalkan AA aljabar Banach dan aa, bAb \in A. Jika bb' ada dan a<(1+b)1\lVert a\rVert < (1 + \lVert b'\rVert)^{-1}, maka (a+b)(a + b)' ada dan (a+b)ba(1+b)21a(1+b).\lVert(a + b)' - b'\rVert \le \frac{\lVert a\rVert\,(1 + \lVert b'\rVert)^2}{1 - \lVert a\rVert\,(1 + \lVert b'\rVert)}\,.

Bukti.

Petunjuk bukti. Tunjukkan terlebih dahulu bahwa u=(aba)u = (a - b'a)' ada dan bahwa u+bubu + b' - ub' adalah kuasi-invers kiri bagi a+ba~+~b.  ◻

Bandingkan hasil berikut dengan proposisi 8.1.33 dan 8.1.34.

Proposisi 12.4.9.

Himpunan QAQ_A yang terdiri atas elemen-elemen kuasi-invertibel dari aljabar Banach AA adalah himpunan terbuka dalam AA, dan pemetaan aaa \mapsto a' merupakan homeomorfisme dari QAQ_A ke dirinya sendiri.

Notasi 12.4.10.

Jika aa dan bb adalah elemen dalam suatu aljabar, kita definisikan ab:=a+baba \circ b := a + b - ab.

Proposisi 12.4.11.

Jika AA aljabar, maka QAQ_A merupakan grup terhadap \circ.

Proposisi 12.4.12.

Jika AA aljabar Banach beridentitas dan invA\mathop{\mathrm{inv}}A adalah himpunan elemen-elemen invertibelnya, maka Ψ:QAinvA:a𝟏a\Psi\colon Q_A \rightarrow\mathop{\mathrm{inv}}A\colon a \mapsto \mathbf{1} - a merupakan isomorfisme.

Definisi 12.4.13.

Jika AA aljabar dan aAa \in A, kita definisikan spektrum-q dari aa dalam AA dengan σ̆A(a):={λ:λ0 dan aλQA}{0}.\breve{\sigma}_A(a) := \{\lambda \in \mathbb{C}\colon \lambda \ne 0 \text{ dan } \dfrac a\lambda \notin Q_A\}\cup\{0\}.

Dalam aljabar beridentitas, definisi di atas “hampir” merupakan definisi yang biasa.

Proposisi 12.4.14.

Misalkan AA aljabar beridentitas dan aAa \in A. Maka untuk setiap λ0\lambda \ne 0, berlaku λσ(a)\lambda \in \sigma(a) jika dan hanya jika λσ̆(a)\lambda \in \breve{\sigma}(a).

Proposisi 12.4.15.

Jika aljabar AA tak beridentitas dan aAa \in A, maka σ̆A(a)=σ̆Ã(a)\breve{\sigma}_A(a) = \breve{\sigma}_{\widetilde{A}}(a), dengan Ã\widetilde{A} adalah unitalisasi dari AA.

Elemen Positif dalam Aljabar-C*C^*

Definisi 12.5.1.

Suatu elemen swaadjoin aa dari aljabar-C*C^* AA disebut positif jika σ(a)[0,)\sigma(a) \subseteq [0,\infty). Dalam hal ini kita tulis a𝟎a \ge \mathbf{0}. Kita lambangkan himpunan semua elemen positif dari AA dengan A+A^+. Himpunan ini adalah kerucut positif dari AA. Untuk setiap himpunan bagian BB dari AA, misalkan B+=BA+B^+ = B \cap A^+. Kita akan menggunakan kerucut positif untuk menginduksi suatu urutan parsial pada AA: kita tulis aba \le b apabila baA+b - a \in A^+.

Definisi 12.5.2.

Misalkan \le suatu relasi pada himpunan tak kosong SS. Jika relasi \le bersifat refleksif dan transitif, relasi tersebut adalah suatu praurutan. Jika \le adalah praurutan dan juga antisimetris, relasi tersebut adalah suatu urutan parsial.

Suatu urutan parsial \le pada ruang vektor riil VV kompatibel dengan (atau menghormati) operasi-operasi (penjumlahan dan perkalian skalar) pada VV jika untuk semua xx, yy, zVz \in V

  1. xyx \le y mengakibatkan x+zy+zx+z \le y+z, dan

  2. xyx \le y, α0\alpha \ge 0 mengakibatkan αxαy\alpha x \le \alpha y.

Suatu ruang vektor riil yang dilengkapi dengan urutan parsial yang kompatibel dengan operasi-operasi ruang vektor disebut ruang vektor terurut.

Definisi 12.5.3.

Misalkan VV ruang vektor. Suatu himpunan bagian CC dari VV adalah kerucut dalam VV jika αCC\alpha C \subseteq C untuk setiap α0\alpha \ge 0. Suatu kerucut CC dalam VV disebut proper jika C(C)={𝟎}C \cap (-C) = \{\mathbf{0}\}.

Proposisi 12.5.4.

Suatu kerucut CC dalam ruang vektor bersifat konveks jika dan hanya jika C+CCC + C \subseteq C.

Contoh 12.5.5.

Jika VV ruang vektor terurut, maka himpunan V+:={xV:x𝟎}V^+ := \{x \in V \colon x \ge \mathbf{0}\} adalah kerucut konveks proper dalam VV. Himpunan ini adalah kerucut positif dari VV, dan anggota-anggotanya adalah elemen positif dari VV.

Proposisi 12.5.6.

Misalkan VV ruang vektor riil dan CC kerucut konveks proper dalam VV. Definisikan xyx \le y jika yxCy - x \in C. Maka relasi \le adalah urutan parsial pada VV dan kompatibel dengan operasi-operasi ruang vektor pada VV. Relasi ini adalah urutan parsial yang diinduksi oleh kerucut CC. Kerucut positif V+V^+ dari ruang vektor terurut yang dihasilkan tepat sama dengan CC.

Proposisi 12.5.7.

Jika aa adalah elemen swaadjoin dari suatu aljabar-C*C^* beridentitas dan tt \in \mathbb{R}, maka

  1. a𝟎a \ge \mathbf{0} apabila at𝟏t\lVert a - t\mathbf{1}\rVert \le t; dan

  2. at𝟏t\lVert a - t\mathbf{1}\rVert \le t apabila at\lVert a\rVert \le t dan a𝟎a \ge \mathbf{0}.

Contoh 12.5.8.

Kerucut positif dari suatu aljabar-C*C^* AA adalah kerucut konveks proper tertutup dalam ruang vektor riil (A)\mathfrak{H}(A).

Proposisi 12.5.9.

Jika aa dan bb adalah elemen positif dari suatu aljabar-C*C^* dan ab=baab = ba, maka abab positif.

Proposisi 12.5.10.

Setiap elemen positif dari suatu aljabar-C*C^* AA memiliki akar pangkat nn positif yang tunggal (nn \in \mathbb{N}). Artinya, jika aA+a \in A^+, maka terdapat tepat satu bA+b \in A^+ sedemikian sehingga bn=ab^n = a.

Bukti.

Proof. Petunjuk. Bagian eksistensi merupakan penerapan sederhana kalkulus fungsional C*C^* (yaitu, teorema spektral abstrak 11.5.5). Elemen bb yang diberikan oleh kalkulus fungsional bersifat positif dalam aljabar C*(𝟏,a)C^*(\mathbf{1},a). Jelaskan mengapa elemen itu juga positif dalam AA. Argumen keunikan memerlukan perhatian yang saksama. ◻

Teorema 12.5.11.

Jika cc adalah elemen swaadjoin dari suatu aljabar-C*C^* AA, maka terdapat elemen-elemen positif c+c^+ dan cc^- dalam AA sedemikian sehingga c=c+cc = c^+ - c^- dan c+c=𝟎c^+c^- = \mathbf{0}.

Lema 12.5.12.

Jika cc adalah elemen dari suatu aljabar-C*C^* sedemikian sehingga c*c𝟎-c^*c \ge \mathbf{0}, maka c=𝟎c = \mathbf{0}.

Proposisi 12.5.13.

Jika aa adalah elemen dari suatu aljabar-C*C^*, maka a*a𝟎a^*a \ge \mathbf{0}.

Proposisi 12.5.14.

Jika cc adalah elemen dari suatu aljabar-C*C^* AA, maka pernyataan-pernyataan berikut ekuivalen:

  1. c𝟎c \ge \mathbf{0};

  2. terdapat b𝟎b \ge \mathbf{0} sedemikian sehingga c=b2c = b^2; dan

  3. terdapat aAa \in A sedemikian sehingga c=a*ac = a^*a,

Contoh 12.5.15.

Jika TT operator pada ruang Hilbert HH, maka TT merupakan elemen positif dari aljabar-C*C^* 𝔅(H)\mathfrak{B}(H) jika dan hanya jika Tx,x0\langle Tx,x \rangle \ge 0 untuk setiap xHx \in H.

Bukti.

Petunjuk bukti. Mudah untuk menunjukkan bahwa jika T𝟎T \ge \mathbf{0} dalam 𝔅(H)\mathfrak{B}(H), maka Tx,x0\langle Tx,x \rangle \ge 0 untuk setiap xHx \in H: gunakan proposisi 12.5.14 untuk menuliskan TT sebagai S*SS^*S bagi suatu operator SS.

Sebaliknya, andaikan Tx,x0\langle Tx,x \rangle \ge 0 untuk setiap xHx \in H. Mudah dilihat bahwa ini mengakibatkan TT swaadjoin. Gunakan teorema dekomposisi Jordan 12.5.11 untuk menuliskan TT sebagai T+TT^+ - T^-. Untuk sembarang uHu \in H, misalkan x=Tux = T^-u dan periksa bahwa 0Tx,x=(T)3u,u0 \le \langle Tx,x \rangle = -\langle (T^-)^3u,u \rangle. Sekarang (T)3(T^-)^3 adalah elemen positif dari 𝔅(H)\mathfrak{B}(H). (Mengapa?) Simpulkan bahwa (T)3=𝟎(T^-)^3 = \mathbf{0} dan karena itu T=𝟎T^- = \mathbf{0}. (Untuk rincian tambahan, lihat [11], halaman 37.) ◻

Definisi 12.5.16.

Untuk sembarang elemen aa dari suatu aljabar-C*C^*, kita definisikan |a|\lvert a\rvert sebagai a*a\sqrt{a^*a}.

Proposisi 12.5.17.

Jika aa adalah elemen swaadjoin dari suatu aljabar-C*C^*, maka |a|=a++a.\lvert a\rvert = a^+ + a^-\,.

Contoh 12.5.18.

Nilai mutlak dalam suatu aljabar-C*C^* tidak harus subaditif; yaitu, |a+b|\lvert a + b\rvert tidak harus lebih kecil daripada |a|+|b|\lvert a\rvert + \lvert b\rvert. Sebagai contoh, dalam 𝑴2()\mathbf{M}_{2}({\mathbb{C}}), ambil a=[1111]a = \begin{bmatrix} 1 & 1 \\ 1 & 1 \end{bmatrix} dan b=[0002]b = \begin{bmatrix} 0 & 0 \\ 0 & -2 \end{bmatrix}. Maka |a|=a\lvert a\rvert = a, |b|=[0002]\lvert b\rvert = \begin{bmatrix} 0 & 0 \\ 0 & 2 \end{bmatrix}, dan |a+b|=[2002]\lvert a + b\rvert = \begin{bmatrix} \sqrt{2} & 0 \\ 0 & \sqrt{2} \end{bmatrix}. Jika |a+b||a||b|\lvert a + b\rvert - \lvert a\rvert - \lvert b\rvert positif, maka, berdasarkan contoh 12.5.15, (|a+b||a||b|)x,x\langle\,(\lvert a + b\rvert - \lvert a\rvert - \lvert b\rvert)\,x\,,\,x\,\rangle akan positif untuk setiap vektor x2x \in \mathbb{C}^2. Namun, hal ini tidak benar untuk x=(1,0)x = (1,0).

Proposisi 12.5.19.

Jika ϕ:AB\phi\colon A \rightarrow B adalah homomorfisme-**\, antara aljabar-C*C^*, maka ϕ(a)B+\phi(a) \in B^+ apabila aA+a \in A^+. Jika ϕ\phi adalah isomorfisme-**\,, maka ϕ(a)B+\phi(a) \in B^+ jika dan hanya jika aA+a \in A^+.

Proposisi 12.5.20.

Misalkan aa elemen swaadjoin dari suatu aljabar-C*C^* AA dan ff fungsi kontinu bernilai kompleks pada spektrum aa. Maka f𝟎f \ge \mathbf{0} dalam 𝒞(σ(a))\mathcal{C}(\sigma(a)) jika dan hanya jika f(a)𝟎f(a) \ge \mathbf{0} dalam AA.

Proposisi 12.5.21.

Jika aa adalah elemen swaadjoin dari suatu aljabar-C*C^* AA, maka a𝟏ña𝟎\lVert a\rVert\,\mathbf{1}_{\widetilde{A}} \pm a \ge \mathbf{0} dalam Ã\widetilde{A}.

Proposisi 12.5.22.

Jika aa dan bb adalah elemen swaadjoin dari suatu aljabar-C*C^* AA dan aba \le b, maka x*axx*bxx^*ax \le x^*bx untuk setiap xAx \in A.

Proposisi 12.5.23.

Jika aa dan bb adalah elemen dari suatu aljabar-C*C^* dengan 0ab0 \le a \le b, maka ab\lVert a\rVert \le \lVert b\rVert.

Proposisi 12.5.24.

Misalkan AA aljabar-C*C^* beridentitas dan cA+c \in A^+. Maka cc invertibel jika dan hanya jika cϵ𝟏c \ge \epsilon\mathbf{1} untuk suatu ϵ>0\epsilon > 0.

Proposisi 12.5.25.

Misalkan AA aljabar-C*C^* beridentitas dan cAc \in A. Jika c𝟏c \ge \mathbf{1}, maka cc invertibel dan 𝟎c1𝟏\mathbf{0} \le c^{-1} \le \mathbf{1}.

Proposisi 12.5.26.

Jika aa adalah elemen positif yang invertibel dalam suatu aljabar-C*C^* beridentitas, maka a1a^{-1} positif.

Selanjutnya kita tunjukkan bahwa notasi a12a^{{\scriptscriptstyle{-\frac 12}}} tidak ambigu.

Proposisi 12.5.27.

Misalkan aA+a \in A^+, dengan AA aljabar-C*C^* beridentitas. Jika aa invertibel, maka a12a^{{\scriptscriptstyle{\frac 12}}} juga invertibel dan (a12)1=(a1)12\bigl(a^{{\scriptscriptstyle{\frac 12}}}\bigr)^{-1} = \bigl(a^{-1}\bigr)^{{\scriptscriptstyle{\frac 12}}}.

Akibat 12.5.28.

Jika aa adalah elemen invertibel dalam suatu aljabar-C*C^* beridentitas, maka |a|\lvert a\rvert juga invertibel.

Proposisi 12.5.29.

Misalkan aa dan bb adalah elemen dari suatu aljabar-C*C^*. Jika 𝟎ab\mathbf{0} \le a \le b dan aa invertibel, maka bb invertibel dan b1a1b^{-1} \le a^{-1}.

Proposisi 12.5.30.

Jika aa dan bb adalah elemen dari suatu aljabar-C*C^* dan 𝟎ab\mathbf{0} \le a \le b, maka ab\sqrt a \le \sqrt b.

Contoh 12.5.31.

Misalkan aa dan bb elemen dari suatu aljabar-C*C^* dengan 𝟎ab\mathbf{0} \le a \le b. Tidak selalu berlaku bahwa a2b2a^2 \le b^2.

Bukti.

Petunjuk bukti. Dalam aljabar-C*C^* 𝑴2\mathbf M_2, misalkan a=[1000]a = \begin{bmatrix} 1 & 0 \\ 0 & 0 \end{bmatrix} dan b=a+12[1111]b = a + \tfrac12 \begin{bmatrix} 1 & 1 \\ 1 & 1 \end{bmatrix}. ◻

Identitas Aproksimatif

Definisi 12.6.1.

Suatu identitas aproksimatif (atau unit aproksimatif) dalam suatu aljabar-C*C^* AA adalah jaring menaik (eλ)λΛ{(e_\lambda)}_{\lambda \in \Lambda} yang terdiri atas elemen-elemen positif dari AA sedemikian sehingga eλ1\lVert e_\lambda\rVert \le 1 dan aeλaae_\lambda \rightarrow a (secara ekuivalen, eλaae_\lambda\, a \rightarrow a) untuk setiap aAa \in A. Jika jaring tersebut ternyata merupakan barisan, kita memperoleh identitas aproksimatif sekuensial. Dalam literatur, berhati-hatilah terhadap definisi yang beragam: banyak penulis menghilangkan syarat bahwa jaring tersebut menaik dan/atau bahwa jaring itu terbatas.

Contoh 12.6.2.

Misalkan A=𝒞0()A = \mathcal{C}_0(\mathbb{R}). Untuk setiap nn \in \mathbb{N}, misalkan Un=(n,n)U_n = (-n,n) dan en:[0,1]e_n\colon \mathbb{R}\rightarrow[0,1] suatu fungsi dalam AA yang dukungannya termuat dalam Un+1U_{n+1} dan sedemikian sehingga en(x)=1e_n(x) = 1 untuk setiap xUnx \in U_n. Maka (en)(e_n) adalah identitas aproksimatif (sekuensial) bagi AA.

Proposisi 12.6.3.

Jika AA adalah aljabar-C*C^*, maka himpunan Λ:={aA+:a<1}\Lambda := \{a \in A^+\colon \lVert a\rVert < 1\} merupakan himpunan terarah (terhadap urutan yang diwarisinya dari (A)\mathfrak{H}(A)).

Bukti.

Petunjuk bukti. Periksa bahwa fungsi f:[0,1)+:t(1t)11=t1tf\colon [0,1) \rightarrow\mathbb{R}^+\colon t \mapsto (1 - t)^{-1} - 1 = \frac t{1 - t} menginduksi isomorfisme urutan f:ΛA+f\colon \Lambda \rightarrow A^+. (Suatu isomorfisme urutan antara himpunan-himpunan terurut parsial adalah bijeksi yang mempertahankan urutan, yang inversnya juga mempertahankan urutan.) Bukti yang saksama untuk hasil ini melibatkan pemeriksaan terhadap cukup banyak rincian. ◻

Proposisi 12.6.4.

Jika AA adalah aljabar-C*C^*, maka himpunan Λ:={aA+:a<1}\Lambda := \{a \in A^+\colon \lVert a\rVert < 1\} merupakan identitas aproksimatif bagi AA.

Akibat 12.6.5.

Setiap aljabar-C*C^* AA memiliki identitas aproksimatif. Jika AA separabel, maka AA memiliki identitas aproksimatif sekuensial.

Proposisi 12.6.6.

Setiap ideal aljabar (dua sisi) tertutup dalam suatu aljabar-C*C^* bersifat swaadjoin.

Proposisi 12.6.7.

Jika JJ ideal dalam suatu aljabar-C*C^* AA, maka A/JA/J adalah aljabar-C*C^*.

Bukti.

Proof. Lihat [27], teorema 1.7.4, atau [10], halaman 13–14, atau [18], teorema 2.5.4. ◻

Contoh 12.6.8.

Jika JJ ideal dalam suatu aljabar-C*C^* AA, maka barisan 𝟎JAπA/J𝟎\mathbf{0} \to J \to A \to^\pi A/J \to \mathbf{0} adalah barisan eksak pendek.

Proposisi 12.6.9.

Jangkauan suatu homomorfisme-** antara aljabar-C*C^* bersifat tertutup (dan karena itu merupakan aljabar-C*C^*).

Definisi 12.6.10.

Suatu subaljabar-C*C^* BB dari aljabar-C*C^* AA disebut herediter jika aBa \in B setiap kali aAa \in A, bBb \in B, dan 𝟎ab\mathbf{0} \le a \le b.

Proposisi 12.6.11.

Andaikan x*xax^*x \le a dalam suatu aljabar-C*C^* AA. Maka terdapat bAb \in A sedemikian sehingga x=ba14x = ba^{\frac14} dan ba14\lVert b\rVert \le {\lVert a\rVert}^\frac14.

Bukti.

Proof. Lihat [10], halaman 13. ◻

Proposisi 12.6.12.

Andaikan JJ ideal dalam suatu aljabar-C*C^* AA, jJ+j \in J^+, dan a*aja^*a \le j. Maka aJa \in J. Jadi, ideal-ideal dalam aljabar-C*C^* bersifat herediter.

Teorema 12.6.13.

Misalkan AA dan BB aljabar-C*C^* dan JJ ideal dalam AA.
Jika ϕ\phi homomorfisme-**\, dari AA ke BB dan kerϕJ\ker\phi \supseteq J, maka terdapat tepat satu homomorfisme-**\, ϕ̃:A/JB\widetilde\phi\colon A/J \rightarrow B yang membuat diagram berikut komutatif.

Segitiga teorema hasil bagi untuk aljabar C-bintang. Pemetaan hasil bagi pi berjalan dari A ke A per J, homomorfisme bintang phi dari A ke B, dan satu-satunya homomorfisme bintang phi tilde dari A per J ke B. Segitiga komutatif: phi sama dengan phi tilde setelah pi.

Segitiga teorema hasil bagi untuk aljabar C-bintang. Pemetaan hasil bagi pi berjalan dari A ke A per J, homomorfisme bintang phi dari A ke B, dan satu-satunya homomorfisme bintang phi tilde dari A per J ke B. Segitiga komutatif: phi sama dengan phi tilde setelah pi.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

Selain itu, ϕ̃\widetilde\phi injektif jika dan hanya jika kerϕ=J\ker\phi = J; dan ϕ̃\widetilde\phi surjektif jika dan hanya jika ϕ\phi surjektif.

Akibat 12.6.14.

Jika 𝟎AϕEB𝟎\mathbf{0} \to A \to^\phi E \to B \to \mathbf{0} adalah barisan eksak pendek dari aljabar-C*C^*, maka E/ranϕE/\mathop{\mathrm{ran}}\phi dan BB isomorfik-**\, secara isometrik.

Akibat 12.6.15.

Setiap aljabar-C*C^* AA memiliki kodimensi satu dalam unitalisasinya Ã\widetilde{A}; yaitu, dimÃ/A=1\dim \widetilde{A}/A = 1.

Proposisi 12.6.16.

Misalkan AA aljabar-C*C^*, BB subaljabar-C*C^* dari AA, dan JJ ideal dalam AA. Maka B/(BJ)(B+J)/J.B/(B \cap J) \cong (B + J)/J\,.

Misalkan BB subaljabar beridentitas dari suatu aljabar sembarang AA. Jelas bahwa jika suatu elemen bBb \in B invertibel dalam BB, maka elemen itu juga invertibel dalam AA. Ternyata konversnya benar dalam aljabar-C*C^*: jika bb invertibel dalam AA, maka inversnya terletak dalam BB. Hal ini biasanya dinyatakan dengan mengatakan bahwa setiap subaljabar-C*C^* beridentitas dari suatu aljabar-C*C^* bersifat tertutup terhadap invers.

Proposisi 12.6.17.

Misalkan BB subaljabar-C*C^* beridentitas dari suatu aljabar-C*C^* AA. Jika binv(A)b \in \mathop{\mathrm{inv}}(A), maka b1Bb^{-1} \in B.

Akibat 12.6.18.

Misalkan BB subaljabar-C*C^* beridentitas dari suatu aljabar-C*C^* AA dan bBb \in B. Maka σB(b)=σA(b).\sigma_B(b) = \sigma_A(b)\,.

Akibat 12.6.19.

Misalkan ϕ:AB\phi\colon A \rightarrow B adalah monomorfisme-C*C^* beridentitas dari suatu aljabar-C*C^* AA dan aAa \in A. Maka σ(a)=σ(ϕ(a)).\sigma(a) = \sigma(\phi(a))\,.