Bab 3 · Ruang Linear Bernorma

Norma

Dalam dunia analisis, penghuni yang paling dominan adalah ruang fungsi, yakni ruang vektor yang terdiri atas fungsi-fungsi bernilai real atau kompleks. Agar menarik bagi seorang analis, ruang semacam itu harus dilengkapi dengan suatu topologi. Sering kali topologi tersebut merupakan topologi metrik, yang pada gilirannya kerap berasal dari suatu norma (lihat proposisi 1.2.17).

Contoh 3.1.1.

Untuk x=(x1,,xn)𝕂nx = (x_1,\dots, x_n) \in \mathbb{K}^n, misalkan x=(k=1n|xk|2)1/2\lVert x\rVert = \left(\sum_{k=1}^n {\lvert x_k\rvert}^2\right)^{1/2}. Ini adalah norma biasa (atau norma Euklides) pada 𝕂n\mathbb{K}^n; kecuali jika secara eksplisit dinyatakan sebaliknya, ketika dipandang sebagai ruang linear bernorma, 𝕂n\mathbb{K}^n selalu dianggap memiliki norma ini. Jelas bahwa norma ini menginduksi metrik biasa (Euklides) pada 𝕂n\mathbb{K}^n.

Contoh 3.1.2.

Untuk x=(x1,,xn)𝕂nx = (x_1,\dots,x_n) \in \mathbb{K}^n, misalkan x1=k=1n|xk|\lVert x\rVert_1 = \sum_{k=1}^n \lvert x_k\rvert. Mudah dilihat bahwa fungsi xx1x \mapsto \lVert x\rVert_1 merupakan norma pada 𝕂n\mathbb{K}^n. Norma ini kadang-kadang disebut norma-11 pada 𝕂n\mathbb{K}^n. Norma ini menginduksi apa yang disebut metrik taksi pada 2\mathbb{R}^2.

Dari enam contoh berikutnya, contoh terakhir adalah yang paling umum. Perhatikan bahwa semua contoh lainnya merupakan kasus khususnya atau subruang dari kasus-kasus khususnya.

Contoh 3.1.3.

Untuk x=(x1,,xn)𝕂nx = (x_1,\dots,x_n) \in \mathbb{K}^n, misalkan x=max{|xk|:1kn}\lVert x\rVert_\infty = \max\{\,\lvert x_k\rvert \colon 1 \le k \le n\}. Ini mendefinisikan suatu norma pada 𝕂n\mathbb{K}^n; norma tersebut adalah norma seragam pada 𝕂n\mathbb{K}^n. Norma ini menginduksi metrik seragam pada 𝕂n\mathbb{K}^n. Notasi alternatif untuk x\lVert x\rVert_\infty adalah xU\lVert x\rVert_U.

Contoh 3.1.4.

Himpunan ll_\infty dari semua barisan bilangan kompleks yang terbatas jelas merupakan ruang vektor di bawah operasi penjumlahan dan perkalian skalar titik demi titik. Untuk x=(x1,x2,)lx = (x_1,x_2,\dots) \in l_\infty, misalkan x=sup{|xk|:1k}\lVert x\rVert_\infty = \sup\{\,\lvert x_k\rvert \colon 1 \le k\}. Ini mendefinisikan suatu norma pada ll_\infty; norma tersebut adalah norma seragam pada ll_\infty.

Contoh 3.1.5.

Salah satu subruang dari 3.1.4 adalah ruang cc yang terdiri atas semua barisan bilangan kompleks yang konvergen. Di bawah norma seragam, ruang ini merupakan ruang linear bernorma.

Contoh 3.1.6.

Di dalam cc terdapat ruang linear bernorma lain yang menarik, yaitu c0c_{{}_{\scriptstyle{0}}} yakni ruang semua barisan bilangan kompleks yang konvergen ke nol (sekali lagi dengan norma seragam).

Contoh 3.1.7.

Misalkan SS suatu himpunan tak kosong. Jika ff merupakan fungsi bernilai 𝕂\mathbb{K} yang terbatas pada SS, misalkan fu:=sup{|f(x)|:xS}.\lVert f\rVert_u := \sup\{\lvert f(x)\rvert \colon x \in S\}\,. Ini adalah norma pada ruang vektor (S)\mathcal{B}(S) dari semua fungsi skalar yang terbatas pada SS dan disebut norma seragam. Jelas bahwa norma ini menghasilkan metrik seragam pada (S)\mathcal{B}(S). Perhatikan bahwa contoh 3.1.3 dan 3.1.4 merupakan kasus khusus dari contoh ini. (Ambil S=n:={1,2,,n}S = \mathbb{N}_n := \{1,2,\dots,n\} atau S=S = \mathbb{N}.)

Contoh 3.1.8.

Mudah untuk membuat perumuman yang cukup luas atas contoh sebelumnya dengan mengganti medan 𝕂\mathbb{K} dengan ruang linear bernorma sebarang. Maka, misalkan SS suatu himpunan tak kosong dan VV suatu ruang linear bernorma. Untuk ff dalam ruang vektor (S,V)\mathcal{B}(S,V) dari semua fungsi bernilai VV yang terbatas pada SS, misalkan fu:=sup{f(x):xS}.\lVert f\rVert_u := \sup\{\lVert f(x)\rVert \colon x \in S\}\,. Maka ini adalah suatu norma dan disebut norma seragam pada (S,V)\mathcal{B}(S,V). (Mengapa kata “mudah” dalam kalimat pertama contoh ini tepat digunakan?)

Definisi 3.1.9.

Misalkan SS suatu himpunan, VV suatu ruang linear bernorma, dan (S,V)\mathcal{F}(S,V) ruang vektor dari semua fungsi bernilai VV pada SS. Perhatikan suatu barisan (fn)(f_n) dari fungsi-fungsi dalam (S,V)\mathcal{F}(S,V). Jika terdapat fungsi gg dalam (S,V)\mathcal{F}(S,V) sedemikian sehingga sup{fn(x)g(x):xS}0ketika n,\sup\{\lVert f_n(x) - g(x)\rVert\colon x \in S\} \rightarrow 0 \quad \text{ketika $n \rightarrow\infty$,} maka kita mengatakan bahwa barisan (fn)(f_n) konvergen seragam ke gg dan menulis fng(unif)f_n \rightarrow g \text{\,(unif)}. Fungsi gg adalah limit seragam dari barisan (fn)(f_n). Perhatikan bahwa jika gg dan semua fnf_n termasuk dalam (S,V)\mathcal{B}(S,V), maka konvergensi seragam (fn)(f_n) ke gg tidak lain adalah konvergensi (fn)(f_n) ke gg terhadap metrik seragam.

Ada banyak cara barisan fungsi dapat konvergen. Boleh dikatakan bahwa dua ragam konvergensi yang paling umum adalah konvergensi seragam, yang baru saja kita bahas, dan konvergensi titik demi titik.

Definisi 3.1.10.

Misalkan SS suatu himpunan, VV suatu ruang linear bernorma, dan (fn)(f_n) suatu barisan dalam (S,V)\mathcal{F}(S,V). Jika terdapat fungsi gg sedemikian sehingga fn(x)g(x)untuk semua xS,f_n(x) \rightarrow g(x) \qquad \text{untuk semua $x \in S$}, maka (fn)(f_n) konvergen titik demi titik ke gg. Dalam hal ini kita menulis fng(ptws).f_n \rightarrow g \text{\,(ptws)}. Fungsi gg adalah limit titik demi titik dari fungsi-fungsi fnf_n.

Jika (fn)(f_n) merupakan barisan naik dari fungsi-fungsi bernilai real (atau real diperluas) dan fng(ptws)f_n \rightarrow g \text{\,(ptws)}, kita menulis fng(ptws)f_n \uparrow g \text{\,(ptws)}. Dan jika (fn)(f_n) menurun serta memiliki gg sebagai limit titik demi titik, kita menulis fng(ptws)f_n \downarrow g \text{\,(ptws)}.

Hubungan paling jelas antara kedua jenis konvergensi ini, yang dikenal dari setiap mata kuliah analisis real, adalah bahwa konvergensi seragam mengakibatkan konvergensi titik demi titik.

Proposisi 3.1.11.

Misalkan SS suatu himpunan dan VV suatu ruang linear bernorma. Jika barisan (fn)(f_n) dalam (S,V)\mathcal{F}(S,V) konvergen seragam ke suatu fungsi gg dalam (S,V)\mathcal{F}(S,V), maka (fn)(f_n) konvergen titik demi titik ke gg.

Kebalikannya tidak benar.

Contoh 3.1.12.

Untuk setiap nn \in \mathbb{N}, misalkan fn:[0,1]:xxnf_n\colon [0,1] \rightarrow\mathbb{R}\colon x \mapsto x^n. Maka barisan (fn)(f_n) konvergen titik demi titik pada [0,1][0,1], tetapi tidak konvergen seragam.

Contoh 3.1.13.

Untuk setiap nn \in \mathbb{N} dan setiap x+x \in \mathbb{R}^+, misalkan fn(x)=1nxf_n(x) = \frac1n\, x. Maka pada setiap interval berbentuk [0,a][0,a] dengan a>0a > 0, barisan (fn)(f_n) konvergen seragam ke fungsi konstan 00. Pada interval [0,)[0,\infty), barisan itu konvergen titik demi titik ke 00, tetapi tidak konvergen seragam.

Ingat pula dari analisis real bahwa limit seragam dari fungsi-fungsi terbatas juga harus terbatas.

Proposisi 3.1.14.

Misalkan SS suatu himpunan, VV suatu ruang linear bernorma, (fn)(f_n) suatu barisan dalam (S,V)\mathcal{B}(S,V), dan gg suatu anggota (S,V)\mathcal{F}(S,V). Jika fng(unif)f_n \rightarrow g\text{\,(unif)}, maka gg terbatas.

Dan limit seragam dari fungsi-fungsi kontinu bersifat kontinu.

Proposisi 3.1.15.

Misalkan XX suatu ruang topologis, VV suatu ruang linear bernorma, (fn)(f_n) suatu barisan fungsi kontinu bernilai VV pada XX, dan gg suatu anggota (X,V)\mathcal{F}(X,V). Jika fng(unif)f_n \rightarrow g\text{\,(unif)}, maka gg kontinu.

Proposisi 3.1.16.

Jika xx dan yy merupakan unsur dari suatu ruang vektor VV yang dilengkapi dengan norma \lVert\mathord{\cdot}\rVert, maka |xy|xy.\left\lvert\,\lVert x\rVert - \lVert y\rVert\,\right\rvert \le \lVert x - y\rVert\,.

Akibat 3.1.17.

Norma pada suatu ruang linear bernorma merupakan fungsi kontinu seragam.

Notasi 3.1.18.

Misalkan MM suatu ruang metrik, aMa \in M, dan r>0r > 0. Kita menyatakan {xM:d(x,a)<r}\{x \in M\colon d(x,a) < r\}, yaitu bola terbuka berjari-jari rr yang berpusat di aa, dengan Br(a)B_r(a). Demikian pula, kita menyatakan {xM:d(x,a)r}\{x \in M\colon d(x,a) \le r\}, yaitu bola tertutup berjari-jari rr yang berpusat di aa, dengan Cr(a)C_r(a), dan {xM:d(x,a)=r}\{x \in M\colon d(x,a) = r\}, yaitu sfer berjari-jari rr yang berpusat di aa, dengan Sr(a)S_r(a). Jika ruang metrik tersebut memiliki titik yang ditandai sebagai nol (khususnya, jika ruang itu merupakan ruang linear bernorma), kita menggunakan BrB_r, CrC_r, dan SrS_r masing-masing sebagai singkatan untuk Br(0)B_r(0), Cr(0)C_r(0), dan Sr(0)S_r(0).

Proposisi 3.1.19.

Jika VV merupakan ruang linear bernorma, xVx \in V, dan rr, s>0s > 0, maka

  1. Br(𝟎)=Br(𝟎)B_r(\mathbf{0}) = -B_r(\mathbf{0});

  2. Brs(𝟎)=rBs(𝟎)B_{rs}(\mathbf{0}) = rB_s(\mathbf{0});

  3. x+Br(𝟎)=Br(x)x + B_r(\mathbf{0}) = B_r(x); dan

  4. Br(𝟎)+Br(𝟎)=2Br(𝟎)B_r(\mathbf{0}) + B_r(\mathbf{0}) = 2\,B_r(\mathbf{0}). (Apakah secara umum A+A=2AA + A = 2A apabila AA merupakan subhimpunan dari suatu ruang vektor?)

Definisi 3.1.20.

Jika aa dan bb merupakan vektor dalam ruang vektor VV, maka ruas tertutup antara aa dan bb, yang dinotasikan dengan [a,b][a,b], adalah {(1t)a+tb:0t1}\{(1 - t)a + tb \colon 0 \le t \le 1\}.

Perhatian.

Perhatikan bahwa terdapat sedikit pertentangan antara notasi untuk ruas tertutup ini, ketika diterapkan pada ruang vektor bilangan real \mathbb{R}, dan notasi biasa untuk interval tertutup dalam \mathbb{R}. Dalam \mathbb{R}, ruas tertutup [a,b][a,b] sama dengan interval tertutup [a,b][a,b] asalkan aba \le b. Namun, jika a>ba > b, ruas tertutup [a,b][a,b] sama dengan ruas [b,a][b,a] dan memuat semua bilangan cc sedemikian sehingga bcab \le c \le a, sedangkan interval tertutup [a,b][a,b] kosong.

Definisi 3.1.21.

Subhimpunan CC dari suatu ruang vektor VV disebut konveks jika ruas tertutup [a,b][a,b] termuat dalam CC setiap kali aa, bCb \in C.

Contoh 3.1.22.

Dalam ruang linear bernorma, setiap bola terbuka merupakan himpunan konveks. Demikian pula setiap bola tertutup.

Proposisi 3.1.23.

Irisan suatu keluarga subhimpunan konveks dari ruang vektor bersifat konveks.

Definisi 3.1.24.

Misalkan VV suatu ruang vektor. Ingat bahwa suatu kombinasi linear dari himpunan hingga {x1,,xn}\{x_1, \dots, x_n\} yang terdiri atas vektor-vektor dalam VV adalah vektor berbentuk k=1nαkxk\sum_{k=1}^n \alpha_k x_k, dengan α1,,αn\alpha_1, \dots, \alpha_n \in \mathbb{R}. Jika α1=α2==αn=0\alpha_1 = \alpha_2 = \dots = \alpha_n = 0, maka kombinasi linear tersebut trivial; jika setidaknya satu αk\alpha_k tidak sama dengan nol, kombinasi linear tersebut nontrivial. Suatu kombinasi linear k=1nαkxk\sum_{k=1}^n\alpha_k x_k dari vektor-vektor x1,,xnx_1, \dots, x_n merupakan kombinasi konveks jika αk0\alpha_k \ge 0 untuk setiap kk (1kn1 \le k \le n) dan jika k=1nαk=1\sum_{k=1}^n \alpha_k = 1.

Definisi 3.1.25.

Misalkan AA suatu subhimpunan tak kosong dari ruang vektor VV. Kita mendefinisikan selubung konveks dari AA, yang dinotasikan dengan co(A)\operatorname{co}(A), sebagai subhimpunan konveks terkecil dari VV yang memuat AA.

Definisi sebelumnya seharusnya langsung menimbulkan kecurigaan. Bagaimana kita tahu bahwa ada subhimpunan konveks “terkecil” dari VV yang memuat AA? Salah satu calon yang cukup jelas (mari kita sebut calon “abstrak”) untuk himpunan tersebut adalah irisan dari semua subhimpunan konveks dari VV yang memuat AA. (Tentu saja, ini juga mungkin tidak masuk akal—kecuali kita tahu bahwa terdapat setidaknya satu himpunan konveks dalam VV yang memuat AA dan bahwa irisan keluarga semua himpunan konveks yang memuat AA itu sendiri merupakan himpunan konveks yang memuat AA.) Calon masuk akal lainnya (yang akan kita sebut calon “konstruktif”) adalah himpunan semua kombinasi konveks dari unsur-unsur AA. (Namun, apakah ini suatu himpunan konveks? Dan apakah ini himpunan terkecil yang memuat AA?) Akhirnya, sekalipun kedua pendekatan ini masuk akal, apakah keduanya merupakan definisi yang ekuivalen untuk selubung konveks? Dengan kata lain, apakah keduanya mendefinisikan himpunan yang sama, dan apakah himpunan itu memenuhi definisi 3.1.25?

Proposisi 3.1.26.

Definisi-definisi yang disarankan dalam paragraf sebelumnya, yang diberi nama “abstrak” dan “konstruktif”, masuk akal dan ekuivalen. Selain itu, himpunan yang dideskripsikan oleh keduanya memenuhi definisi selubung konveks yang diberikan dalam 3.1.25.

Proposisi 3.1.27.

Jika T:VWT\colon V \rightarrow W merupakan pemetaan linear antara ruang-ruang vektor dan CC merupakan subhimpunan konveks dari VV, maka T(C)T^{\rightarrow}(C) merupakan subhimpunan konveks dari WW.

Proposisi 3.1.28.

Dalam ruang linear bernorma, tutupan setiap himpunan konveks bersifat konveks.

Proposisi 3.1.29.

Misalkan VV suatu ruang linear bernorma. Untuk setiap aVa \in V, pemetaan Ta:VV:xx+aT_a\colon V \rightarrow V\colon x \mapsto x + a (yang disebut translasi oleh aa) merupakan homeomorfisme.

Akibat 3.1.30.

Jika UU merupakan subhimpunan terbuka tak kosong dari ruang linear bernorma VV, maka UUU - U memuat suatu lingkungan dari 00.

Proposisi 3.1.31.

Jika (xn)(x_n) merupakan barisan dalam ruang linear bernorma dan xnax_n \rightarrow a, maka 1nk=1nxka\displaystyle\frac1n\sum_{k=1}^nx_k~\rightarrow~a.

Dalam proposisi 1.2.15, kita menunjukkan bagaimana suatu hasil kali dalam pada ruang vektor menginduksi norma pada ruang tersebut. Wajar untuk bertanya apakah semua norma dapat dihasilkan dengan cara ini dari suatu hasil kali dalam. Jawabannya adalah tidak. Proposisi berikut memberikan syarat perlu dan cukup yang sangat sederhana agar suatu norma berasal dari hasil kali dalam.

Proposisi 3.1.32.

Misalkan VV suatu ruang linear bernorma. Terdapat hasil kali dalam pada VV yang menginduksi norma pada VV jika dan hanya jika norma tersebut memenuhi hukum jajaran genjang 1.2.26.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Untuk membuktikan bahwa jika suatu norma memenuhi hukum jajaran genjang, maka norma itu diinduksi oleh hasil kali dalam, gunakan persamaan yang diberikan dalam identitas polarisasi (proposisi 1.2.28) sebagai definisi. Buktikan terlebih dahulu bahwa y,x=x,y¯\langle y,x \rangle = \overline{\langle x,y \rangle} untuk semua xx, yVy\in V dan bahwa x,x>0\langle x,x \rangle > 0 apabila x0x \ne 0. Selanjutnya, untuk zVz \in V sebarang, definisikan fungsi f:V:xx,zf\colon V \rightarrow\mathbb{C}\colon x \mapsto \langle x,z \rangle. Buktikan bahwa f(x+y)+f(xy)=2f(x)(*)f(x + y) + f(x - y) = 2f(x) \qquad(\ast) untuk semua xx, yVy \in V. Gunakan ini untuk membuktikan bahwa f(αx)=αf(x)f(\alpha x) = \alpha f(x) untuk semua xVx \in V dan α\alpha \in \mathbb{R}. (Mulailah dengan α\alpha berupa bilangan asli.) Kemudian tunjukkan bahwa ff aditif. (Jika uu dan vv merupakan unsur sebarang dari VV, ambil x=u+vx = u + v dan y=uvy = u - v. Gunakan (*)(\ast).) Terakhir, buktikan bahwa f(αx)=αf(x)f(\alpha x) = \alpha f(x) untuk α\alpha kompleks dengan menunjukkan bahwa f(ix)=if(x)f(ix) = i\,f(x) untuk semua xVx \in V. ◻

Definisi 3.1.33.

Misalkan (X,𝔗)(X,\mathfrak{T}) suatu ruang topologis. Suatu keluarga 𝔅𝔗\mathfrak{B} \subseteq \mathfrak{T} merupakan basis untuk 𝔗\mathfrak{T} jika setiap anggota 𝔗\mathfrak{T} merupakan gabungan anggota-anggota 𝔅\mathfrak{B}. Dengan kata lain, keluarga 𝔅\mathfrak{B} dari himpunan-himpunan terbuka merupakan basis untuk 𝔗\mathfrak{T} jika untuk setiap himpunan terbuka UU terdapat subkeluarga 𝔅\mathfrak{B}' dari 𝔅\mathfrak{B} sedemikian sehingga U=𝔅U = \bigcup \mathfrak{B}'.

Contoh 3.1.34.

Pada bidang 2\mathbb{R}^2 dengan topologi biasa (Euklides), keluarga semua bola terbuka dalam ruang tersebut merupakan basis untuk topologinya, karena setiap himpunan terbuka dalam 2\mathbb{R}^2 dapat dinyatakan sebagai gabungan bola-bola terbuka. Bahkan, dalam ruang metrik mana pun, keluarga bola terbuka merupakan basis untuk suatu topologi pada ruang tersebut. Ini adalah topologi yang diinduksi oleh metrik.

Dalam praktiknya (misalnya dalam ruang metrik), sering kali lebih mudah menentukan suatu basis untuk topologi daripada menentukan topologi itu sendiri. Namun, penting untuk menyadari bahwa mungkin terdapat banyak basis yang berbeda untuk topologi yang sama. Setelah suatu basis tertentu dipilih, kita menyebut anggota-anggotanya himpunan terbuka dasar.

Kata “menginduksi” dipandang sebagai relasi transitif. Sebagai contoh, jika diberikan ruang hasil kali dalam VV, tidak seorang pun akan menyebut topologi pada VV yang diinduksi oleh metrik yang diinduksi oleh norma yang diinduksi oleh hasil kali dalam. Orang cukup menyebut topologi pada VV yang diinduksi oleh hasil kali dalam. Kadang-kadang digunakan “dibangkitkan oleh” sebagai pengganti “diinduksi oleh”.

Proposisi 3.1.35.

Misalkan VV suatu ruang vektor dengan dua norma 1\lVert\,\cdot\,\rVert_1 dan 2\lVert\,\cdot\,\rVert_2. Misalkan 𝔗k\mathfrak{T}_k topologi pada VV yang diinduksi oleh k\lVert\,\cdot\,\rVert_k (untuk k=1,2k = 1,2). Jika terdapat konstanta α>0\alpha > 0 sedemikian sehingga x1αx2\lVert x\rVert_1 \le \alpha \lVert x\rVert_2 untuk setiap xVx \in V, maka 𝔗1𝔗2\mathfrak{T}_1 \subseteq \mathfrak{T}_2.

Definisi 3.1.36.

Dua norma pada ruang vektor VV disebut ekuivalen jika terdapat konstanta α\alpha, β>0\beta > 0 sedemikian sehingga untuk semua xVx \in V αx1x2βx1.\alpha\lVert x\rVert_1 \le \lVert x\rVert_2 \le \beta \lVert x\rVert_1\,.

Proposisi 3.1.37.

Jika 1\lVert\mathord{\cdot}\rVert_1 dan 2\lVert\mathord{\cdot}\rVert_2 merupakan norma-norma ekuivalen pada ruang vektor VV, maka keduanya menginduksi topologi yang sama pada VV.

Proposisi 3.1.37 memberi kita syarat cukup yang mudah diperiksa agar dua norma menginduksi topologi yang identik pada ruang vektor. Jadi, misalnya, jika kita hendak menunjukkan bahwa suatu subhimpunan dari ruang linear bernorma bersifat terbuka, boleh jadi pembuktiannya dapat disederhanakan dengan mengganti norma yang diberikan dengan norma ekuivalen.

Demikian pula, andaikan kita hendak memeriksa bahwa suatu fungsi ff antara dua ruang linear bernorma bersifat kontinu. Karena kekontinuan didefinisikan dalam hal himpunan terbuka dan norma-norma ekuivalen menghasilkan himpunan-himpunan terbuka yang persis sama (lihat proposisi 3.1.37), kita bebas mengganti norma pada domain ff dan kodomain ff dengan norma ekuivalen mana pun yang kita kehendaki. Proses ini kadang-kadang dapat sangat menyederhanakan argumen. (Kemungkinan penyederhanaan ini, secara kebetulan, merupakan salah satu keuntungan utama menggunakan definisi topologis untuk kekontinuan sejak awal.)

Definisi 3.1.38.

Misalkan x=(xn)x = (x_n) suatu barisan vektor dalam ruang linear bernorma VV. Deret tak hingga k=1xk\sum_{k=1}^\infty x_k disebut konvergen jika terdapat vektor bVb \in V sedemikian sehingga bsn0\lVert b - s_n\rVert \rightarrow 0 ketika nn \rightarrow\infty, dengan sn=k=1nxks_n = \sum_{k=1}^n x_k sebagai jumlah parsial ke-n\text{ke-}n dari barisan xx. Deret tersebut disebut konvergen mutlak jika k=1xk<\sum_{k=1}^\infty \lVert x_k\rVert < \infty.

Latihan 3.1.39.

Misalkan l1l_1 merupakan himpunan semua barisan x=(xn)x = (x_n) dari bilangan kompleks sedemikian sehingga deret xk\sum x_k konvergen mutlak. Jadikan l1l_1 ruang vektor dengan definisi penjumlahan dan perkalian skalar titik demi titik yang biasa. Untuk setiap xl1x \in l_1, definisikan x1:=k=1|xk|danx:=sup{|xk|:k}.\begin{align*} \lVert x\rVert_1 &:= \sum_{k=1}^\infty \lvert x_k\rvert \\ &\text{dan}\\ \lVert x\rVert_\infty &:= \sup\{\lvert x_k\rvert\colon k \in \mathbb{N}\}. \end{align*} (Masing-masing adalah norma-11 dan norma seragam.) Tunjukkan bahwa 1\lVert\mathord{\cdot}\rVert_1 dan \lVert\mathord{\cdot}\rVert_\infty keduanya merupakan norma pada l1l_1. Kemudian buktikan atau sangkal:

  1. Jika suatu barisan (xi)(x^i) dari vektor-vektor dalam ruang linear bernorma (l1,1)\bigl(l_1, \lVert\mathord{\cdot}\rVert_1\bigr) konvergen, maka barisan tersebut juga konvergen dalam (l1,)\bigl(l_1, \lVert\mathord{\cdot}\rVert_\infty\bigr).

  2. Jika suatu barisan (xi)(x^i) dari vektor-vektor dalam ruang linear bernorma (l1,)\bigl(l_1, \lVert\mathord{\cdot}\rVert_\infty\bigr) konvergen, maka barisan tersebut juga konvergen dalam (l1,1)\bigl(l_1, \lVert\mathord{\cdot}\rVert_1\bigr).

Pemetaan Linear Terbatas

Para analis bekerja dengan objek-objek yang memiliki struktur aljabar sekaligus topologis. Pada bagian sebelumnya kita mengkaji ruang-ruang vektor yang dilengkapi dengan topologi yang berasal dari suatu norma. Jika ruang-ruang itu merupakan objek yang sedang dipertimbangkan, morfisme apakah yang kiranya paling menarik? Jawaban yang masuk akal, dan memang benar, adalah pemetaan yang melestarikan struktur topologis maupun aljabar; yakni, pemetaan linear kontinu. Kategori yang dihasilkan dinotasikan dengan 𝑵𝑳𝑺\mathbf{NLS_{\boldsymbol\infty}}. Secara topologis, isomorfisme dalam kategori ini adalah homeomorfisme.

Berikut adalah suatu syarat yang sangat berguna yang, untuk pemetaan linear, ternyata ekuivalen dengan kekontinuan.

Definisi 3.2.1.

Suatu pemetaan linear T:VWT\colon V \rightarrow W antara ruang-ruang linear bernorma disebut terbatas jika T(B)T(B) merupakan subhimpunan terbatas dari WW setiap kali BB merupakan subhimpunan terbatas dari VV. Dengan kata lain, pemetaan linear terbatas membawa himpunan terbatas ke himpunan terbatas. Kita menyatakan dengan 𝔅(V,W)\mathfrak{B}(V,W) keluarga semua pemetaan linear terbatas dari VV ke WW. Pemetaan linear terbatas dari suatu ruang VV ke dirinya sendiri sering disebut suatu operator (linear terbatas). Keluarga semua operator pada ruang linear bernorma VV dinotasikan dengan 𝔅(V)\mathfrak{B}(V). Kelas ruang linear bernorma bersama pemetaan linear terbatas di antara ruang-ruang tersebut membentuk suatu kategori. Di bawah ini kita memeriksa bahwa kategori ini tidak lain adalah kategori 𝑵𝑳𝑺\mathbf{NLS_{\boldsymbol\infty}}.

Perhatian.

Sangat penting untuk menyadari bahwa secara umum suatu pemetaan linear terbatas bukan fungsi terbatas dalam arti biasa dari suatu fungsi terbatas pada himpunan tertentu (lihat contoh 3.1.7 dan 3.1.8). Penggunaan kata “terbatas” dalam kedua arti yang bertentangan ini mungkin kurang menguntungkan, tetapi sudah mapan.

Contoh 3.2.2.

Pemetaan linear T::x3xT\colon \mathbb{R}\rightarrow\mathbb{R}\colon x \mapsto 3x merupakan pemetaan linear terbatas (karena memetakan subhimpunan terbatas dari \mathbb{R} ke subhimpunan terbatas dari \mathbb{R}), tetapi jika dipandang hanya sebagai fungsi, TT tidak terbatas (karena jangkauannya bukan subhimpunan terbatas dari \mathbb{R}).

Pengamatan berikut dapat membantu mengurangi kebingungan.

Proposisi 3.2.3.

Suatu pemetaan linear, kecuali jika merupakan pemetaan konstan yang membawa setiap vektor ke nol, tidak mungkin merupakan fungsi terbatas.

Definisi 3.2.4.

Misalkan (M,d)(M,d) dan (N,ρ)(N,\rho) ruang-ruang metrik. Suatu fungsi f:MNf \colon M \rightarrow N disebut kontinu seragam jika untuk setiap ϵ>0\epsilon > 0 terdapat δ>0\delta > 0 sedemikian sehingga ρ(f(x),f(y))<ϵ\rho(f(x),f(y)) < \epsilon setiap kali xx, yMy \in M dan d(x,y)<δd(x,y) < \delta.

Salah satu aspek linearitas yang paling mencolok adalah bahwa untuk pemetaan linear, konsep kekontinuan, kekontinuan di satu titik saja, dan kekontinuan seragam menyatu. Bahkan, semua konsep tersebut persis sama dengan keterbatasan.

Teorema 3.2.5.

Misalkan T:VWT \colon V \rightarrow W suatu pemetaan linear antara ruang-ruang linear bernorma. Maka pernyataan-pernyataan berikut ekuivalen:

  1. TT terbatas.

  2. Citra bola satuan tertutup di bawah TT merupakan himpunan terbatas.

  3. TT kontinu seragam pada VV.

  4. TT kontinu pada VV.

  5. TT kontinu di 𝟎\mathbf{0}.

  6. Terdapat bilangan M>0M > 0 sedemikian sehingga TxMx\lVert Tx\rVert \le M\lVert x\rVert untuk semua xVx \in V.

Proposisi 3.2.6.

Misalkan T:VWT\colon V \rightarrow W suatu pemetaan linear terbatas antara ruang-ruang linear bernorma dengan domain bukan ruang nol. Maka keempat bilangan berikut ada dan bernilai sama.

  1. sup{Tx:x1}\sup\{\lVert Tx\rVert\colon \lVert x\rVert \le 1\}

  2. sup{Tx:x=1}\sup\{\lVert Tx\rVert\colon \lVert x\rVert = 1\}

  3. sup{Txx1:x𝟎}\sup\{\lVert Tx\rVert\,\lVert x\rVert^{-1}\colon x \ne \mathbf{0}\}

  4. inf{M>0:TxMx untuk semua xV}\inf\{M > 0\colon \lVert Tx\rVert \le M\lVert x\rVert\ \text{ untuk semua $x \in V$}\}

Definisi 3.2.7.

Jika TT merupakan pemetaan linear terbatas, maka T\lVert T\rVert, yang disebut norma (atau norma operator) dari TT, didefinisikan sebagai salah satu dari empat ungkapan dalam proposisi sebelumnya; untuk domain nol, nilainya ditetapkan nol.

Contoh 3.2.8.

Jika VV dan WW merupakan ruang-ruang linear bernorma, maka fungsi :𝔅(V,W):TT\lVert\mathord{\cdot}\rVert\colon \mathfrak{B}(V,W) \rightarrow\mathbb{R} \colon T \mapsto \lVert T\rVert memang merupakan suatu norma.

Contoh 3.2.9.

Keluarga 𝔅(V,W)\mathfrak{B}(V,W) dari semua pemetaan linear terbatas antara ruang-ruang linear bernorma itu sendiri merupakan ruang linear bernorma di bawah norma operator yang didefinisikan di atas serta operasi penjumlahan dan perkalian skalar titik demi titik yang biasa. Yang khususnya penting adalah keluarga V*=𝔅(V,𝕂)V^* = \mathfrak{B}(V,\mathbb{K}) dari anggota-anggota kontinu dalam V#V^{\#}, yaitu fungsional linear kontinu, yang juga dikenal sebagai fungsional linear terbatas. Ingat bahwa dalam 1.2.37 kita mendefinisikan dual aljabar V#V^{\#} dari ruang vektor VV. Yang lebih penting dalam pembahasan kita di sini adalah V*V^*, yang disebut ruang dual dari VV. Untuk membedakannya dari dual aljabar dan dual urutan, ruang ini kadang-kadang disebut dual norma atau dual topologis dari VV. Perhatikan bahwa pembedaan ini tidak diperlukan dalam ruang berdimensi hingga karena di sana V*=V#V^* = V^{\#} (lihat 3.3.9).

Proposisi 3.2.10.

Keluarga 𝔅(V,W)\mathfrak{B}(V,W) dari semua pemetaan linear terbatas antara ruang-ruang linear bernorma bersifat lengkap (terhadap metrik yang diinduksi oleh normanya) setiap kali WW lengkap. Secara khusus, ruang dual dari setiap ruang linear bernorma bersifat lengkap.

Proposisi 3.2.11.

Misalkan UU, VV, dan WW ruang-ruang linear bernorma. Jika S𝔅(U,V)S \in \mathfrak{B}(U,V) dan T𝔅(V,W)T \in \mathfrak{B}(V,W), maka TS𝔅(U,W)TS \in \mathfrak{B}(U,W) dan TSTS\lVert TS\rVert \le \lVert T\rVert \lVert S\rVert.

Contoh 3.2.12.

Pada setiap ruang linear bernorma VV yang bukan ruang nol, operator identitas idV=IV=I:VV:vv\operatorname{id}_{V} = I_V =I\colon V \rightarrow V \colon v \mapsto v terbatas dan IV=1\lVert I_V\rVert = 1. Operator nol 𝟎V=𝟎:VV:v𝟎\mathbf{0}_V = \mathbf{0}\colon V \rightarrow V\colon v \mapsto \mathbf{0} juga terbatas dan 0V=0\lVert 0_V\rVert = 0.

Contoh 3.2.13.

Misalkan T:23:(x,y)(3x,x+2y,x2y)T \colon \mathbb{R}^2 \rightarrow\mathbb{R}^3\colon (x,y) \mapsto (3x, x + 2y, x - 2y). Maka T=11\lVert T\rVert = \sqrt{11}.

Banyak mahasiswa yang baru saja menyelesaikan mata kuliah kalkulus dasar merasa bahwa diferensiasi merupakan operasi yang “lebih baik” daripada integrasi—mungkin karena aturan integrasi tampak lebih rumit daripada aturan diferensiasi. Namun, ketika kita memandang keduanya sebagai pemetaan linear, yang benar justru sebaliknya.

Contoh 3.2.14.

Sebagai pemetaan linear pada ruang fungsi-fungsi yang dapat didiferensialkan pada [0,1][0,1] (dengan norma seragam), integrasi terbatas; diferensiasi tidak terbatas (dan karena itu tidak kontinu di titik mana pun!).

Definisi 3.2.15.

Misalkan f:V1V2f\colon V_1 \rightarrow V_2 suatu fungsi antara ruang-ruang linear bernorma. Untuk k=1,2k = 1,2, misalkan k\lVert\mathord{\cdot}\rVert_k norma pada VkV_k dan dkd_k metrik pada VkV_k yang diinduksi oleh k\lVert\mathord{\cdot}\rVert_k (lihat contoh 1.2.17). Maka ff merupakan isometri (atau suatu pemetaan isometrik) jika d2(f(x),f(y))=d1(x,y)d_2(f(x),f(y)) = d_1(x,y) untuk semua xx, yV1y \in V_1. Pemetaan itu dikatakan mempertahankan norma jika f(x)2=x1\lVert f(x)\rVert_2 = \lVert x\rVert_1 untuk semua xV1x \in V_1.

Sebelumnya dalam bagian ini kita telah membahas kategori 𝑵𝑳𝑺\mathbf{NLS_{\boldsymbol\infty}} dari ruang linear bernorma dan pemetaan linear kontinu. Dalam kategori ini, isomorfisme melestarikan struktur topologis (selain struktur ruang vektor). Apa yang akan terjadi jika kita justru menghendaki isomorfisme melestarikan struktur metrik dari ruang-ruang linear bernorma; yakni, menjadi isometri? Mudah dilihat bahwa (dengan adanya linearitas) hal ini ekuivalen dengan meminta agar isomorfisme mempertahankan norma. Dalam kategori baru ini, yang dinotasikan dengan 𝑵𝑳𝑺𝟏\mathbf{NLS_{\mathbf{1}}}, morfismenya adalah pemetaan linear kontraktif, yaitu pemetaan linear T:VWT\colon V \rightarrow W antara ruang-ruang linear bernorma sedemikian sehingga Txx\lVert Tx\rVert \le \lVert x\rVert untuk semua xVx \in V. Tampaknya tepat untuk menyebut 𝑵𝑳𝑺\mathbf{NLS_{\boldsymbol\infty}} sebagai kategori topologis ruang linear bernorma dan 𝑵𝑳𝑺𝟏\mathbf{NLS_{\mathbf{1}}} sebagai kategori geometris ruang linear bernorma. Banyak penulis menggunakan istilah “isomorfisme” tanpa pengubah untuk isomorfisme dalam kategori topologis 𝑵𝑳𝑺\mathbf{NLS_{\boldsymbol\infty}} dan “isomorfisme isometrik” untuk isomorfisme dalam kategori geometris 𝑵𝑳𝑺𝟏\mathbf{NLS_{\mathbf{1}}}. Dalam catatan ini kita akan berfokus pada kategori topologis. Teori isometrik ruang linear bernorma, meskipun penting, agak lebih khusus.

Latihan 3.2.16.

Periksalah pernyataan-pernyataan yang belum dibuktikan dalam paragraf sebelumnya. Secara khusus, buktikan bahwa

  1. 𝑵𝑳𝑺\mathbf{NLS_{\boldsymbol\infty}} merupakan suatu kategori.

  2. Suatu isomorfisme dalam 𝑵𝑳𝑺\mathbf{NLS_{\boldsymbol\infty}} merupakan isomorfisme ruang vektor sekaligus homeomorfisme.

  3. Suatu pemetaan linear antara ruang-ruang linear bernorma merupakan isometri jika dan hanya jika pemetaan tersebut mempertahankan norma.

  4. 𝑵𝑳𝑺𝟏\mathbf{NLS_{\mathbf{1}}} merupakan suatu kategori.

  5. Suatu isomorfisme dalam 𝑵𝑳𝑺𝟏\mathbf{NLS_{\mathbf{1}}} merupakan isometri sekaligus isomorfisme ruang vektor.

  6. Kategori 𝑵𝑳𝑺𝟏\mathbf{NLS_{\mathbf{1}}} merupakan subkategori dari 𝑵𝑳𝑺\mathbf{NLS_{\boldsymbol\infty}} dalam arti bahwa setiap morfisme kategori pertama termasuk dalam kategori kedua.

Ruang Berdimensi Hingga

Dalam bagian ini dicantumkan beberapa fakta baku dan berguna tentang ruang berdimensi hingga. Bukti hasil-hasil ini cukup mudah ditemukan. Lihat, misalnya, [4], Bagian 4.4; [8], Bagian III.3; [33], Bagian 2.4–5; atau [47], halaman 16–18.

Definisi 3.3.1.

Suatu barisan (xn)(x_n) dalam ruang metrik disebut barisan Cauchy jika untuk setiap ϵ>0\epsilon > 0 terdapat n0n_0 \in \mathbb{N} sedemikian sehingga d(xm,xn)<ϵd(x_m,x_n) < \epsilon apabila mm, nn0n \ge n_0. Syarat ini sering disingkat sebagai berikut: d(xm,xn)0d(x_m, x_n) \rightarrow 0 ketika mm, nn \rightarrow\infty (atau limm,nd(xm,xn)=0\lim_{m,n \rightarrow \infty}d(x_m,x_n) = 0).

Definisi 3.3.2.

Suatu ruang metrik MM disebut lengkap jika setiap barisan Cauchy dalam MM konvergen. (Untuk meninjau kembali fakta-fakta paling dasar tentang ruang metrik lengkap, lihat bagian pertama Bab 20 dalam catatan daring saya [16].)

Proposisi 3.3.3.

Jika VV adalah ruang linear bernorma berdimensi nn atas 𝕂\mathbb{K}, maka terdapat suatu pemetaan dari VV ke 𝕂n\mathbb{K}^n yang sekaligus merupakan homeomorfisme dan isomorfisme ruang vektor.

Akibat 3.3.4.

Setiap ruang linear bernorma berdimensi hingga bersifat lengkap.

Akibat 3.3.5.

Setiap subruang vektor berdimensi hingga dari suatu ruang linear bernorma bersifat tertutup.

Akibat 3.3.6.

Sebarang dua norma pada suatu ruang vektor berdimensi hingga bersifat ekuivalen.

Definisi 3.3.7.

Subhimpunan KK dari ruang topologis XX disebut kompak jika setiap keluarga 𝔘\mathfrak{U} yang terdiri atas subhimpunan-subhimpunan terbuka dari XX dan gabungannya memuat KK memiliki subkeluarga hingga dari 𝔘\mathfrak{U} yang gabungannya memuat KK.

Proposisi 3.3.8.

Bola satuan tertutup dalam suatu ruang linear bernorma bersifat kompak jika dan hanya jika ruang tersebut berdimensi hingga.

Proposisi 3.3.9.

Jika VV dan WW adalah ruang-ruang linear bernorma dan VV berdimensi hingga, maka setiap pemetaan linear T:VWT \colon V \rightarrow W bersifat kontinu.

Misalkan TT suatu pemetaan linear terbatas antara ruang-ruang linear bernorma (yang mungkin berdimensi tak hingga). Sama seperti dalam kasus berdimensi hingga, kernel dan jangkauan TT merupakan objek yang sangat penting. Baik dalam kasus berdimensi hingga maupun tak hingga, keduanya merupakan subruang vektor dari ruang yang memuatnya. Selain itu, dalam kedua kasus tersebut kernel TT bersifat tertutup. (Di bawah suatu fungsi kontinu, pracitra himpunan tertutup bersifat tertutup.) Akan tetapi, terdapat perbedaan besar antara kedua kasus itu. Dalam kasus berdimensi hingga, jangkauan TT harus tertutup (berdasarkan 3.3.5). Seperti akan kita lihat dalam Contoh 5.2.14, pemetaan linear antara ruang-ruang berdimensi tak hingga tidak harus memiliki jangkauan tertutup.

Hasil Bagi Ruang Linear Bernorma

Definisi 3.4.1.

Misalkan AA adalah objek dalam suatu kategori konkret 𝑪\mathbf{C}. Suatu morfisme surjektif AπBA \to^\pi B dalam 𝑪\mathbf{C} disebut pemetaan hasil bagi untuk AA jika suatu fungsi g:BCg\colon B \rightarrow C (dalam 𝑺𝑬𝑻\mathbf{SET}) merupakan morfisme (dalam 𝑪\mathbf{C}) setiap kali gπg \circ \pi merupakan morfisme. Suatu objek BB dalam 𝑪\mathbf{C} disebut objek hasil bagi untuk AA jika merupakan citra suatu pemetaan hasil bagi untuk AA.

Contoh 3.4.2.

Dalam kategori 𝑽𝑬𝑪\mathbf{VEC} yang terdiri atas ruang-ruang vektor dan pemetaan-pemetaan linear, setiap pemetaan linear surjektif merupakan pemetaan hasil bagi.

Contoh 3.4.3.

Dalam kategori 𝑻𝑶𝑷\mathbf{TOP}, tidak setiap epimorfisme merupakan pemetaan hasil bagi.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Tinjau pemetaan identitas pada bilangan real dengan topologi yang berbeda pada domain dan kodomainnya.  ◻

Butir berikut, yang semestinya sudah dikenal dari aljabar linear, menunjukkan cara menghasilkan suatu objek hasil bagi tertentu dengan “mengambil hasil bagi oleh suatu subruang”.

Definisi 3.4.4.

Misalkan MM adalah subruang dari ruang vektor VV. Definisikan suatu relasi ekuivalensi \sim pada VV dengan xyjika dan hanya jikayxM.x \sim y \qquad \text{jika dan hanya jika} \qquad y - x \in M. Untuk setiap xVx \in V, misalkan [x][x] adalah kelas ekuivalensi yang memuat xx. Misalkan V/MV/M adalah himpunan semua kelas ekuivalensi unsur-unsur VV. Untuk [x][x] dan [y][y] dalam V/MV/M, definisikan [x]+[y]:=[x+y][x] + [y] := [x+y] dan untuk α𝕂\alpha \in \mathbb{K} serta [x]V/M[x] \in V/M, definisikan α[x]:=[αx].\alpha[x] := [\alpha x]. Terhadap operasi-operasi ini, V/MV/M menjadi ruang vektor. Ruang ini adalah ruang hasil bagi dari VV oleh MM. Notasi V/MV/M biasanya dibaca “VV modulo MM”. Pemetaan linear π:VV/M:x[x]\pi\colon V \rightarrow V/M\colon x \mapsto [x] disebut pemetaan hasil bagi.

Latihan 3.4.5.

Verifikasilah pernyataan-pernyataan dalam Definisi 3.4.4. Secara khusus, tunjukkan bahwa \sim merupakan relasi ekuivalensi, bahwa penjumlahan dan perkalian skalar pada himpunan kelas-kelas ekuivalensi terdefinisi dengan baik, bahwa terhadap operasi-operasi ini V/MV/M merupakan ruang vektor, bahwa fungsi yang di sini disebut “pemetaan hasil bagi” memang merupakan pemetaan hasil bagi dalam pengertian 3.4.1, dan bahwa pemetaan hasil bagi ini bersifat linear.

Hasil berikut disebut teorema dasar hasil bagi atau teorema isomorfisme pertama untuk ruang-ruang vektor.

Teorema 3.4.6.

Misalkan VV dan WW adalah ruang-ruang vektor dan MVM \preceq V. Jika T𝔏(V,W)T \in \mathfrak{L}(V,W) dan kerTM\ker T \supseteq M, maka terdapat tepat satu T̃𝔏(V/M,W)\widetilde{T} \in \mathfrak{L}(V/M\,,W) yang membuat diagram berikut komutatif.

Segitiga teorema dasar hasil bagi untuk ruang vektor. Pemetaan hasil bagi pi berjalan dari V ke V per M, pemetaan linear T dari V ke W, dan satu-satunya pemetaan linear T tilde dari V per M ke W. Segitiga komutatif: T sama dengan T tilde setelah pi.

Segitiga teorema dasar hasil bagi untuk ruang vektor. Pemetaan hasil bagi pi berjalan dari V ke V per M, pemetaan linear T dari V ke W, dan satu-satunya pemetaan linear T tilde dari V per M ke W. Segitiga komutatif: T sama dengan T tilde setelah pi.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

Selanjutnya, T̃\widetilde{T} injektif jika dan hanya jika kerT=M\ker T = M; dan T̃\widetilde{T} surjektif jika dan hanya jika TT surjektif.

Akibat 3.4.7.

Jika T:VWT\colon V \rightarrow W adalah pemetaan linear antara ruang-ruang vektor, maka ranTV/kerT\mathop{\mathrm{ran}}T \cong V/\ker T.

Proposisi 3.4.8.

Misalkan VV adalah ruang linear bernorma dan MM adalah subruang tertutup dari VV. Maka pemetaan :V/M:[x]inf{u:ux}\lVert\mathord{\cdot}\rVert \colon V/M \rightarrow\mathbb{R}\colon [x] \mapsto \inf\{\lVert u\rVert \colon u \sim x\} merupakan norma pada V/MV/M. Selanjutnya, pemetaan hasil bagi π:VV/M:x[x]\pi \colon V \rightarrow V/M \colon x \mapsto [x] merupakan surjeksi linear terbatas dengan π1\lVert\pi \rVert\le 1.

Definisi 3.4.9.

Norma yang didefinisikan pada V/MV/M disebut norma hasil bagi pada V/MV/M. Terhadap norma ini V/MV/M merupakan ruang linear bernorma dan disebut ruang hasil bagi dari VV oleh MM. Ruang ini sering disebut sebagai “VV modulo MM”.

Teorema 3.4.10.

Misalkan VV dan WW adalah ruang-ruang linear bernorma dan MM adalah subruang tertutup dari VV. Jika TT merupakan pemetaan linear terbatas dari VV ke WW dan kerTM\ker T \supseteq M, maka terdapat suatu pemetaan linear terbatas tunggal T̃:V/MW\widetilde{T}\colon V/M \rightarrow W yang membuat diagram berikut komutatif.

Segitiga teorema dasar hasil bagi untuk ruang linear bernorma. Pemetaan hasil bagi pi berjalan dari V ke V per M, pemetaan linear terbatas T dari V ke W, dan satu-satunya pemetaan linear terbatas T tilde dari V per M ke W. Segitiga komutatif: T sama dengan T tilde setelah pi.

Segitiga teorema dasar hasil bagi untuk ruang linear bernorma. Pemetaan hasil bagi pi berjalan dari V ke V per M, pemetaan linear terbatas T dari V ke W, dan satu-satunya pemetaan linear terbatas T tilde dari V per M ke W. Segitiga komutatif: T sama dengan T tilde setelah pi.

Diagram sumber: John M. Erdman, CC BY-SA 4.0. Deskripsi aksesibilitas ditambahkan oleh OpenAI Codex gpt-5.6-sol, Ultra; perubahan ini tidak menyiratkan dukungan.

Selanjutnya: T̃=T\lVert\widetilde{T}\rVert = \lVert T\rVert; T̃\widetilde{T} injektif jika dan hanya jika kerT=M\ker T = M; dan T̃\widetilde{T} surjektif jika dan hanya jika TT surjektif.

Hasil Kali Ruang Linear Bernorma

Hasil kali dan koproduk, seperti hasil bagi, paling baik dideskripsikan dari segi apa yang dilakukannya.

Definisi 3.5.1.

Misalkan A1A_1 dan A2A_2 adalah objek-objek dalam suatu kategori 𝑪\mathbf{C}. Kita mengatakan bahwa tripel (P,π1,π2)(P,\pi_1,\pi_2), dengan PP suatu objek dan πk:PAk\pi_k\colon P \rightarrow A_k (k=1,2k = 1,2) morfisme-morfisme, merupakan suatu hasil kali dari A1A_1 dan A2A_2 jika untuk setiap objek BB dan setiap pasangan morfisme fk:BAkf_k\colon B \rightarrow A_k (k=1,2k = 1,2) terdapat morfisme tunggal f:BPf\colon B \rightarrow P sedemikian sehingga fk=πkff_k = \pi_k \circ f untuk k=1,2k = 1,2.

Sudah lazim untuk mengatakan, “Misalkan PP suatu hasil kali dari …” sebagai pengganti, “Misalkan (P,π1,π2)(P,\pi_1,\pi_2) suatu hasil kali dari …”. Hasil kali A1A_1 dan A2A_2 sering ditulis sebagai A1×A2A_1 \times A_2 atau sebagai k=1,2Ak\prod_{k = 1,2} A_k.

Dalam suatu kategori tertentu, hasil kali mungkin ada ataupun tidak. Merupakan fakta yang menarik dan dasar bahwa kapan pun hasil kali itu ada, hasil kali tersebut unik (hingga isomorfisme), sehingga kita dapat berbicara tanpa ambiguitas tentang hasil kali dua objek. Ketika kita mengatakan bahwa suatu objek kategori yang memenuhi satu atau beberapa syarat bersifat unik hingga isomorfisme, tentu saja kita bermaksud bahwa sebarang dua objek yang memenuhi syarat-syarat tersebut harus isomorfik. Kita akan sering menggunakan frasa “unik secara esensial” untuk “unik hingga isomorfisme”.

Proposisi 3.5.2.

Dalam sebarang kategori, hasil kali (jika ada) bersifat unik secara esensial.

Contoh 3.5.3.

Dalam kategori 𝑺𝑬𝑻\mathbf{SET}, hasil kali dua himpunan A1A_1 dan A2A_2 ada dan sesungguhnya merupakan hasil kali Kartesius biasa A1×A2A_1 \times A_2 beserta proyeksi koordinat biasa πk:A1×A2Ak:(a1,a2)ak\pi_k\colon A_1 \times A_2 \rightarrow A_k \colon (a_1,a_2) \mapsto a_k.

Contoh 3.5.4.

Jika V1V_1 dan V2V_2 adalah ruang-ruang vektor, kita menjadikan hasil kali Kartesius V1×V2V_1 \times V_2 suatu ruang vektor sebagai berikut. Definisikan penjumlahan dengan (u,v)+(w,x):=(u+w,v+x)(u,v) + (w,x) := (u + w, v + x) dan perkalian skalar dengan α(u,v):=(αu,αv).\alpha (u,v) := (\alpha u, \alpha v) \,. Hal ini menjadikan V1×V2V_1 \times V_2 suatu ruang vektor, dan ruang ini beserta proyeksi koordinat biasa πk:V1×V2Vk:(v1,v2)vk\pi_k\colon V_1 \times V_2 \rightarrow V_k \colon (v_1,v_2) \mapsto v_k (k=1,2k = 1,2) merupakan suatu hasil kali dalam kategori 𝑽𝑬𝑪\mathbf{VEC}. Ruang ini biasanya disebut jumlah langsung dari V1V_1 dan V2V_2 dan dinotasikan dengan V1V2V_1 \oplus V_2.

Sering kali mungkin dan dikehendaki untuk mengambil hasil kali dari sebarang keluarga objek dalam suatu kategori. Berikut adalah perumuman Definisi 3.5.1.

Definisi 3.5.5.

Misalkan (Aλ)λΛ\bigl(A_\lambda\bigr)_{\lambda \in \Lambda} adalah suatu keluarga terindeks objek-objek dalam kategori 𝑪\mathbf{C}. Kita mengatakan bahwa objek PP beserta suatu keluarga terindeks (πλ)λΛ\bigl(\pi_\lambda\bigr)_{\lambda \in \Lambda} dari morfisme-morfisme πλ:PAλ\pi_\lambda\colon P \rightarrow A_\lambda merupakan hasil kali objek-objek AλA_\lambda jika untuk setiap objek BB dan setiap keluarga terindeks (fλ)λΛ\bigl(f_\lambda\bigr)_{\lambda \in \Lambda} dari morfisme-morfisme fλ:BAλf_\lambda\colon B \rightarrow A_\lambda terdapat pemetaan tunggal g:BPg \colon B \rightarrow P sedemikian sehingga fλ=πλgf_\lambda = \pi_\lambda \circ g untuk setiap λΛ\lambda \in \Lambda.

Suatu kategori yang di dalamnya sebarang hasil kali ada disebut lengkap terhadap hasil kali. Banyak kategori yang kita jumpai dalam catatan ini lengkap terhadap hasil kali.

Definisi 3.5.6.

Misalkan (Sλ)λΛ\bigl(S_\lambda\bigr)_{\lambda \in \Lambda} adalah suatu keluarga terindeks himpunan. Hasil kali Kartesius dari keluarga terindeks tersebut, yang dinotasikan dengan λΛSλ\prod_{\lambda \in \Lambda} S_\lambda atau cukup Sλ\prod S_\lambda, adalah himpunan semua fungsi f:ΛSλf \colon \Lambda \rightarrow\bigcup S_\lambda sedemikian sehingga f(λ)Sλf(\lambda) \in S_\lambda untuk setiap λΛ\lambda \in \Lambda. Pemetaan-pemetaan πλ:SλSλ:ff(λ)\pi_\lambda \colon \prod S_\lambda \rightarrow S_\lambda \colon f \mapsto f(\lambda) merupakan proyeksi koordinat kanonik. Dalam banyak kasus, notasi fλf_\lambda lebih mudah digunakan daripada f(λ)f(\lambda). (Lihat, misalnya, Contoh 3.5.8 di bawah.)

Contoh 3.5.7.

Suatu kasus khusus yang sangat penting dari definisi sebelumnya muncul ketika semua himpunan SλS_\lambda identik: misalkan Sλ=AS_\lambda = A untuk setiap λΛ\lambda \in \Lambda. Dalam hal ini, hasil kali Kartesius tersebut terdiri atas semua fungsi yang memetakan Λ\Lambda ke AA. Artinya, λΛSλ=AΛ\prod_{\lambda \in \Lambda} S_\lambda = A^\Lambda. Perhatikan pula bahwa dalam kasus ini proyeksi koordinat merupakan pemetaan evaluasi. Untuk setiap λ\lambda, proyeksi koordinat πλ\pi_\lambda membawa setiap titik ff dalam hasil kali tersebut (yaitu, setiap fungsi ff dari Λ\Lambda ke AA) ke f(λ)f(\lambda), nilainya pada λ\lambda. Singkatnya, setiap proyeksi koordinat merupakan pemetaan evaluasi pada suatu titik.

Contoh 3.5.8.

Apakah n\mathbb{R}^n itu? Ruang ini hanyalah himpunan semua nn-tupel bilangan real. Artinya, ruang ini adalah himpunan fungsi dari n={1,2,,n}\mathbb{N}_n = \{1,2,\dots,n\} ke \mathbb{R}. Dengan kata lain, n\mathbb{R}^n hanyalah singkatan untuk n\mathbb{R}^{\mathbb{N}_n}. Dalam n\mathbb{R}^n, biasanya orang menulis xjx_j untuk koordinat ke-jj dari suatu vektor xx, bukan x(j)x(j).

Contoh 3.5.9.

Dalam kategori 𝑺𝑬𝑻\mathbf{SET}, hasil kali suatu keluarga terindeks himpunan ada dan sesungguhnya merupakan hasil kali Kartesius himpunan-himpunan tersebut beserta proyeksi koordinat kanonik.

Contoh 3.5.10.

Jika (Vλ)λΛ\bigl(V_\lambda\bigr)_{\lambda \in \Lambda} adalah suatu keluarga terindeks ruang-ruang vektor, kita menjadikan hasil kali Kartesius Vλ\prod V_\lambda suatu ruang vektor sebagai berikut. Definisikan penjumlahan dan perkalian skalar secara titik demi titik: untuk ff, gVλg \in \prod V_\lambda dan α𝕂\alpha \in \mathbb{K}, (f+g)(λ):=f(λ)+g(λ)(f + g)(\lambda) := f(\lambda) + g(\lambda) dan (αf)(λ):=αf(λ).(\alpha f)(\lambda) := \alpha f(\lambda) \,. Hal ini menjadikan Vλ\prod V_\lambda suatu ruang vektor, yang kadang-kadang disebut hasil kali langsung dari ruang-ruang VλV_\lambda, dan ruang ini beserta proyeksi koordinat kanonik (yang tentu saja merupakan pemetaan linear) adalah suatu hasil kali dalam kategori 𝑽𝑬𝑪\mathbf{VEC}.

Contoh 3.5.11.

Misalkan VV dan WW adalah ruang-ruang linear bernorma. Pada hasil kali Kartesius V×WV \times W, definisikan (x,y)2=x2+y2,(x,y)1=x+y,dan(x,y)u=max{x,y}.\begin{align*} \lVert(x,y)\rVert_2 &= \sqrt{\lVert x\rVert^2 + \lVert y\rVert^2}, \\ \lVert(x,y)\rVert_1 &= \lVert x\rVert + \lVert y\rVert, \\ &\text{dan}\\ \lVert(x,y)\rVert_u &= \max\{\lVert x\rVert, \lVert y\rVert\}\,. \end{align*} Yang pertama adalah norma Euklides (atau norma-22) pada V×WV \times W, yang kedua adalah norma-11, dan yang terakhir adalah norma seragam. Memverifikasi bahwa ketiganya merupakan norma pada V×WV \times W sangat mirip dengan argumen yang diperlukan dalam Contoh 3.1.1, 3.1.2, dan 3.1.3. Fakta bahwa ketiganya merupakan norma-norma ekuivalen merupakan konsekuensi dari pertidaksamaan berikut dan Proposisi 3.1.37. x+y2x2+y22max{x,y}2(x+y)\lVert x\rVert + \lVert y\rVert \le \sqrt 2 \sqrt{\lVert x\rVert^2 + \lVert y\rVert^2} \le 2 \max\{\lVert x\rVert,\lVert y\rVert\} \le 2(\lVert x\rVert + \lVert y\rVert)

Konvensi 3.5.12.

Dalam contoh sebelumnya, kita mendefinisikan tiga norma (ekuivalen) pada ruang hasil kali V×WV \times W. Kita akan mengambil yang kedua, 1\lVert\;\;\rVert_1, sebagai norma hasil kali pada V×WV \times W. Jadi, kapan pun VV dan WW merupakan ruang-ruang linear bernorma, kecuali dinyatakan sebaliknya, kita akan memandang hasil kali V×WV \times W sebagai ruang linear bernorma terhadap norma ini. Biasanya kita cukup menulis (x,y)\lVert(x,y)\rVert, bukan (x,y)1\lVert(x,y)\rVert_1. Hasil kali ruang-ruang linear bernorma VV dan WW biasanya dinotasikan dengan VWV \oplus W dan disebut jumlah langsung dari VV dan WW. (Dalam kasus khusus V=W=V = W = \mathbb{R}, metrik apakah yang diinduksi oleh norma hasil kali pada 2\mathbb{R}^2?)

Contoh 3.5.13.

Tunjukkan bahwa hasil kali VWV \oplus W dari ruang-ruang linear bernorma memang merupakan suatu hasil kali dalam kategori 𝑵𝑳𝑺\mathbf{NLS_{\boldsymbol\infty}} yang terdiri atas ruang-ruang linear bernorma dan pemetaan-pemetaan linear terbatas.

Proposisi 3.5.14.

Misalkan ((xn,yn))\bigl((x_n,y_n)\bigr) adalah barisan dalam jumlah langsung VWV \oplus W dari dua ruang linear bernorma. Buktikan bahwa ((xn,yn))\bigl((x_n,y_n)\bigr) konvergen ke titik (a,b)(a,b) dalam VWV \oplus W jika dan hanya jika xnax_n \rightarrow a dalam VV dan ynby_n \rightarrow b dalam WW.

Proposisi 3.5.15.

Penjumlahan merupakan operasi kontinu pada suatu ruang linear bernorma VV. Artinya, pemetaan A:VVV:(x,y)x+yA \colon V \oplus V \rightarrow V \colon (x,y) \mapsto x + y bersifat kontinu.

Latihan 3.5.16.

Berikan bukti yang sangat singkat (tanpa ϵ\epsilon, δ\delta, ataupun himpunan terbuka) bahwa jika (xn)(x_n) dan (yn)(y_n) merupakan barisan-barisan dalam suatu ruang linear bernorma yang masing-masing konvergen ke aa dan bb, maka xn+yna+bx_n + y_n \rightarrow a + b.

Proposisi 3.5.17.

Perkalian skalar merupakan operasi kontinu pada suatu ruang linear bernorma VV, dalam arti bahwa pemetaan S:𝕂×VV:(α,x)αxS \colon \mathbb{K}\times V \rightarrow V \colon (\alpha,x) \mapsto \alpha x bersifat kontinu.

Proposisi 3.5.18.

Jika BB dan CC adalah subhimpunan-subhimpunan dari suatu ruang linear bernorma dan α\alpha adalah skalar, maka

  1. αB¯=αB¯\overline{\alpha B} = \alpha \overline{B}; dan

  2. B¯+C¯B+C¯\overline{B} + \overline{C} \subseteq \overline{B + C}.

Contoh 3.5.19.

Jika BB dan CC adalah subhimpunan-subhimpunan tertutup dari suatu ruang linear bernorma, tidak selalu berlaku bahwa B+CB + C tertutup (dan karena itu B¯+C¯\overline{B} + \overline{C} dan B+C¯\overline{B + C} tidak harus sama).

Proposisi 3.5.20.

Misalkan C1C_1 dan C2C_2 adalah subhimpunan-subhimpunan kompak dari suatu ruang linear bernorma VV. Maka

  1. C1×C2C_1 \times C_2 adalah subhimpunan kompak dari V×VV \times V, dan

  2. C1+C2C_1 + C_2 adalah subhimpunan kompak dari VV.

Contoh 3.5.21.

Misalkan XX suatu ruang topologis. Maka keluarga 𝒞(X)\mathcal{C}(X) dari semua fungsi kontinu bernilai skalar pada XX merupakan suatu ruang vektor terhadap operasi penjumlahan dan perkalian skalar biasa yang didefinisikan titik demi titik.

Contoh 3.5.22.

Misalkan XX suatu ruang topologis. Kita menotasikan dengan 𝒞b(X)\mathcal{C}_b(X) keluarga semua fungsi kontinu terbatas bernilai skalar pada XX. Keluarga ini merupakan ruang linear bernorma terhadap norma seragam. Bahkan, ruang ini merupakan subruang dari (X)\mathcal{B}(X) (lihat Contoh 3.1.7).

Contoh 3.5.23.

Jika SS adalah suatu himpunan dan aSa \in S, maka fungsional evaluasi Ea:(S)𝕂:ff(a)E_a\colon \mathcal{B}(S) \rightarrow\mathbb{K}\colon f \mapsto f(a) merupakan fungsional linear terbatas pada ruang (S)\mathcal{B}(S) dari semua fungsi terbatas bernilai skalar pada SS. Jika SS kebetulan merupakan ruang topologis, kita juga dapat memandang EaE_a sebagai anggota ruang dual dari 𝒞b(S)\mathcal{C}_b(S). (Dalam kedua kasus tersebut, berapakah Ea\lVert E_a\rVert?)

Definisi 3.5.24.

Misalkan AA adalah suatu aljabar yang padanya telah didefinisikan sebuah norma. Andaikan bahwa sebagai tambahan, sifat submultiplikatif xyxy\lVert xy\rVert \le \lVert x\rVert\,\lVert y\rVert dipenuhi untuk semua xx, yAy \in A. Maka AA merupakan suatu aljabar bernorma. Kita menetapkan satu syarat tambahan: jika aljabar AA beridentitas, maka 𝟏=1.\lVert\mathbf{1}\rVert = 1\,. Dalam kasus ini, AA merupakan aljabar bernorma beridentitas.

Contoh 3.5.25.

Dalam Contoh 3.1.7, telah kita tunjukkan bahwa keluarga (S)\mathcal{B}(S) dari fungsi-fungsi terbatas bernilai skalar pada suatu himpunan SS merupakan ruang linear bernorma terhadap norma seragam. Keluarga ini juga merupakan aljabar bernorma komutatif beridentitas.

Proposisi 3.5.26.

Perkalian merupakan operasi kontinu pada suatu aljabar bernorma VV, dalam arti bahwa pemetaan M:V×VV:(x,y)xyM \colon V \times V \rightarrow V \colon (x,y) \mapsto xy bersifat kontinu.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Jika Anda dapat membuktikan bahwa perkalian pada bilangan real bersifat kontinu, hampir pasti Anda juga dapat membuktikan bahwa perkalian bersifat kontinu pada sebarang aljabar bernorma. ◻

Contoh 3.5.27.

Keluarga 𝒞b(X)\mathcal{C}_b(X) dari fungsi-fungsi kontinu terbatas bernilai skalar pada suatu ruang topologis XX, terhadap operasi-operasi biasa yang didefinisikan titik demi titik dan norma seragam, merupakan aljabar bernorma komutatif beridentitas. (Lihat Contoh 3.5.22.)

Contoh 3.5.28.

Keluarga 𝔅(V)\mathfrak{B}(V) dari semua operator (linear terbatas) pada suatu ruang linear bernorma bukan nol VV merupakan aljabar bernorma beridentitas. (Lihat 3.2.9 dan 3.2.10.)

Koproduk Ruang Linear Bernorma

Koproduk serupa dengan hasil kali—kecuali bahwa semua anak panah dibalik.

Definisi 3.6.1.

Misalkan A1A_1 dan A2A_2 adalah objek-objek dalam suatu kategori 𝑪\mathbf{C}. Tripel (Q,ι1,ι2)(Q,\iota_1,\iota_2), dengan QQ suatu objek dan ιk:AkQ\iota_k\colon A_k \rightarrow Q morfisme untuk k=1,2k=1,2, disebut koproduk dari A1A_1 dan A2A_2 jika untuk setiap objek BB dan setiap pasangan morfisme fk:AkBf_k\colon A_k \rightarrow B (k = 1,2) terdapat morfisme tunggal f:QBf\colon Q \rightarrow B sedemikian sehingga fk=fιkf_k = f \circ \iota_k untuk k=1,2k = 1,2.

Proposisi 3.6.2.

Dalam sebarang kategori, koproduk (jika ada) bersifat unik secara esensial.

Definisi 3.6.3.

Misalkan AA dan BB adalah himpunan-himpunan. Ketika AA dan BB saling lepas, kita sering menggunakan notasi ABA \uplus B sebagai pengganti ABA \cup B (untuk menekankan bahwa AA dan BB saling lepas). Ketika C=ABC = A \uplus B, kita mengatakan bahwa CC merupakan gabungan saling lepas dari AA dan BB. Demikian pula, kita sering memilih untuk menulis gabungan dari suatu keluarga himpunan 𝔄\mathfrak{A} yang saling lepas berpasangan sebagai 𝔄\biguplus\mathfrak{A}. Notasi λΛAλ\biguplus_{\lambda \in \Lambda} A_\lambda juga dapat digunakan untuk menyatakan gabungan dari suatu keluarga terindeks saling lepas berpasangan {Aλ:λΛ}\{A_\lambda\colon \lambda \in \Lambda\} dari himpunan-himpunan. Ketika C=𝔄C = \biguplus\mathfrak{A} atau C=λΛAλC = \biguplus_{\lambda \in \Lambda} A_\lambda, kita mengatakan bahwa CC merupakan gabungan saling lepas dari keluarga yang bersesuaian.

Definisi 3.6.4.

Dalam definisi sebelumnya, kita memperkenalkan notasi ABA \uplus B untuk gabungan dua himpunan saling lepas AA dan BB. Sekarang kita memperluas notasi ini dan memperbolehkan diri kita mengambil gabungan saling lepas dari himpunan AA dan BB sekalipun keduanya tidak saling lepas. Kita “membuat keduanya saling lepas” dengan mengidentifikasi (dengan cara yang jelas) himpunan AA dengan himpunan A={(a,1):aA}A' = \{(a,1)\colon a \in A\} dan BB dengan himpunan B={(b,2):bB}B' = \{(b,2)\colon b \in B\}. Kemudian kita menotasikan gabungan AA' dan BB', yang memang saling lepas, dengan ABA \uplus B dan menyebutnya gabungan saling lepas dari AA dan BB.

Secara umum, jika (Aλ)λΛ\bigl(A_\lambda\bigr)_{\lambda \in \Lambda} adalah suatu keluarga terindeks himpunan, gabungan saling lepasnya, , didefinisikan sebagai {(a,λ):λΛ,aAλ}\{(a,\lambda)\colon \lambda \in \Lambda, a \in A_\lambda\}.

Contoh 3.6.5.

Dalam kategori 𝑺𝑬𝑻\mathbf{SET}, koproduk dua himpunan A1A_1 dan A2A_2 ada dan merupakan gabungan saling lepas A1A2A_1 \uplus A_2 beserta pemetaan inklusi yang jelas ιk:AkA1A2\iota_k\colon A_k \rightarrow A_1 \uplus A_2 (k=1,2k = 1,2).

Menarik untuk mengamati bahwa meskipun hasil kali dan koproduk suatu koleksi hingga objek dalam kategori 𝑺𝑬𝑻\mathbf{SET} sangat berbeda, dalam kategori 𝑽𝑬𝑪\mathbf{VEC} yang lebih kompleks keduanya ternyata merupakan hal yang persis sama.

Contoh 3.6.6.

Jika V1V_1 dan V2V_2 adalah ruang-ruang vektor, jadikan hasil kali Kartesius V1×V2V_1 \times V_2 suatu ruang vektor seperti dalam Contoh 3.5.4. Ruang ini beserta injeksi-injeksi yang jelas merupakan suatu koproduk dalam kategori 𝑽𝑬𝑪\mathbf{VEC}.

Sering kali mungkin dan dikehendaki untuk mengambil koproduk dari sebarang keluarga objek dalam suatu kategori. Berikut adalah perumuman Definisi 3.6.1.

Definisi 3.6.7.

Misalkan (Aλ)λΛ\bigl(A_\lambda\bigr)_{\lambda \in \Lambda} adalah suatu keluarga terindeks objek-objek dalam kategori 𝑪\mathbf{C}. Kita mengatakan bahwa objek CC beserta suatu keluarga terindeks (ιλ)λΛ\bigl(\iota_\lambda\bigr)_{\lambda \in \Lambda} dari morfisme-morfisme ιλ:AλC\iota_\lambda\colon A_\lambda \rightarrow C merupakan koproduk dari objek-objek AλA_\lambda jika untuk setiap objek BB dan setiap keluarga terindeks (fλ)λΛ\bigl(f_\lambda\bigr)_{\lambda \in \Lambda} dari morfisme-morfisme fλ:AλBf_\lambda\colon A_\lambda \rightarrow B terdapat pemetaan tunggal g:CBg \colon C \rightarrow B sedemikian sehingga fλ=gιλf_\lambda = g \circ \iota_\lambda untuk setiap λΛ\lambda \in \Lambda. Notasi biasa untuk koproduk objek-objek AλA_\lambda adalah λΛAλ\coprod_{\lambda \in \Lambda} A_\lambda.

Contoh 3.6.8.

Dalam kategori 𝑺𝑬𝑻\mathbf{SET}, koproduk suatu keluarga terindeks himpunan ada dan merupakan gabungan saling lepas himpunan-himpunan tersebut.

Definisi 3.6.9.

Misalkan SS suatu himpunan dan VV suatu ruang vektor. Tumpuan suatu fungsi f:SVf \colon S \rightarrow V adalah {sS:f(s)𝟎}\{s \in S \colon f(s) \ne \mathbf{0}\}.

Contoh 3.6.10.

Jika (Vλ)λΛ\bigl(V_\lambda\bigr)_{\lambda \in \Lambda} adalah suatu keluarga terindeks ruang-ruang vektor, kita menjadikan hasil kali Kartesius tersebut suatu ruang vektor seperti dalam Contoh 3.5.10. Himpunan fungsi ff dalam Vλ\prod V_\lambda yang memiliki tumpuan hingga (yaitu, yang bernilai tak nol hanya pada berhingga banyak unsur domainnya) jelas merupakan subruang dari Vλ\prod V_\lambda. Subruang ini adalah jumlah langsung dari ruang-ruang VλV_\lambda. Ruang ini dinotasikan dengan λΛVλ\bigoplus_{\lambda \in \Lambda} V_\lambda. Ruang ini beserta pemetaan-pemetaan injektif yang jelas (yang bersifat linear) merupakan suatu koproduk dalam kategori 𝑽𝑬𝑪\mathbf{VEC}.

Latihan 3.6.11.

Apa saja koproduk dalam kategori 𝑵𝑳𝑺\mathbf{NLS_{\boldsymbol\infty}}?

Latihan 3.6.12.

Tentukan hasil kali dan koproduk dua ruang VV dan WW dalam kategori 𝑵𝑳𝑺𝟏\mathbf{NLS_{\mathbf{1}}} yang terdiri atas ruang-ruang linear bernorma dan kontraksi-kontraksi linear.

Jaring

Jaring (kadang-kadang disebut barisan tergeneralisasi) berguna untuk mencirikan banyak sifat ruang topologis umum. Dalam ruang semacam itu, jaring pada dasarnya digunakan dengan cara yang sama seperti barisan digunakan dalam ruang metrik.

Definisi 3.7.1.

Himpunan terpraurut yang setiap pasangan elemennya memiliki batas atas disebut himpunan terarah.

Contoh 3.7.2.

Jika SS suatu himpunan, maka FinS\mathop{\mathrm{Fin}}S merupakan himpunan terarah terhadap inklusi \subseteq.

Definisi 3.7.3.

Misalkan SS suatu himpunan dan Λ\Lambda suatu himpunan terarah. Pemetaan x:ΛSx\colon \Lambda \rightarrow S disebut suatu jaring di SS (atau suatu jaring anggota-anggota SS). Nilai xx di λΛ\lambda \in \Lambda biasanya ditulis xλx_{{}_{\scriptstyle{\lambda}}} (alih-alih x(λ)x(\lambda)), dan jaring xx sendiri sering dinotasikan dengan (xλ)λΛ\bigl(x_{{}_{\scriptstyle{\lambda}}}\bigr)_{\lambda \in \Lambda} atau cukup (xλ)\bigl(x_{{}_{\scriptstyle{\lambda}}}\bigr).

Contoh 3.7.4.

Contoh jaring yang paling jelas ialah barisan. Barisan merupakan fungsi yang domainnya adalah himpunan (terpraurut) \mathbb{N} dari bilangan asli.

Definisi 3.7.5.

Suatu jaring x=(xλ)x = \bigl(x_{{}_{\scriptstyle{\lambda}}}\bigr) dikatakan pada akhirnya memiliki suatu sifat tertentu jika terdapat λ0Λ\lambda_0 \in \Lambda sedemikian sehingga xλx_{{}_{\scriptstyle{\lambda}}} memiliki sifat itu apabila λλ0\lambda \ge \lambda_0; dan jaring itu sering memiliki sifat tersebut jika untuk setiap λ0Λ\lambda_0 \in \Lambda terdapat λΛ\lambda \in \Lambda sedemikian sehingga λλ0\lambda \ge \lambda_0 dan xλx_{{}_{\scriptstyle{\lambda}}} memiliki sifat itu.

Definisi 3.7.6.

Suatu lingkungan dari sebuah titik dalam ruang topologis adalah sebarang himpunan yang memuat suatu himpunan terbuka yang memuat titik tersebut.

Definisi 3.7.7.

Suatu jaring xx dalam ruang topologis XX konvergen ke titik aXa \in X jika jaring itu pada akhirnya berada dalam setiap lingkungan aa. Dalam hal ini aa adalah limit dari xx, dan kita menulis xλλΛax_{{}_{{\scriptstyle{\lambda}}}} \to_{\lambda \in \Lambda}a atau cukup xλax_{{}_{{\scriptstyle{\lambda}}}} \rightarrow a. Jika limit bersifat unik, kita juga dapat menggunakan notasi limλΛxλ=a\lim_{\lambda \in \Lambda} x_{{}_{\scriptstyle{\lambda }}}= a atau, secara lebih sederhana, limxλ=a\lim x_{{}_{\scriptstyle{\lambda }}}= a.

Titik aa di XX merupakan titik gugus dari jaring xx jika xx sering berada dalam setiap lingkungan aa.

Definisi 3.7.8.

Misalkan (X,𝔗)(X,\mathfrak{T}) suatu ruang topologis. Subkeluarga 𝔖𝔗\mathfrak{S} \subseteq \mathfrak{T} merupakan suatu subbasis untuk topologi 𝔗\mathfrak{T} jika keluarga semua irisan hingga dari anggota-anggota 𝔖\mathfrak{S} merupakan basis untuk 𝔗\mathfrak{T}.

Contoh 3.7.9.

Misalkan XX suatu ruang topologis dan aXa \in X. Suatu basis bagi keluarga lingkungan titik aa adalah keluarga 𝔅a\mathfrak{B}_a yang terdiri atas lingkungan-lingkungan aa dengan sifat bahwa setiap lingkungan aa memuat sekurang-kurangnya satu anggota 𝔅a\mathfrak{B}_a. Secara umum, terdapat banyak pilihan basis lingkungan di suatu titik. Setelah basis semacam itu dipilih, kita menyebut anggota-anggotanya sebagai lingkungan dasar dari aa.

Misalkan 𝔅a\mathfrak{B}_a suatu basis bagi keluarga lingkungan di aa. Urutkan 𝔅a\mathfrak{B}_a berdasarkan relasi memuat (kebalikan dari inklusi); yakni, untuk UU, V𝔅aV \in \mathfrak{B}_a, tetapkan UV jika dan hanya jika UV.U \preceq V \text{ jika dan hanya jika } U \supseteq V\,. Dengan demikian, 𝔅a\mathfrak{B}_a menjadi himpunan terarah. Sekarang (dengan menggunakan aksioma pilihan) pilih satu elemen xUx_{{}_U} dari setiap himpunan U𝔅aU \in \mathfrak{B}_a. Maka (xU)(x_{{}_{\scriptstyle{U}}}) merupakan jaring di XX dan xUax_{{}_{\scriptstyle{U}}} \rightarrow a.

Dua proposisi berikut menjamin bahwa agar suatu jaring konvergen ke titik aa dalam ruang topologis, cukup jika jaring itu pada akhirnya berada dalam setiap lingkungan dasar (atau bahkan lingkungan subdasar) dari aa.

Proposisi 3.7.10.

Misalkan 𝔅\mathfrak{B} suatu basis bagi topologi pada ruang topologis XX dan aa suatu titik di XX. Suatu jaring (xλ)(x_\lambda) konvergen ke aa jika dan hanya jika jaring itu pada akhirnya berada dalam setiap lingkungan aa yang termasuk dalam 𝔅\mathfrak{B}.

Proposisi 3.7.11.

Misalkan 𝔖\mathfrak{S} suatu subbasis bagi topologi pada ruang topologis XX dan aa suatu titik di XX. Suatu jaring (xλ)(x_\lambda) konvergen ke aa jika dan hanya jika jaring itu pada akhirnya berada dalam setiap lingkungan aa yang termasuk dalam 𝔖\mathfrak{S}.

Contoh 3.7.12.

Misalkan J=[a,b]J = [a,b] suatu interval tetap pada garis real, 𝒙=(x0,x1,,xn)\mathbf{x} = (x_0,x_1,\dots,x_n) suatu (n+1)(n+1)-tupel titik-titik di JJ, dan 𝒕=(t1,,tn)\mathbf{t} = (t_1,\dots,t_n) suatu nn-tupel. Pasangan (𝒙;𝒕)(\mathbf{x};\mathbf{t}) merupakan suatu partisi dengan pilihan dari interval JJ jika:

  1. xk1<xkx_{k-1} < x_k untuk 1kn1 \le k \le n;

  2. tk[xk1,xk]t_k \in [x_{k-1},x_k] untuk 1kn1 \le k \le n;

  3. x0=ax_0 = a; dan

  4. xn=bx_n = b.

Gagasannya ialah bahwa 𝒙\mathbf{x} mempartisi interval tersebut menjadi subinterval-subinterval dan tkt_k adalah titik yang dipilih dari subinterval ke-k\text{ke-}k. Jika 𝒙=(x0,x1,,xn)\mathbf{x} = (x_0,x_1,\dots,x_n), maka {𝒙}\{\mathbf{x}\} menyatakan himpunan {x0,x1,,xn}\{x_0,x_1,\dots,x_n\}. Misalkan P=(𝒙;𝒔)P = (\mathbf{x};\mathbf{s}) dan Q=(𝒚;𝒕)Q = (\mathbf{y};\mathbf{t}) partisi-partisi (dengan pilihan) dari interval JJ. Kita menulis PQP \preccurlyeq Q dan mengatakan bahwa QQ merupakan suatu penghalusan dari PP jika {𝒙}{𝒚}\{\mathbf{x}\} \subseteq \{\mathbf{y}\}. Terhadap relasi \preccurlyeq, keluarga 𝔓\mathfrak{P} dari partisi-partisi dengan pilihan pada JJ merupakan himpunan terarah (tetapi bukan terurut parsial).

Sekarang andaikan ff suatu fungsi terbatas pada interval JJ dan P=(𝒙;𝒕)P = (\mathbf{x};\mathbf{t}) suatu partisi JJ menjadi nn subinterval. Misalkan Δxk:=xkxk1\Delta x_k := x_k - x_{k-1} untuk 1kn1 \le k \le n. Lalu definisikan Sf(P):=k=1nf(tk)Δxk.S_f(P) := \sum_{k=1}^n f(t_k)\,\Delta x_k\,. Setiap jumlah Sf(P)S_f(P) semacam itu merupakan suatu jumlah Riemann dari ff pada JJ. Perhatikan bahwa karena 𝔓\mathfrak{P} merupakan himpunan terarah, SfS_f adalah suatu jaring bilangan real. Jika jaring SfS_f dari jumlah-jumlah Riemann konvergen, kita mengatakan bahwa fungsi ff dapat diintegralkan secara Riemann. Limit jaring SfS_f (jika ada) merupakan integral Riemann dari ff pada interval JJ dan dinotasikan dengan abf(x)dx\int_a^b f(x)\,dx.

Contoh 3.7.13.

Dalam ruang topologis XX dengan topologi indiskret (yang himpunan terbukanya hanya XX dan himpunan kosong), setiap jaring di ruang tersebut konvergen ke setiap titik di ruang itu.

Contoh 3.7.14.

Dalam ruang topologis XX dengan topologi diskret (yang setiap subhimpunan XX bersifat terbuka), suatu jaring di ruang tersebut konvergen jika dan hanya jika jaring itu pada akhirnya konstan.

Definisi 3.7.15.

Suatu ruang topologis Hausdorff adalah ruang yang setiap pasangan titik berbedanya dapat dipisahkan oleh himpunan-himpunan terbuka; yakni, untuk setiap pasangan titik berbeda xx dan yy di ruang tersebut, terdapat lingkungan terbuka dari xx dan yy yang saling lepas.

Seperti ditunjukkan oleh Contoh 3.7.13, jaring dalam ruang topologis umum tidak harus memiliki limit yang unik. Namun, suatu ruang tidak memerlukan asumsi yang terlalu membatasi untuk menyingkirkan patologi ini. Agar limit bersifat unik, cukup disyaratkan bahwa ruang itu Hausdorff. Menariknya, ternyata syarat ini juga perlu.

Proposisi 3.7.16.

Jika XX suatu ruang topologis, maka pernyataan-pernyataan berikut ekuivalen:

  1. XX bersifat Hausdorff.

  2. Tidak ada jaring di XX yang dapat konvergen ke lebih dari satu titik.

  3. Diagonal di X×XX \times X bersifat tertutup.

(Adapun diagonal dari suatu himpunan SS adalah {(s,s):sS}S×S\{(s,s) \colon s \in S\} \subseteq S \times S.)

Contoh 3.7.17.

Ingat kembali dari kalkulus dasar bahwa jumlah parsial ke-n\text{ke-}n dari suatu deret tak hingga k=1xk\sum_{k=1}^\infty x_k didefinisikan sebagai sn=k=1nxks_n = \sum_{k=1}^n x_k. Deret tersebut dikatakan konvergen jika barisan (sn)(s_n) dari jumlah-jumlah parsialnya konvergen dan, jika deret tersebut konvergen, jumlahnya adalah limit barisan (sn)(s_n) dari jumlah-jumlah parsial. Jadi, sebagai contoh, deret tak hingga k=12k\sum_{k=1}^\infty 2^{-k} konvergen dan jumlahnya adalah 11.

Gagasan menjumlahkan suatu deret tak hingga sangat bergantung pada fakta bahwa jumlah-jumlah parsial deret tersebut terurut linear oleh inklusi. “Jumlah-jumlah parsial” dari suatu jaring bilangan tidak harus terurut parsial, sehingga kita memerlukan gagasan baru tentang “penjumlahan”, yang kadang-kadang disebut penjumlahan tak berurutan.

Notasi 3.7.18.

Jika AA suatu himpunan, kita notasikan dengan FinA\mathop{\mathrm{Fin}}A keluarga semua subhimpunan hingga dari AA. (Perhatikan bahwa keluarga ini merupakan himpunan terarah terhadap relasi \subseteq.)

Definisi 3.7.19.

Misalkan AA \subseteq \mathbb{R}. Untuk setiap FFinAF \in \mathop{\mathrm{Fin}}A, definisikan SFS_F sebagai jumlah bilangan-bilangan dalam FF, yakni, SF=FS_F = \sum F. Maka S=(SF)FFinAS = \bigl(S_F\bigr)_{F \in \mathop{\mathrm{Fin}}A} merupakan jaring di \mathbb{R}. Jika jaring ini konvergen, himpunan bilangan AA dikatakan dapat dijumlahkan; limit jaring tersebut merupakan jumlah dari AA dan dinotasikan dengan A\sum A.

Definisi 3.7.20.

Suatu jaring (xλ)(x_\lambda) dari bilangan real disebut menaik jika λμ\lambda \le \mu mengakibatkan xλxμx_\lambda \le x_\mu. Suatu jaring bilangan real (atau kompleks) disebut terbatas jika citranya terbatas.

Contoh 3.7.21.

Misalkan f(n)=2nf(n) = 2^{-n} untuk setiap nn \in \mathbb{N}, dan definisikan x:Fin()x \colon \mathop{\mathrm{Fin}}(\mathbb{N}) \rightarrow\mathbb{R} dengan x(A)=nAf(n)x(A) = \sum_{n \in A}f(n).

  1. Jaring xx menaik.

  2. Jaring xx terbatas.

  3. Jaring xx konvergen ke 1.

  4. Himpunan bilangan {12,14,18,116,}\{\frac12,\frac14,\frac18, \frac1{16},\dots\} dapat dijumlahkan dan jumlahnya adalah 11.

Contoh 3.7.22.

Dalam ruang metrik, setiap barisan konvergen bersifat terbatas. Berikan contoh yang menunjukkan bahwa suatu jaring konvergen dalam ruang metrik (bahkan di \mathbb{R}) tidak harus terbatas.

Dari kalkulus dasar kita telah mengenal bahwa barisan menaik yang terbatas di \mathbb{R} bersifat konvergen. Contoh di atas merupakan kasus khusus dari pengamatan yang lebih umum: jaring menaik yang terbatas di \mathbb{R} bersifat konvergen.

Proposisi 3.7.23.

Setiap jaring menaik yang terbatas (xλ)λΛ\bigl(x_{{}_{{\scriptstyle{\lambda}}}}\bigr)_{\lambda \in \Lambda} dari bilangan real bersifat konvergen dan limxλ=sup{xλ:λΛ}.\lim x_{{}_{{\scriptstyle{\lambda}}}} = \sup\{x_{{}_{{\scriptstyle{\lambda}}}}\colon \lambda \in \Lambda\}\,.

Contoh 3.7.24.

Misalkan (xk)(x_k) suatu barisan bilangan real positif yang berbeda-beda dan A={xk:k}A = \{x_k \colon k \in \mathbb{N}\}. Maka A\sum A (sebagaimana didefinisikan di atas) sama dengan jumlah deret k=1xk\sum_{k=1}^\infty x_k.

Contoh 3.7.25.

Himpunan {1k:k}\bigl\{\frac1k \colon k \in \mathbb{N}\bigr\} tidak dapat dijumlahkan dan deret tak hingga k=11k\sum_{k=1}^\infty \frac1k tidak konvergen.

Contoh 3.7.26.

Himpunan {(1)k1k:k}\bigl\{(-1)^k \frac1k\colon k \in \mathbb{N}\bigr\} tidak dapat dijumlahkan, tetapi deret tak hingga k=1(1)k1k\sum_{k=1}^\infty (-1)^k \frac1k memang konvergen.

Proposisi 3.7.27.

Setiap subhimpunan bilangan real yang dapat dijumlahkan bersifat terhitung.

Bukti.

Petunjuk pembuktian.. Jika AA suatu himpunan bilangan real yang dapat dijumlahkan dan nn \in \mathbb{N}, berapa banyak anggota AA yang dapat lebih besar daripada 1/n1/n?  ◻

Dalam Proposisi 3.7.16, kita telah melihat satu contoh cara jaring mencirikan sifat topologis: suatu ruang bersifat Hausdorff jika dan hanya jika setiap jaring di ruang tersebut memiliki paling banyak satu limit. Berikut ini sifat topologis lain—kekontinuan di suatu titik—yang dapat dengan mudah dicirikan menggunakan jaring.

Proposisi 3.7.28.

Misalkan XX dan YY ruang-ruang topologis. Suatu fungsi f:XYf\colon X \rightarrow Y kontinu di titik aa dalam XX jika dan hanya jika f(xλ)f(a)f\bigl(x_{{}_{\scriptstyle{\lambda}}}\bigr) \rightarrow f(a) di YY setiap kali (xλ)\bigl(x_{{}_{\scriptstyle{\lambda}}}\bigr) merupakan jaring yang konvergen ke aa di XX.

Dalam ruang metrik, kita mencirikan tutupan dan interior himpunan menggunakan barisan. Untuk ruang topologis umum, kita harus mengganti barisan dengan jaring.

Dalam mendefinisikan istilah “interior” dan “tutupan”, kita memiliki pilihan serupa dengan pilihan ketika kita mendefinisikan “selubung konveks” dalam 3.1.25. Terdapat definisi ‘abstrak’ dan definisi ‘konstruktif’. Mungkin akan membantu jika Anda mengingat kembali Proposisi 3.1.26 dan paragraf yang mendahuluinya.

Definisi 3.7.29.

Untuk suatu himpunan AA dalam ruang topologis XX, interior himpunan tersebut adalah subhimpunan terbuka terbesar dari XX yang termuat dalam AA; yakni, gabungan semua subhimpunan terbuka dari XX yang termuat dalam AA. Interior AA dinotasikan dengan A{A}^{\circ}.

Proposisi 3.7.30.

Definisi di atas bermakna. Lebih lanjut, suatu titik aa dalam ruang topologis XX berada dalam interior suatu subhimpunan AA dari XX jika dan hanya jika setiap jaring di XX yang konvergen ke aa pada akhirnya berada dalam AA.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Satu arah mudah. Untuk arah lainnya, gunakan Proposisi 3.7.10 dan jenis jaring yang dikonstruksi dalam Contoh 3.7.9. ◻

Definisi 3.7.31.

Untuk suatu himpunan AA dalam ruang topologis XX, tutupan himpunan tersebut adalah subhimpunan tertutup terkecil dari XX yang memuat AA; yakni, irisan semua subhimpunan tertutup dari XX yang memuat AA. Tutupan AA dinotasikan dengan A¯\overline{A}.

Proposisi 3.7.32.

Definisi di atas bermakna. Lebih lanjut, suatu titik bb dalam ruang topologis XX termasuk dalam tutupan suatu subhimpunan AA dari XX jika dan hanya jika terdapat suatu jaring di AA yang konvergen ke bb.

Akibat 3.7.33.

Suatu subhimpunan AA dari ruang topologis bersifat tertutup jika dan hanya jika limit setiap jaring konvergen di AA termasuk dalam AA.

Teorema-Teorema Hahn–Banach

Perlu dikatakan sejak awal bahwa merujuk pada teorema Hahn–Banach seolah-olah hanya ada satu teorema sebenarnya agak menyesatkan. Seorang penulis yang menyatakan sedang menggunakan teorema Hahn–Banach mungkin menggunakan salah satu dari sekitar selusin versi teorema tersebut atau salah satu korolarinya. Apa kesamaan berbagai versi itu? Pada dasarnya, versi-versi tersebut menjamin bahwa ruang linear bernorma pada umumnya memiliki cukup banyak fungsional linear terbatas sehingga ruang dualnya menjadi alat yang berguna untuk mempelajari ruang itu sendiri. Artinya, versi-versi tersebut menjamin adanya teori dualitas yang menarik dan produktif. Di bawah ini kita membahas empat versi ‘teorema’ tersebut dan tiga korolarinya. Kita akan mengikuti praktik yang lazim: ketika dalam pembahasan selanjutnya kita menggunakan salah satu hasil ini, kita akan mengatakan bahwa kita menggunakan ‘teorema’ Hahn–Banach.

Seperti yang sering terjadi dalam matematika, pengaitan hasil-hasil ini dengan Hahn dan Banach agak ganjil. Tampaknya, gagasan-gagasan dasarnya mula-mula berasal dari Eduard Helly. Untuk sejarah menarik tentang hasil-hasil ‘Hahn–Banach’, lihat [29].

Sebagai catatan, dalam nama “Banach”, kedua huruf “a” dilafalkan seperti huruf “a” dalam kata Indonesia bapak, sedangkan “ch” kira-kira dilafalkan seperti kh; tekanan jatuh pada suku kata pertama (BAH-nakh).

Definisi 3.8.1.

Suatu fungsi bernilai real ff pada ruang vektor real VV merupakan suatu fungsional sublinear jika f(x+y)f(x)+f(y)f(x + y) \le f(x) + f(y) dan f(αx)=αf(x)f(\alpha x) = \alpha f(x) untuk semua xx, yVy \in V dan α0\alpha \ge 0.

Contoh 3.8.2.

Suatu norma pada ruang vektor real merupakan fungsional sublinear.

Versi pertama teorema Hahn–Banach kita murni merupakan aljabar linear dan hanya berlaku untuk ruang vektor real. Versi ini memungkinkan kita memperpanjang fungsional linear tertentu pada ruang semacam itu dari subruang ke seluruh ruang.

Teorema 3.8.3.

Misalkan MM suatu subruang dari ruang vektor real VV dan pp suatu fungsional sublinear pada VV. Jika ff suatu fungsional linear pada MM sedemikian sehingga fpf \le p pada MM, maka ff memiliki perpanjangan gg ke seluruh VV sedemikian sehingga gpg \le p pada VV.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Dalam teorema ini, notasi hph \le p berarti bahwa domhdomp=V\mathop{\mathrm{dom}}h \subseteq \mathop{\mathrm{dom}}p = V dan bahwa h(x)p(x)h(x) \le p(x) untuk semua xdomhx \in \mathop{\mathrm{dom}}h. Dalam hal ini kita mengatakan bahwa hh didominasi oleh pp. Kita menulis fgf \preccurlyeq g jika gg merupakan perpanjangan ff (yakni, jika f(x)=g(x)f(x) = g(x) untuk semua xdomfx \in \mathop{\mathrm{dom}}f).

Misalkan 𝒮\mathcal{S} keluarga semua fungsional linear bernilai real pada subruang-subruang VV yang merupakan perpanjangan ff dan didominasi oleh pp. Keluarga 𝒮\mathcal{S} terurut parsial oleh \preccurlyeq. Gunakan lema Zorn untuk menghasilkan suatu elemen maksimal gg dari 𝒮\mathcal{S}. Pembuktian selesai jika Anda dapat menunjukkan bahwa domg=V\mathop{\mathrm{dom}}{g} = V.

Untuk itu, andaikan demi kontradiksi bahwa terdapat vektor cVc \in V yang tidak termasuk dalam D=domgD = \mathop{\mathrm{dom}}{g}. Buktikan terlebih dahulu bahwa g(y)p(yc)g(x)+p(x+c)\begin{equation} \label{eq_HBTI} g(y) - p(y - c) \le - g(x) + p(x + c) \end{equation} untuk semua xx, yDy \in D. Simpulkan bahwa terdapat bilangan γ\gamma yang terletak di antara supremum semua bilangan di ruas kiri 3.8.1 dan infimum semua bilangan di ruas kanan.

Misalkan EE rentang dari D{c}D \cup \{c\}. Definisikan hh pada EE dengan h(x+αc)=g(x)+αγh(x + \alpha c) = g(x) + \alpha\gamma untuk xDx \in D dan α\alpha \in \mathbb{R}. Sekarang tunjukkan bahwa h𝒮h \in \mathcal{S}. (Ambil α>0\alpha > 0 dan tinjau secara terpisah h(x+αc)h(x + \alpha c) dan h(xαc)h(x - \alpha c).)  ◻

Teorema berikutnya adalah versi Teorema 3.8.3 untuk ruang dengan skalar kompleks. Teorema ini kadang-kadang disebut teorema Bohnenblust–Sobczyk–Suhomlinov.

Teorema 3.8.4.

Misalkan VV suatu ruang vektor kompleks, pp suatu seminorma pada VV, dan MM suatu subruang dari VV. Jika f:Mf\colon M \rightarrow\mathbb{C} suatu fungsional linear sedemikian sehingga |f|p\lvert f\rvert \le p, maka ff memiliki perpanjangan gg yang merupakan fungsional linear pada seluruh VV dan memenuhi |g|p\lvert g\rvert \le p.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Hasil ini pada dasarnya merupakan korolar langsung dari versi real teorema Hahn–Banach yang diberikan di atas dalam 3.8.3. Misalkan VV_{\mathbb{R}} ruang vektor real yang terkait dengan VV (vektornya sama, tetapi hanya menggunakan \mathbb{R} sebagai medan skalar). Perhatikan bahwa jika uu adalah bagian real dari ff (yakni, u(x)=(f(x))u(x) = \Re(f(x)) untuk setiap xMx \in M), maka uu merupakan fungsional \mathbb{R}-linear pada MM (yakni, u(x+y)=u(x)+u(y)u(x + y) = u(x) + u(y) dan u(αx)=αu(x)u(\alpha x) = \alpha u(x) untuk semua xx, yMy \in M dan semua α\alpha \in \mathbb{R}), serta f(x)=u(x)iu(ix)f(x) = u(x) - i\,u(ix). Sebaliknya, jika uu suatu fungsional \mathbb{R}-linear pada suatu ruang vektor, maka f(x):=u(x)iu(ix)f(x) := u(x) - i\,u(ix) mendefinisikan suatu fungsional linear (bernilai kompleks) pada ruang tersebut. Perhatikan juga bahwa jika uu merupakan bagian real dari ff, maka |u(x)|p\lvert u(x)\rvert \le p untuk semua xx jika dan hanya jika |f(x)|p\lvert f(x)\rvert \le p untuk semua xx. Dengan mengingat pengamatan-pengamatan ini, cukup terapkan 3.8.3 pada bagian real dari ff di VV_\mathbb{R}.  ◻

Berikutnya mungkin merupakan versi teorema Hahn–Banach yang paling sering digunakan.

Teorema 3.8.5.

Misalkan MM suatu subruang vektor dari ruang linear bernorma (real atau kompleks) VV. Maka setiap fungsional linear kontinu ff pada MM memiliki perpanjangan gg ke seluruh VV sedemikian sehingga g=f\lVert g\rVert = \lVert f\rVert.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Tinjau fungsi p:V:xfxp\colon V \rightarrow\mathbb{R}\colon x \mapsto \lVert f\rVert \lVert x\rVert.  ◻

Ketika membuktikan suatu teorema, kadang-kadang berguna untuk mempertimbangkan kemungkinan adanya pembuktian yang lebih “alami” atau bahkan lebih “jelas”. Sesekali kita memperoleh imbalan berupa penyederhanaan yang mencerahkan dan penjelasan yang lebih jernih atas materi yang rumit. Namun, kadang-kadang kita justru terkecoh.

Latihan 3.8.6.

Kawan Anda, Fred R. Dimm, mengira bahwa ia telah menemukan pembuktian langsung yang sangat sederhana untuk versi teorema Hahn–Banach yang diberikan dalam Teorema 3.8.5: Suatu fungsional linear kontinu ff yang didefinisikan pada subruang (linear) MM dari ruang linear bernorma VV dapat diperpanjang menjadi fungsional linear kontinu gg pada seluruh VV tanpa memperbesar normanya. Menurutnya, kita hanya perlu mengambil NN sebagai sebarang komplemen ruang vektor dari MM dan mengambil BB sebagai suatu basis (Hamel) untuk NN. Definisikan g(e)=0g(e) = 0 untuk setiap vektor eBe \in B dan g=fg = f pada MM. Kemudian perpanjang gg secara linear ke seluruh VV. Tentunya, kata Fred, gg linear berdasarkan konstruksinya dan normanya tidak bertambah karena kita telah menjadikannya nol di tempat-tempat yang sebelumnya belum didefinisikan. Tunjukkan kepada Fred letak kekeliruannya.

Teorema 3.8.7.

Misalkan VV suatu ruang linear bernorma (real atau kompleks), MM suatu subruang vektor dari VV, dan andaikan yVy \in V sedemikian sehingga d:=dist(y,M)>0d := \mathop{\mathrm{dist}}(y,M) > 0. Maka terdapat fungsional gV*g \in V^* sedemikian sehingga g(M)={0}g^{\rightarrow}(M) = \{0\}, g(y)=dg(y) = d, dan g=1\lVert g\rVert = 1.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Misalkan N:=span(M{y})N := \mathop{\mathrm{span}}{(M \cup \{y\})} dan definisikan f:N𝕂:x+αyαdf\colon N \rightarrow\mathbb{K}\colon x + \alpha y \mapsto \alpha d (xMx \in M, α𝕂\alpha \in \mathbb{K}).  ◻

Kasus khusus yang paling berguna dari teorema di atas adalah ketika M={𝟎}M = \{\mathbf{0}\} dan y𝟎y \ne \mathbf{0}. Hal ini memberi tahu kita bahwa satu-satunya cara agar f(x)f(x) lenyap untuk setiap fV*f \in V^* adalah jika xx merupakan vektor nol.

Akibat 3.8.8.

Misalkan VV suatu ruang linear bernorma dan xVx \in V. Jika f(x)=0f(x) = 0 untuk setiap fV*f \in V^*, maka x=𝟎x = \mathbf{0}.

Definisi 3.8.9.

Suatu keluarga 𝒢(S)\mathcal{G}(S) dari fungsi-fungsi bernilai skalar pada himpunan SS memisahkan titik-titik SS jika untuk setiap pasangan titik berbeda xx dan yy di SS, terdapat fungsi f𝒢(S)f \in \mathcal{G}(S) sedemikian sehingga f(x)f(y)f(x) \ne f(y).

Akibat 3.8.10.

Jika VV suatu ruang linear bernorma, maka V*V^* memisahkan titik-titik VV.

Akibat 3.8.11.

Misalkan VV suatu ruang linear bernorma dan 𝟎xV\mathbf{0} \ne x \in V. Maka terdapat fV*f \in V^* sedemikian sehingga f=1\lVert f\rVert = 1 dan f(x)=xf(x) = \lVert x\rVert.

Proposisi 3.8.12.

Misalkan VV suatu ruang linear bernorma, {x1,,xn}\{x_1,\dots,x_n\} suatu subhimpunan yang bebas linear dari VV, dan α1,,αn\alpha_1, \dots, \alpha_n skalar-skalar. Maka terdapat ff dalam V*V^* sedemikian sehingga f(xk)=αkf(x_k) = \alpha_k untuk 1kn1\le k \le n.

Bukti.

Petunjuk pembuktian. Untuk x=k=1nβkxkx = \sum_{k=1}^n \beta_k x_k, tetapkan g(x)=k=1nαkβkg(x) = \sum_{k=1}^n \alpha_k \beta_k. ◻

Proposisi 3.8.13.

Misalkan VV suatu ruang linear bernorma dan 𝟎xV\mathbf{0} \ne x \in V. Maka x=max{|f(x)|:fV* dan f1}.\lVert x\rVert = \max\{\lvert f(x)\rvert\colon f \in V^* \text{ dan } \lVert f\rVert \le 1\}\,.

Penggunaan max\max alih-alih sup\sup dalam proposisi di atas disengaja. Proposisi tersebut menyatakan bahwa terdapat ff dalam bola satuan tertutup dari V*V^* sedemikian sehingga f(x)=xf(x) = \lVert x\rVert.

Definisi 3.8.14.

Suatu subhimpunan AA dari ruang topologis XX disebut padat di XX jika A¯=X\overline{A} = X. Ruang XX disebut separabel jika ruang itu memuat suatu subhimpunan padat yang terhitung.

Contoh 3.8.15.

Ruang 𝕂n\mathbb{K}^n bersifat separabel terhadap topologi biasa; yakni, topologi yang diinduksi oleh norma biasa tersebut. (Lihat 3.1.1, 1.2.17, dan 3.1.34.)

Contoh 3.8.16.

Dengan topologi diskret, garis real \mathbb{R} tidak separabel.

Proposisi 3.8.17.

Misalkan VV suatu ruang linear bernorma. Jika V*V^* separabel, maka VV juga separabel.