Bab 7 · Operator Kompak

Definisi dan Sifat-Sifat Dasar

Kita akan melanjutkan pembahasan dari akhir Bab 5 dengan mempelajari kelas-kelas operator. Konteks kita akan sedikit lebih umum; dalam hal operator kompak, kita akan meninjau operator pada ruang Banach. Pertama, mari kita ingat kembali beberapa definisi dan fakta dasar dari kalkulus lanjut (atau mata kuliah pengantar analisis).

Definisi 7.1.1.

Suatu subhimpunan AA dari ruang metrik MM disebut terbatas total jika untuk setiap ϵ>0\epsilon > 0 terdapat suatu subhimpunan hingga FF dari AA sedemikian sehingga untuk setiap aAa \in A terdapat titik xFx \in F yang memenuhi d(x,a)<ϵd(x,a) < \epsilon. Untuk ruang linear bernorma, definisi ini dapat dirumuskan kembali: Suatu subhimpunan AA dari ruang linear bernorma VV disebut terbatas total jika untuk setiap bola terbuka BB di sekitar nol dalam VV terdapat suatu subhimpunan hingga FF dari AA sedemikian sehingga AF+BA \subseteq F + B. Hal ini memiliki parafrasa yang kurang lebih baku: Suatu ruang bersifat terbatas total jika dapat diawasi oleh sejumlah hingga polisi dengan jarak pandang sependek apa pun. (Sebagian penulis menyebut sifat ini prakompak.)

Proposisi 7.1.2.

Suatu ruang metrik bersifat kompak jika dan hanya jika ruang itu lengkap dan terbatas total.

Proposisi 7.1.3.

Suatu ruang metrik bersifat kompak jika dan hanya jika ruang itu lengkap dan terbatas total.

Definisi 7.1.4.

Suatu subhimpunan AA dari ruang topologis XX disebut kompak relatif jika tutupannya kompak.

Proposisi 7.1.5.

Dalam ruang metrik, setiap himpunan kompak relatif adalah terbatas total.

Dalam ruang metrik lengkap, kebalikannya berlaku.

Proposisi 7.1.6.

Dalam ruang metrik lengkap, setiap himpunan terbatas total adalah kompak relatif.

Proposisi 7.1.7.

Dalam ruang metrik, setiap himpunan terbatas total adalah separabel.

Teorema 7.1.8.

Misalkan XX ruang Hausdorff kompak. Suatu subhimpunan \mathcal{F} dari 𝒞(X)\mathcal{C}(X) terbatas total apabila subhimpunan itu terbatas (secara seragam) dan ekuikontinu.

Berikutnya kita akan membandingkan topologi lemah dan kuat pada ruang linear bernorma. Istilah topologi lemah akan merujuk pada topologi lemah biasa yang ditentukan oleh fungsional linear terbatas pada ruang tersebut sebagaimana didefinisikan dalam 6.2.7, sedangkan topologi kuat akan merujuk pada topologi norma pada ruang tersebut. Namun, perlu diingat bahwa kata “kuat” dalam konteks ruang linear bernorma, jika ditilik secara ketat, sesungguhnya mubazir. Kata itu digunakan semata-mata sebagai penegasan. Misalnya, banyak penulis akan menyatakan proposisi berikut sebagai: Setiap barisan yang konvergen secara lemah dalam ruang linear bernorma adalah terbatas.

Proposisi 7.1.9.

Setiap barisan yang konvergen secara lemah dalam ruang linear bernorma adalah terbatas secara kuat.

Bukti.

Petunjuk untuk bukti. Gunakan prinsip keterbatasan seragam 6.7.5. ◻

Definisi 7.1.10.

Kita mengatakan bahwa suatu pemetaan linear T:VWT\colon V \rightarrow W bersifat kontinu secara lemah jika pemetaan itu membawa jaring yang konvergen secara lemah ke jaring yang konvergen secara lemah.

Proposisi 7.1.11.

Setiap pemetaan linear yang kontinu (secara kuat) antara ruang-ruang linear bernorma bersifat kontinu secara lemah.

Definisi 7.1.12.

Suatu pemetaan linear T:VWT\colon V \rightarrow W antara ruang-ruang linear bernorma disebut kompak jika pemetaan itu membawa himpunan terbatas ke himpunan kompak relatif. Secara ekuivalen, TT bersifat kompak jika pemetaan itu memetakan bola satuan tertutup dalam VV ke suatu himpunan kompak relatif dalam WW. Keluarga semua pemetaan linear kompak dari VV ke WW dinotasikan dengan 𝔎(V,W)\mathfrak{K}(V,W); dan kita tulis 𝔎(V)\mathfrak{K}(V) untuk 𝔎(V,V)\mathfrak{K}(V,V).

Proposisi 7.1.13.

Setiap pemetaan linear kompak bersifat terbatas.

Proposisi 7.1.14.

Suatu pemetaan linear T:VWT\colon V \rightarrow W antara ruang-ruang linear bernorma bersifat kompak jika dan hanya jika pemetaan itu membawa setiap barisan terbatas dalam VV ke suatu barisan dalam WW yang memiliki subbarisan konvergen.

Contoh 7.1.15.

Setiap operator berperingkat hingga pada ruang Banach bersifat kompak.

Contoh 7.1.16.

Setiap fungsional linear terbatas pada ruang Banach BB merupakan pemetaan linear kompak dari BB ke 𝕂\mathbb{K}.

Contoh 7.1.17.

Misalkan CC ruang Banach 𝒞([0,1])\mathcal{C}([0,1]) dan k𝒞([0,1]×[0,1])k \in \mathcal{C}([0,1] \times [0,1]). Untuk setiap fCf \in C definisikan fungsi KfKf pada [0,1][0,1] dengan Kf(x)=01k(x,y)f(y)dy.Kf(x) = \int_0^1 k(x,y)f(y)\,dy\,. Maka operator integral KK merupakan operator kompak pada CC.

Bukti.

Petunjuk untuk bukti. Gunakan teorema Arzelà-Ascoli 7.1.8. ◻

Contoh 7.1.18.

Misalkan HH ruang Hilbert L2[0,1]\mathrm{L_{2}}{[0,1]} yang terdiri atas (kelas-kelas ekuivalensi) fungsi yang terintegralkan kuadrat pada [0,1][0,1] terhadap ukuran Lebesgue dan kk suatu fungsi yang terintegralkan kuadrat pada [0,1]×[0,1][0,1] \times [0,1]. Untuk setiap fHf \in H definisikan fungsi KfKf pada [0,1][0,1] dengan Kf(x)=01k(x,y)f(y)dy.Kf(x) = \int_0^1 k(x,y)f(y)\,dy\,. Maka operator integral KK merupakan operator kompak pada HH.

Proposisi 7.1.19.

Suatu operator pada ruang Hilbert bersifat kompak jika dan hanya jika operator itu memetakan bola satuan tertutup dalam ruang tersebut ke suatu himpunan kompak.

Akibat 7.1.20.

Operator identitas pada ruang Hilbert berdimensi tak hingga tidak kompak. (Lihat contoh 6.2.6.)

Contoh 7.1.21.

Jika BB ruang Banach, keluarga 𝔅(B)\mathfrak{B}(B) dari operator pada BB merupakan aljabar Banach beridentitas dan keluarga 𝔎(B)\mathfrak{K}(B) dari operator kompak pada BB merupakan ideal tertutup dalam 𝔅(B)\mathfrak{B}(B). Jika BB berdimensi tak hingga, ideal 𝔎(B)\mathfrak{K}(B) adalah sejati.

Proposisi 7.1.22.

Misalkan T:BCT\colon B \rightarrow C suatu pemetaan linear terbatas antara ruang-ruang Banach. Maka TT bersifat kompak jika dan hanya jika T*T^* bersifat kompak.

Definisi 7.1.23.

Suatu aljabar-C*C^\ast adalah aljabar Banach AA dengan involusi yang memenuhi a*a=a2\lVert a^*a\rVert = \lVert a\rVert^2 untuk setiap aAa \in A. Sifat norma ini biasanya disebut syarat-C*C^*. Norma aljabar yang memenuhi syarat ini adalah norma-C*C^*. Suatu subaljabar-C*C^* dari aljabar-C*C^* AA adalah subaljabar-**\, tertutup dari AA.

Kita menyatakan kategori aljabar-C*C^* dan homomorfisme-**\, dengan 𝑪𝑺𝑨\mathbf{CSA}. Sepintas mungkin tampak aneh bahwa dalam kategori ini, yang objek-objeknya memiliki sifat aljabar sekaligus topologis, morfismenya hanya disyaratkan mempertahankan struktur aljabar. Namun, ternyata setiap morfisme dalam 𝑪𝑺𝑨\mathbf{CSA} secara otomatis kontinu—bahkan, kontraktif (lihat proposisi 12.3.16)—dan setiap morfisme injektif merupakan isometri (lihat proposisi 12.3.17). Jelas bahwa (seperti pada definisi 5.3.1) setiap morfisme bijektif dalam kategori ini merupakan isomorfisme. Dengan demikian, setiap homomorfisme-**\, bijektif merupakan isomorfisme-**\, isometrik.

Contoh 7.1.24.

Ruang vektor \mathbb{C} dari bilangan kompleks, dengan perkalian bilangan kompleks biasa dan konjugasi kompleks zz¯z \mapsto \overline{z} sebagai involusi, merupakan aljabar-C*C^* komutatif beridentitas.

Contoh 7.1.25.

Jika XX suatu ruang Hausdorff kompak, aljabar 𝒞(X)\mathcal{C}(X) dari fungsi kontinu bernilai kompleks pada XX merupakan aljabar-C*C^* komutatif beridentitas apabila involusinya diambil sebagai konjugasi kompleks.

Contoh 7.1.26.

Jika XX suatu ruang Hausdorff kompak lokal, aljabar Banach 𝒞0(X)=𝒞0(X,)\mathcal{C}_0(X) = \mathcal{C}_0(X,\mathbb{C}) dari fungsi kontinu bernilai kompleks pada XX yang lenyap di tak hingga merupakan aljabar-C*C^* komutatif (tidak mesti beridentitas) apabila involusinya diambil sebagai konjugasi kompleks.

Contoh 7.1.27.

Jika (X,μ)(X,\mu) suatu ruang ukur, aljabar L(X,μ)\mathrm{L_{\infty}}(X,\mu) dari fungsi terukur bernilai kompleks yang terbatas secara esensial pada XX (sekali lagi dengan konjugasi kompleks sebagai involusi) merupakan aljabar-C*C^*. (Secara teknis, tentu saja, anggota L(X,μ)\mathrm{L_{\infty}}(X,\mu) adalah kelas-kelas ekuivalensi fungsi yang berbeda pada himpunan-himpunan berukuran nol.)

Contoh 7.1.28.

Aljabar 𝔅(H)\mathfrak{B}(H) dari operator linear terbatas pada ruang Hilbert HH merupakan aljabar-C*C^* beridentitas. Keluarga 𝔎(H)\mathfrak{K}(H) dari operator kompak merupakan ideal-**\, tertutup dalam aljabar tersebut.

Contoh 7.1.29.

Sebagai kasus khusus dari contoh sebelumnya, perhatikan bahwa himpunan 𝑴n\mathbf M_n dari matriks bilangan kompleks berukuran n×nn \times n merupakan aljabar-C*C^* beridentitas.

Proposisi 7.1.30.

Dalam ruang Hilbert HH, ideal 𝔎(H)\mathfrak{K}(H) dari operator kompak merupakan tutupan ideal 𝔉(H)\mathfrak{FR}(H) dari operator berperingkat hingga.

Selama kira-kira satu dasawarsa sebelum Perang Dunia Kedua, sejumlah matematikawan Polandia terkemuka berkumpul secara teratur di kedai kopi di Lwow untuk membahas hasil dan mengajukan masalah. Mula-mula mereka bertemu di Café Roma, kemudian di Scottish Café. Pada 1935 Stefan Banach menyediakan buku catatan berjilid tempat mereka dapat menuliskan masalah-masalah tersebut. Dari sinilah Scottish Book [37] yang kini terkenal bermula. Pada 6 November 1936, Stanislaw Mazur menuliskan Masalah 153, yang dikenal sebagai masalah aproksimasi; pada intinya masalah itu menanyakan apakah proposisi sebelumnya berlaku untuk ruang Banach. Dapatkah setiap operator kompak pada ruang Banach diaproksimasi dalam norma oleh operator berperingkat hingga? Sebagai hadiah bagi pemecah masalah ini, Mazur menawarkan seekor angsa hidup (tergolong salah satu hadiah paling murah hati yang dijanjikan dalam Scottish Book). Masalah tersebut tetap terbuka selama beberapa dasawarsa, hingga pada 1972 Per Enflo memberikan jawaban negatif, setelah berhasil menemukan ruang Banach refleksif separabel yang di dalamnya aproksimasi semacam itu gagal. Dalam sebuah upacara yang diadakan tahun itu di Warsawa, Enflo menerima angsa hidupnya dari Mazur sendiri. Hasil tersebut diterbitkan dalam Acta Mathematica [14] pada 1973.

Contoh 7.1.31.

Operator diagonal diag(1,12,13,)\mathop{\mathrm{diag}}(1,\frac12,\frac13,\dots) merupakan operator kompak pada ruang Hilbert l2l_2.

Isometri Parsial

Definisi 7.2.1.

Suatu elemen vv dari aljabar-C*C^* AA disebut isometri parsial jika v*vv^*v merupakan proyeksi dalam AA. (Karena v*vv^*v selalu swaadjoin, cukup disyaratkan bahwa v*vv^*v idempoten.) Elemen v*vv^*v adalah proyeksi awal (atau tumpuan) dari vv, sedangkan vv*vv^* adalah proyeksi akhir (atau jangkauan) dari vv. (Sebagai konsekuensi langsung dari proposisi berikutnya, jika vv suatu isometri parsial, maka vv*vv^* memang merupakan proyeksi.)

Proposisi 7.2.2.

Jika vv suatu isometri parsial dalam aljabar-C*C^*, maka

  1. vv*v=vvv^*v = v ; dan

  2. v*v^* merupakan isometri parsial.

Bukti.

Petunjuk untuk bukti. Misalkan z=vvv*vz = v - vv^*v dan tinjau z*zz^*z. ◻

Proposisi 7.2.3.

Misalkan vv suatu isometri parsial dalam aljabar-C*C^* AA. Maka proyeksi awalnya pp adalah proyeksi terkecil (terhadap urutan parsial \preceq pada 𝒫(A)\mathcal{P}(A) ) sedemikian sehingga vp=vvp = v, dan proyeksi akhirnya qq adalah proyeksi terkecil sedemikian sehingga qv=vqv = v.

Proposisi 7.2.4.

Jika VV suatu isometri parsial pada ruang Hilbert HH (yakni, jika VV suatu isometri parsial dalam aljabar-C*C^* 𝔅(H)\mathfrak{B}(H) ), maka proyeksi awal V*VV^*V adalah proyeksi dari HH pada (kerV)(\ker V)^\perp, dan proyeksi akhir VV*VV^* adalah proyeksi dari HH pada ranV\mathop{\mathrm{ran}}V.

Berdasarkan hasil sebelumnya, (kerV)(\ker V)^\perp disebut ruang awal (atau tumpuan) dari VV, sedangkan ranV\mathop{\mathrm{ran}}V kadang-kadang disebut ruang akhir dari VV.

Proposisi 7.2.5.

Suatu operator pada ruang Hilbert merupakan isometri parsial jika dan hanya jika operator tersebut merupakan isometri pada komplemen ortogonal dari kernelnya.

Teorema 7.2.6.

Jika TT suatu operator pada ruang Hilbert HH, maka terdapat isometri parsial VV pada HH sedemikian sehingga

  1. ruang awal VV adalah (kerT)(\ker T)^\perp,

  2. ruang akhir VV adalah ranT¯\overline{\mathop{\mathrm{ran}}T}, dan

  3. T=V|T|T = V\lvert T\rvert.

Dekomposisi TT ini unik dalam arti bahwa jika T=V0PT = V_0P dengan V0V_0 suatu isometri parsial dan PP suatu operator positif sedemikian sehingga kerV0=kerP\ker V_0 = \ker P, maka P=|T|P = \lvert T\rvert dan V0=VV_0 = V.

Bukti.

Proof. Lihat [8], VIII.3.11;[10], teorema I.8.1; [32], teorema 6.1.2;[39], teorema 2.3.4; atau [41], teorema 3.2.17. ◻

Akibat 7.2.7.

Jika TT adalah suatu operator invertibel pada suatu ruang Hilbert, maka isometri parsial dalam dekomposisi polar (lihat 7.2.6) bersifat uniter.

Proposisi 7.2.8.

Jika TT adalah suatu operator normal pada suatu ruang Hilbert HH, maka terdapat operator uniter UU pada HH yang berkomutasi dengan TT dan memenuhi T=U|T|T = U\lvert T\rvert.

Bukti.

Proof. Lihat [41], proposisi 3.2.20. ◻

Latihan 7.2.9.

Misalkan (S,𝒜,μ)(S, \mathcal{A},\mu) suatu ruang ukur σ\sigma-hingga dan ϕL(μ)\phi \in L_\infty(\mu). Tentukan dekomposisi polar dari operator perkalian MϕM_\phi (lihat contoh 5.2.15).

Operator Kelas Jejak

Mari kita mulai dengan meninjau beberapa sifat standar jejak suatu matriks n×nn \times n.

Definisi 7.3.1.

Misalkan a=[aij]𝑴na = [a_{ij}] \in \mathbf M_n. Definisikan tra\mathop{\mathrm{tr}}a, yaitu jejak dari aa, dengan tra=i=1naii.\mathop{\mathrm{tr}}a = \sum_{i = 1}^n a_{ii}.

Proposisi 7.3.2.

Fungsi tr:𝑴n\mathop{\mathrm{tr}}\colon \mathbf M_n \rightarrow\mathbb{C} bersifat linear.

Proposisi 7.3.3.

Jika aa, b𝑴nb \in \mathbf M_n, maka tr(ab)=tr(ba)\mathop{\mathrm{tr}}(ab) = \mathop{\mathrm{tr}}(ba).

Jejak bersifat invarian terhadap keserupaan. Dua matriks n×nn \times n, yaitu aa dan bb, disebut serupa jika terdapat matriks invertibel ss sedemikian sehingga b=sas1b = sas^{-1}.

Proposisi 7.3.4.

Matriks-matriks dalam 𝑴n\mathbf M_n yang serupa mempunyai jejak yang sama.

Definisi 7.3.5.

Misalkan HH suatu ruang Hilbert separabel, (en)(e_n) suatu basis ortonormal bagi HH, dan TT suatu operator positif pada HH. Definisikan jejak dari TT dengan trT:=k=1Tek,ek.\mathop{\mathrm{tr}}T:=\sum_{k=1}^\infty \langle Te_k,e_k \rangle. (Jejak tidak harus berhingga.)

Proposisi 7.3.6.

Jika SS dan TT merupakan operator positif pada suatu ruang Hilbert separabel dan α0\alpha \ge 0, maka tr(S+T)=trS+trT\mathop{\mathrm{tr}}(S + T) = \mathop{\mathrm{tr}}S + \mathop{\mathrm{tr}}T dan tr(αT)=αtrT.\mathop{\mathrm{tr}}(\alpha T) = \alpha \mathop{\mathrm{tr}}T.

Proposisi 7.3.7.

Jika TT suatu operator pada ruang Hilbert separabel, maka tr(T*T)=tr(TT*)\mathop{\mathrm{tr}}(T^*T) = \mathop{\mathrm{tr}}(TT^*).

Untuk menunjukkan bahwa definisi jejak operator positif yang diberikan di atas tidak bergantung pada basis ortonormal yang dipilih bagi ruang Hilbert tersebut, kita memerlukan suatu hasil (yang diberikan berikut ini) yang bergantung pada fakta yang muncul kemudian dalam catatan ini: setiap operator positif pada ruang Hilbert memiliki akar kuadrat (positif) (lihat contoh 11.5.7).

Proposisi 7.3.8.

Pada keluarga operator positif di suatu ruang Hilbert separabel HH, jejak bersifat invarian terhadap ekuivalensi uniter; yakni, jika TT operator positif dan UU uniter, maka trT=tr(UTU*)\mathop{\mathrm{tr}}T = \mathop{\mathrm{tr}}(UTU^*).

Bukti.

Petunjuk untuk bukti. Dalam proposisi sebelumnya, ambil S=UT12S = UT^{\frac12}. ◻

Proposisi 7.3.9.

Definisi jejak 7.3.5 dari suatu operator positif pada ruang Hilbert separabel tidak bergantung pada pemilihan basis ortonormal bagi ruang tersebut.

Bukti.

Petunjuk untuk bukti. Misalkan (ek)(e^k) dan (fk)(f^k) basis-basis ortonormal bagi ruang tersebut dan TT suatu operator positif pada ruang itu. Ambil UU sebagai operator uniter unik yang memenuhi ek=Ufke^k = Uf^k untuk setiap kk \in \mathbb{N}. ◻

Definisi 7.3.10.

Misalkan VV suatu ruang vektor. Suatu subhimpunan CC dari VV disebut kerucut jika αCC\alpha C \subseteq C untuk setiap α0\alpha \ge 0. Suatu kerucut CC dalam VV disebut proper jika C(C)={𝟎}C \cap (-C) = \{\mathbf{0}\}.

Proposisi 7.3.11.

Suatu kerucut CC dalam ruang vektor bersifat konveks jika dan hanya jika C+CCC + C \subseteq C.

Contoh 7.3.12.

Pada suatu ruang Hilbert separabel HH, keluarga semua operator positif dengan jejak hingga membentuk kerucut konveks proper dalam ruang vektor 𝔅(H)\mathfrak{B}(H).

Definisi 7.3.13.

Dalam ruang Hilbert separabel HH, subruang linear dari 𝔅(H)\mathfrak{B}(H) yang direntang oleh operator-operator positif dengan jejak hingga adalah keluarga 𝔗(H)\mathfrak{T}(H) dari operator kelas jejak pada HH.

Proposisi 7.3.14.

Misalkan HH ruang Hilbert separabel dengan basis ortonormal (en)(e_n). Jika TT operator kelas jejak pada HH, maka trT=k=1Tek,ek\mathop{\mathrm{tr}}T = \sum_{k=1}^\infty \langle Te_k,e_k \rangle dan deret di ruas kanan konvergen mutlak.

Operator Hilbert–Schmidt

Definisi 7.4.1.

Suatu operator AA pada ruang Hilbert separabel HH adalah operator Hilbert–Schmidt jika A*AA^*A termasuk kelas jejak; yakni, jika k=1Aek2<\sum_{k=1}^\infty \lVert Ae_k\rVert^2 < \infty, dengan (ek)(e_k) suatu basis ortonormal untuk HH. Keluarga semua operator Hilbert–Schmidt pada HH dinyatakan dengan 𝔖(H)\mathfrak{HS}(H).

Proposisi 7.4.2.

Jika HH ruang Hilbert separabel, maka keluarga operator Hilbert–Schmidt pada HH merupakan ideal dua sisi dalam 𝔅(H)\mathfrak{B}(H).

Contoh 7.4.3.

Keluarga operator Hilbert–Schmidt pada suatu ruang Hilbert HH dapat dijadikan ruang hasil kali dalam.

Bukti.

Petunjuk untuk bukti. Polarisasi. Jika AA, B𝔖(H)B \in \mathfrak{HS}(H), tinjau k=03ik(A+ikB)*(A+ikB)\sum_{k=0}^3 i^k \bigl(A + i^kB\bigr)^*(A + i^kB). ◻

Contoh 7.4.4.

Hasil kali dalam yang didefinisikan dalam contoh sebelumnya menjadikan 𝔖(H)\mathfrak{HS}(H) suatu ruang Hilbert.

Proposisi 7.4.5.

Pada ruang Hilbert separabel, setiap operator Hilbert–Schmidt bersifat kompak.

Bukti.

Petunjuk untuk bukti. Jika (ek)(e_k) suatu basis ortonormal untuk ruang Hilbert tersebut, tinjau operator Fn:=APnF_n := AP_n, dengan PnP_n proyeksi pada rentang linear {e1,,en}\{e_1, \dots, e_n\}. ◻

Contoh 7.4.6.

Operator integral yang didefinisikan dalam contoh 7.1.18 merupakan operator Hilbert–Schmidt.

Contoh 7.4.7.

Operator Volterra yang didefinisikan dalam contoh 5.2.21 merupakan operator Hilbert–Schmidt.