Saya memulai jilid ini dengan sebuah ‘bab berbintang’. Maksudnya ialah bahwa saya sebenarnya tidak menganjurkan bab ini bagi pemula. Bab ini membahas beragam persoalan teknis yang sangat penting bagi perkembangan selanjutnya dari pokok bahasan ini, tetapi mungkin terasa abstrak sekaligus samar bagi siapa pun yang belum menjumpai persoalan-persoalan yang hendak diselesaikan oleh teknik-teknik tersebut. Di pihak lain, jika (sebagaimana lazimnya) pembahasan ini ditiadakan dan gagasannya baru diperkenalkan ketika benar-benar diperlukan, mahasiswa mungkin pada akhirnya hanya memiliki gambaran yang sangat kabur mengenai teorema mana yang dapat diharapkan berlaku bagi jenis ruang ukur yang mana, serta tanpa kosakata untuk mengungkapkan gagasan-gagasan tersebut. Karena itu, saya menggunakan beberapa halaman untuk memperkenalkan terminologi dan konsep yang dapat dipakai untuk membedakan ruang ukur yang ‘baik’ dari ruang ukur lainnya, disertai beberapa hubungan dasarnya. Paragraf-paragraf yang langsung relevan dengan teori yang dipaparkan dalam Jilid 1 hanyalah paragraf tentang ruang ukur ‘lengkap’, ‘\(\sigma\)-hingga’, dan ‘semihingga’ (211A, 211D, 211F, 211Lc, §212, 213A-213B, 215B), serta tentang ukuran Lebesgue (211M). Untuk selebihnya, menurut saya seorang pendatang baru dalam bidang ini dapat melewati bab ini untuk sementara waktu, lalu kembali ke bagian-bagian tertentu ketika teks dalam bab-bab berikutnya merujuk kepadanya. Di pihak lain, bab ini juga dapat digunakan sebagai pengantar pada corak teori ukuran yang ‘paling murni’, yakni kajian ruang ukur sebagai objek tersendiri, dengan pembahasan sistematis atas beberapa konstruksi elementer.