2 Kongruensi
Kongruensi tidak lebih dari sebuah pernyataan mengenai keterbagian. Teori kongruensi diperkenalkan oleh Carl Friedrich Gauss, dalam karya monumentalnya Disquisitiones Arithmeticae (diterbitkan pada tahun 1801, ketika ia berusia 24 tahun; terjemahannya terdapat dalam (Gauß 1986)).
Kita mulai dengan memperkenalkan kongruensi beserta sifat-sifatnya. Kemudian kita menyajikan solusi kongruensi linear sebagai pengantar menuju Teorema Sisa Cina yang akan dibahas sesudahnya.
2.1 Pengantar Kongruensi
Seperti disebutkan dalam pengantar, teori kongruensi dikembangkan oleh Gauss pada awal abad kesembilan belas.
Definisi 2.1. Untuk dan , kita mengatakan bahwa kongruen dengan modulo jika , yakni jika sedemikian sehingga . Jika kongruen dengan modulo , kita menulis .
Contoh 2.2. . Demikian pula, , yang berarti bahwa setiap bilangan ganjil kongruen dengan 1 modulo 2.
Dalam banyak hal, kongruensi sangat menyerupai kesamaan. Sebagai contoh:
Teorema 2.3. Misalkan dan . Maka
Jika , maka .
Jika dan , maka .
Jika , maka .
Jika , maka .
Jika , maka .
Jika dan , maka .
Jika dan , maka .
Jika dan , maka .
Jika dan , maka .
Bukti.
Jika , maka . Jadi terdapat sedemikian sehingga . Hal ini mengakibatkan , sehingga . Dengan demikian, .
Karena dan , berlaku dan . Oleh karena itu, terdapat sedemikian sehingga dan . Akibatnya, . Dengan kata lain, .
Karena , berlaku . Dengan menambahkan dan mengurangkan , kita memperoleh yang berarti bahwa
Karena , berlaku . Dengan mengurangkan dan menambahkan , kita memperoleh sehingga
Jika , maka . Jadi terdapat sedemikian sehingga , dan akibatnya . Oleh karena itu, dan dengan demikian
Jika , maka . Jadi terdapat sedemikian sehingga , dan akibatnya Jadi, dan dengan demikian
Karena dan , berlaku dan . Oleh karena itu, terdapat sedemikian sehingga dan . Perhatikan bahwa Akibatnya, sehingga
Jika dan untuk , maka Akibatnya, sehingga
Terdapat sedemikian sehingga dan . Dengan demikian, dan . Perhatikan bahwa Akibatnya, sehingga
◻
Berikut sebuah hasil teknis yang akan berguna kelak:
Teorema 2.4.
Misalkan . Jika , , serta dan relatif prima, maka .
Bukti. Berdasarkan Akibat 1.30, terdapat sedemikian sehingga . Dari hipotesis keterbagian, terdapat pula sedemikian sehingga dan . Kita hitung: Ini berarti , seperti yang diinginkan. ◻
Contoh-contoh 2.5.
, sehingga .
Karena dan , berlaku pula .
, sehingga .
, sehingga .
, sehingga .
, sehingga , atau .
Karena dan , kita memperoleh .
Karena dan , kita memperoleh .
Karena dan , kita memperoleh .
Berikut sebuah hasil yang pada awalnya tampak sangat sederhana, tetapi ternyata amat berguna — sedemikian bergunanya sehingga hasil ini memiliki nama.
Lema 2.6. Lemma Euklides: Misalkan . Jika dan , maka .
Bukti. Dari Akibat 1.30, terdapat sedemikian sehingga . Dengan mengalikan kedua ruas dengan , kita memperoleh . Namun, berdasarkan asumsi , berlaku ; jelas pula bahwa . Jadi , yakni . ◻
Sekarang kita menyajikan sebuah teorema yang memperlihatkan salah satu perbedaan antara persamaan dan kongruensi. Pada persamaan, kesamaan tetap berlaku jika kedua ruas dibagi dengan suatu bilangan tak nol. Namun, pada kongruensi, hal ini belum tentu berlaku. Dengan kata lain, membagi kedua ruas suatu kongruensi dengan bilangan bulat yang sama belum tentu mempertahankan kongruensi tersebut.
Teorema 2.7.
Misalkan dan , serta definisikan . Jika , maka .
Secara khusus, jika , maka
Bukti. Untuk Bagian 1, jika , maka Jadi terdapat sedemikian sehingga . Dengan membagi kedua ruas dengan , kita memperoleh , atau . Berdasarkan Teorema 1.26, . Karena itu, Lemma Euklides 2.6 menyatakan bahwa . Dengan demikian, .
Untuk Bagian 2, arah merupakan Bagian 5 dari Teorema 2.3, sedangkan arah merupakan kasus khusus dari Bagian 1. ◻
Contoh 2.8. . Karena , kita memperoleh .
Pada tahap ini, satu hasil teknis terakhir patut dinyatakan dengan jelas:
Teorema 2.9.
Misalkan dengan . Terdapat tepat kelas solusi modulo yang memenuhi .
Bukti. Misalkan untuk . Jelas bahwa masing-masing dari nilai ini merupakan kelipatan , sehingga memenuhi . Jadi, kita hanya perlu menunjukkan bahwa setiap solusi dari kongruen modulo dengan salah satu tersebut.
Misalkan adalah solusi semacam itu. Maka terdapat sedemikian sehingga . Terapkan Algoritma Pembagian untuk membagi dengan , sehingga untuk suatu dengan . Namun, sehingga merupakan kelipatan yang terletak dalam rentang . Kelipatan-kelipatan semacam itu hanyalah yang didefinisikan di atas; misalkan . Maka . Dengan demikian, setiap solusi kongruen modulo dengan tepat satu dari solusi khusus . ◻
Latihan untuk §2.1
Latihan 2.1. Tentukan apakah dan kongruen modulo .
Latihan 2.2. Buktikan bahwa jika adalah bilangan bulat ganjil, maka .
Latihan 2.3. Buktikan bahwa jika dan memenuhi dan , maka .
Latihan 2.4. Buktikan bahwa jika dan memenuhi untuk , maka .
Latihan 2.5. Untuk nilai manakah berlaku ?
2.2 Kongruensi Linear
Karena kongruensi beranalogi dengan kesamaan, wajar jika kita menanyakan padanan persamaan linear — persamaan paling sederhana yang dapat diselesaikan dalam aljabar — dengan menggunakan kongruensi sebagai pengganti kesamaan. Dalam bagian ini, kita membahas kongruensi linear dalam satu peubah beserta solusi-solusinya.
Kita mulai dengan sebuah definisi:
Definisi 2.10. Untuk konstanta dan , kongruensi berbentuk , dengan sebagai peubah yang tidak diketahui, disebut kongruensi linear dalam satu peubah.
Jika suatu kongruensi linear memiliki satu solusi, maka kongruensi itu memiliki tak terhingga banyak solusi:
Teorema 2.11. Misalkan dan adalah konstanta, serta merupakan solusi kongruensi linear . Setiap lain yang memenuhi juga merupakan solusi kongruensi yang sama.
Catatan: pada masa awal perkembangan teori bilangan, sebelum Gauss, kongruensi linear dibahas melalui persamaan Diofantin berikut.
Definisi 2.12. Persamaan polinomial dengan koefisien bilangan bulat yang solusi-solusinya dicari dalam bilangan bulat disebut persamaan Diofantin.
Dalam istilah ini, kongruensi linear modern , untuk dan , setara dengan persamaan Diofantin linear dalam dua peubah tak diketahui, dan .
Hasil berikut memberikan karakterisasi yang cukup lengkap bagi solusi kongruensi linear:
Teorema 2.13.
Misalkan dan , dan tinjau kongruensi linear Dengan menetapkan , berlaku
Jika , maka kongruensi tersebut tidak memiliki solusi.
Jika , maka kongruensi tersebut memiliki tepat solusi yang berbeda modulo .
Bukti. Untuk Bagian 1, kita membuktikan kontraposisinya. Andaikan kongruensi tersebut memiliki solusi. Artinya, terdapat sedemikian sehingga , atau . Karena merupakan pembagi bersama dan , bilangan membagi kombinasi linear . Jadi .
Untuk Bagian 2, andaikan , sehingga terdapat sedemikian sehingga . Dari Teorema 1.29, terdapat sedemikian sehingga . Ini berarti , atau setelah disusun ulang, . Jadi , yakni . Dengan demikian, merupakan salah satu solusi kongruensi linear .
Terakhir, mari kita buktikan banyaknya solusi modulo . Kita baru saja melihat bahwa terdapat setidaknya satu yang memenuhi . Misalkan adalah solusi lain. Maka . Berdasarkan Bagian 1 dari Teorema 2.7, berlaku , atau . Menurut Teorema 2.9, terdapat tepat kemungkinan untuk modulo . Karena itu, terdapat paling banyak kelas solusi.
Sebaliknya, ambil salah satu dari kelas modulo yang memenuhi , lalu pilih sebuah wakil yang juga kita namai . Terdapat sedemikian sehingga . Karena , terdapat dengan , sehingga dan . Oleh sebab itu, . Penambahan oleh mempertahankan perbedaan kelas modulo , sehingga setiap kelas tersebut menghasilkan kelas solusi yang berbeda. Jadi kongruensi ini memiliki tepat solusi yang berbeda modulo . ◻
Catatan 2.14.
Perhatikan bahwa jika dan relatif prima, maka untuk setiap terdapat tepat satu solusi modulo bagi kongruensi .
Contoh 2.15. Mari kita cari semua solusi kongruensi . Perhatikan bahwa dan .
Jadi terdapat tiga solusi yang tidak kongruen satu sama lain modulo . Dengan menggunakan Algoritma Euklides untuk mencari solusi persamaan , kita memperoleh solusi . Dengan demikian, ketiga kelas solusi modulo 6 diberikan oleh , , dan .
Seperti disebutkan dalam Catatan 2.14, kongruensi untuk dan memiliki solusi tunggal modulo jika . Hal ini memungkinkan kita membahas invers modular.
Definisi 2.16. Misalkan dan dengan . Suatu solusi kongruensi disebut invers modulo . Kita menyatakan invers semacam itu dengan ; nilai dipahami dari konteks.
Dengan menyatakan secara formal hal yang baru saja diingatkan oleh Catatan 2.14, kita memperoleh
Akibat 2.17.
Jika dan relatif prima, maka invers modular ada dan tunggal modulo .
Contoh 2.18. Invers modular dari modulo adalah . Perhatikan bahwa salah satu solusi ialah .
Latihan untuk §2.2
Latihan 2.6. Carilah semua solusi .
Latihan 2.7. Carilah semua solusi .
Latihan 2.8. Carilah invers dan modulo .
Latihan 2.9. Misalkan dan . Buktikan bahwa jika adalah invers modulo dan adalah invers modulo , maka adalah invers modulo .
2.3 Teorema Sisa Cina
Dalam bagian ini, kita membahas solusi sistem kongruensi dengan modulus yang berbeda-beda. Salah satu contoh sistem semacam itu adalah sebagai berikut: carilah bilangan yang menyisakan 1 ketika dibagi 2, menyisakan 2 ketika dibagi 3, dan menyisakan 3 ketika dibagi 5. Kita akan melihat bahwa terdapat cara sistematis untuk menyelesaikan sistem semacam ini.
Teorema 2.19. Teorema Sisa Cina: Tetapkan . Untuk dan , sistem kongruensi memiliki solusi jika relatif prima berpasangan. Solusinya tunggal modulo .
Bukti. Untuk , misalkan . Karena modulus-modulus relatif prima berpasangan, — sebab merupakan hasil kali semua modulus selain . Berdasarkan Akibat 2.17, terdapat invers modulo yang memenuhi . Sekarang, tinjau Karena kita memperoleh Jadi, merupakan solusi sistem kongruensi tersebut.
Sekarang kita perlu menunjukkan bahwa setiap dua solusi kongruen modulo . Misalkan dan keduanya merupakan solusi sistem kongruensi tersebut. Maka , atau , untuk setiap . Karena modulus-modulus itu relatif prima berpasangan, dengan menerapkan Teorema 2.4 berulang kali (secara formal, melalui induksi), kita menyimpulkan bahwa , atau . ◻
Contoh 2.20. Selesaikan sistem Kita memperoleh . Selain itu, Sekarang kita perlu menyelesaikan ; salah satu solusinya adalah . Dengan cara yang sama, kita memperoleh dan . Oleh karena itu,
Latihan untuk §2.3
Latihan 2.10. Carilah bilangan bulat yang menyisakan 2 ketika dibagi 3 maupun 5, tetapi habis dibagi 4.
Latihan 2.11. Carilah semua bilangan bulat yang menyisakan 4 ketika dibagi 11 dan menyisakan 3 ketika dibagi 17.
Latihan 2.12. Carilah semua bilangan bulat yang menyisakan 1 ketika dibagi 2, menyisakan 2 ketika dibagi 3, dan menyisakan 3 ketika dibagi 5.
Latihan 2.13. Sekelompok 17 bajak laut mencuri sejumlah batangan emas. Ketika mereka mencoba membagi hasil rampasan itu secara merata, tersisa 3 batang; perkelahian pun pecah dan menewaskan satu orang. Mereka segera tenang dan memeriksa apakah emas itu kini dapat dibagi rata. Sayangnya, masih tersisa 10 batang, sehingga mereka bertarung lagi. Setelah satu korban jiwa lagi yang tak terelakkan, emas itu akhirnya dapat dibagi rata tanpa sisa. Berapakah jumlah minimum batangan emas yang mungkin mereka miliki pada awalnya? [Soal ini tampaknya merupakan soal Cina kuno.]
2.4 Cara Lain Menangani Kongruensi: Kelas Ekuivalensi
Dalam bagian ini, kita akan mempelajari cara lain untuk menangani kongruensi, berdasarkan gagasan berikut.
Definisi 2.21. Misalkan suatu himpunan dan suatu relasi yang didefinisikan pada . (Artinya, untuk setiap , pernyataan “” dapat bernilai benar atau salah.) Jika memenuhi ketiga sifat berikut, relasi itu disebut relasi ekuivalensi:
[Refleksivitas] , .
[Simetri] , .
[Transitivitas] , dan .
Jika merupakan relasi ekuivalensi pada himpunan dan , maka himpunan disebut kelas ekuivalensi dari . Kita menulis untuk himpunan semua kelas ekuivalensi dalam . Jika , maka setiap yang memenuhi disebut wakil kelas ekuivalensi .
Teorema 2.22. Misalkan suatu himpunan dan suatu relasi ekuivalensi yang didefinisikan pada . Maka
.
, berlaku tepat salah satu dari atau .
Bukti. (1): Pernyataan ini tidak lain adalah sifat refleksif dari .
(2): Misalkan . Ini berarti dan . Berdasarkan simetri, ; berdasarkan transitivitas, .
Sekarang, jika dan , maka dan . Karena , transitivitas memberi , sehingga . Selain itu, simetri memberi , lalu transitivitas memberi , sehingga .
Oleh karena itu, dan , sehingga .
Argumen tersebut hanya menggunakan adanya suatu elemen . Jadi, jika , haruslah . Kedua kemungkinan itu tidak dapat berlaku sekaligus, sebab Bagian (1) menunjukkan bahwa setiap kelas ekuivalensi tidak kosong. ◻
Contoh 2.23. Pada himpunan , kita dapat mendefinisikan relasi jika . Maka tidak lain adalah himpunan bilangan rasional, !
Sekarang, mari kita khususkan konsep kelas ekuivalensi pada kongruensi.
Proposisi 2.24. Untuk , relasi pada yang didefinisikan oleh (yang akan kita tulis sebagai jika jelas dari konteks) merupakan relasi ekuivalensi.
Definisi 2.25. Untuk dan , kelas ekuivalensi dari menurut relasi ekuivalensi di atas disebut kelas kongruensi dari modulo dan ditulis (atau, dengan sedikit penyalahgunaan notasi, cukup jika dipahami dari konteks). Himpunan kelas ekuivalensi disebut bilangan bulat modulo dan ditulis (atau, oleh sebagian penulis, atau ).
Teorema 2.26. Untuk , mempunyai elemen, dengan sebagai wakil dari kelas-kelas ekuivalensi yang berbeda itu. Dengan kata lain,
Bukti. Untuk dan , Algoritma Pembagian menyatakan bahwa terdapat pasangan tunggal sedemikian sehingga dan . Perhatikan bahwa atau, secara ekuivalen, . Jadi, setiap merupakan anggota tepat satu kelas ekuivalensi untuk . Karena setiap tersebut berada dalam , dan hanya dalam satu kelas semacam itu, kelas-kelas ekuivalensi semuanya berbeda. ◻
Hal menarik tentang adalah bahwa kita dapat melakukan banyak operasi aritmetika bilangan bulat yang biasa di dalamnya; bahkan, terkadang kita dapat melakukan sedikit lebih banyak daripada biasanya.
Definisi 2.27. Untuk dan , definisikan dan , dengan dan masing-masing sebarang wakil dari kelas kongruensi dan .
Teorema 2.28. Operasi dan pada terdefinisi dengan baik. Artinya, kedua operasi itu tidak bergantung pada wakil kelas kongruensi yang dipilih.
Bukti. Misalkan dan . Ambil sedemikian sehingga dan . Maka dan . Berdasarkan Teorema 2.3, dan , sehingga dan . Jadi, baik maupun memberikan definisi yang sama bagi , dan hal yang sama berlaku untuk . ◻
Operasi-operasi baru ini mempunyai sifat-sifat yang sangat baik.
Teorema 2.29.
Untuk , penjumlahan dan perkalian pada
bersifat komutatif dan asosiatif;
perkalian bersifat distributif terhadap penjumlahan;
kedua operasi mempunyai elemen identitas, yaitu untuk penjumlahan dan untuk perkalian;
setiap elemen mempunyai invers aditif, yaitu invers dari adalah (atau , nama lain bagi elemen yang sama); dan
suatu elemen mempunyai invers multiplikatif jika dan hanya jika ; invers ini tunggal apabila ada.
Bukti. Diserahkan kepada pembaca. Perhatikan bahwa butir terakhir pada dasarnya merupakan Akibat 2.17 yang dinyatakan kembali dalam bahasa kelas kongruensi. ◻
Selain Akibat 2.17, banyak hasil kita sebelumnya juga dapat dinyatakan kembali dengan kelas kongruensi. Sebagian besar akan diserahkan kepada pembaca, tetapi berikut salah satu contohnya.
Teorema 2.30. Untuk dan , misalkan . Tinjau persamaan dengan . Maka
Jika , persamaan itu tidak mempunyai solusi.
Jika , persamaan itu mempunyai tepat solusi dalam .
Bukti. Diserahkan kepada pembaca; pernyataan ini tidak lain adalah Teorema 2.13 dalam bentuk lain. ◻
Latihan untuk §2.4
Latihan 2.14. Ketika bilangan rasional dideskripsikan seperti dalam Contoh 2.23, kita mendefinisikan penjumlahan dengan dan perkalian dengan , dengan serta dan keduanya tidak nol. Buktikan padanan Teorema 2.28 untuk bentuk ini.
Apa saja identitas aditif dan multiplikatif dalam ini? Apakah setiap elemen (atau hampir setiap elemen) mempunyai invers aditif dan invers multiplikatif? Jika ya, berikan rumus bagi invers-invers tersebut; jika tidak, jelaskan alasannya.
Latihan 2.15. Nyatakan kembali Teorema Sisa Cina dengan kelas-kelas kongruensi dan persamaan dalam berbagai , bukan dengan kongruensi.
Latihan 2.16. Buktikan pernyataan-pernyataan dalam bagian ini yang buktinya “diserahkan kepada pembaca.”
2.5 Fungsi Euler
Euler membuat definisi berikut, dan definisi itu ternyata sangat berguna.
Definisi 2.31. Untuk ,
Dengan kata lain, menghitung banyaknya bilangan bulat tak-negatif yang lebih kecil daripada dan relatif prima dengan .
Fungsi ini disebut fungsi Euler, atau fungsi totient Euler. (Dalam bahasa Inggris, “totient” berima dengan “quotient”; nama ini diberikan oleh matematikawan Inggris Sylvester.)
Berikut salah satu kegunaan fungsi tersebut.
Teorema 2.32. Untuk , adalah banyaknya elemen yang mempunyai invers multiplikatif.
Bukti. Pernyataan ini langsung mengikuti Bagian (5) dari Teorema 2.29. ◻
Satu fakta yang cukup mengejutkan tentang fungsi totient Euler adalah bahwa fungsi ini bersifat multiplikatif, setidaknya untuk bilangan-bilangan yang relatif prima.
Teorema 2.33.
Untuk , jika , maka .
Bukti. Pernyataan ini merupakan penerapan Teorema Sisa Cina yang menarik, seperti yang akan kita lihat.
Tetapkan yang relatif prima. Untuk , misalkan sehingga .
(Notasi ini menyatakan banyaknya elemen dalam himpunan .)
Sekarang, definisikan himpunan pasangan Perhatikan bahwa , sebab setiap komponen pasangan dapat dipilih bebas dari himpunannya masing-masing. Jadi, banyaknya pasangan adalah hasil kali ukuran kedua himpunan. Oleh karena itu, jika kita dapat membuktikan bahwa berkorespondensi secara bijektif dengan , maka
seperti yang diinginkan, sebab himpunan-himpunan yang berkorespondensi secara bijektif mempunyai jumlah elemen yang sama.
Korespondensi tersebut diberikan oleh fungsi
Kita harus menunjukkan bahwa terdefinisi dengan baik, injektif, dan surjektif. Pertama, memang memetakan ke kodomain yang dinyatakan. Jika mempunyai invers , maka , sehingga dan . Jadi, dan keduanya mempunyai invers multiplikatif.
Selanjutnya, keterdefinisian dengan baik berarti bahwa, untuk suatu , jika merupakan wakil lain dari kelas kongruensi , maka . Dengan demikian, ditentukan hanya oleh kelas , bukan oleh pilihan wakil . Hal ini mudah dilihat: berarti , sehingga terdapat sedemikian sehingga . Dua bentuk terakhir berarti dan , sehingga dan . Jadi, terdefinisi dengan baik.
Sekarang, misalkan memenuhi , yaitu dan . Dengan demikian, menyelesaikan sistem Nilai juga menyelesaikan sistem ini. Teorema Sisa Cina menyatakan bahwa solusi sistem tersebut tunggal modulo karena .
Oleh karena itu, , sehingga . Jadi, dan injektif.
Terakhir, ambil sebarang pasangan dan tinjau sistem Karena , Teorema Sisa Cina memberikan suatu solusi .
Masih perlu ditunjukkan bahwa mempunyai invers. Ambil dan . Teorema Sisa Cina memberikan yang memenuhi dan . Akibatnya, dan . Karena dan merupakan solusi sistem yang sama, ketunggalan dalam Teorema Sisa Cina memberi . Jadi, dan . Dengan demikian, juga surjektif. ◻
Latihan untuk §2.5
Latihan 2.18. Hitunglah untuk . Buatlah dugaan umum. Dapatkah Anda membuktikannya?
Latihan 2.19. Hitunglah untuk . Buatlah dugaan tentang untuk . Buktikan dugaan tersebut!