1 Keterurutan Baik dan Pembagian
1.1 Prinsip Keterurutan Baik dan Induksi Matematika
Dalam bab ini, kita menyajikan tiga alat dasar yang akan sering digunakan untuk membuktikan sifat-sifat bilangan bulat. Kita mulai dengan sebuah sifat bilangan bulat yang sangat penting, yaitu prinsip keterurutan baik. Selanjutnya, kita menyatakan apa yang dikenal sebagai prinsip sarang merpati, lalu memperkenalkan metode penting yang disebut induksi matematika.
1.1.1 Prinsip Keterurutan Baik
Definisi 1.1. Diberikan suatu himpunan bilangan (dari jenis apa pun), kita mengatakan bahwa adalah elemen terkecil dari jika , berlaku atau .
Prinsip Keterurutan Baik 1.1. Setiap himpunan bilangan asli yang tidak kosong memiliki elemen terkecil.
Prinsip ini sering diambil sebagai sebuah aksioma.
1.1.2 Prinsip Sarang Merpati
Teorema 1.2. Prinsip Sarang Merpati: Misalkan memenuhi . Jika objek ditempatkan ke dalam kotak, maka sekurang-kurangnya satu kotak memuat lebih dari satu objek.
Bukti. Andaikan setiap kotak memuat paling banyak satu objek. Maka terdapat paling banyak objek, padahal terdapat objek dengan . ◻
1.1.3 Prinsip Induksi Matematika
Sekarang kita menyajikan sebuah alat berharga untuk membuktikan hasil-hasil mengenai bilangan bulat. Alat ini adalah prinsip induksi matematika.
Teorema 1.3. Prinsip Pertama Induksi Matematika: Misalkan adalah himpunan yang memenuhi kedua sifat berikut:
; dan
.
Maka
.
Secara lebih umum, misalkan
adalah suatu sifat bilangan asli yang mungkin benar atau mungkin tidak
benar untuk suatu
tertentu, dan memenuhi
benar; dan
maka benar.
Bukti. Kita menggunakan prinsip keterurutan baik untuk membuktikan prinsip pertama induksi matematika ini.
Misalkan adalah himpunan pada bagian pertama teorema dan adalah himpunan bilangan asli yang tidak termasuk dalam . Kita akan menggunakan bukti dengan kontradiksi, jadi andaikan tidak kosong.
Menurut prinsip keterurutan baik, memiliki elemen terkecil .
Perhatikan bahwa , sehingga dan akibatnya . Jadi, adalah bilangan asli. Karena merupakan elemen terkecil dari , maka tidak berada di ; oleh karena itu, bilangan tersebut berada di .
Namun, berdasarkan sifat yang mendefinisikan , karena , kita memperoleh . Hal ini bertentangan dengan fakta bahwa adalah elemen terkecil dari , sehingga berada di dan tidak berada di .
Kontradiksi ini menunjukkan bahwa anggapan bahwa tidak kosong adalah salah; dengan demikian, .
Untuk bagian kedua teorema, ambil , lalu terapkan bagian pertama. ◻
Contoh 1.4. Kita menggunakan induksi matematika untuk menunjukkan bahwa , Pertama, perhatikan bahwa sehingga pernyataan tersebut benar untuk . Untuk langkah induksi selanjutnya, andaikan rumus itu berlaku bagi suatu tertentu, yaitu . Kita tunjukkan bahwa Dengan demikian, bukti induksi akan lengkap. Memang, dan hasil yang diinginkan pun diperoleh.
Contoh 1.5. Sekarang kita menggunakan induksi matematika untuk membuktikan bahwa untuk setiap .
Perhatikan bahwa . Selanjutnya, kita menyajikan langkah induksi. Andaikan untuk suatu . Kita buktikan bahwa . Perhatikan bahwa Ini melengkapi bukti.
Teorema 1.6. Prinsip Kedua Induksi Matematika:
Misalkan adalah himpunan yang memenuhi kedua sifat berikut:
; dan
.
Maka
.
Secara lebih umum, misalkan
adalah suatu sifat bilangan asli yang mungkin benar atau mungkin tidak
benar untuk suatu
tertentu, dan memenuhi
benar; dan
jika semuanya benar, maka juga benar,
maka benar.
Bukti. Untuk membuktikan prinsip kedua induksi, kita menggunakan prinsip pertama induksi.
Misalkan adalah himpunan bilangan bulat seperti pada bagian pertama teorema. Untuk , misalkan adalah sifat matematika “”. Kita dapat menerapkan Prinsip Pertama Induksi Matematika untuk membuktikan bahwa benar, yang berarti . [Rinciannya diserahkan kepada pembaca.]
Bagian kedua teorema mengikuti bagian pertama dengan cara yang persis sama seperti bagian kedua Prinsip Pertama Induksi Matematika mengikuti bagian pertamanya. ◻
Latihan untuk §1.1
Latihan 1.1. Buktikan dengan induksi matematika bahwa untuk setiap bilangan bulat positif .
Latihan 1.2. Tunjukkan bahwa .
Latihan 1.3. Gunakan induksi matematika untuk
membuktikan bahwa
.
Latihan 1.4. Gunakan induksi matematika untuk membuktikan bahwa untuk setiap bilangan bulat positif .
Latihan 1.5. Gunakan induksi matematika untuk membuktikan bahwa .
Latihan 1.6. Gunakan induksi matematika untuk membuktikan bahwa untuk .
Latihan 1.7. Gunakan induksi matematika untuk membuktikan bahwa untuk .
1.2 Operasi Aljabar pada Bilangan Bulat
Pada , himpunan bilangan bulat, terdapat dua operasi biner dasar, yaitu penjumlahan (dinotasikan dengan ) dan perkalian (dinotasikan dengan ). Kedua operasi ini memenuhi sifat-sifat yang sudah dikenal berikut:
Komutativitas penjumlahan dan perkalian
Asosiativitas penjumlahan dan perkalian
Distributivitas perkalian terhadap penjumlahan
Di dalam himpunan terdapat elemen identitas untuk kedua operasi dan , masing-masing yaitu elemen dan . Elemen-elemen ini memenuhi sifat dasar
Setiap elemen dalam himpunan mempunyai invers aditif. Artinya, untuk setiap terdapat bilangan bulat lain dalam , yang dinotasikan dengan , sedemikian sehingga Untuk perkalian, bilangan bulat yang mempunyai invers multiplikatif hanyalah dan . Untuk kedua bilangan tersebut, invers multiplikatif yang dinotasikan dengan atau sama dengan itu sendiri, sehingga
Dari operasi penjumlahan dan perkalian, kita dapat mendefinisikan dua operasi lain pada , yaitu pengurangan (dinotasikan dengan ) dan pembagian (dinotasikan dengan ). Pengurangan merupakan operasi biner pada , yakni didefinisikan untuk setiap pasangan bilangan bulat dalam . Sebaliknya, pembagian bukan operasi biner pada sehingga hanya didefinisikan untuk pasangan bilangan bulat tertentu. Pengurangan dan pembagian didefinisikan sebagai berikut:
, didefinisikan sebagai .
Diberikan dengan . Jika sedemikian sehingga , maka didefinisikan sebagai .
1.3 Keterbagian dan Algoritma Pembagian
Sekarang kita membahas konsep keterbagian beserta sifat-sifatnya.
1.3.1 Keterbagian Bilangan Bulat
Definisi 1.7. Jika dan adalah bilangan bulat dengan , kita mengatakan bahwa membagi dan menulis apabila terdapat bilangan bulat sedemikian sehingga . Dengan kata lain, untuk dengan , kita menulis apabila sedemikian sehingga .
Jika membagi , kita juga mengatakan bahwa adalah faktor [atau pembagi] dari , dan bahwa adalah kelipatan dari . Jika tidak membagi , kita menulis .
Contoh 1.8. Sebagai contoh, dan , sedangkan .
Definisi 1.9. Untuk , kita mengatakan bahwa adalah bilangan genap jika , yaitu jika sedemikian sehingga . Sebaliknya, untuk , kita mengatakan bahwa adalah bilangan ganjil jika .
Sebagai konsekuensi dari Algoritma Pembagian di bawah ini, jika ganjil maka sedemikian sehingga .
Proposisi 1.10. Untuk setiap berlaku .
Proposisi 1.11. Jika memenuhi dan , maka .
Proposisi 1.12. Untuk dengan , berlaku .
Teorema 1.13. Jika , , dan adalah bilangan bulat yang memenuhi dan , maka .
Bukti. Karena dan , terdapat sedemikian sehingga dan . Oleh karena itu, , sehingga . ◻
Contoh 1.14. Karena dan , maka .
Teorema berikut menyatakan bahwa jika suatu bilangan bulat membagi dua bilangan bulat lain, bilangan tersebut juga membagi setiap kombinasi linear keduanya.
Teorema 1.15. Untuk setiap , jika dan , maka .
Bukti. Karena dan , terdapat sedemikian sehingga dan . Dengan demikian, dan karena itu . ◻
Teorema 1.15 dapat diperumum ke setiap kombinasi linear berhingga sebagai berikut. Jika maka, untuk setiap , Pembuktian perumuman ini dengan induksi merupakan latihan yang baik.
1.3.2 Algoritma Pembagian
Teorema 1.16. Algoritma Pembagian Diberikan dengan , terdapat pasangan tunggal sedemikian sehingga dan . Bilangan disebut hasil bagi, sedangkan disebut sisa pembagian oleh .
Bukti. Perhatikan himpunan . Himpunan tidak kosong karena untuk berlaku . Menurut prinsip keterurutan baik, memiliki elemen terkecil untuk suatu . Berdasarkan konstruksinya, . Sekarang, jika , maka (karena ) Hal ini menghasilkan kontradiksi karena diasumsikan sebagai elemen terkecil . Oleh karena itu, .
Selanjutnya kita tunjukkan bahwa dan tunggal. Misalkan dan , dengan dan . Maka Akibatnya, Jadi, Karena dan , maka harus sama dengan , yaitu . Karena , kita juga memperoleh . Hal ini membuktikan ketunggalan. ◻
Contoh 1.17. Jika dan , maka . Di sini dan .
Latihan untuk §1.3
Latihan 1.8. Tunjukkan bahwa , , dan .
Latihan 1.9. Gunakan Algoritma Pembagian untuk menentukan hasil bagi dan sisa ketika 76 dibagi oleh 13.
Latihan 1.10. Gunakan Algoritma Pembagian untuk menentukan hasil bagi dan sisa ketika -100 dibagi oleh 13.
Latihan 1.11. Tunjukkan bahwa jika , dan adalah bilangan bulat, dengan dan tidak nol, serta dan , maka .
Latihan 1.12. Tunjukkan bahwa jika dan adalah bilangan bulat positif dan , maka .
Latihan 1.13. Buktikan bahwa jumlah dua bilangan bulat genap adalah genap, jumlah dua bilangan bulat ganjil adalah genap, dan jumlah sebuah bilangan bulat genap dengan sebuah bilangan bulat ganjil adalah ganjil.
Latihan 1.14. Tunjukkan bahwa hasil kali dua bilangan bulat genap adalah genap, hasil kali dua bilangan bulat ganjil adalah ganjil, dan hasil kali sebuah bilangan bulat genap dengan sebuah bilangan bulat ganjil adalah genap.
Latihan 1.15. Tunjukkan bahwa jika adalah bilangan bulat, maka membagi .
Latihan 1.16. Tunjukkan bahwa kuadrat setiap bilangan bulat ganjil berbentuk untuk suatu .
Latihan 1.17. Tunjukkan bahwa untuk setiap bilangan bulat , kuadrat berbentuk atau untuk suatu , tetapi tidak pernah berbentuk untuk .
Latihan 1.18. Tunjukkan bahwa jika , maka .
Latihan 1.19. Tunjukkan bahwa jika dan , maka .
1.4 Representasi Bilangan Bulat dalam Berbagai Basis
Pada bagian ini, kita menunjukkan bahwa setiap bilangan bulat positif dapat dituliskan secara unik dalam ekspansi pada sebarang basis bilangan bulat yang lebih besar dari . Biasanya kita menggunakan notasi desimal untuk merepresentasikan bilangan bulat. Kita akan menunjukkan cara mengubah bilangan bulat dari notasi desimal ke notasi dengan sebarang basis bilangan bulat lain, dan sebaliknya. Notasi desimal mungkin menjadi tradisi dalam kehidupan sehari-hari semata-mata karena kita memiliki sepuluh jari tangan. (“Lalu bagaimana dengan jari kaki kita?” protes Anda. Saya tidak tahu. Dan tampaknya bangsa Babilonia memiliki jari pada setiap tangan, atau jari pada setiap tangan dan kaki, sebab mereka menggunakan basis .)
Notasi Bilangan bulat yang ditulis dalam ekspansi basis dilambangkan dengan .
Teorema 1.18. Misalkan memenuhi . Maka, untuk setiap , terdapat tepat satu beserta digit-digit sedemikian sehingga
Bukti. Ambil sebarang . Mula-mula kita membagi dengan menggunakan Algoritma Pembagian, sehingga diperoleh Jika , selanjutnya kita membagi dengan dan memperoleh Jika , ambil dan ; bagian eksistensi selesai. Selanjutnya, anggap . Karena setiap hasil bagi positif berikutnya lebih kecil daripada hasil bagi sebelumnya, untuk suatu proses ini pertama kali berakhir pada . Dengan demikian,
Sekarang, dengan menyubstitusikan persamaan ke dalam , diperoleh Dengan menyubstitusikan persamaan-persamaan tersebut secara berturut-turut (atau dengan induksi pada ), diperoleh Yang masih harus dibuktikan ialah bahwa representasi tersebut tunggal. Sekarang misalkan Ambil dan tambahkan koefisien nol pada ekspansi yang lebih pendek. Dengan mengurangkan kedua ekspansi tersebut, diperoleh Jika kedua ekspansi berbeda, ambil indeks terkecil sedemikian sehingga . Semua suku berindeks lebih kecil daripada lenyap, sehingga diperoleh dan karena , diperoleh Oleh karena itu, sehingga . Karena dan , berlaku . Dengan demikian, . Ini bertentangan dengan pemilihan , sehingga ekspansi tersebut tunggal. ◻
Definisi 1.19. Misalkan memenuhi . Untuk , misalkan dan sebagaimana dalam teorema di atas (1.18). Maka representasi basis dari adalah rangkaian digit . Jika , kita sering menggunakan simbol tunggal lain untuk merepresentasikan nilai-nilai yang mungkin, dari sampai . Sebagai contoh, Representasi bilangan bulat dalam basis 2 disebut representasi biner. Representasi biner berguna bagi komputer: semua koefisien dalam representasi biner memenuhi , sehingga nilainya 0 atau 1. Jadi, untuk merepresentasikan bilangan bulat melalui kawat, setiap kawat dapat diberi tegangan (1) atau tidak (0). (Istilah bit berasal dari frasa bahasa Inggris binary digit, yang berarti “digit biner”.)
Pemrogram komputer juga sering menggunakan basis 8 dan basis 16, yang masing-masing disebut oktal dan heksadesimal, atau heks. Bangsa Babilonia menggunakan basis , yang disebut seksagesimal.
Contoh 1.20. Untuk mencari ekspansi basis 3 dari 214, kita melakukan pembagian berikut: Untuk memperoleh ekspansi basis 3 dari 214, kita membaca sisa-sisa pembagian tersebut dari bawah ke atas, sehingga .
Contoh 1.21. Untuk mencari ekspansi basis , yaitu ekspansi desimal, dari , kita menghitung .
1.4.1 Latihan untuk §1.4
Latihan 1.20. Ubah ke notasi basis 6.
Latihan 1.21. Ubah ke notasi basis 8.
Latihan 1.22. Ubah ke notasi desimal.
Latihan 1.23. Ubah ke notasi desimal.
Latihan 1.24. Ubah ke notasi biner.
1.5 Faktor Persekutuan Terbesar
Pada bagian ini kita mendefinisikan faktor persekutuan terbesar (FPB) dari dua bilangan bulat dan membahas sifat-sifatnya. Kita juga membuktikan bahwa FPB dua bilangan bulat merupakan kombinasi linear dari kedua bilangan tersebut.
Jika dua bilangan bulat dan tidak keduanya , setidaknya salah satunya taknol dan hanya mempunyai berhingga banyak pembagi (lihat Latihan 1.12). Karena itu, dan hanya mempunyai berhingga banyak pembagi bersama. Pada bagian ini kita membahas pembagi terbesar di antara pembagi-pembagi bersama tersebut.
Definisi 1.22. Untuk yang tidak keduanya nol, faktor persekutuan terbesar adalah bilangan bulat terbesar yang membagi sekaligus , dan ditulis (atau kadang-kadang cukup ).
Jika hal ini menyederhanakan suatu rumus, kita menetapkan .
Contoh 1.23. Faktor persekutuan terbesar dari 24 dan 18 adalah 6. Dengan kata lain, .
Definisi 1.24. Bilangan disebut relatif prima jika .
Contoh 1.25. Faktor persekutuan terbesar dari 9 dan 16 adalah 1; jadi, kedua bilangan tersebut relatif prima.
Perhatikan bahwa setiap bilangan bulat mempunyai pembagi positif dan negatif. Jika adalah pembagi positif dari , maka juga merupakan pembagi dari . Karena itu, dari definisi faktor persekutuan terbesar terlihat bahwa .
Kita dapat menggunakan FPB dua bilangan bulat untuk membentuk bilangan-bilangan yang relatif prima:
Teorema 1.26. Jika
tidak keduanya nol dan
,
maka
.
Bukti. Ambil . Kita akan menunjukkan bahwa dan tidak mempunyai pembagi bersama positif selain . Misalkan membagi sekaligus . Maka sedemikian sehingga Dengan demikian, Jadi, merupakan pembagi bersama dari dan . Selain itu, . Namun, adalah faktor persekutuan terbesar dari dan , sehingga . Oleh karena itu, . ◻
Teorema berikut menunjukkan bahwa faktor persekutuan terbesar dari dua bilangan bulat tidak berubah ketika suatu kelipatan dari salah satunya ditambahkan pada bilangan yang lain.
Teorema 1.27. Misalkan . Maka .
Bukti. Kita akan menunjukkan bahwa setiap pembagi bersama dari dan juga merupakan pembagi bersama dari dan , demikian pula sebaliknya. Jadi, kedua pasangan itu mempunyai himpunan pembagi bersama yang persis sama. Karena itu, faktor persekutuan terbesar dari dan juga menjadi faktor persekutuan terbesar dari dan . Misalkan adalah pembagi bersama dari dan . Menurut Teorema 1.15, , sehingga membagi . Sekarang misalkan adalah pembagi bersama dari dan . Sekali lagi, menurut Teorema 1.15, Jadi, merupakan pembagi bersama dari dan , dan hasil yang dimaksud pun terbukti. ◻
Contoh 1.28. Perhatikan bahwa .
Sekarang kita menyajikan teorema yang membuktikan bahwa faktor persekutuan terbesar dari dua bilangan bulat dapat ditulis sebagai kombinasi linear dari kedua bilangan tersebut.
Teorema 1.29.
Misalkan tidak keduanya nol. Maka adalah bilangan asli terkecil yang berbentuk untuk suatu .
Bukti. Dengan mengganti dan masing-masing oleh dan serta menyerap tandanya ke dalam koefisien, tanpa mengurangi keumuman kita dapat menganggap dan tidak keduanya nol. Tinjau himpunan tidak kosong karena setidaknya salah satu dari dan positif. Jika , maka ; jika , maka . Misalkan adalah elemen terkecil dari ; keberadaannya dijamin oleh Prinsip Keterurutan Baik. Karena , terdapat sedemikian sehingga . Kita masih harus membuktikan bahwa membagi sekaligus dan bahwa adalah pembagi bersama terbesar dengan sifat tersebut.
Menurut Algoritma Pembagian, sedemikian sehingga Dengan demikian, Jadi, merupakan kombinasi linear dari dan . Karena dan adalah bilangan bulat positif terkecil yang merupakan kombinasi linear dari dan , haruslah , sehingga . Jadi, .
Argumen yang sama menunjukkan bahwa .
Sekarang, misalkan membagi sekaligus . Menurut Teorema 1.15, membagi setiap kombinasi linear dari dan . Jadi, . Hal ini membuktikan bahwa setiap pembagi bersama dari dan membagi . Karena itu, , dan adalah faktor persekutuan terbesar. ◻
Berikut suatu penerapan sederhana yang akan sangat berguna kelak:
Akibat 1.30. Jika relatif prima, maka sedemikian sehingga .
Definisi 1.31. Untuk suatu , misalkan tidak semuanya . Faktor persekutuan terbesar dari bilangan-bilangan tersebut adalah bilangan bulat terbesar yang membagi semuanya, dan dilambangkan dengan .
Definisi 1.32. Untuk suatu , bilangan-bilangan disebut relatif prima secara bersama-sama jika .
Contoh 1.33. Bilangan-bilangan bulat relatif prima secara bersama-sama karena , meskipun .
Definisi 1.34. Untuk suatu , bilangan-bilangan disebut relatif prima berpasangan jika dengan , , dan , berlaku .
Contoh 1.35. Bilangan-bilangan bulat relatif prima berpasangan. Perhatikan pula bahwa bilangan-bilangan tersebut relatif prima secara bersama-sama.
Proposisi 1.36. Untuk dengan dan , jika relatif prima berpasangan, maka bilangan-bilangan tersebut relatif prima secara bersama-sama.
Latihan untuk §1.5
Latihan 1.25. Tentukan faktor persekutuan terbesar dari 15 dan 35.
Latihan 1.26. Tentukan faktor persekutuan terbesar dari 100 dan 104.
Latihan 1.27. Tentukan faktor persekutuan terbesar dari -30 dan 95.
Latihan 1.28. Misalkan . Tentukan faktor persekutuan terbesar dari dan .
Latihan 1.29. Misalkan . Tentukan faktor persekutuan terbesar dari dan .
Latihan 1.30. Tunjukkan bahwa jika memenuhi , maka atau .
Latihan 1.31. Tunjukkan bahwa jika , maka dan relatif prima.
Latihan 1.32. Tunjukkan bahwa jika relatif prima, maka atau .
Latihan 1.33. Tunjukkan bahwa jika tidak semuanya dan , maka
1.6 Algoritma Euklides
Pada bagian ini kita menjelaskan metode sistematis untuk menentukan faktor persekutuan terbesar dari dua bilangan bulat. Metode ini berasal dari Euklides dan karena itu disebut Algoritma Euklides.
Lema 1.37. Jika dan , maka .
Bukti. Menurut sifat invariansi FPB terhadap penambahan kelipatan yang dibuktikan pada bagian sebelumnya, . ◻
Sekarang kita beralih ke bentuk umum Algoritma Euklides. Pada dasarnya, algoritma ini menyatakan bahwa faktor persekutuan terbesar dari dua bilangan bulat adalah sisa taknol terakhir dalam pembagian berulang.
Teorema 1.38. Misalkan dan . Tetapkan , , , , , dan . Terapkan Algoritma Pembagian secara berulang: selama , tentukan dan sedemikian sehingga dan . Berhentilah pada indeks yang memenuhi dan . Pada setiap langkah, tetapkan dan . Maka .
Bukti. Dengan menerapkan Algoritma Pembagian, diperoleh Proses ini akhirnya menghasilkan sisa , sebab selama sisanya taknol, sisa-sisa tersebut membentuk barisan menurun ketat dari bilangan bulat taknegatif. Menurut Lema 1.37, ◻
Versi lengkap teorema ini, yang menyertakan dan , disebut Algoritma Euklides diperluas, sedangkan versi yang lebih sederhana tanpa koefisien-koefisien tersebut disebut Algoritma Euklides.
Pembaca yang teliti akan melihat bahwa kita belum membuktikan klaim bahwa dan dapat digunakan untuk menuliskan FPB sebagai kombinasi linear dari dan . Bukti tersebut diserahkan sebagai latihan di bawah ini.
Contoh 1.39. Kita akan menentukan faktor persekutuan terbesar dari dan . Perhatikan bahwa Jadi, .
Latihan untuk §1.6
Latihan 1.34. Gunakan Algoritma Euklides untuk menentukan faktor persekutuan terbesar dari 412 dan 32, lalu nyatakan hasilnya sebagai kombinasi linear kedua bilangan tersebut.
Latihan 1.35. Gunakan Algoritma Euklides untuk menentukan faktor persekutuan terbesar dari 780 dan 150, lalu nyatakan hasilnya sebagai kombinasi linear kedua bilangan tersebut.
Latihan 1.36. Tentukan faktor persekutuan terbesar dari .
Latihan 1.37. Misalkan genap. Buktikan bahwa .
Latihan 1.38. Tunjukkan bahwa jika genap dan ganjil, maka .
Latihan 1.39. Buktikan klaim mengenai koefisien dalam Algoritma Euklides diperluas.