Tujuan Pembelajaran
Pada akhir bab ini, Anda akan mampu melakukan hal-hal berikut.
- Menyusun sistem persamaan diferensial biasa nonlinear terkopel yang mendeskripsikan evolusi konsentrasi reaktan kimia terhadap waktu.
- Memprediksi dinamika reaksi kimia dengan menerapkan metode analisis (analisis dimensi, penskalaan, titik tetap, dan stabilitas linearnya) yang dibahas dalam bab-bab sebelumnya.
- Menjelaskan mengapa reaksi kimia osilatori dapat terjadi.
- Menjelaskan bagaimana gelombang kimia dapat diamati pada sistem yang membentang dalam ruang.
Hukum aksi massa
Tinjau suatu reaksi kimia
di mana , , dan menyatakan zat kimia, dan adalah reaktan, adalah produk, dan adalah konstanta laju reaksi. Hukum aksi massa mendeskripsikan bagaimana konsentrasi , , dan berubah akibat reaksi ini. Gagasannya adalah bahwa reaksi akan berlangsung jika zat kimia dan bertumbukan, dan jika energinya lebih tinggi daripada energi aktivasi reaksi. Jumlah tumbukan berhasil (yaitu tumbukan yang menghasilkan reaksi) antara dan sebanding dengan hasil kali konsentrasi dan Konstanta kesebandingannya adalah konstanta . Dengan demikian, kita menuliskan persamaan diferensial berikut untuk nilai harapan , , dan (ingat bahwa kita berada dalam keadaan dengan jumlah molekul reaktan dan produk yang besar)
di mana menyatakan konsentrasi zat kimia . Jika , sehingga reaksi kimianya adalah
kita memerlukan dua molekul untuk membentuk satu molekul produk , yang menghasilkan
Jika suatu reaksi bersifat reversibel, misalnya jika
maka dikonsumsi dengan laju relatif dan diproduksi dengan laju relatif , sehingga
dan demikian pula untuk dan .
Terakhir, jika suatu proses reaksi melibatkan lebih dari satu reaksi kimia, laju perubahan suatu zat kimia akibat setiap reaksi dijumlahkan untuk memperoleh laju perubahan total zat kimia tersebut. Misalnya, andaikan kita memiliki sistem yang dideskripsikan oleh
Maka konsentrasi berevolusi menurut
dan persamaan laju untuk , , dan adalah
Perhatikan bahwa reaksi bersih yang berkaitan dengan proses ini adalah . Persamaan laju harus dituliskan untuk setiap tahap yang terlibat dalam reaksi, bukan berdasarkan reaksi bersihnya.
Dengan demikian, reaksi kimia dapat dideskripsikan dalam bentuk persamaan diferensial biasa nonlinear terkopel, sehingga teori sistem dinamik dapat diterapkan pada analisisnya.
Model Brusselator dan Oregonator
Karena persamaan laju yang mendeskripsikan osilasi kimia bersifat nonlinear, reaksi yang berosilasi terhadap waktu dapat diamati, sebagaimana persamaan Lotka-Volterra dapat mendeskripsikan osilasi dalam sistem pemangsa–mangsa. Reaksi Belousov-Zhabotinsky adalah contoh klasik reaksi kimia osilatori. Ketika ahli biokimia Rusia Boris P. BelousovCatatan: B.P. Belousov, Sb. Ref. Radiats. Med., 1958, Megiz, Moscow, 145 (1950). melaporkan temuannya pada tahun 1951, hasilnya pada awalnya disambut dengan ketidakpercayaan. Baru setelah A.M. ZhabotinskyCatatan: A.M. Zhabotinsky, Oscillatory Processes in Biological and Chemical systems, Science Publ., Moscow, p. 149, 1967. A.N. Zaikin and A.M. Zhabotinsky, Concentration Wave Propagation in Two-dimensional Liquid-phase Self-oscillating System, Nature 225, 535-537 (1970). mereproduksi dan menyempurnakan eksperimen Belousov, keberadaan reaksi osilatori akhirnya diterima. Terdapat dua model klasik untuk reaksi osilatori, yaitu “Brusselator” (diusulkan oleh sebuah kelompok di BrusselsCatatan: P. Glansdorff and I. Prigogine, Thermodynamic Theory of Structure, Stability and Fluctuations, Wiley Interscience, London, 1971. Page 233.) dan “Oregonator” (diusulkan oleh para kimiawan di University of OregonCatatan: R.J. Field and R.M. Noyes, Oscillations in chemical systems. IV. Limit cycle behavior in a model of a real chemical reaction, J. Chem. Phys. 60, 1877-1884 (1974).). Di bawah ini, kita membahas keduanya secara singkat.
Brusselator
Tinjau proses kimia hipotetis berikut (Glansdorff & Prigogine, 1971).
dengan semua konstanta laju sama dengan 1. Persamaan laju yang bersesuaian untuk dan membentuk model Brusselator, yang berbentuk
dengan dan sebagai parameter. Model ini memiliki sebuah titik tetap tunggal , yang diberikan oleh dan . Dari sudut pandang analisis dimensi, ungkapan-ungkapan ini mungkin tampak aneh, tetapi dimensinya tidak lagi terlacak ketika kita menetapkan semua konstanta laju reaksi (yang memiliki dimensi berbeda) sama dengan satu (lihat soal-soal).

dan determinannya sama dengan . Karena itu, stabilitas titik tetap bergantung pada tanda jejak , yang sama dengan . Mudah dilihat bahwa jika atau cukup besar, maka dan lintasan hampir berupa garis lurus dengan kemiringan -1. Namun, ketika mendekati 0, lintasan-lintasan ini tidak dapat meninggalkan kuadran pertama karena jika dan . Karena pada saat itu kita juga memiliki jika cukup besar, kita memperkirakan lintasan akan dibawa kembali menuju daerah tempat dan sama-sama berorde satu.
![Grafik [X] dan [Y] terhadap waktu. Deskripsi panjang tersedia.](assets/brusselator-time-series-source.png)
Oregonator
Model Oregonator diusulkan oleh R.J. Field dan R.M. Noyes pada 1974. Model ini bersesuaian dengan reaksi kimia berikut
dengan dan konstan, serta merupakan faktor stoikiometri. Persamaan laju yang bersesuaian adalah
Field dan Noyes (1974) mendefinisikan besaran tak berdimensi berikut
dengan
Dengan demikian, bentuk tak berdimensi Oregonator menjadi
dengan
Dengan mengasumsikan bahwa dengan cepat mencapai nilai keadaan tunak, Persamaan (8.2) dapat direduksi menjadi sistem dinamik dua dimensi. Memang, menetapkan menghasilkan
dan dengan menyubstitusikan ekspresi ini ke dalam (8.2), diperoleh

Gelombang kimia
Ketika reaksi kimia berlangsung dalam sistem yang membentang secara spasial, difusi perlu diperhitungkan. Akibatnya, persamaan laju yang dibahas di atas berubah menjadi persamaan diferensial parsial. Suku-suku reaksi tetap sama, tetapi konsentrasi setiap zat kimia kini berdifusi dengan koefisien difusi yang bergantung pada ukuran dan berat molekul yang bersangkutan. Jika reaksinya bersifat osilatori, muka gelombang, yang misalnya bersesuaian dengan konsentrasi tinggi suatu zat kimia, merambat di dalam sistem. Selain itu, jika reaksi dibatasi pada permukaan dua dimensi dan gelombang dipicu di suatu titik dalam ruang, muka gelombangnya berbentuk lingkaran. Sebagai contoh, artikel tahun 2001 karya C. Sachs et al.Catatan: C. Sachs, M. Hildebrand, S. Völkening, J. Wintterlin, G. Ertl, Spatiotemporal self-organization in a surface reaction: from the atomic to the mesoscopic scale, Science 293, 1635-1638 (2001). menjelaskan bagaimana muka gelombang semacam itu diamati dalam eksperimen dan mengusulkan model reaksi-difusi yang mereproduksi perilaku ini. Para penulis juga membahas keterbatasan model reaksi-difusi ketika parameter makroskopis dipengaruhi oleh rincian interaksi mikroskopis.
Apa yang akan terjadi jika muka gelombang terputus, misalnya jika gelombang melewati wilayah tempat reaksi tidak dapat berlangsung? Jika muka gelombang tertambat pada satu titik, muka tersebut akan melengkung dan akhirnya membentuk gelombang spiral. Gelombang semacam itu sering diamati dalam eksperimen ketika reaksi Belousov-Zhabotinsky dibatasi pada permukaan dua dimensi, seperti film tipis, cakram kaca berpori, atau bahkan selembar kertas saring. Artikel karya S.C. Müller et al.Catatan: S.C. Müller, T. Plesser and B. Hess, The structure of the core of the spiral wave in the Belousov-Zhabotinskii reaction, Science 230, 661-663 (1985). membahas eksperimen yang mengungkap struktur inti gelombang spiral semacam itu.
Ringkasan
Kita memulai dengan hukum aksi massa, yang memungkinkan kita mendeskripsikan dinamika konsentrasi (rata-rata) reaktan dan produk yang terlibat dalam reaksi kimia. Secara khusus, kita meninjau dua rangkaian reaksi kimia hipotetis yang disebut Brusselator dan Oregonator. Dengan menerapkan metode analisis yang dibahas dalam bab-bab sebelumnya, kita menyimpulkan bahwa sistem kimia ini dapat memperlihatkan dinamika osilatori. Hal ini memberikan bukti konsep bagi reaksi osilatori seperti reaksi Belousov-Zhabotinsky. Dalam sistem yang membentang secara spasial, reaksi yang disebut terakhir menghasilkan gelombang kimia dan cacat spiral, yang strukturnya terdokumentasi dengan baik dalam literatur penelitian.
Deskripsi Gambar
Gambar 8.1: Potret fase yang memperlihatkan medan vektor untuk variabel dan . Ditampilkan satu lintasan yang bermula di dekat titik tetap yang terletak pada . Lintasan tersebut berkonvergensi menuju satu kurva tertutup, yang bersesuaian dengan siklus limit. Panah di dalam kurva tertutup berpilin ke luar mendekatinya, sedangkan panah di luar berpilin ke dalam mendekatinya, yang menunjukkan bahwa siklus tersebut merupakan atraktor. [Kembali ke Gambar 8.1]
Gambar 8.2: Plot deret waktu yang memperlihatkan dua variabel, (garis penuh) dan (garis putus-putus), terhadap waktu . Pada awalnya, kedua variabel hampir konstan, tetapi keduanya dengan cepat beralih ke osilasi stabil yang berkelanjutan. Puncak dan saling bergeser, yang menunjukkan pergeseran fase khas model pemangsa–mangsa atau osilator kimia. [Kembali ke Gambar 8.2]
Gambar 8.3: Potret fase pada bidang - yang menampilkan medan vektor dan dua solusi. Sebuah titik hitam merepresentasikan titik tetap tak stabil di sekitar . Sebuah kurva tertutup tebal berbentuk segitiga (siklus limit stabil) mengelilingi titik ini. Suatu lintasan yang bermula di dekat titik tetap berpilin menuju siklus limit. [Kembali ke Gambar 8.3]
Bahan Renungan
Soal 1
Pertimbangkan reaksi kimia berikut
- Tuliskan persamaan diferensial yang mendeskripsikan dinamika konsentrasi , , , , dan .
- Tunjukkan bahwa konstan. Apa makna kimiawi fakta ini?
Soal 2
Pertimbangkan reaksi kimia
- Jelaskan mengapa persamaan laju untuk adalah
- Apa dimensi dan ?
- Tuliskan persamaan ini dalam bentuk tak berdimensi.
Soal 3
Pertimbangkan reaksi kimia
dengan merupakan bilangan bulat positif.
- Apa persamaan laju untuk ?
- Diketahui bahwa , tentukan solusi persamaan ini.
- Apakah solusi tersebut masuk akal untuk semua waktu? Jika tidak, apa yang terjadi?
Soal 4
Apa dimensi , , , dan dalam reaksi Brusselator?
Soal 5
Asumsikan bahwa konstanta laju , , , dan dalam reaksi Brusselator tidak sama dengan 1. Dapatkah Anda menskalakan ulang persamaan laju yang bersesuaian untuk menghilangkan parameter-parameter ini dari model tak berdimensi? Jelaskan.
Soal 6
Dengan menggunakan PPLANE, simulasikan model Brusselator (8.1) dengan . Jelaskan apa yang terjadi ketika parameter divariasikan dari 1.5 hingga 2.5.
Soal 7
Dengan menggunakan PPLANE, simulasikan model Brusselator (8.1) dengan .
- Jelaskan apa yang terjadi ketika parameter divariasikan dari 3 hingga 5. Apa yang istimewa pada nilai ?
- Gambarkan dan sebagai fungsi untuk . Jelaskan apa yang terjadi dengan kata-kata Anda sendiri.
Soal 8
Apa dimensi , , , , dan dalam reaksi Oregonator?
Soal 9
Periksa bahwa , , , dan yang didefinisikan dalam pembahasan reaksi Oregonator bersifat tak berdimensi.
Soal 10
Dengan menggunakan PPLANE, simulasikan model Oregonator tereduksi (8.3) dengan , , dan . Jelaskan apa yang terjadi ketika parameter divariasikan dari 0.1 hingga 0.01.
Soal 11
Tentukan titik-titik tetap model Oregonator tereduksi (8.3) dengan , dan analisislah kestabilannya. Anda dapat menggunakan paket komputasi simbolik, seperti MAPLE atau MATHEMATICA.
Soal 12
Pertimbangkan reaksi kimia
- Tuliskan persamaan laju untuk dan .
- Tunjukkan bahwa sistem dinamik dua dimensi yang diperoleh dengan demikian merupakan kasus khusus model Lotka-Volterra.
- Berdasarkan informasi ini, dinamika seperti apa yang Anda harapkan?
Soal 13
Model Brusselator dan Oregonator memperlihatkan osilasi periodik karena adanya siklus limit. Di sisi lain, persamaan Lotka-Volterra (6.2) dengan memiliki tak hingga banyak solusi periodik. Jika Anda memiliki sistem eksperimental yang memperlihatkan osilasi, bagaimana Anda membedakan keberadaan siklus limit dari keberadaan banyak orbit periodik?